
Disaat keadaan begitu gawat, Adly malah mengingat masa lalunya bersama Fauzan saat pertama kalinya masuk ke dalam organisasi dan menjadi rekannya. Tidak membawa alat pemberitahuan sinyal darurat, membuatnya stres karena tidak bisa menyangka kalau mungkin ini riwayatnya.
Tanpa memakai kekuatan Dragrise itu mustahil membunuh musuh jika levelnya seperti sebelumnya, sekarang.. syarat agar bisa menggunakan kekuatan Elentry harus berdiri, kalau tidak kalungnya berada di tempat yang terkena sinar matahari.
Tempatnya saat ini berada di tengah jurang, tidak ada cahaya sedikitpun. Dia hanya menghembuskan napasnya sembari menatap batang pohon yang sedang dipegang olehnya, lelaki itu sangat kebingungan mau melakukan apa karena semuanya sudah diujung selain menunggu seseorang datang.
Kalaupun orang itu datang, tidak ada jaminan kalau batang ini tidak mampu untuk menjaganya agar tidak terjatuh. Mau bagaimana juga dia itu berat.
Adly tersenyum masam, "hey, Dragrise.. maaf untuk sebelumnya tidak mendengarkanmu."
"Kau ini malah memikirkan itu, sekarang bagaimana keluar ? Aku.. tidak mau mendapat tuan yang baru."
"Datamu ada di base, loh."
"Aku tahu aku takkan mati, tapi bagaimana denganmu ?"
"Yah.. berharap saja aku dihidupkan kembali dan tidak mengulangi kesalahan ini lagi," jawan Adly. Dragrise hanya terdiam dalam kalungnya, mereka sempat bicara beberapa kalimat tapi tidak lama kemudian tangan Adly lemas dan melepaskan pegangannya. Ya apalagi ? Terjatuh lah dia.
Dalam sesaat dia tidak tahu apapun lagi selain mengigit tangannya tapi, saat melihat cincin yang melingkar di jari manisnya membuatnya sadar.
Dia menyeringai, "mana mungkin aku mati di tempat beginian ?!"
"Apa yang kamu lakukan ?"
"Jurang ini sangatlah dalam, dari yang aku lihat juga zombi tadi langsung hancur saat mendarat. Tentu saja karena tempat ini sangat dalam."
"Lalu aku mau tahu apa yang akan kau lakukan ?!"
"Akan aku hancurkan tempat ini dan membuat beberapa batu agar aku bisa naik, melompat-lompat sampai ke atas menggunakan bebatuan sebagai pijakan!"
"Itu ide bagus, tapi jangan sampai senjata makan tuan!" Jawab Dragrise dengan nada cemas. Tanpa mendengarkan Adly mengeluarkan sebuah senapan dan menjambak setiap batu, saat itu juga tepat seperti dugaannya batu itu terjatuh tapi ada yang aneh karena tidak logika. Batu ini tidak tertarik gravitasi sama sekali.
Mengandalkan tekanan lompat dari sepatu tempur juga tidak bisa, batu-batu itu seakan melayang tidak mau turun dari tempatnya. Mereka seperti hendak menempel kembali ke tempatnya masing-masing, itu membuat Adly geram.
Dia menancapkan pedangnya ke batu dan berhasil untuk menahan dirinya, walau yang sementara.. dalam kebingungan dia melihat ke atas kalau ini bukan jurang. Melainkan kelihatan seperti gua, kalau saja dia membawa meriam dan meledakan tempat ini sekali saja akan menguat tempat ini runtuh dan membuat lubang besar.
Hanya saja ada yang sesuatu yang gawat, membuat Adly merasa sangat jengkel.
"Kenapa harus ada hujan batu segala!"
"Fenomena ini jarang terjadi bukan ?!"
"Batu-batu ini masih seperti krikil, kita bisa selamat tapi bagaimana jika menjadi deras! Aku bingung!"
"Ah, benar juga, otakmu sesekali bekerja juga."
"Jahat," jawab Dragrise. Adly kembali melakukannya dengan pedangnya, walau sesekali tangannya merasakan pegal tapi karena masih ingin hidup dia tetap melakukannya. Hanya saja hujan batu terus saja berlanjut membuatnya kerepotan, awalnya dunia ini hanya memiliki hujan air seperti biasanya.
Namun, hal aneh terjadi semenjak puluhan tahun yang lalu semenjak ada hujan batu. Mereka menganggap ini sebagai fenomena aneh karena tidak ada yang bisa menjelaskan ini, secara alami hujan air karena dari lautan. Dan bagaimana dengan batu ? Itu aneh buat mereka, karena saat ini pasti seluruh dunia akan kejatuhan batu.
Tidak hanya di satu tempat saja, jika saja digabungkan dengan kejadian awan api. Kejadian itu sering kali terjadi, tapi agak jarang terjadi disebuah wilayah dekat hutan entah kenapa. Kalau disertai dengan hujan akan membuat air panas, sedangkan jika digabungkan dengan hujan batu. Maka yang akan terjadi adalah hujan api.
Adly turun, "dunia ini sudah mau hancur kayaknya mah.. kurasa tidak ada yang bisa diharapkan lagi."
"Ya banyak sekali kejadian aneh belakangan ini," kadang Dragrise sambil memperhatikan sekitarnya. Mereka melihat kalau tempat ini sama sekali tidak gelap, ada banyak kristal yang bercahaya menguat pencahayaan membuat mereka bisa melihat dengan jelas tempat yang mereka injak ini.
***
Sedangkan di atas ada bawahan Adly yang sedang mencarinya dengan wajah cemas, mereka melihat ke atas kalau hujan batu semakin mengganas. Tidak hanya Bayu kecil, bahkan ada seperti kelereng besar dan sebagainya membuat mereka takut.
Hanya saja dia mendatangi pinggir jurang dan lihat sesuatu yang terlihat menyilaukan, mengambilnya melihat kalau ini benda milik ketua mereka. Hanya saja dia menduga kalau Adly jatuh ke dalam jurang, saat memikirkan itu pasti tidak mungkin karena dia adalah orang hebat dan punya grappling hook untuk memanjat. Terlebih lagi pasti memakai sinyal darurat agar bisa ditemukan.
Karena mereka merasa sudah cukup, terpikir kalau si ketua pulang duluan ke rumah. Itulah yang dipikirkan oleh mereka semua, walau itu harusnya tidak sepenuhnya dikatakan benar.
"Bisakah kita mencarinya saja ? Aku khawatir padanya, sungguh."
"Oi oi.. dia sudah dewasa dan jangan membuatnya kedengaran seperti anak-anak, dia seseorang yang kuat bahkan membunuh banyak orang juga."
"Ya benar, ibu gak usah sampai begitu juga."
"Tapi, aku cemas Alia."
"Aku juga sama kok, tapi ayah mana mungkin sampai terjatuh ke jurang. Ibu hanya bermimpi buruk, nah kita lanjut makan saja!" Kata Alia menenangkan ibunya yang sedang cemas. Mereka melanjutkan makan mereka bersama Rani yang di depannya, hanya saja Zaky kelihatan menatap Rani dari tadi dengan tatapan tajam dan curiga.
Tidak seperti dugaan mereka semua kalau Adly sedang baik-baik saja malah keadaanya ini adalah buruk-buruk saja, tangan kirinya menahan serangan dari tikus raksasa dan tangan kanannya memegang pedang yang tertancap ke dinding. Dia begitu kesusahan.
Setelah melakukan perlawanan dia kembali menarik pedangnya dan menebas kepala tikus besar sekali tebas, tikus itu kemudian mati. Dia melihat ke sekitarnya kalau ada banyak musuh yang berada disekitarnya dan sepasang mata mengawasi mereka berdua, itu kelihatan tidak seram tapi buruk baginya.
Mendatangi kristal yang bercahaya dia mengambil kalungnya dan menyimpannya di atas kristal, menumpuk kristal mengelilingi kalung itu. Kalau tidak ada cahaya matahari sekalipun, dia harap agar bisa menggunakan kekuatan Elentry agar bisa keluar. Minimal melakukan teleport ke atas.
Adly menatap musuh yang sedang memperhatikannya, "Dragrise.. jangan terlalu lama, usahakan kamu menghisap cahaya itu dengan cepat."
"Aku tahu itu! Jangan mati, loh!" Kata Dragrise menjawabnya. Adly menerjang maju ke musuh dan mulai bertarung, tanpa perlengkapan lengkap dia masih bisa tersenyum saat bertarung dan dalam beberapa saat kemudian melihat ke sebuah tempat yang kelihatan bagus. Membuatnya tertarik...