
Mereka melawan robot besar yang baru saja diciptakan dan ukurannya tidak main, walau mesin ini belum sempurna dan hanya rangka saja Adly begitu tidak yakin ketika melihat benda sebesar ini di hadapannya begitu juga dengan Zaky. Bahkan zombi yang pernah mereka temui maksimal besarnya itu sekitar 5 meter saja.
Setelah musuh mereka menyatakan kalau robot ini memiliki tinggi 15 meter membuat mereka berpikir kalau robot ini akan merepotkan, terlebih lagi pembuatnya terinspirasi dari film dan cara bertarung Adly yang sudah meninggal. Pembuatnya adalah fisikawan yang bertamu ke organisasi sebelumnya, walau disambut dengan pistol.
Orang yang bernama Surya itu menunduk, "padahal aku ingin bertemu dengannya! Kenapa sih ?! Padahal dia panutanku!"
"Eh ? Ya.. tidak, aku belum mati, kan ?"
"Semua orang menganggap kau sudah mati, jadi rahasiakan saja identitasmu.."
"Tapi ya.. kalau aku nonaktifkan penyamaan akan membuat energi pulih kembali."
"Ku tahu itu, lakukan semampu kita saja! Lagipula, mereka hanya mengincar popularitas saja."
"Hah ? Kenapa mereka menginginkan hal tidak berguna seperti itu ?" Tanya Adly sambil memiringkan kepalanya. Zaky tersenyum kecut, dia menjelaskan apa tujuan mereka agar bisa mengalahkan Adly dan Zaky yang sudah diakui oleh banyak negara. Jika berhasil kalah, mereka akan mendapatkan kepopuleran dan bisa menjual hingga mendapatkan keuntungan yang besar.
Adly menepuk kepalanya, "aku masih gak paham!"
"Dasar pembunuh! Cepat kita lawan saja! Kau ini pekerjaannya itu membu---!"
"..."
"Maaf..! Aku terbawa emosi!"
"Yah tidak apa-apa."
"Apa kau benar-benar baik ?"
"Kurasa aku harus menyelesaikan sekolahku nanti dikemudian hari," ujar Adly sambil tertawa kecil. Zaky menatapnya sinis, dia hanya berpura-pura saja ternyata.
"Aku sudah terbiasa dipanggil seperti itu, tenang saja... Yah kecuali kalau istriku yang mengatakannya secara langsung aku rasa akan gelisah."
"Habisi dia! Adly, bantai dia!" Teriak Widya dari tempat duduknya itu. Mendengarkan teriakannya itu membuat Adly menunduk, dia terdiam dan robot datang. Zaky menghembuskan napasnya terpaksa menarik Adly menjauh, menghindari serangannya itu.
Walau arena ini luas tapi tubuhnya itu tidak akan bisa bergerak bebas, dia hanya akan bisa diam dan menunggu mereka mendekatinya. Bahkan jika menggunakan serangan jarak jauh takkan terlalu berpengaruh, itu yang dipikirkan Zaky ketika melihat pelindung yang berlapis itu.
Melirik pada Adly yang masih murung, dia sangat seperti syok kelihatannya. Zaky tersenyum masam dan memukul kepalanya agak keras, dia mengambil botol minum yang ada di saku dan mengguyurnya.
"Ah! Ah! Aku pindah ke isekai, kah ?!"
"Kenapa kau berpikir seperti itu ? Bukan, ini masih dunia bumi!"
"Aku pingsan.. fyuhh!" Adly berbaring di tanah. Dia terlihat sangat lesu, dan wajahnya cukup pucat walau Zaky tahu dia hanya pura-pura tapi aktingnya sangat bagus sebagai amatiran. Lelaki itu menatap robot yang jadi musuhnya, mereka duduk berdampingan.
Pandangan semua orang kabur tidak bisa melihat dengan jelas, hanya saja saat debu itu menghilang dari arena mereka berdua juga sama hilang. Seketika ada sesuatu yang aneh pada robot itu, tangannya hancur dan ada banyak bom waktu tertempel pada tubuhnya.
Ada kawat grappling hook yang mengikat kedua kakinya, dia terjatuh ke tanah menyebabkan debu berterbangan kembali. Seketika bom itu menghitung mundur dan meledak saat mencapai angka nol, lalu seperti petir yang menyambar benang kawat itu mengalirkan listrik berwarna hitam dan merah, seketika tubuhnya meronta-ronta seperti akan meledak.
Namun, sosok keduanya sama sekali tidak terlihat dalam arena. Hanya saja dari tadi ada banyak serangan yang mengarah pada robot, sedangkan mereka berdua tidak kelihatan di manapun berada.
Widya yang bersama Rani bertanya, "mereka berdua kemana ? Apa boleh aku lihat alat pelacak ?"
"Mereka tidak bisa dilaca-- ah, kau menempelkan alat pelacak pada Adly ya ?"
"Ya tentu saja! Ada kemungkinan dia bakal selingkuh! Yah.. kalau punya dua tidak apa-apa, asalkan dia bisa mematuhi peraturan dariku."
"Kau ini ya.. sama sekali tidak tertebak. Namun, soal pertanyaan kamu barusan jawabannya hanyalah soal rubik."
"Rubik ?"
"Rubik itu memiliki berbagai warna bahkan ada warna dari tanah di arena ini, dinding juga, dan sebagainya!" Kata Rani dengan naga agak tinggi. Widya menganggukkan kepalanya memahami penjelasan singkat itu, sedikit agak aneh tapi itu efektif karena yang mereka lawan itu adalah robot bukanlah manusia.
Jadi, memang bisa diandalkan. Dalam hitungan detik ada kotak berwarna coklat yang berjalan dan saat kotak itu dilihat para penonton mereka membuka mulutnya menganga. Ini adalah sebuah keajaiban, karena Adly yang jarang bersembunyi saat melawan musuh dan Zaky yang jarang berkelompok berkerja sama dengan Adly. Bukannya dia solo player, 'kan ?
Tidak lama kotak yang warnanya mirip dengan tanah berubah warna menjadi warna acak, memperlihatkan kedua orang yang sedang berdiri. Adly mengangkat tangannya kemudian keluar kristal besar dari tanah, bongkahan batu itu menghempaskan dirinya ke robot membuatnya hancur.
Bukan itu saja, Zaky menghentakkan kakinya kemudian bongkahan kristal itu berubah jadi hitam pekat dan menghancurkan robot hingga menjadi debu seperti pasir.
Rani tersenyum, "kamuflase ya ?.. mereka yang sadar kalau energi Elentry sudah sedikit lagi, menggunakan alat seadaanya seperti bom waktu dan grappling hook untuk memberikan sedikit waktu biar bisa mengisi energi lagi."
"Jadi selama bersembunyi dalam kotak itu..," kata Widya lirih pelan. Hanya saja ada sesuatu yang tidak bisa dihancurkan kristal hitam itu, seketika kristal itu hancur berkeping-keping dan memperlihatkan robot seperti manusia. Bentuknya sangat mirip bahkan dari rambut dan sebagainya.
Sontak Adly kaget dan terdiam dengan tatapan yang mengarah pada robot yang ada di depan mereka berdua, tangan Adly gemetaran dan dia menarik napas dalam-dalam.
Adly berteriak, "Humanoid, anjir!!"
"Tenanglah! Itu hanya..!" Kata Zaky sambil merinding. Mereka berdua seperti sedang ketakutan, begitu juga dengan anggota Belati Putih yang lain. Hanya anggota baru saja yang biasa saja, Alia menarik napas dalam-dalam dan dia menatap ayahnya.
Alia berteriak, "kalau ayah memang, aku bakal minta 99 adik ke ibu!"
"Hah ?! Apa yang kau bicarakan, Alia ?! Mana mungkin! Itu terlalu... Banyak..."
"Anakmu perlu sekolah lagi," kata Rani sambil menatap Alia. Hanya saja ayahnya dan Zaky malah terkapar pingsan di tengah arena, semua orang terdiam karena pertandingan ini adalah hal yang paling gila. Sedangkan bagi Ezra.. dia hanya memeluk dirinya sambil menikmati kesendirian, kata-kata Alia barusan membuatnya putus asa.
Sedangkan Fauzan sedang duduk dan tidur dipangkuan gadisnya, mereka berdua sama sekali tidak menonton pertandingan. Walau Sarah tidak tidur dia hanya memikirkan soal dirinya, mengkhayal dari awal hingga sekarang. Biasanya lelaki yang berkhayal, inimah terbalik!