
Orang misterius memakai jubah dan topeng hitam, membawa senjata di kedua tangannya dengan tatapan tajam Vina menatapnya. Dia mengambil topengnya membuka matanya lebar, dia lihat seseorang yang sangat dia rindukan selama ini. Begitu juga dengan teman-teman sekelasnya juga kaget.
"Yo! I'm come back!"
"Kenapa kau tidak ada kata lain ?! Ryan ?!" Tanya Vina dengan hentakan cukup keras. Lelaki di hadapannya terdiam, dia cukup merindukan gadis yang dicintainya dan sekarang setelah menghadapi kematian dia kembali dengan tubuh yang berbeda.
Menghela napas, Ryan menghentakkan kakinya dan seketika ada cahaya keluar dari tanah membentuk sebuah pedang. Pedang itu melesat ke segerombolan zombi, menebas dan menghabisinya dengan sekali tebasan. Seperti pedang laser yang bergerak melayang sendiri.
Salah satu temannya mendatangi Ryan dan memukul dadanya pelan, "kenapa kau tidak mengabari kami kalau masih hidup ?"
"Tidak, mana mungkin aku kabur dari lab itu dan ya kau tahu bukan ? Aku ini sudah mati, tubuhku ini hanya sekedar buatan setengahnya juga sudah busuk."
"Setengah zombi ya ?"
"Ya begitulah, apa kalian tidak takut padaku ? Lihatlah aku sekarang."
"Hahh.. aku temanmu, kau tahu!" Temannya tersenyum. Ryan tidak tahu harus apa karena tidak ada yang boleh tahu soal dirinya masih hidup, dia hidup kembali entah karena keberuntungan atau apa. Sebelumnya, Adly menjelaskan tentang anaknya yang bersama Alia itu. Anak kecil itu sama seperti Ryan saat ini.
Dirinya bisa diubah jadi manusia kembali, memiliki jantung yang berada dengan manusia pada umumnya. Tubuhnya bisa beregenerasi, kecepatan serta kekuatannya melebihi rata-rata manusia, dan dia memiliki insting seperti binatang. Mencium bau darah mau jaraknya puluhan meter sekalipun.
Alia tahu kalau dirinya juga sama, tanya saja Adly belum mengatakan apapun pada siapapun termasuk istrinya sendiri. Ryan juga kaget ketika mendengar mereka sudah menikah, dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
Ryan menghela napas sambil mengambil topengnya dari tangan Vina. Dia memasangnya kembali, "apa kalian bisa tidak mengatakan kalau aku masih hidup ?"
"Eh ? Kenapa ?" Tanya guru. Ryan tersenyum masam dalam topengnya dia tidak menyangka kalau guru tidak bisa menebaknya, "saya memiliki penyakit heartlosive dan bisa hidup kembali setelah menjadi zombi, kalau ini tersebar akan ada kemungkinan hal semacam ini bisa terulang lagi hanya saja mereka akan mati sia-sia."
"Apa kami bisa menjelaskannya lebih detail lagi ? Adikku juga..."
"Zaky.. orang dari Belati Putih mengatakan kalau selama ini hanya aku dan anaknya Adly saja yang bisa hidup kembali. Kecil kemungkinannya orang lain bisa, mereka akan jadi zombi level ancaman yang lebih berbahaya."
"Begitu ya ?" Dia menunduk. Ryan tahu perasaan temannya, dia pernah bercerita tentang adiknya yang punya penyakit yang sama dengannya. Tapi, dia tahu kalau dia akan mati dengan sia-sia jika melakukanya.
Ada tiga zombi datang, Ryan terdiam dan menembak dengan pistol dilehernya. Dia masih berjalan kemari.. menembak kedua kakinya dia terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi. Menembak hancur kepalanya, dua lagi menerjang ke atas kepala Ryan. Mereka di tebas lehernya oleh Ryan.
Dua kepala jatuh, beberapa siswi kelihatan mual tapi karena sepanjang jalan mereka muntah tidak bisa muntah lagi. Ryan melirik pada Vina yang masih menatapnya, dia memerah apel sekali.
Ryan bertanya, "hey, aku masih hidup apa kita mau bermain rumah tangga lagi ?"
"Kenapa begitu ?! Sekasur tidak cukup buatmu ?!"
"Hei Vina, apa kau tidak sadar bicara di mana dan di belakangmu ada siapa aja ?" Tanya Ryan sambil tersenyum jahil. Sontak Vina menoleh ke belakang semua murid terdiam, para siswa menghela napas dan saat itu juga dia berjongkok dengan malu. Menutupi wajah dengan kedua tangannya.
Ryan menatap satu zombi mengeluarkan petir dari tangannya, Ryan mengambil pedang dari punggungnya menariknya keluar dari sarung. Mahkluk itu melesat padanya, dia bertahan menggunakan pedang. Dua tangan zombi memukulnya.
"Maaf.. aku perlu bantuannya!"
"Kamu Ryan ya ? Prajurit baru,.. tidak usah begitu! Kita akan habisi dia bersama. Tidak usah jadi sok pro!"
"Kau bukan ketua Zaky, bisa menghadapinya sendiri!"
"Dia mengeluarkan petir dari tangannya dan kekuatannya besar sekali," ucap Ryan sambil berposisi tempur. Mereka bertiga berlari menuju zombi itu, salah satunya melempar bom asap dan Ryan dan salah satu orang lainnya menembakinya dari belakang.
Namun, tubuhnya sama sekali seperti tidak kelihatan terluka sama sekali setelah asap itu mulai memudar.
"Nama kalian siapa ?"
"Aku Kien, dia Jack."
"Maaf.. bisakah kalian alihkan perhatian dia ? Aku mau pakai Gauntlet api."
"Wah ? Kau bohong ? Itu belum boleh digunakan selain Ezra, loh."
"Aku diizinkan buat memakainya kalau keadaannya terdesak!" Ryan mengeluarkannya. Sebuah sarung tangan kecil, ada besi yang sudah dicat dengan warna merah cerah. Mengeluarkan api setelah di pasang di kedua tangannya.
Keduanya menghela napas, mereka berdua berlari ke zombi dan Jack memukulnya keras hingga terpental cukup jauh. Sedangkan Kien menebas kakinya, dia terjatuh dan tetap bangkit lagi dengan cepat. Saat dua-duanya ingin menyerang bersamaan, zombi ingin memukul.
Refleks, mereka meyilangkan kedua tangan di depan wajah mempertahankan diri dan mereka tetap terkena pukulan langsung terlempar cukup jauh. Saat itu juga Ryan siap, tangannya membara dengan api yang membara.
Mereka berdua mendarat dengan kaki tegap, melihat Ryan yang mengejutkan mereka berdua dengan api yang membara di kedua tangannya. Pelindung siku mereka hancur akibat pukulan zombi sebelumnya. Minat kekuatannya itu bukan level biasa, itu sangatlah gawat jika Ryan kalah mereka perlu memanggil salah satu dari ketua grup.
Ryan berlari ke arahnya, dia berteriak dan memukulnya sekuat tenaga. Zombi terlihat terbakar, tidak lama keluar asap dari mulutnya mengeluarkan cairan. Ryan tidak bisa menghindarinya, dia membakar dengan api dari gauntlet itu membara dan membesar membakar keduanya.
Saat sudah jelas zombi terbakar, Ryan memukul kepalanya sekuat tenaganya. Tubuhnya terpental jauh dari tempatnya, Ryan keluar dari api dan tubuhnya berasap. Luka-luka bakar yang ada mulai sembuh, kecuali pakaian yang terbakar dengan api sebelumnya.
"Aku belum terbiasa dengan tubuh abadi ini!" Gumam Ryan sambil duduk. Dia melihat zombi yang terbakar seperti dipanggang, Jack dan Kien datang padanya memberikan sebuah botol minum. Ryan mengambilnya dan berterimakasih kepadanya.
"Kamu siapanya ketua Adly ?"
"Aku temannya."
"Yah... Peringkat kami lebih tinggi dari kami, hanya saja kenapa kamu berada di sini ? Bukannya para ketua sedang rapat kamu juga harusnya ikut."
"Aku disuruh untuk bertempur saja!" Ryan tersenyum masam. Mereka bertiga bicara, Vina tidak tenang melihatnya terluka dan bertarung seperti sebelumnya. Dia masuk ke dalam api yang bergejolak dan keluar dengan luka bakar, walaupun sembuh kembali dia tidak tahu harus apa.
Dia ingin menghampiri Ryan saat ini, namun tidak bisa melihat seorang prajurit yang sedang bertarung melindungi banyak orang. Dia bisa terdiam saja.