Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
Episode 136 : Ryan Dan Timnya


Di salah satu kamar rumah sakit kejiwaan khusus untuk orang-orang yang mengalami sakit jiwa ringan, banyak kabar yang beredar kalau mereka yang berada di Belati Putih mental mereka begitu lemah. Tetapi anehnya masih bisa tegak ketika menghadapi apapun di depannya, mendengar perkataan warga mereka hanya bisa mengangguk saja karena itu kenyataan.


Melihat tangan berdarah sangatlah menyakitkan, tetapi lain lagi jika darah itu bukan dari musuh kita melainkan keluarga, teman, atau siapapun itu yang memiliki peran penting di hidupnya. Sarah menatap lelakinya dan mengambil tisu, mengelap keringat yang membasahi dahi Fauzan.


"Apa dia baik-baik saja ?"


"Ya,.. Adly sehat sekali lo! Bahkan dia kemarin gendong anaknya sama Widya ke taman!" Sarah menjawab dengan senyum dan nada orang ceria. Yang mendengarnya kelihatan senang, tetapi entah itu senang atau sedih Sarah sama sekali tidak memahaminya sedikitpun. Kalaupun mereka sudah dekat bertahun-tahun juga baginya terlalu banyak hal yang bisa membuat perkataan Fauzan berubah.


Beribu-ribu perkataannya selalu jelas, maupun begitu kadang-kadang orang lain tidak memahami maksud sebenar dari setiap kata yang keluar dari mulutnya. Tahu akan hal itu Sarah hanya bisa diam dan mendengarkan, berpura-pura untuk mendengar kalaupun ia tidak paham setiap makna kata-katanya.


***


Ryan mencabut pedangnya dari zombi sembari berkeringat letih setelah menghadapi puluhan zombi bersama timnya, ia melihat sekitar jika satu zombi pemuntah menyemburkan cairannya. Mereka menghindar dari cairan itu. Satu orang menembak kepala zombi dengan pistol, melihat itu Ryan tahu kalau mereka kalah jumlah.


Tiba-tiba seseorang turun dari gedung bersama bilah pedang melayang di belakangnya, kumpulan pedang itu menusuk beberapa zombi sekaligus. Rambut hitam dengan mata merah terang, mengenal siapa orang yang datang Ryan begitu senang dan ingin menghampirinya tetapi banyak zombi yang menghalangi jalannya.


"Kein, tembak peledak yang akan aku lemparkan dan gunakan bom asap setelahnya."


"Apa kau bisa selamat ? Maksudku, jumlah mereka puluhan.. tidak bahkan bisa ratusan lebih."


"Tenang saja, aku akan selamat!" Ujar Ryan yakin. Dia menerjang ke tengah-tengah zombi dan melemparkan empat granat, dengan perasaan kesal karena ketua mereka ceroboh kein menembak granat sesuai apa yang di perintahkan ketua timnya. Suara ledakan terdengar. Tubuh zombi berserakan di mana-mana.


Merekapun melemparkan bom asap, dan tidak lama cahaya merah terlihat seperti berapi-api. Asap putih sekarang mulai memudar. Kini, hanya ada beberapa zombi ukuran besar sekitar 3 meter berdiri di hadapan Ryan dengan tatapan marah. Sedangkan Ryan sendiri tidak bergerak, mendadak ia menghilang dari tempatnya berdiri beralih ke punggung zombi dan memukulnya sekuat tenaga.


Sarung tangan itu mengeluarkan api yang amat besar membakar zombi yang kelihatan berotot ini, teman-temannya datang dengan kemarahan yang meluap-luap. Namun, satu dari semua zombi yang ada memiliki tentakel di kedua tangannya walau tentakel itu hanya satu Ryan berpikir kalau hal tersebut bisa merepotkan.


"Daripada Ezra melatihku lagi lebih baik aku mengalahkannya, mana mau aku kembali pada latihan semacam itu!" Ujarnya bernada keras. Sarung tangannya mulai mengeluarkan api biru, ia menghirup udara sejenak. Dia mengambil posisi seorang petinju yang sedang bersiap sebelum memukul, ia berlari dengan kencang menuju muka zombi. Kedua tentakel menyebat dengan tentakelnya.


"Arggh!" Ryan merintih kesakitan. Melihat pukulan yang hendak mendarat ke tubuhnya, ia segera berdiri dan menjauh dari musuhnya. Dia berpikir kalau zombi seharusnya memiliki daging yang busuk. Sedangkan zombi ini tidak, dagingnya saja seperti tubuh manusia yang masih hidup.


"Nampaknya ini akan sulit," ujarnya sembari mengelap keringatnya. Karena hanya dengan api biasa saja seharusnya ia sudah terbakar hangus tidak tersisa menjadi abu, namun karena ini markas musuh jadi tidak aneh lagi jika mereka punya zombi yang tahan panas dan tahan peluru.


Sekuat apapun perlindungannya, pasti ada celah untuk menyerang. Ryan tahu akan hal itu tetapi zombi ini kelihatannya tidak bisa berlari, ia hanya bisa berjalan pelan dikarenakan tubuhnya yang sangat berat.


"Belakang lutut harusnya!" Ryan teringat dengan apa yang di ajarkan Ezra padanya. Dia mengambil batu lalu membakarnya menjadi bara api, batu itu dilemparnya pada muka zombi dan segera Ryan melemparkan bom asap untuk mengurangi penglihatan zombi.


Dia bergegas memakai grappling hook beralih ke belakang zombi, dengan kepalan tangan ia mendaratkan pukulan lagi pada belakang lutut zombi sehingga tubuhnya yang besar terjatuh dan tergeletak di jalanan. Melihat jika zombi tidak bisa berdiri Ryan naik ke punggungnya dan merobek kedua tentakel dari tubuhnya.


"Saatnya mengakhiri ini!" Teriaknya. Satu pukulan terakhir membakar semua tubuh zombi hingga mati. Napasnya memburu lelah seusai mengeluarkan banyak keringat. Ryan berbalik badan, jika Adly sedang berjalan menghampirinya di penuhi darah di sekujur tubuhnya bukan luka melainkan darah dari semua zombi yang di bunuhnya.


Adly mengacungkan senjatanya. Ryan tersenyum tipis, ia mendekati lelaki ini dan memeluknya yakin kalau hanya sedikit pasti ada ingatan tentang dirinya dalam benaknya.


"Entah kenapa rasanya aku seperti mengenalmu," ujarnya terlihat waspada. Melihat kewaspadaannya Ryan tahu kalau itu wajar saja, mereka saling menatap dan sebuah teriakan tiba-tiba muncul terdengar keras menggema dari tengah kota. Semua orang termasuk Adly menuju lokasi tersebut.


Begitu juga beberapa unit DyntalGear sedang dalam perjalanan, hanya KnightGear yang di tinggalkan untuk menjaga ArctalGear yang bertugas untuk menjadi penembak jitu. Surya telah menambahkan banyak perubahan pada unit baru, daya hancur dan akurasinya meningkat pesat hanya saja bayarannya itu saat berada di mode tembak. Mereka tidak bisa menggerakkan kaki.


"Bagaimana situasi di sana ? Suara apa itu ?!" Ezra bertanya dengan panik pada Zaky seraya melompat dari gedung ke gedung lainnya. Di ikuti regunya dari belakang, semua yang ada di medan pertempuran di perintah Zaky untuk datang ke tengah kota. Semua orang terkaget melihat penampakan zombi paling besar, perawakannya begitu besar dan tingginya tidak masuk akal.


Kali ini tidak seperti mahkluk yang mereka hadapi selama ini. Seluruh tubuhnya berwarna hitam, asap hitam keluar dari lubang-lubang yang ada di tubuhnya membentuk sebuah duri dan menusuk salah satu DyntalGear. Robot itu meledak setelah terkena tusukan langsung.


"Ezra! Itu bukan diriku, cepatlah mundur!" Teriak Zaky di atas kepala raksasa ini. Mereka menyadari jika musuh sengaja memancing mereka ke lokasi agar bisa membantai, terlihat jika Rani melemparkan kapak di tangannya menghantam perut raksasa hingga tubuhnya berlubang. Mata mahkluk ini biru bersinar terlihat seperti bayangan manusia yang memiliki bentuk.


Semua orang tidak bisa mundur ketika pasukan zombi di belakang, mereka di kepung oleh banyak musuh tidak main langsung main keroyok.