Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
Episode 119 : Dragrise Si Kadal


Kekacauan yang terjadi sangat membuat telinga menderita dikarenakan suara nyaring dari peluru yang terus gencar menembakan diri, tidak ada istirahat bagi para prajurit yang bertugas saat ini. Semua tatapan marah serta kedai tertuju pada satu orang yaitu mantan pemimpin mereka sendiri. Dicampuri rasa sedih dan marah, mereka terus menyerang bersamaan.


Selagi diincar oleh banyak orang, Zyred berharap kalau Adly belum sepenuhnya untuk pulih kembali setelah mengalami banyak hal. Baru kali ini dia melihat ada manusia yang bisa bertahan dari serangannya, padahal sakit kepala itu akan terasa seperti ditusuk ratusan kali. Itu seharusnya dialami olehnya.


"Ketua.. tidak, mantan ketua bisakah kau ingat denganku ?"


"Eh ?! Kau!" Zyred kaget. Dengan kemunculan orang terdekatnya, sama sekali tidak disangka kalau orang ini muncul di hadapannya dan senjata yang sama berada di tangannya. Pisau dilempar olehnya mengenai lehernya, seketika Zyred tidak bisa bergerak dan semuanya mengambil kesempatan.


***


KnightGear meraih pedang di punggungnya dan membelah zombi raksasa di hadapannya, beberapa pukulan melayang ke tubuhnya tapi tidak terjadi atau berpengaruh apapun padanya. Robot berbalik badan menatap zombi yang memukulnya barusan, ia mengepalkan tangan dan memukul kepalanya hingga lawannya terjatuh.


Mencengkram erat kakinya ia membanting beberapa kali ke tanah mencapai getaran, semua yang ada di belakang yang tengah berjaga kaget akan kedatangan suara tersebut masuk ke gendang telinga mereka. Para penembak jitu melihat arah suara mendapati pertarungan kedua raksasa, dengan keunggulan yang menguntungkan mereka.


Akan tetapi jumlah mereka terlalu banyak, dan walau KnightGear bisa bergerak bebas harus melepas beberapa pelindung terlebih dahulu. Dipakaikan pelindung memanglah bagus, namun, itu bisa mempengaruhi pergerakan seperti berlari atau memakai senapan karena bisa saja terjadi sesuatu masalah seperti macet contohnya.


"Apa angkatan udara belum sampai ?" Tanya Aldy membuka lemari es. Azka menggelengkan kepalanya. Merasa bingung mengapa pasukan itu belum datang itu adalah hal aneh, mau bagaimanapun juga pesawat tempur mereka harusnya datang di waktu yang tepat dan hal itu membuatnya heran mengapa sampai terlambat seperti ini.


Menutup pintu kulkas, ia melahap roti isi dengan lahap menyantap makanan tersebut.


Beberapa saat kemudian, mereka mendengar raungan terdengar dari atas mereka atau dari ujung pepohonan sontak semuanya masuk kedalam mode tempur. Beberapa zombi tipe terbang mendekati KnightGear mencoba menghancurkannya, ArctalGear dari jauh hendak menembak akan tetapi KnightGear lainnya menghalangi pandangannya.


Pilot yang ada di dalam menghubungi pilot KnightGear tapi sama sekali tidak ada jawaban, hanya terdengar suara kresek-kresek saja sedari tadi dan sudah jelas sinyal mereka terganggu.


Widya yang sedang menyuapi suaminya mendengar suara aneh dari atas, bergegas menuju tenda dan mengambil senjatanya. Tak disangka kalau zombi terbang bisa datang secepat ini, walaupun begitu harusnya jumlah mereka tidak cukup banyak untuk melawan mereka semua. Pikirnya.


Namun, setelah melihat jumlah sebanyak itu langsung ia tahu kalau mereka kewalahan menghadapi semuanya dan kalaupun DyntalGear bisa bergerak robot lainnya tidak bisa terlalu diandalkan karena kekurangan serta kelebihan mereka tidak menguntungkan. Untuk saat ini.


Dirancang khusus untuk menghadapi zombi raksasa tentu pertahanan serta kekuatannya di atas dari yang lainnya, tapi ia takkan bisa berlari cepat dan menyerang musuh dengan cepat. Sebaliknya ArctalGear memiliki kemampuan untuk menembak musuh jadi jauh, ia menyerang dengan cepat tapi kalah dalam kecepatan dan pertahanan.


Sedangkan situasi mereka saat ini bisa mengalahkan semua dari keduanya sekaligus, kalaupun DyntalGear bisa bertahan entah sampai kapan mereka bisa bertahan.


"SentryGun! Apa kita masi--!"


"Widya.."


Saat berjalan beberapa langkah ada kaki menendang pada perutnya dan seseorang memasukannya ke dalam kurungan yang terbuat dari kristal, sontak Adly kaget dengan kurungan ini. Dan tidak lama Azka terlihat di depannya sedang melindungi dirinya bersama darah bercucuran dari dahinya.


Pertengkaran terjadi diantara mereka berdua di tengah-tengah pertarungan, di hadapannya Adly melihat rekan satu regunya dimakan satu persatu demi melindunginya dan Azka yang bersikeras untuk melindunginya.


Perasaan campur aduk antara sedih dan marah membuat Adly tidak bisa tenang, kemudian jantungnya berdetak kencang seketika tangan kirinya meledak dan darahnya berhamburan. Azka menoleh ke belakang sontak kaget dengan apa yang terjadi, pemandangan yang belum pernah dilihatnya semenjak beberapa tahun lalu saat ketua mereka mengamuk sekaligus mengakui dirinya saat ujian masuk ke dalam regunya.


Darah yang bercucuran itu meluap menjadi asap, asap membentuk wujud naga besar sedang berdiri di sampingnya dan menghancurkan kurungan dengan tangan serta giginya.


"Dragrise.. bukannya dia sudah tidak bisa dikeluarkan lagi ?" Kata Azka menatap naga. Naga ini membuka rahangnya menyemburkan apinya, matanya melirik Azka lalu memukul dirinya menggunakan ekor naganya. Sontak ia kaget mengapa Dragrise melakukannya.


"Membiarkannya diam saja akan menghancurkan hatinya.. diam tidak berbuat apa-apa dan melihat teman-temannya terbunuh sangat menyakitkan."


"Kami sudah siap untuk mengorbankan nyawa kamu demi dirinya."


"Benar, dia akan melihat kalian terbantai lalu setelah beberapa bulan ia akan bunuh diri. Itu yang ada dipikirkannya ketika kalian melakukannya."


Perkataan naga dengan suara berat dan bergema itu membuat Azka kesal, ia mengigit bibirnya lalu memegang pedangnya erat dan melesat ke hadapannya menebas kepalanya. Naga yang menerima serangannya hanya terdiam. Tubuhnya sekarang hanya sekadar asap saja, tidak lain tidak bukan hanya tubuh sementara.


Dragrise memahami perasaannya tapi anak kecil yang ditolong oleh majikannya sudah tumbuh besar, walau selisih umur mereka hanya dua tahun tapi Azka masih menganggap bahwa nyawanya digunakan untuk melindunginya. Tak lama kemudian, Adly yang ada di belakang mereka menusuk-nusuk dirinya dengan pedangnya.


Azka menghentikan tangannya dan mengunci pergerakannya, sedangkan Adly sendiri tidak sadarkan diri dan memperlihatkan tatapan mata penuh kekosongan.


"Jika aku tidak keluar mungkin tuan sudah mati.. dan itu salah kalian, termasuk istrinya juga.."


"Jangan lupa kau hanya kadal peliharaan suamiku saja, ingat itu.." suara itu datang dari Earbuds di daun telinga Adly. Widya yang sedang datang dengan luka di seluruh tubuhnya berjalan menuju tempat mereka dengan tangan menyeret senapannya, dan tangan kanan yang sudah hancur sedang meregenerasi dirinya.


Naga melihat ke sampingnya kalau Widya sedang datang padanya, ia mendekati lelakinya lalu menyender pada tubuhnya bersama prajurit lainnya datang dan satu DyntalGear memiliki kerusakan pada tangan kanan. Mereka duduk dekat dengan Dragrise, semua anggota regu Pembantai menatap naga di depan mereka lalu menyender pada tubuhnya.


"Yo, kadal.. dari mana saja kau selama ini ?"


"Kau tampak sehat-sehat saja, Sura."


"Sehat apanya, kau tidak lihat tubuhku penuh luka seperti ini ?" Tanya Sura dengan senyum kecut terukir di wajahnya. Mereka semua yang ada di tempat ini terlihat sangat kelelahan serta penuh luka disekujur tubuh.