Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
Episode 109 : Seorang Anak Yang Terlalu Sayang Pada Ayahnya


Zyred menatap secangkir kopi di hadapannya terlihat begitu aneh baginya pribadi, kopi ini berwarna hijau membuatnya sedikit bingung. Bahkan profesor di sampingnya heran juga melihatnya, hendak ingin bertanya istri Zyred datang membawakan secangkir kopi lagi untuk pak tua namun pak tua menolaknya mentah-mentah dan segera pergi. Meninggalkan Zyred sendirian bersama dua cangkir kopi.


"Pak tua kurang ajar! Habiskan minumanmu!" Keluhnya dalam hati. Menghembuskan napas panjang, tangannya terangkat dan mengambil cangkir di hadapannya lalu meneguknya. Tidak akan kemudian profesor yang ada diluar ruangan mendengar suara teriakan-teriakan, yang sangat terdengar seakan-akan sangat tersiksa.


Di luar ruangan profesor menghembuskan napas dan memikirkan bagaimana caranya untuk mengambil memori yang berada di kepala Adly, kau bagaimanapun juga ada sesuatu yang sangat penting dalam satu memori cip itu. Sangatlah penting tetapi rencana mereka gagal karena hanya satu orang anak, anaknya Adly sendiri membuatnya bingung.


Entah sampai kapan batu Elentry akan bertahan, karena tubuh zombi bukanlah tubuh manusia. Mereka hanyalah mayat. Saat mereka telah mencapai batas tubuh mereka akan hancur, karena matahari ataupun hal lainnya karena tubuh busuk takkan terlalu bertahan. Beda lagi ceritanya jika itu adalah zombi yang punya suhu tubuh atau zombi yang disebut zombi suhu tubuh oleh Belati Putih, zombi yang punya tubuh hewan, dan zombi raksasa.


Mereka akan sanggup bertahan beberapa tahun kemudian, walaupun begitu profesor paham kalau hal ini tidak boleh dibiarkan terus-menerus hanya karena satu anak saja. Mau bagaimanapun juga ia harus bisa mengambil memori itu.


***


"Zaky, bagaimana menurutmu ?" Tanya Fauzan sembari menatapnya tajam. Sedangkan Surya terdiam juga tidak menanggapi pertanyaannya sama sekali, topik mereka saat ini adalah soal para zombie yang masih bertahan sampai saat ini bukanlah karena tubuh mereka kuat atau apapun melainkan batu Elentry yang bagaikan sihir. Bisa melakukan apapun yang diluar nalar bahkan bisa membuat nyawa kedua bagaikan mimpi.


Semua zombi yang ada tidak lain tidak bukan hanyalah sebuah boneka hidup, mereka dikendalikan seseorang seperti halnya sebuah boneka dimasukan batu Elentry dan jikalau batu itu sudah tercampur dengan darahnya maka boneka itu bisa dikendalikan olehnya sesuka hati.


Surya mengangkat tangannya dan mengelus pipinya sembari memejamkan mata, mereka bertiga memikirkan hal yang sama yaitu heartlosive penyakit yang sama anehnya dan tidak masuk akal sama sekali. Tidak lama kemudian dia paham dengan apa yang terjadi dan apa yang direncakan oleh orang yang bersama ayahnya Zaky, ia membuka matanya lebar begitu kaget dengan pemikirannya barusan.


Fauzan tersenyum, "kita sebaiknya langsung membantai semua zombi saja!"


"Tidak itu terlalu gegabah, kita perlu sesuatu yang bisa diandalkan dan tidak terla---"


"Semua zombi punya penyakit heartlosive!" Ucap Surya menyela perkataan Zaky. Keduanya terdiam menatapnya kebingungan, terlihat jelas dari raut wajah mereka kalau terlihat kebingungan dan tidak lama kemudian ada suara ketukan pintu. Seseorang masuk ke dalam ruangan dengan wajah di tutupi dengan topeng.


Adly masuk ke dalam ia berjalan menuju mereka bertiga tapi jatuh tersandung kaleng, ketiganya berdiri dan membantunya berdiri. Merasa kalau ada aneh dengan Adly membuat Zaky sedikit heran dan memperhatikan wajahnya, ada sesuatu seperti darah keluar dari mata kirinya. Membuka topengnya tersenyum sontak semuanya kaget.


Darah keluar dari matanya, segera Surya menelepon seseorang ingin memeriksanya. Zaky mengambil ponselnya dan menghidupkan senter melihat mata Adly yang mengeluarkan darah, bukan sembarang darah ini dari batu Elentry yang ditanamkan pada bagian tubuhnya. Darah yang keluar tercium seperti aroma bunga-bunga yang jelas-jelas itu dari Elentry sendiri.


"Kamu kenapa, Adly ?" Tanya Fauzan. Adly sama sekali tidak menjawab pertanyaannya sama sekali. Beberapa menit kemudian ada Fidya masuk ke dalam ruangan dan melakukan tendangan membuat angin kencang hingga mereka bertiga terpental, wajahnya terlihat jelas sangat marah dan ketakutan.


Melihat Adly yang tidak sadarkan diri anak kecil itu menatap ketiga orang yang ada di hadapannya, lalu ia mengangkat tangannya setinggi dada dan mengeluarkan api dari tangannya. Menyadari bahaya Zaky membuat lubang hitam dan seperti dugaannya, api benar-benar menyembur ke arah mereka. Untungnya lubang hitam itu menyerap masuk api itu bersama beberapa benda di sekitarnya.


Hendak anak kecil itu menyerang kembali tapi ayahnya memegang tangannya, ia langsung memeluk ayahnya dengan erat dan tidak lama setelahnya ibunya datang. Mendekati suaminya dia ingin melihat keadaannya tetapi secara kasar Fidya menjauhkan tangan ibunya dari ayahnya, sontak gadis itu kaget melihat kelakukan anaknya.


Matanya terbuka lebar dan terlihat begitu marah dengan raut wajah yang sangat penuh dengan kemarahan, benar apa kata Zaky kalau anak ini akan begitu menyayangi ayahnya melebihi apapun. Begitu membuatnya bingung.


"Fidya, kamu melakukan apa barusan ?"


"Ayah.. jangan bicara dulu luka aya--"


"Minta maaf!" Bentaknya. Fidya kaget mendengar bentakan ayahnya, ia langsung terdiam dan menatap ayahnya dengan wajah sedih.


"Dia ada.. lah perempuan yang telah melahirkanmu, ayah takkan bisa melakukannya.."


"Adly jangan bicara dulu, lukamu masih.."


"Dia adalah perempuan yang sudah melahirkanmu dan mempertaruhkan nyawanya untukmu! Juga, ia orang yang telah dinikahi ayahmu! Ingat itu baik-baik!" Ujar ayahnya. Mulutnya mengeluarkan darah dan air liur memperlihatkan perjuangannya untuk berbicara, mendengar perkataan ayahnya Fidya terdiam dan menoleh pada ibunya. Menyadari kesalahannya ia menunduk lalu mendekati ibunya.


Memeluk kedua kakinya, anak kecil ini menangis dan tidak bisa mengatakan apapun mulutnya hanya menganga mencoba untuk melontarkan kata maaf. Namun, entah kenapa rasanya ia sangat kesusahan untuk berbicara sedikitpun ataupun sepatah kata sekalipun.


"Ma.. maaf, maafkan aku ibu.. aku salah maaf.."


"Tidak apa-apa, ibu paham kamu khawatir ke ayah tapi ibu juga sama." Dia duduk di lantai dan memegang kedua pipi anaknya, ia tersenyum lalu menunjuk ayahnya yang tengah menatap mereka berdua dengan senyuman kecil. Beberapa lama kemudian Alia datang hendak memasuki ruangan tapi dia terhenti melihat kalau ibu berhasil menenangkan adiknya.


"Ayah telah berusaha sebaik mungkin, kita tidak boleh merepotkannya lagi, kalau kamu bertingkah seperti ini akan merepotkan.. sekarang, pikirkan ini baik-baik.. kalau paman Zaky dan Fauzan berhenti mengirimkan uang asuransi pada kita. Dan kamu kau ayah kenapa-kenapa atau memaksakan diri mencari uang ?" Ujar ibunya panjang lebar. Anaknya terdiam dan mengangguk pelan.


Sedangkan orang yang dibawa-bawa terdiam menatap gadis itu dengan sinisnya, keduanya menghela napas lalu hendak berdiri dari tempat duduknya. Mendekati Adly yang terlihat kacau, ada banyak luka dan juga matanya terlihat ada yang aneh yaitu bisa melihat. Terlihat jelas kalau ia sudah bisa melihat lagi, dan kakinya sudah meregenerasi kembali membuat Fauzan lega melihat Adly bisa sehat kembali seperti sebelumnya. Dia sangat lega.