
Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang begitu keras dan disusul ledakan beruntun, Rani bersama Vina masuk ke dalam. Tangannya sudah memegang pistol serta pisau, walau baru mendapat senjata itu membuatnya begitu heran karena sudah mendapat ilmu dan kemampuan tertentu. Ayahnya mengatakan kalau layaknya anggota Belati Putih lainnya, Rani memiliki kemampuan unik.
Beragam dan hampir tidak ada yang sama, Rani mampu mengendalikan mahkluk hidup selain manusia dan tahu semua ilmu pedang serta bisa melihat arah tembakan tanpa membidik. Hanya saja kalau dia melawan banyak orang sekaligus akan agak sulit, juga dia bukan pro melainkan pemula.
Rani mengeluarkan Earbuds miliknya dan memasangnya ke telinga, walau dia belum terbiasa karena jarang memakai benda itu bahkan banyak dari anggota Belati Putih jarang memakainya. Headset tanpa kabel itu hidup dan Rani mengaktifkan AI memerintahkan untuk menutup setiap pintu masuk, tidak lama suara sirene muncul.
Zaky melesat pada Rani mencengkram tangannya dengan kuat, "jangan lakukan! Itulah yang mereka inginkan!"
"Kau memangnya siapa ?! Aku atasanmu!"
"Sudahlah kalian berdua tenanglah... Dan Rani, biarkan dia bicara dulu."
"Sebelum aku bicara, apa kamu sadar apa yang ada di punggungmu itu ?"
"Eh ? Memangnya ada apa ?" Tanya Vina heran. Rani mendatangi Vina melihat alat kecil berbentuk lingkaran kecil seperti kancing sedang hidup, memiliki lampu kecil berwarna merah. Memang ini alat pelacak, dia merasa heran karena Vina selalu berada di rumah. Sambil berpikir dia tahu kalau itu dipasang saat Vina sedang dalam perjalanan kemari.
Rani bertanya, "Vina.. kamu naik apa kemari ?"
"Kendaraan lah.."
"Maksudnya taksi atau apa gitu ?"
"Taksi."
"Apa kamu ingat plat nomor mobilnya atau supirnya ?"
"Aku gak tahu nomor platnya, kalau wajahnya aku lumayan ingat."
"Baiklah itu cukup, kita perlu membasmi mereka terlebih dahulu!" Kata seseorang. Rani melihat ke arah suara atau di atasnya, dia melihat Adly yang sedang berjalan terbalik di atap seakan menentang gravitasi. Kail tertancap ke dinding dan dia turun dari atap ke bawah, melihat banyak musuh berada di luar gedung membuatnya heran.
Harusnya keamanan sudah diperketat kenapa mereka bisa masuk, harusnya dalam jarak antara gedung dan wilayah itu cukup luas. Banyak juga orang yang berjaga, tidak mungkin pasukan segitu banyak bisa lewat begitu saja. Kalaupun mereka secara terang-terangan menyatakan perang, pasti ada laporan dari salah satu orang yang sedang bertugas patroli.
Adly melemparkannya bom asap, "biar aku yang selesaikan!"
"Jangan berlebihan, kita membutuhkan beberapa dari mereka untuk informasi."
"Saya juga tahu itu, ketua..!" Jawab Adly sambil menghilang dalam asap. Dalam sekejap mata banyak peluru keluar dari asap, menembak mereka semua begitu cepat dan suara peluru berjatuhan ke lantai juga ikut terdengar.
Melihat itu Rani tidak tinggal diam dan memukul Zaky cukup keras, "siapkan Sentry Gun cepat!"
"Baik Nona bawel!"
"Apa ?! Kau bilang apa barusan!"
"Suka, bukan duka."
"Salah dikit dikoreksi," timpal Vina pada Zaky sambil tersenyum. Rani yang merespon menarik napas dalam-dalam, dia sempat melihat kalau Adly kelihatan cukup untuk melawan mereka semua hanya saja lelaki itu terlihat berbeda. Biasanya takkan melawan dengan jarak jauh, dia biasanya memakai pedang maupun pisau.
Zaky juga sadar akan hal itu kemudian mengambil ponselnya, dia lihat kalau ada beberapa lokasi rekan-rekannya sedang berada dalam lokasi acak. Mereka tidak bergerak kemari, hanya saja Zian berada tepat berada di atas bangunan ini.
"Apa dia punya rencana ? Ya.. kita lihat, bagaimana si monster dan pahlawan menyelesaikan ini," gumam Zaky sambil melihat peta. Peta itu terus menunjukan pergerakan rekan-rekannya, tidak lama ada beberapa titik merah sempat terkumpul membuatnya sadar apa yang telah terjadi.
Pandangan mereka semua yang berada di belakang Adly, setiap pintu dan kaca tertutup hanya pintu ini sedang terbuka. Karena Adly memakai bom asap membuat keadaan diluar tidak terlihat, terlebih lagi peluru Adly jarang digunakan membuatnya menumpuk setelah banyaknya misi yang diselesaikan olehnya.
Lelaki itu berlari ke kaca yang sudah tertutup baja hitam, dia memakai sarung tangan tempur miliknya dan mengepalkan tangannya. Keluar bulatan hitam dikelilingi partikel ungu, Rani melihat itu sadar kalau itu lubang hitam walau hanya tiruan tetap saja itu terlalu kuat. Bahkan kalau mengenai orang akan membuat tubuhnya hancur terhisap.
Memukul baja itu membuatnya hancur, dia melihat keluar kalau pasukan itu diam dengan posisi bertahan. Belakang mereka terdapat barrier atau penghalang, baik dari tengah pasukan atau belakang akan terlihat kabur membuat penglihatan agak kacau.
Lelaki itu tersenyum, "ini hanya pengalihan saja ternyata."
"Apa maksudmu ?" Tanya Rani sambil datang. Zaky menghela napasnya kemudian melihat Adly yang masih menembaki musuh, "kamu lihat peta sekarang."
"Hmm ? Apa maksudnya sih ?" Tanya Rani sambil merasa heran. Melihat peta kalau musuh terlihat sedang berkumpul, mereka berada disebuah hutan yang sangat ditakuti karena banyak hewan buas. Dari pasukan yang diandalkan hingga pro sedang mengelilingi wilayah itu, membuat mereka tidak bisa kemana-mana.
Setelah itu Zaky menunjukan pasukan musuh ilusi yang berada di depan mereka semua, Rani melihatnya juga ada yang aneh. Pasukan itu sama sekali tidak bergerak. Tapi, saat dia lihat dari bayangan kaca yang berada di bangunan sebrang terlihat mereka bergerak.
Sadar kalau itu hanya ilusi dan ada penghalang membuatnya sadar akan hal itu, Zaky menghela napas kemudian duduk. Diikuti temannya yang bersamanya sebelumnya, temannya itu menatap gumpalan asap yang sedang mengeluarkan peluru dari dalam. Sentry Gun juga membantunya dari dalam dan luar.
Sedangkan di atap gedung Zian sedang memastikan keadaan kembali, "sesuai rencana mereka sudah ada di hutan. Sekarang.. bagaimana cara agar mereka terbunuh dalam sekejap, kita bunuh saja mereka dan sisakan seperempatnya untuk tawanan."
"Apa gunanya mereka ? Kita habisi saja!"
"Adly, kita tetap butuh info dari mereka soal cairan itu. Ingat kalau mungkin takdir seluruh dunia berada di tangan kita semua, unit pembantai.. ingat itu."
"Baik! Ketua!" Jawab orang yang mendengarkan dari Earbuds. Sedangkan Adly hanya menghela napas kemudian menghentikan serangannya, dia melemparkan beberapa granat dari dalam meledakan mereka semua. Alat pembuat ilusi hancur membuat semua pasukan itu menghilang, semua orang langsung lega setelahnya.
Rani hanya bisa berkedip dan terdiam saja karena membuatnya bingung, "dari mana tim pembantai bisa tahu bagaimana pergerakan musuh ?"
"Pasukan atau unit pembantai memiliki dua ketua atau pemimpin dengan nama Adly dan Fauzan, Zian itu nama panggilannya Fauzan."
"Aku tahu itu, lanjutkan.."
"Adly sering disebut monster dan Fauzan disebut pahlawan, bukan ? Itu karena mereka memiliki peran masing-masing."
"Adly menjalankan rencana dari Fauzan, jadi kalau mereka berdua bersama takkan terkalahkan gitu ?" Tanya Vina tiba-tiba datang. Zaky hanya tersenyum saja tanpa merespon, tidak terbayangkan kalau setelah perpisahan itu membuat mereka semakin menggila dan menjadi teratas sedikit demi sedikit. "Yah.. sebaiknya aku bersaing lagi dengan mereka, mungkin solo player sepertiku akan kalah dengan mereka berdua," kata Zaky dalam hatinya.