
Masih dalam keadaan yang sama Adly tidak bisa menjelaskan semuanya pada mereka, Alia hanya terdiam lalu pergi begitu saja. Sedangkan gadis itu terdiam di sofa dan mengambil ponselnya, mengelus layarnya dengan wajah yang sedih. Apa yang diperlihatkan oleh layar handphone adalah foto Adly bersamanya.
Tidak lama Alia keluar dari kamar bekas ayahnya dengan membawa sebuah tas di punggungnya, dia berjalan melewati Ryan dengan tatapan sinisnya. Hendak ingin keluar dari rumah, anak itu di hadang oleh seseorang yang terdiam depan pintu masuk.
Mereka memakai seragam yang sama seperti ayahnya. Salah satu dari mereka melihat Alia dengan heran, "nak.. bisakah kita bicara sebentar dan berikan tas itu pada kami ?"
"Kenapa kalian membiarkan ayah mati ? Bukannya dia rekan kalian..."
"Cepat berikan," ucap orang itu memaksa. Alia geram melemparkan tas itu pada orang yang memaksanya, tidak lama tangannya tertebas pisau dan mereka bertiga bersiap dalam mode tempur mereka. Dalam beberapa saat salah satu dari mereka menembak, tapi peluru di tebas oleh Alia dengan pisaunya.
Mereka semua terkaget dengan apa yang dilakukan oleh anak ini, tapi tidaklah heran karena siapa ayah dan gurunya yang mengajarkannya. Mereka bertiga sekalipun kesusahan, peluru mulai habis tapi seakan memiliki penglihatan super yang bisa melihat arah peluru anak itu sama sekali tidak terluka.
Alia melesat pada mereka, "sudahlah.. kalian mati saja..."
"Urgh!"
"Apaan ?!" Kata ketiga orang itu dengan kagetnya. Alia berhasil menebas leher ketiga orang itu, tapi tidak sampai membuat mereka terbunuh melainkan ada sebuah pelumpuh dalam ujung pisau itu. Anak itu mengambil tasnya yang sudah ada di lantai, dia mengambilnya lalu melangkahkan kakinya.
Widya melepaskan handphone miliknya berlari keluar dari rumah melewati ketiga orang yang sedang lumpuh, dia memeluk Alia dengan erat menghentikan pergerakannya. Anak itu sama sekali tidak bisa menyerang ibunya.
Widya merintih tangisan, "aku gak pengin lagi..! Kumohon, jangan pergi, Alia!"
"Ibu.. tapi ayah.. dia butuh bantuan aku.."
"Alia.. ingat kalau ayahmu memberikan teknik itu padamu, ingatlah baik-baik untuk apa ayah kamu memberikan itu."
"Ayah berikan itu untuk," kata Alia mengingat sesuatu. Sedang mengingat sesuatu kalau beberapa tahun yang lalu, dia diajarkan oleh Adly menguasai teknik tebasan ini. Saat itu disebuah hutan, ada banyak pohon yang sudah tergores pisau.
Napas Alia terengah-engah kecapekan karena latihan berat, dia melihat sekitarnya dan tiba-tiba ada sebuah cahaya membuatnya silau. Dalam hitungan detik dia terbaring dengan bekas pukulan di pundaknya.
Alia berteriak, "ayah! Pelan-pelan!"
"Rasakan kemana kira-kira lawan kamu pergi dan akan mendaratkan serangan kemana, pakai telinga sama perasaan kamu!"
"Musta--- ahh!" Ucapan Alia terhenti saat dia terdorong lagi oleh serangan ayahnya. Dia bangkit lagi dan terjatuh lagi, dia menghembuskan napas lalu berpikir kalau ayahnya akan terus begini kalau dia tidak bisa menguasainya. Mendengarkan dengan saksama apa yang terjadi, matanya terpejam rapat dan merasakan keberadaan Adly saat itu.
Tapi percuma. Adly datang padanya, "jangan tutup matamu! Itu hanya membuat lawan unggul dalam membunuh kamu!"
"Lalu aku harus gimana ?!" Tanya Alia dengan setengah bentakan. Adly menghembuskan napasnya kemudian turun dari langit mendarat di depan Alia, anak itu datang pada ayahnya dan melemparkan senjatanya jauh-jauh. Langsung memeluk ayahnya, tangan Adly mengelus rambutnya dengan pelan.
Alia duduk dipangkuan ayahnya, "kenapa dalam satu jam ayah bisa merusak banyak pohon gini ?"
"Oh, ini masih seperempatnya tau... Kamu tahu, kan kalau ayah itu adalah ketua dan harus melindungi bawahannya termasuk kamu. Juga.. ayah itu bukan seseorang yang adil, asalkan menang dan orang yang disayangi selamat itu tidak apa."
"Ayah, biar aku bingung," jawab Alia sambil memelas dan menunduk. Dia tidak lama menguap langsung saja ingin tidur, anak itu pun menutup kelopak matanya dan mulai tidur. Ayahnya tersenyum lalu lihat langit menatapnya dengan sedih.
Dia harus melindungi apa yang disebut anak dan begitu juga para rekan-rekannya, awalnya hanya ingin bergerak sendiri tapi sahabatnya itu tidak bisa membiarkannya sendirian. Saat itu juga mereka membuat rencana, walau sekarang ini pesan yang ingin disampaikan takkan pernah bisa tercapai siapapun karena sebelum mengatakannya dia sudah menghembuskan napas terakhirnya.
Misteri diulang kembali karena seseorang gagal mengungkapkannya pada dunia, kedua orang itu tidaklah ada yang tahu keberadaannya saat ini. Namun.. tidak ada yang tahu kalau itu napas terakhirnya atau bukan.
***
Anak itu menangis mengingat sesuatu kalau ayahnya bicara seperti itu bukan karena dirinya saja tapi orang lain juga. Dia mengangguk dengan penuh kesedihan, kedua orang itu saling mendekap tapi Ryan hanya terdiam memperhatikan mereka dari jendela. Seseorang datang padanya.
Orang itu mengerutkan keningnya, "kenapa kamu gak keluar ?"
"Apa kamu bawahannya Adly ?"
"Ah, iya lalu kenapa ?"
"Aku ada pesan untukmu, tapi.. jangan biarkan orang lain tahu akan hal ini," kata Ryan sambil berjalan pergi bersamanya. Mereka pindah ke ruangan yang sepi tidak ada orang lain, pintu ditutup dan mereka bicara dengan nada yang pelan.
Widya mengambil pistol yang dibawa Alia dan membawanya masuk ke dalam, dia membawa anak itu ke kamar dan mengambil sebuah koper memadukan pakaian Alia ke dalamnya. Itu pakaian yang dibelikan olehnya beberapa waktu lalu, sekilas ada sesuatu yang membuat Widya terhenti saat merapihkan baju.
Dia melihat sesuatu dipandangannya yaitu seseorang yang memakai jubah hitam dan sedang membawa sebuah belati, orang itu membuat gerakan lucu dan itu membuat gadis itu menangis. Sesaat kemudian ada sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya, dia menyeka air matanya.
Alia tidak menyadari dia menangis dengan tangannya yang tetap sibuk melipat baju, Widya melihat Alia dan mengambil ponselnya untuk memesan taksi online.
Alia memperhatikan ibunya, "kita mau kemana ?"
"Pindah ke rumah ibu, ah.. Kamu bakal ketemu kakek sama nenek kamu, loh!" Ujar Widya dengan semangat. Alia tersenyum manis padanya, dia membawa koper dan Widya juga sama. Keluar Dari kamar mereka berdua tanpa pamitan pada Ryan dan Rani yang sedang tidak ada, kedua orang itu pergi dari rumah.
Taksi udah ada di depan rumah, supir taksi itu tersenyum ramah depan mereka dan membukakan pintu untuk mereka berdua masuk. Setelah masuk mobil melaju dengan kencang, hanya saja Alia melihat ke supir dengan tatapan curiga. Karena gurunya adalah Adly ketua dari organisasi Belati Putih, dia memiliki kemampuan yang banyak.
Hampir semua teknik bertarung hingga semua ilmu ketua itu diturunkan padanya, mana ada yang bisa melawannya tanpa senjata apapun. Walau anak kecil sekalipun, anak itu adalah didikan dari seseorang yang sudah melekat namanya pada masyarakat.
Mana ada yang berani untuk menunjukan taringnya depan anaknya si monster, apalagi depan ayahnya. Kecuali sengaja mencari maut...