
"suara kamu merdu."
"Huh ? Apa maksudmu, Widya ?"
"Saat Fidya lahir."
"Ohh.. yah terimakasih atas pujiannya," jawab Adly sambil memerah malu. Dia belum pernah mendapatkan pujian tentang suaranya, mereka berdua sedang berada di depan rumah dengan Fidya yang sedang tidur di pangkuan ayahnya. Melihat anaknya begitu dekat dengan ayahnya membuat ibunya semakin cemburu, seperti melihat istri keduanya.
Mereka meneguk teh yang ada di depan keduanya, walaupun seperti keadaan ini membuatnya begitu tenang tapi Adly sama sekali tidak bisa tenang. Dia tidak boleh egois dan hanya melindungi keluarganya saja, dia punya kewajiban untuk melindungi banyak orang selain istri dan anaknya.
Menghela napas, dia mengangkat Fidya dan memberikannya pada ibunya dengan pelan karena takut dia bangun..
Adly berkata, "aku pergi dulu."
"Umm.. baiklah pulang cepat ya, soalnya Fidya tidak bisa diam kalau gak ada kamu.. dia rewel," jawab Widya bersamaan dengan senyum masamnya. Adly pergi keluar dari gerbang rumah, dia lihat banyak anggota Belati Putih yang sedang berpatroli di sekitar rumahnya. Dan tempat lainnya.
Dia pikir harusnya ini akan aman meninggalkan mereka berdua, tetapi dia tetap saja cemas sebagai seorang ayah. Beberapa saat kemudian saat dia sedang berjalan, ada helikopter yang turun di tengah jalan raya dan seseorang turun.
Yang turun ialah Ezra yang memiliki luka di tangannya susah diperban, mendatanginya dengan panik Adly tidak sempat bertanya. Dia langsung disuruh untuk ikut dengannya, mengangguk paham dia ikut masuk ke dalam dan helikopter naik ke salah satu gedung.
Di atap gedung dia melihat zombi yang kelihatan biasa saja, terapi dia memiliki gigi tajam, tangan yang tajam, dan banyak sekali hal lainnya. Seperti seekor serangga tubuhnya itu.
Adly bertanya, "apa dia punya kemampuan khusus ?"
"Aku tidak tahu, tapi yang pasti... Dia itu sangat kuat dan aku takkan bisa mengalahkannya sendirian apalagi dalam keadaan luka seperti ini."
"Biar aku saja, tenang.. aku takkan mati dengan mudah!" Kata Adly sambil tersenyum. Ezra menganggapnya sebagai lelucon, terapi dalam hatinya dia begitu khawatir pada lelaki ini bisa saja dia terlalu mengandalkan kekuatan penyembuhan yang keluar dari kata biasa. Namun, dia cemas saja jikalau suatu saat kekuatannya itu tidak keluar dan dia mati.
Terjun dari helikopter Adly memakai parasut tidak seperti Ezra tanpa memakainya, dia menatap zombi itu seperti memiliki akal membuatnya sedikit heran. Melepaskan parasut, dia mengambil dua pedangnya dan melempar salah satunya ke zombi itu. Kepalanya tertancap.
"Frame tiga aktifkan!" Perintahnya pada AI beberapa saat kemudian, Earbuds mengeluarkan suara seperti biasa menonaktifkan pengaman dan sebagainya membuatnya kesal. Setelah aktif penampilannya mulai berubah, seperti seorang kesatria dari abad pertengahan.
Tubuhnya mengeluarkan petir, melesat ke arah zombi menarik pedangnya kembali dan menebasnya berkali-kali. Tetapi, dia hanya terdiam dan mulutnya tiba-tiba terbuka menyemburkan asap hijau yang adalah racun. Pengaman kembali aktif dan frame kembali ke level nol, juga penampilan kesatria itu menghilang.
Zombi tertawa, "hahaha! Bagus juga, Adly pemimpin unit Pembantai."
"Huh !?"
"Apa kau tidak mengenai diriku hah ?!" Tanya dia penuh marah. Kemudian, dia menghilang dari gumpalan asap dan tiba-tiba berada di hadapan Adly membuatnya kaget. Serentak menebasnya terapi dia menghilang lagi, Adly berkeringat karena dia tahu kalau ini melebihi zombi biasa.
Dia pemimpin mereka,.. tidak, bahkan lebih kuat dari pemimpin zombi sekalipun. Menghembuskan napas, dia mengambil Earbuds dan mengaktifkan Frame level lima. Tidak bisa main-main karena keberadaan mereka dekat dengan rumahnya, tidak bisa membiarkan ini lama-lama Adly akan menghancurkannya.
Tubuhnya kembali mengeluarkan listrik, pedang itu berubah menjadi senapan dan ada enam pisau yang melayang di sekitarnya. Tetapi, dia tidak tahu kalau zombi sepertinya ada lebih dari satu.
***
Surya tersenyum, "aktifkan pendeteksi panas, dan keluarkan tiga misil.. lacak keberadaan musuh!"
"Pendeteksi panas aktif!"
"Misil siap ditembakkan!"
"Musuh berada di arah jam tiga!" Teriak bawahannya. Surya mengarahkan tiga misil sekaligus ke arah sana, tiga misil meluncur dan menghancurkan wilayah yang ada di sana. Namun, tetap tidak berpengaruh dan zombi itu memiliki sayap seperti kelelawar melindungi seluruh tubuhnya.
Surya kaget dengan apa yang terjadi, dia mengubah ke mode tempur jarak dekat dan mengeluarkan pedang laser berwarna biru. Jet di punggung Dyntal Gear terbuka dan mengeluarkan api mendorong tubuhnya yang besar itu, dia berlari pada zombi itu.
Zombi juga sama, dia berlari dengan tangan yang tajam seperti pedang dan sekali tebasan pedang laser tangannya terpotong.
Saat ingin kabur tangan robot mengeluarkan senjata senapan, gencar peluru menembak ke arahnya menembus tubuhnya berkali-kali. Tembakan itu terus berlangsung selama beberapa menit, sampai zombi itu tergelatak mati di tanah dengan tubuh yang sudah hancur berantakan.
Surya menghela napas, "Huhh.. selesai."
"Tangan kanan mengalami overheating karena terlalu banyak menembak."
"Tidak apa-apa, asalkan kita bisa mengalahkannya dan bagaimana dengan zombi yang lain ?"
"Menurut pelacak ... Mereka semua mundur ? Tidak, ada yang memerintah dia mundur dan..!"
"Dan apa ?"
"Ketua Adly dan Ezra di bawa mereka!" Teriaknya. Sontak semuanya kaget, dengan cepat Surya mengeluarkan Drone dengan kamera. Mengikuti mereka pergi dan benar saja, dengan luka serta senjata yang rusak Adly bersama Ezra dibawa oleh pemimpin zombi.
Menyelamatkan mereka perlu dilakukan apalagi Adly karena darahnya itu penting, dengan bukti Fidya dan Widya yang memiliki darahnya punya kekuatan Elentry. Keturunannya bisa menjadi orang pertama yang bisa mempunyai kekuatan layaknya sihir, dan istrinya juga sama.
Kalau musuh sampai mendapatkan kekuatannya akan sangat gawat, pikir Surya sambil menatapnya.
"Akan berbahaya kalau kita ke markas musuh, panggil Zaky dan Fauzan! Mereka lebih kuat dari Adly pasti bisa mengalahkannya!" Perintah Surya dengan naga tinggi. Tidak bisa tinggal diam, dia mengontrol robot besar itu mengejar sembari menembakinya dengan peluru dan misil yang ada.
Tiga zombi dengan ukuran yang sama terlihat menghambatnya, dengan pedang laser dia menebas dua sekaligus. Dan yang satunya datang memukulnya, tidak ada waktu untuk mengaktifkan pedang laser lagi karena energi sudah habis.
Kedua meriam di bahunya terbuka dan menembakkan peluru. Dua ledakan terdengar, terapi zombi ini masih bisa bertahan dia menggeram dan berlari ke arahnya.
Surya berdecak, "Sial, kita harus kabur dulu!"
"Peluru dan misil kita hanya tinggal 2 lagi!"
"Makanya aku bilang kita kabur dulu! Dan biarkan Drone tetap mengejar mereka dan jangan sampai diketahui musuh!" Kata Surya pada anak buahnya. Robot itu mengeluarkan cahaya dari kakinya dan terbang ke atas, dengan rasa kesal Surya kabur sembari mengharapkan bantuan akan segera datang.
Terakhir di langit, dia menembakan peluru dan misil yang terakhir.. sebagai salam..