
Anak itu sedang duduk atau Fauzan terlihat bingung kalau rumah ini tidak ada yang normal dengan anak-anaknya. Dia melihat kalau kegiatannya sangatlah brutal, atau lebih tepatnya agak terlalu banyak hal-hal yang berbahaya dan mereka nampak sudah terbiasa. Fauzan mungkin terpikir kalau pria yang disebut paman oleh mereka semua akan menganggap biaya rumah sakit untuk orang tuanya adalah hutang, yah siapapun akan berpikir semacam itu.
Melihat dari jendela kamar kalau mereka seperti sedang belajar menembak, ada banyak anak memegang senjata. Fauzan tahu kalau mereka dilatih oleh paman itu, saat melihat kalau ada sesuatu yang aneh tentunya sudah terbukti.
Sarah memperhatikannya dari belakang, "kamu lagi apa ?.."
"Sarah ? Ah, yah aku hanya penasaran.. maksudnya tempat apa ini ? Kalau dikatakan panti asuhan juga bukan."
"Kamu sudah sadar ya ?"
"Apa ini sekolah militer ?"
"Kamu tanya saja paman," jawab Sarah sambil pergi. Gadis itu pergi meninggalkannya sendirian, tidak lama paman itu datang masuk ke ruangan. Dia duduk di kasur dan meminta Fauzan untuk duduk bersamanya, menanggapinya dia pergi duduk di sampingnya pria itu.
Fauzan bertanya, "ada apa ya ?"
"Ini soal biaya ibu dan ayah kamu, paman tidak akan menganggap ini hutang.. tapi, seterusnya setelah orang tua kamu sembuh mau bagaimana ?"
"Mau bagaimana apa maksudnya ?"
"Pekerjaan.. mereka tidak bisa bekerja untuk membiayai kamu, terlebih lagi penyakit mereka itu harus mendapatkan banyak pengobatan."
"Begitu ya, biarkan aku berpikir dulu, paman,' kata Fauzan sambil menunduk. Dia sedang memutar otak untuk mendapatkan solusi, kalau pergi dari tempat ini dan tinggal di rumah bersama kedua orang tuanya. Mereka akan sakit-sakitan sehingga membuat Fauzan tidak punya siapapun untuk membiayainya, pemerintah tidak bisa diandalkan jika meminta surat keterangan kurang mampu.
Memang paman ini tidak akan menagih hutang ini padanya tapi, dia tidak tahu lagi harus apa dan sekarang melihat anak-anak yang sedang dilatih itu terpikir untuk bicara dulu dengan pria yang ada di sampingnya ini.
Fauzan berkata, "anu.. bagaimana kalau begini.."
"Paman tahu apa yang sedang kamu pikirkan, jadi sebaiknya dengarkan dulu saja."
"Dari yang saya lihat, mereka dilatih seperti untuk menjadi prajurit. Apa itu benar ?"
"Ya benar.. begitulah."
"Kalau saya ikut mereka dan mendapatkan pelatihan agar bisa membiayai orang tua saya, ya.. bagaimana mengatakannya ?"
"Kamu ingin paman tetap memberikan pengobatan pada orang tua kamu, kamu juga mendapatkan pelatihan sampai kamu bisa bekerja sendiri, begitu ?"
"Ya begitu, kalau paman tidak keberatan!" Jawab Fauzan sambil tersenyum masam. Paman itu berkeringat entah kenapa kemudian seorang beberapa saat dia menghela napas, kepalanya mengangguk-angguk setuju membuat Fauzan senang dengan keputusan saat ini. Hanya saja, pria itu ketakutan melihat apa yang dilihat mata kepalanya sendiri di masa depan saat anak ini berhasil mendapatkan kekayaan bersama anaknya dan kedua temannya yang lain.
*****
Fauzan memandang langit melihat kalau ada banyak sekali partikel hitam seperti butiran debu yang berterbangan, dan saat itu juga mereka melesat masuk ke dalam jurang. Dia tersenyum masam kemudian berteriak, "semuanya! Mundur.. menjauh dari jurang! Jangan membawa barang atau apapun! Cepat...!"
"Ada apa ?!"
"Rani, apa kau tidak diberi tahu Zaky mau melakukan apa ?!"
"Eh ? Memangnya apa ?"
"Ezra siapa ?"
"Kau banyak tanya! Cepat evakuasi saja!" Kata Fauzan setengah membentak. Kemudian, terlambat ketika sudah dimulai. Partikel itu mulai menyebar ke seluruh tempat mereka, semua tapi saat melihat kalau ada penghalang depannya Fauzan menghela napas lega.
Namun, ada pesan yang disampaikan dari Adly masuk ke dalam Earbuds miliknya. Terdengar kalau ini peringatan dari suara robot perempuan alias AI yang suruh memberitahukan pesan ini pada seluruh pasukan, Adly sempat tertawa ketika mengatakan pesannya.
Fauzan bersama Adly melompat masuk ke dalam dan melihat kalau Zaky sedang sibuk, mereka bertemu kemudian tanpa mengatakan apapun mereka melempar pedang mereka dan seketika gravitasi bumi seperti terbalik. Mereka mengapung, kemudian ada banyak hewan yang membesar sampai bermutasi.
Adly mencoba mencapai tanah dan menghentakkan kakinya ke tanah, membuat kristal merah keluar dari tanah melemparkan kecoak dan hewan lainnya keluar dari jurang. Yah bayangkan kalau ada bermacam hewan yang tiba-tiba muncul, lalu ukirannya bukan main.
Saat melihatnya para perempuan lari dengan cepat bukannya melawan, ekspektasi Zaky agar mereka semua melawan para monster itu di atas buyar. Ketika para perempuan malah lari terbirit-birit, segera Adly tertawa terbahak-bahak.
Fauzan menatap dengan sinis, "apa yang lucu sih ?"
"Yah.. Zaky, apa kamu pikir mereka akan melawannya ? Maksudku.. palingan Widya bawa obat anti serangga."
"Ah, kukira salah mereka malah lari nampaknya."
"Huh, dasar.. kurasa kau harus lebih banyak mengetahui tentang dunia para perempuan, loh."
"Yah kukira lebih baik begitu, kamu belum pernah menganggap atau menyatakan satu pun perempuan cantik kalau aku gak salah.. bagaimana kalau Adly Carikan pacar untukmu ?"
"Tidak, itu buruk bisa saja aku dianggap selingkuh!" Jawab Adly sambil cemberut. Fauzan menghela napas kemudian melihat Zaky yang sedang menuliskan sesuatu, sekarang dia pergi sesudah menulis sesuatu di buku catatan miliknya. Entah kenapa buku catatan itu seperti lebih penting dari pada hidupnya sendiri, ada rahasia apa yang terdapat di dalamnya. Fauzan ingin tahu tapi menghilangkan penasarannya.
Ada banyak monster kelihatan seperti cacing yang punya gigi banyak, seperti blender kelihatan sekali. Zaky dan Adly maju melesat memasukan sesuatu ke dalam mulutnya. Saat itu juga dengan sigap Fauzan menembaknya hingga meledak, benda itu adalah bom yang ledakannya kecil.
Karena itu ledakan mereka memicu mereka semua keluar, teman-temannya berdatangan dan jujur saja itu bagus karena seminimal mungkin mereka harus menghabisi mereka semua. Walaupun mereka punah sekalipun itu bagus, jujur saja karena mengancam umat manusia harus langsung dihancurkan.
Dunia ini mengalami keputusasaan ketika mahkluk itu semakin menggila dan tidak ada yang menghentikannya, saat dalam keterpurukan Belati Putih muncul membuat seluruh negara lega. Hanya saja negara inilah yang paling diuntungkan, mereka mendapatkan berbagai teknologi yang dikembangkan dari negara lain dan membuat kekuatan militer mereka bertambah.
"Seperti mengambil kesempatan dalam kesempitan," kata Fauzan dalam hati. Mereka bertiga mulai terpojokkan dengan kemunculan dari mereka semua, karena tidak tahan lagi. Zaky menembakan sebuah bola hitam dari jari telunjuknya ke atas.
Kemudian tanpa ragu dia menarik semua musuh untuk terkumpul ke satu titik. Seperti magnet menarik semua besi yang ada, semua orang terdiam dengan kekuatan asli dari salah satu ketua mereka. Hanya saja Adly tidak terlalu menyukainya, dia bisa membunuh mereka kalau dalam keadaan acak atau saat berpencar.
Zaky menghela napasnya, "Adly.. coba saja dulu."
"Tidak, ini mustahil.. peluru yang aku tembakan akan saling berbenturan dan bisa saja menembak rekan kita."
"Aku tidak yakin. Tapi, apa aku coba saja dulu..."
"Apa kamu sudah bisa menguasainya ?"
"Belum sih.. kalau bisa aku ingi---"
"Gak usah! Biar gua aja!" Teriak seseorang. Mereka melihat ke atas langit atau arah suara, ada api yang jatuh seperti meteor dan menghantam kumpulan musuh. Bola musuh terhempas ke tanah menimbulkan guncangan, hanya saja mereka bertiga langsung tersenyum masam saat melihat orang yang menghancurkannya. Dia tersenyum...