Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
Episode 133 : Ayah Dan Anak Menyeringai Jahat


Ezra berhasil menghentikan mereka berdua yang sedari tadi terus berkelahi tanpa henti, ia tahu kalau Zaky tidak terlalu pandai mengurus seorang gadis akan tetapi Ezra dana sekali tidak memikirkan pertengkaran mereka akan sejauh ini. Pohon-pohon di sekitar mereka tumbang, tanah berlubang dan kebakaran di mana-mana.


Menoleh ke belakang ada beberapa warga yang tengah melihat mereka bertiga, ketiganya kembali ke gedung memakai alat Teleport. Sebuah cincin mengelilingi mereka, langsung dalam sekejap mata ketiganya berpindah tempat ke depan gedung dalam satu detik lebih.


Ada Ryan yang sedang berdiri di depan mereka, ia membawa sebuah kalung biru dan Ezra begitu melihatnya langsung sadar. Mereka kemudian masuk ke dalam bersama. Tanpa disadari Zaky, mereka ternyata masuk ke ruangan rapat dan Ezra sudah mempersiapkan semuanya.


"Baiklah, mari kita dengarkan Ryan." Ezra duduk di kursinya. Mengikuti Ezra, mereka duduk di kursinya masing-masing dan mendengarkan cerita dari Ryan mengenai zombi beserta hal-hal lainnya. Bahwasanya Zyred bersama rekannya, mereka takut pada ancaman yang lebih kuat dari mayat hidup.


Bahkan ancaman ini lebih buruk dari hak tersebut, ketiganya mendengarkan Ryan dengan tatapan serius. Tidak ada yang bermain-main. Tak lama kemudian, tangannya mengangkat kalung ke atas setinggi tangannya dan kalung itu seperti tidak asing di mata mereka bertiga.


"Itu kalung ayah ?" Tanya Zaky heran kebingungan. Ryan mengangguk pelan, semua yang terjadi sudah dalam rencana namun ada beberapa hal yang gagal. Seperti kedatangan Fidya yang mengacau, dan beberapa hal lainnya itu yang dikatakan Ryan ketika melihat kalung di tangannya.


Ezra merasa heran lalu ia mengangkat tangannya dan bertanya, "darimana kau tahu itu semua ?"


"Entah mengapa, aku seperti melihat segala hal ketika melihat kalung ini."


"Maksudnya ?" Ezra berdiri dari kursinya dan menghampiri Ryan. Ezra membuka peta, dan hologram peta terlihat mengambang di atas meja di tengah-tengah ruangan yang gelap. Begitu melihat peta Ryan mengingat sesuatu, ia merasakan kalau tubuhnya panas dan agak sakit serasa di makan oleh heartlosive lagi setelah sekian lama tidak merasakannya.


Semua kejadian di dunia ini serasa di ketahui olehnya membuatnya bingung dan bertanya-tanya mengapa ia bisa melihat apapun itu, namun saat kalung itu dijauhkan darinya kekuatannya itu kembali normal. Sangat membingungkan.


Setelah menemukan benda itu ia mengingat kalau kalung yang ada di rumahnya dikirim oleh seseorang yang tidak diketahuinya, dan sekarang ia menemukannya kembali. Lalu, mendapati ingatan yang aneh apabila menatap kalung ini sambil fokus pada sesuatu hal yang masih seperti gambaran yang belum jelas bentuknya.


"Adik-adikku, dan diriku bisa mengendalikan zombi seperti rekan ayahmu, Zaky."


"Tapi, mengapa ?"


"Kemungkinan, karena darah kami sama.. dan ya bagaimana bilangnya ? Aku adikmu juga."


"... Tidak, tidak, tidak aku sama sekali tidak memahaminya!" Bentaknya. Ryan mendekat kepadanya lalu memukul pundaknya pelan, sambil tersenyum melihat ekspresi Zaky yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata semata. Beberapa saat setelahnya, mereka membahas mengenai kekuatan Elentry dan mahkluk naga seperti yang keluar saat frame mereka mencapai tengah-tengah.


Ryan menjelaskan kalau Dragrise mungkin saja hanya mahkluk ciptaan Adly yang bisa dikatakan sebagai pembuat boneka, dibuktikan dengan bayangannya Aldy yang hidup. Bisa saja dia menciptakan mahkluk lain, dengan darah dan daging orang lain.


"Memang benar, kalau.. Elentry itu benda yang misterius dan diluar akal sehat!" Ucap Rani sambil memukul meja. Mereka yang ada di dalam ruangan menghembuskan napas, mencoba untuk memahami apa yang disebut dengan batu Elentry sumber kekuatan mereka. Tapi, sama sekali tidak bisa dipahami oleh siapapun.


Tiga hari berlalu, kini ArctalGear bersiap di posisi dan mencoba untuk meningkatkan tingkat keberhasilan tembakan. Dilayar monitor di hadapan pilot terlihat hanya 79% tingkat keberhasilan.


"Bagaimana ?"


"Percuma, ini takkan berguna sebaiknya kita berpindah lokasi ke tempat yang bagus!"


"Ya itu benar!" Jawabnya lewat alat komunikasi. Dua penembak jitu raksasa berpindah tempat, melihat mereka berdua pindah KnightGear melepaskan pengaman dan asap keluar dari siku lutut serta siku tangannya, melepaskan benda semacam besi berbentuk gelang.


Satu KnightGear yang ditugaskan untuk membunuh 2 zombi raksasa sendirian, itu cukup mudah baginya yang sudah mengendalikan unit ini selama empat tahun lebih. Dengan gesit ia berlari, langkah kakinya mencapai depan zombi raksasa segera mendaratkan pukulan ke lehernya. Zombi mundur beberapa langkah.


Suara geram terdengar, seperti harimau yang sedang marah ia berteriak cukup keras membuat pilot dalam kokpit sedikit merasa kalau telinganya sakit. Zombi berlari, ia mencengkram kepala KnightGear yang tidak sempat menghindar namun KnightGear menendang perut zombi dan cengkraman tangannya lepas. Bergegas ia mundur ke belakang.


Jet pendorong di punggungnya mulai mengeluarkan asap putih, pilot dalam dada robot merasa panas dan ingin segera mengakhirinya..


"Ketua, apa saya diperbolehkan memakai senjata ?" Tanyanya lewat audio. Zaky sebagai komandan mengizinkannya memakai senjata, mendengar hal itu pilot merasa senang dan menarik pedang di punggung KnightGear. Pedang hitam besar terbuat dari besi hitam yang amat keras.


Zombi raksasa menatap pedang tersebut langsung segera berlari menuju musuhnya, melihat kalau musuh mendekat KnightGear melemparkan pedangnya dan tertancap di kepala zombi. Zombi mulai kehilangan banyak darah, mengambil kesempatan KnightGear melesat didorong jet di punggungnya terbang dalam beberapa detik.


Dia menabrak tubuh zombi raksasa dengan kedua tangannya, penyeimbang atau pelindung bahu kanannya mengeluarkan asap tebal. Dalam kokpit pilot sontak kaget, kerusakan akibat terlalu panas dan belum mendapatkan perawatan.


KnightGear meraih pedangnya dan menariknya, melakukan tebasan beberapa kali memotong kepala zombi menjadi dua bagian. Dia menusuknya kembali di bagian perut, dan dengan cepat mengambil kedua tangannya membantingnya ke tanah berulang kali.


Untuk terakhir kalinya, ia menusukkan pedang yang berapi-api ke tubuh lawannya hingga terbakar...


"Huhh.. akhirnya selesai!" Ucapnya lega. Dibandingkan dengan robot yang terbuat dari besi, para zombie cukup lemah karena tubuh mereka sangat lemah bahkan dengan meriam cukup untuk menghancurkan tangannya walau perlu beberapa tembakan. Namun itu cukup lemah.


Begitu juga dengan para zombi yang berkeliaran di penjuru dunia, bukan hanya belati putih saja yang bertempur mungkin saja para tentara juga sama. Walaupun zombi raksasa diambil oleh semua anggota Belati Putih, mau kecil atau besar mereka tetap memburunya.


KnightGear meraih kembali pedangnya dan menyimpannya kembali ke wadahnya, satu zombi lagi berada di depannya dengan jarak sekitar 57 meter dan zombi itu belum menyadari keberadaan robot yang seukuran dengannya.


Zaky menghembuskan napasnya, ia memasuki portal hitam di depannya dan berdiri di atas kepala KnightGear sambil tersenyum kecil. Dengan perasaan kesal, ia melihat ayahnya sedang berdiri di atas pundak zombi raksasa dengan ekspresi wajah yang sama seperti anaknya. Menyeringai jahat.