
Mendengar percakapan mereka berlima Ryan merasa tidak enak dan keluar dari ruangan, keempat orang itu terlihat begitu merasa bersalah sekali apalagi Adly adalah orang yang telah membunuh ayah ibunya Surya itulah yang dipikirkan olehnya saat ini.
Walaupun orang ini sama sekali tidak memikirkannya mereka menganggap ini hanya sebagai luarnya saja, padahal memang benar adanya kalau saat ini Surya tidak dendam pada mereka. Hanya saja, dia ingin membalas perbuatannya Zyred saat itu.
Tangannya mengepal dan gemetaran, mulai merasakan kalau keinginannya untuk membalas orang itu sangat dalam.
Fauzan tersenyum kemudian menyenderkan dirinya pada sofa, "memang benar.. kami yang menghancurkan kampung halamanmu.. tapi apa kau benar tidak punya rasa dendam pada kami ? Yah.. itu juga karena kami kehilangan kendali gara-gara frame."
"Itulah.. apa kalian tahu apa itu sebenarnya frame itu apa ?"
"Hmm ? Apa maksudmu ?" Tanya Adly sembari membuang kaleng kopi bekasnya.
"Apa itu dan kenapa memiliki kemampuan yang sangatlah aneh, seperti sihir dari dunia lain.. apa kalian tidak menyadari ini ?" Surya memukul meja. Mereka semua mulai pusing, seketika tubuh mereka terasa panas dan wajah keempatnya memerah.
Dalam hitungan detik Ezra pingsan bersama Zaky dan Fauzan tetap bertahan, dengan keadaan yang tidak diketahui oleh Surya dia panik dan memanggil seseorang dari ponselnya. Melihat ketiganya pingsan kecuali Adly, dia memegangi kepalanya dan mengambil sebuah pisau.
Menusuk dirinya sendiri dan suhu tubuhnya mulai normal kembali, menoleh pada Surya yang kelihatan heran dengan keadaan mereka semua. Adly menghentakkan kakinya, keluar dinding kristal menyelimuti mereka berempat.
"Pergilah.. kami sedang tidak bisa.. karena kau mengucapkan itu.. kami..."
"Apa maksudnya ?" Tanya Surya sambil mengetuk-ngetuk dindung kristal depannya. Adly menjawab, hal semacam ini sudah sering terjadi dan hanya membiarkan mereka sendiri saja bisa membuat keadaannya membaik.
Jika ada saja yang bertanya semacam itu, maka tubuh mereka akan panas seperti itu dan bukan hanya mereka saja. Kalau ada orang yang memiliki kekuatan Elentry bisa merasakan hal yang sama, kecuali Widya yang bukan mendapat kekuatan dari kristal itu. Melainkan dari darah suaminya.
Seseorang datang, mereka terlihat merasa heran ketika ada benda seperti empat telur di depan Surya yang sedang berdiri. Perempuan ini menganggap empat dinding ini sebagai telur hanya karena bentuknya bulat.
"Ketua, ada apa ini ?"
"Oh ? Ya, apakah kau membawa seseorang yang bisa menjelaskan ini padaku ? Misalnya Sarah, Widya, atau siapapun itu."
"Baiklah.. kami akan mencari mereka!" Ucap bawahannya. Lalu, dia pergi keluar mencoba mencari siapapun salah satu dari mereka.
Setelah beberapa menit dia kembali bersama Sarah bersamanya dan Widya, mereka kelihatan sama kagetnya dengan yang lainnya ketika melihat dinding ini. Harusnya ini untuk pelindung saat dalam pertarungan.
Menghembuskan napas, Sarah melihat kalau Surya mungkin saja penyebab semua ini dan dia bertanya padanya tentang apa yang terjadi. Sesudah Surya menjelaskan semuanya gadis itu tersenyum masam.
"Aku bertanya, kekuatan Elentry itu apa ? Seperti dari dunia sihir saja, begitu!" Surya memukul tangannya dengan tangan yang lainnya. Setelah menepuk tangannya, Sarah mulai sama seperti yang lainnya merasakan panas dan dia duduk di lantai mengeluarkan dinding pelindung juga.
Sekarang Widya begitu heran dengan apa yang terjadi di sini, dia melihat salah satu telur itu dan mendatanginya. Memukulnya cukup keras, itu retak dan memperlihatkan Adly yang sedang terbaring. Napasnya memburu.. dia terlihat seperti demam, wajahnya cukup merah.
"Hey Widya, bisakah kamu bawa aku pulang ?" Tanya Adly sembari menatapnya. Tangan Widya menyentuh keningnya mencoba untuk mengetahui seberapa panas tubuhnya, hanya saja belum menyentuhnya juga sudah terasa seperti terbakar. Dia berdiri dan keluar dari saja.
Widya menatap Surya dengan curiga, "sebenarnya apa yang terjadi sih ?"
"Aku tidak melakukan apapun!" Ujar Surya agak terlihat gelisah. Tatapan mata Widya membuatnya takut.
"Kita tunggu saja beberapa lama, jika sampai satu jam begini.. kita perlu melakukan sesuatu.." ucapnya pelan. Dia menoleh ke belakang dan memasuki telur kristal ini memeluk suaminya, walaupun tubuhnya panas dia malah menyukainya. Nah, ini masalahnya karena saat dipeluk rasanya Adly seperti kehabisan napas dan sesak.
***
Setelah tiga puluh menit lebih mereka semua terlihat sudah baikan, keluar dari telur itu mereka duduk di lantai dan dibawakan minum oleh bawahan Surya yang sedari tadi berdiri di depan pintu. Tanpa membuka matanya Adly terlihat masih terlihat gelisah sekali dan panas.
Surya duduk depan mereka, "apa kalian sudAh baikan ?"
"Ah, ya tapi.. kalau bisa jangan terlalu membicarakan soal kekuatan Elentry ini. Kami juga tidak tahu, kalau mengenai ini tubuh kami selalu aneh."
"Serpihan dari kristal kekuatan itu juga sangatlah besar energinya.. jadi, kami ingin membelinya beberapa dari kalian. Apa itu boleh ?"
"Oh ya ? Boleh, hanya saja.. kalian bisakah membuatkan kami robot tempur yang bisa menuruti perintah dari suara kami ?"
"Bisa, hanya saja... Kami tidak akan terlalu bisa membuat perintah yang sulit dipahami, jikalau robot untuk membantu pekerjaan rumah bisa saja."
"Baiklah.. Robot seperti sebelumnya saja, beberapa buah saja tidak masalah!" Fauzan tersenyum dengan semangat. Sedangkan orang yang baru bangun menguap, Ezra kembali tidur lagi dan orang lain juga sama halnya dengan dia.
Fauzan dan Surya mulai membicarakan soal bisnis mereka ini, kerja sama yang saling menguntungkan, dan sebagainya.
Sedangkan Zaky sendiri dia terpikir tentang alasan apa ayahnya membuat hampir semua anggota Belati Putih takut pada Humanoid. Seperti orang yang ada dipojok ruangan itu, agak sedikit merinding melihatnya juga padahal dia sering melihatnya.
Menghembuskan napas dia menyender pada dinding dan memejamkan matanya, saat ini dia terpikir soal Rani yang sedang koma dan mungkin ini terbaik baginya. Namun, kalau nanti dia bangun kemanakah dia akan berpihak. Itu cukup merepotkan baginya jujur saja.
Dia dirawat di rumahnya, bersama Vina dan ibunya sedangkan ayahnya juga akan bebas dari penjara empat tahun lagi.
"Kuharap dia segera bisa hidup kembali dari tidurnya itu," ucapnya dalam hati. Dia sedikit tersenyum kecil, entah kenapa ingin melakukan ini sejak dulu dan dia juga tidak tahu alasannya bisa tersenyum seperti saat ini. Zaky sama sekali tidak benci perempuan semacam itu.
Sedikit galak tapi itu cukup baginya bisa membuatnya bisa diandalkan, hanya saja dia cukup berpikir kalau Sarah itu bisa jadi mengerikan kalau sedang marah. Yah.. semua perempuan akan menakutkan jika soal hati dan perasaan pribadi.
Melupakan soal itu dahulu, dia ikut bicara dengan Fauzan soal kerja sama yang ingin diadakan. Tapi, mungkin saja ini akan mengundang masalah yang cukup merepotkan bagi beberapa orang yang akan mengatur ini semua. Banyak negara ingin bekerja sama dengan perusahan ini, karena cukup baik dalam pembuatan robot untuk bertempur. begitulah.