Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
Episode 127 : Kalung Peninggalan Seorang Adly


Semenjak kejadian pembunuhan yang menggemparkan satu negara kini Fauzan dipenjarakan di rumah sakit kejiwaan, dirinya mulai terlihat kembali normal setelah tiga tahun. Akan tetapi, dia bukanlah Aldy yang bisa membunuh ayahnya sendiri dan tetap tegar. Fauzan tetaplah dirinya sendiri. Menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian sahabatnya.


Melihat temannya dari kaca, Zaky mengepalkan tangannya seraya berdecak kesal berulang kali. Tak lama kemudian ia melihat dokter yang menangani pasiennya, lebih tepatnya dia adalah psikiater yang merawat Fauzan selama tiga tahun ini.


"Bagaimana keadaannya, dok ?" Tanya Zaky dengan nada cemas.


"Tidak usah khawatir, dia baik-baik saja... Tapi perlu waktu saja dan jangan biarkan ia melihat benda tajam seperti pisau atau apapun itu yang sama bentuknya seperti pedang."


"Ya aku tahu itu," jawab Zaky terlihat agak kesal. Hendak ingin menemuinya jam tangannya bergetar memberi tahu waktunya sudah tiba. Ia menghembuskan napas, lalu memakai kacamatanya segera pergi keluar dari rumah sakit dan melangkahkan kakinya untuk menemui sahabatnya yang sudah lama hilang. Itupun jika mereka beruntung bisa bertemu dengannya.


***


Aldy melihat keluar jendela banyak sekali penjaga diluar ruangan, apalagi mereka ialah veteran yang sudah bekerja di sini selama bertahun-tahun bahkan ada diantara mereka orang yang paling tua di sini. Kabur dari tempat ini tidaklah mudah tapi Aldy harus bisa keluar dari tempatnya, dan mencoba memikirkan berbagai cara untuk keluar.


Beberapa saat kemudian ia memutuskan untuk pergi mau bagaimanapun caranya agar bisa menemui kakak iparnya untuk terakhir kalinya, hanya ingin menyampaikan beberapa kata saja. Dia memfokuskan seluruh kekuatannya di ujung pedangnya dan membelah dinding pelindung, sontak semuanya kaget melihat pelindung itu hancur.


Semua penjaga mendekatinya dan dengan cepat Aldy menembakkan peluru tidur ke mereka semua, dimatanya semua orang bergerak lambat dan semua pergerakan bisa dilihatnya. Akan tetapi, kemampuannya tidak sempurna seperti kakaknya dan masih memiliki banyak kekurangan.


"Aldy!" Teriak seseorang. Mendengar suara itu Aldy tahu siapa yang berteriak memanggil namanya, segera ia bergegas pergi keluar dari gedung setelah membuat pingsan semua yang ada di sini. Karena penjagaan kota tidak terlalu ketat membuatnya mudah untuk kabur setelah keluar dari gedung, karena nampaknya Zyred dan rekannya mengirim semua zombi yang mereka miliki ke kota mati.


Sehabis berlari cukup jauh ia berhenti dan terengah-engah, napasnya memburu mencari udara letih berlari cukup jauh. Semua orang di sekitarnya heran lihat Aldy, dan mereka sempat berbisik-bisik sambil membawa-bawa nama kakaknya agak membuatnya kesal tapi Aldy memahaminya. Wajah mereka sama akan tetapi dalamnya berbeda.


Hendak ingin membuka storage dia terhenti dan menyadari kalau handphonenya juga sedang diretas, ia tidak bisa memakai Earbuds miliknya karena ada kemungkinan mereka juga meretasnya. Harus pergi ke rumahnya dengan berjalan kaki, ia tidak ingin dilihat oleh penjaga yang sedang berpatroli dan dia berpikir sebaiknya memakai taksi saja.


Hendak menghentikan taksi ia baru sadar kalau semua uangnya diambil oleh Zaky dan benda-benda miliknya juga sama.


"Menyisakan Earbuds, ponsel, dan baju saja. Dasar licik!" Ucapnya berkeluh-kesah. Dia berjalan ditengah-tengah masyarakat sembari melihat sana sini menghindari patroli yang dilakukan pada beberapa waktu-waktu yang sudah ditentukan oleh ketua setiap regu, dan banyak dari mereka regu pengintai berada di dekatnya.


Beberapa saat kemudian dia mendengar suara keributan berlangsung, dan para regu pengintai datang ke kerumunan. Merasa tertarik ingin ke sana Aldy mendekat, namun, mendengar suara jeritan wanita kesakitan membuatnya segera paham apa yang terjadi dan segera pergi memanfaatkan keributan yang ada untuk bergegas kabur.


Bergegas pergi, ia berlari sekuat tenaganya setelah memasuki gang sempit sambil mengharapkan takkan bertemu dengan orang yang sedang menjaga kota. Memikirkan wanita sebelumnya, Aldy tahu kalau ia akan dikirim ke rumah sakit yang khusus untuk menangani heartlosive. Penyakit yang sudah lama tidak dibicarakan, namun, belakangan ini sering muncul kasusnya lagi.


"Nampaknya aku sedang beruntung!" Ucapnya dalam hati.


Beberapa menit kemudian, setelah panjangnya perjalanan yang ditempuhnya ia berhasil sampai di depan rumah kakaknya dan dia mendapati Alia sedang memotong rumput. Anak gadis menoleh ke belakangnya, melihat Aldy sedang datang padanya dengan senyuman tipis.


Alia menyimpan gunting rumputnya dan menghampiri ibunya yang tengah duduk di teras, menunjuk pada Aldy. Widya menatapnya dengan tatapan kosong, ia berdiri dan menarik tangan Aldy masuk ke dalam rumah bersamanya. Sedangkan Alia sendiri hanya bisa menghembuskan napas sedari tadi hanya itu yang bisa dilakukannya. Seorang diri.


Wanita ini membawa Aldy masuk ke kamarnya, serentak Aldy menolak.


Widya menunduk, "Hanya setengah jam."


"Tidak, mana mungkin aku melakukannya.. aku bukan kakak."


"Aku tau itu! Hanya sebentar saja, izinkan aku menyayangimu sebentar! Hanya untuk beberapa menit! Kumohon!" Katanya bernada keras. Hendak ingin membuka mulutnya, tangan Aldy meledak seperti balon mencipratkan banyak darah yang mengental. Merasakan sudah waktunya untuk menghilang ia memegang pundak Widya dengan tangan kirinya dan berkata, "kakak masih hidup."


"..." Widya terdiam, dia mengangkat wajahnya melihat senyuman kecilnya dan selepas senyuman itu menghilang. Tubuhnya ikut hancur.


Alia masuk ke dalam melihat ibunya bermandikan darah mau pakaian ataupun wajah, tangan Alia gemetaran melihat wajah yang ada di lantai. Kakinya lemas, dia langsung terduduk diam di lantai dan mereka berdua terdiam membisu tidak mengatakan apapun. Kecuali Fidya yang sedang tertidur di sofa.


Di halaman rumah ada Ezra yang terengah-engah merasakan letih mengejar Aldy yang sangat cepat, dia berjalan memasuki halaman dan melihat kalau pintu masuk ada Alia yang sedang duduk. Ia mendekat lalu berkata, "jangan diam di depan pintu nanti jodo--" perkataannya terhenti begitu melihat apa yang ada di kaki wanita depan pintu kamar.


Senyumannya yang biasa menghilang memudar, melihat hal semacam ini baginya sudah biasa akan tetapi ketika melihat orang yang paling dekat dengannya seperti ini. Dia juga tidak bisa apa-apa dan diam menahan rasa sedihnya, namun saat suasana rumah ini begitu hening ada suara tangisan bayi membuat Alia dan Ezra sadar.


Fidya yang sedari tadi tertidur,.. tubuhnya perlahan kembali menjadi bayi dan hampir terjatuh dari sofa di tangkap sesuatu semacam rantai.


"Ayah ?" Ucap Alia. Ia mendekati adiknya, tapi ibunya datang dan menggendong bayinya terus masuk ke kamarnya melangkahi darah yang mengalir di lantai. Mereka yang berada di ruang tamu memperhatikan rantai yang keluar dari kristal hijau tergeletak di lantai, Alia mengambil kristal dan melihat kalau ini adalah benda yang tidak asing baginya.


"Ini kalung ayah!" Teriaknya kaget. Begitu juga dengan Ezra, dia mengambil kalung itu dari tangan Alia dan menatapnya dengan tajam melihat sebuah tekanan yang amat dalam di dalamnya. Seluruh kekuatan Elentry milik temannya berada dalam kristal ini, dan benda ini juga benda yang sama seperti yang diambil regu Pembantai tapi lebih kuat.


Ezra tersenyum, lalu dia keluar dari rumah temannya sembari melambaikan tangannya pada Alia dan keluar dari rumah.