Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
50. Adly, Widya


Widya terengah-engah merasakan capek, dia memegangi tangannya dengan agak lemas. Adly menghembuskan napas, dia menjauhkan tangannya dari kepalanya dan menidurkan tubuhnya. Setelah melakukan kegiatan itu Widya sangat kelelahan, terlebih lagi hanya Adly yang merasa keenakan.


Widya memelas, "gak ada hadiah buatku ?"


"Kamu mau apa ?"


"Apa kek gitu, aku udah pijat kamu barusan sampai puas."


"Lalu kamu mau apa ?"


"Obat pera---!"


"Jangan meminta hal aneh!" Ujar Adly menyela. Lelaki itu memerah mencoba menebak apa yang ada dalam benak istri perawannya, hal-hal aneh mulai terpikirkan olehnya dan Widya tidak memikirkan apapun selain mencoba candaan Adly membuatnya malah heran.


Karena membicarakan itu cukup berat Adly mengalihkan pembicaraan pada soal streaming itu. Widya berkeringat ketika hendak ditanya dia masih teringat dengan Adly yang dikenal sebagai monster. Menghela napas dia lega setelah melihat wajah biasanya.


Widya mendekati suaminya Adly dengan penuh keingintahuan, "kenapa kamu bisa semarah itu ? Kenapa kamu aktifkan mode pembantai kamu ? Kamu di organisasi punya level ancaman berapa ? Dan kamu bakal tahan berapa lama ?!"


"Rasanya pertanyaannya cukup banyak, tapi apa maksudnya yang paling terakhir ?"


"Soal itu loh, hehe."


"Hah ?!" Ucap Adly kaget. Dia memerah kembali sangat malu, lelaki itu menarik tangan gadis itu dan memeluknya merasakan hangat. Rasanya dia tidak menghidupkan AC tapi cukup dingin di kamar ini, tangannya meraih selimut dan menyelimuti badan mereka berdua.


Sambil memikirkan setiap pertanyaan yang dilontarkan gadis ini dia menatap langit-langit kamar dengan tatapan tajam. Masih memikirkan soal waktu lalu, dia mengingatnya sambil merasa kalau dia cukup bodoh saat masih kecil.


Saat itu kedua anak sedang bermain, mereka berdua dengan ponsel bermain sebuah game peperangan. Tentu bagi anak lelaki itu menarik bagi mereka, bahkan ada yang meniru apa yang dilakukan oleh karakter dalam game. Tentu itu tidak bagus, lalu bagaimana ? Seorang anak mencontohnya dan menjadi kehilangan nyawanya.


Jika soal Adly yang memakai mode itu dia hanya kelewat marah saja, lagipula tidak ada niatan untuk melakukan itu. Karena itu adalah sesuatu yang sangat jarang harus diperlihatkan, dia tidak menyangka akan melupakan itu.


Adly menatap gadis di pangkuannya, "kamu mau tahu kenapa aku membenci game ?"


"Eh ? Kamu sering bermain game, bukan ?"


"Yang aku mainkan game jadul, lagipula itu lebih baik daripada game online menurutku."


"Kukira lebih bagus game yang sekarang."


"Kamu tahu banyak anak yang meniru tentang game itu ?"


"Ya benar aku tahu itu," kadang Widya dengan anggukan. Adly terdiam sejenak kemudian mengusap pipinya, beberapa saat setelahnya dia mengatakan sesuatu dekat daun telinga Widya dan membisikan banyak kata dalam satu kalimat. Sontak gadis itu kaget dengan apa yang dikatakannya.


Dia lihat wajah suaminya yang kelihatan sama sekali tidak menangis atau apapun, terlihat seperti biasa saja seperti tidak mengatakan apapun. Sesudahnya Widya tidak bertanya lagi, apa dan bagaimananya.


Dia membereskan seprei dan bantal, mereka kemudian berbaring dan tidur...


***


Besoknya Adly membuka pintu kamar mandi dengan keadaan basah, mereka berdua keluar bersama saat itu juga Alia memergoki mereka berdua yang keluar dari kamar mandi bersama. Senyum anak ini cukup licik seperti ayahnya, Widya tersenyum masam menanggapi anaknya ini.


Alia bertanya, "hayoo, ayah dan ibu ngapain ?"


"Ini bukan hal yang harus diketahui anak kecil."


Yah mau bagaimanapun juga. Dia tinggal sendirian saat kecil, jadi tidak terlalu mengejutkan ketika Widya memasuki rumah ini pertama kalinya. Dan ya setelah kedatangan gadis ini, semua tembok pasti sudah ada obat anti serangga dan sebagainya.


Widya mengambil handuk di atas kasur, "kamu jangan melemparkan handuk kemari, simpan di kulkas saja sana."


"Hah ?! Kulkas ? Digantung ke mana gitu harusnya."


"Lah tahu itu, kenapa kau malah menyimpannya di sini ? Yasudah.. kita akan ada kesibukan sebentar lagi, jadi angkat kasur ini dan jemur saja."


"Atap rumah kita udah mau roboh."


"Oh ya ?.. pohon aja."


"Anjir di atas pohon dong!" Kata Adit sambil menahan tawanya. Gadis itu menarik napasnya, dia melihat ke jendela kalau hari ini cukup cerah dan mungkin dia akan menjemur pakaian juga sekalian. Sesekali menghemat listrik untuk pengering pakaian.


Menghembuskan napas, Widya menarik celana yang masih digunakan Adly. Lelaki itu kaget, "apa yang kau lakukan ?!"


"Lepaskan saja..."


"Tidak! Kamu tidak bisa bersabar apa ?! Nanti! Aku janji takkan kabur atau nolak!!"


"Gak aku mikir gitu, kamu yang mikir gitu, aku mau cuci.. nih celana udah kamu pakai tiga hari, loh."


"Begitu ya ? Maaf..." Adly menjawab. Dia melepaskan celananya itu diambil Widya, gadis itu keluar dari kamar dengan senyuman sebelum pergi. Adly melihat kasur, dia pikir akan membawanya keluar rumah dan menjemurnya. Hanya saja saat melihat pintu dia tahu apakah bisa atau tidak.


Mencobanya dulu dia membuka pintu dan menuju kasur itu mencoba mengeluarkannya, namun.. tetap saja tidak bisa. Pintu ini terlalu kecil.


Alia bertanya, "kenapa gak masukin semuanya aja ? Pakaian ayah bau."


"Gak usah banyak-banyak, cukup satu tutup botolnya saja, Alia.. nanti juga kamu gini cuci, kalau enggak pakai tangan dikit aja setengahnya, harusnya sih."


"Ibu tahu dari siapa ?"


"Nenek kamu, ibunya ibu."


"Begi---!"


"Apa itu ?!" Kaget Widya mendengar suara dentuman yang keras. Segera mereka mendatangi kamar, hanya saja saat melihat pintu masih tertutup Widya membukanya dan melihat sesuatu yang sangatlah membuatnya kaget. Ada lubang di dinding, sedangkan lelaki itu mengangkat kasur dan membawanya keluar lewat lubang di dinding.


Melihat ukuran kasur memang benar tidak bisa dikeluarkan lewat jendela ataupun pintu, hanya saja itu bukan sembarang kasur saja. Widya mendatangi Adly yang sedang memukul-mukul kasur, dia mencubit pipinya dengan agak keras.


"Jangan begitu juga kali, ini kasur bisa dilipat agar bisa jadi kecil," kata Widya sambil menunjukan caranya. Kemudian, kasur itu menjadi kecil dan sista menunjuk ke kasur yang sudah dilipat dan menatap rumah yang hancur.


Widya menghela napas, "kemaren karena ada tikus kamu hancurkan atap, sekarang dinding ? Ayolah..!"


"Maaf... Aku mau cepat."


"Yah sudahlah, kamu sekarang lemparkan ini ke atas pohon atau gantungkan saja."


"Baik! Komandan!" Adly tersenyum polos. Kedua perempuan itu pergi meninggalkannya, tapi saat ditinggalkan Adly mengangkatnya dan melemparkannya ke langit. Turun di atas pohon, sarang burung jatuh dan dia melihatnya.


Mendatangi sarang burung yang jatuh dia melihat sesuatu yang mengkilap seperti cincin. Saat didekati ternyata benar, saat dia melihat kalau dia tidak melakukan lamaran dan pernikahan seperti orang pada umumnya. Dia teringat kalau mungkin saja gadis yang berada di dalam rumah menginginkan minimal cincin, yah dia akan mengajaknya ke toko emas setelah semua pekerjaan selesai.