Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
Episode 89 : Umur Dua Bulan Bisa Seperti Anak Sepuluh Tahun


Sudah 6 bulan berlalu Adly sedang menggendong anaknya sembari menatapnya dengan bingung, setahun.. dia sudah bisa bicara walaupun hanya satu atau dua huruf saja. Ini membingungkan karena ibunya tidak sengaja mempunyai kekuatan waktu darinya, dan sekarang membingungkan sekali.


Umurnya sudah 6 bulan lebih membuat ayahnya melihat kalau dia beruntung mempunyai anak dengan sehat dan tidak ada masalah apapun. Kecuali kekuatan waktu itu.


Sedangkan di depannya ada Fauzan yang meneguk tehnya, dia berpikir tentang perang saat ini yang akan terus berkepanjangan. Kalau mereka tetap bertahan membuat semuanya merepotkan dan hanya akan mendatangkan kekalahan saja, dia harus menyerang dengan grup pembantai yang sudah terampil.


Walaupun seperti itu pikirnya dia tidak bisa membujuk Adly untuk ikut karena anaknya, anaknya itu cukup unik. Karena dari lahir mendapatkan kekuatan Elentry membuatnya berpikir bisa terjadi apapun yang agak rumit, seperti umurnya yang terlihat cepat berkembang.


Fauzan tersenyum, "bolehkah aku minta tehnya lagi ?"


"Oh ya tidak apa-apa. Hanya saja, kau buat saja sendiri.. Widya sedang istirahat dan lihat aku sedang apa."


"Baik-baik.. termosnya di mana ?"


"Di dapur lah, mana mungkin ada di toilet!" Adly berkata sambil tertawa. Fauzan berdiri membawa gelasnya, dia pergi ke dapur membawa gelasnya kosong dengan teh celup itu. Sembari memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa ikut serta dalam pertempuran, mau bagaimanapun kemampuan Adly itu sangat efektif melawan banyak musuh.


Menghela napas dia melihat Alia sedang mengiris kentang, sembari banyak sekali peralatan dapur yang begitu berantakan.


Beberapa menit kemudian Adly datang melihat Fauzan bukannya menyeduh teh malah membereskan kekacauan Alia, merasa tidak enak dia melihat Fidya juga sudah tidur. Melangkahkan kakinya ke kamar, dia membuka pintu melihat Widya yang sedang terlelap.


Duduk di atas kasur dia mencubit pipinya, "bangun.. aku tutup Fidya sebentar."


"Hmm ? Ada apa ?"


"Dia sedang tidur temani saja."


"Baiklah, jangan lama-lama pinggangku sakit banget.. pegel lagi!" Widya merintih kesakitan. Adly tersenyum masam, dia meninggalkan istri dan anaknya keluar dari kamar penuh dengan rasa cemas. Memikirkan hal yang sama seperti Fauzan, sejak lahir dia mendapatkan kekuatan Elentry yang hebat. Waktu dan mewarisi kekuatan ayahnya.


Tidak ada anggota yang memiliki kekuatan regenerasi dan kemampuan penyembuhan yang kuat seperti Adly, dan juga dia bisa memindahkan kekuatannya pada darah. Itu merepotkan jujur saja, bayangkan kalau dia diculik dan orang lain meminum darahnya membuatnya repot.


Pergi ke dapur dia lihat kekacauan sudah beres. Dan Fauzan sedang meminum teh, Alia memakan camilan yang dibuatnya sendiri. Hanya saja.. melihat bentuknya dan jumlahnya, ayahnya pikir itu untuk ibunya karena semenjak punya adik dia berusaha untuk mandiri dan mengurus pekerjaan rumah.


Tetapi tetap saja, berakhir dengan kerusakan dan kekacauan di sekitarnya..


"Lalu, ada apa ?" Tanya Adly pada Fauzan yang sedang meminum tehnya. Dia tahu kalau Fauzan takkan datang hanya karena ingin minum teh saja, kalau tidak ada apapun yang gawat atau serius terjadi. Menghembuskan napas Fauzan memintanya untuk duduk dan membicarakan rencananya.


Satu jam berlalu, Adly memikirkan kalau ini memanglah gawat dan kalau terus bertahan seperti ini pasti kerusakan serta kerugian akan terus bertambah. Cepat atau lambat mereka akan kalah kalau terus begini.


Walaupun membasmi zombi memakai robot itu bagus tetapi tetap saja, kerugian akan terus saja bertambah seperti sekarang. Mereka perlu menurunkan pasukannya.


Adly teringat soal robot yang memakai Drone dan bertanya, "Soal robot Drone bagaimana ?"


"Ah, kami menjadikan gamer sebagai pilotnya dan mendapatkan banyak sekali kemenangan. Mereka begitu hebat, karena mengkontrolnya sama seperti game yang sedang terkenal.. semacam game pesawat tempur seperti itulah! Aku juga gak tahu."


"Begitu ya ? Baiklah! Unit Pembantai akan turun dua Minggu lagi setelah persiapan! Kami akan membantu kalian!" Ucapnya sambil menepuk pundak sahabatnya. Fauzan terdiam dan dua tersenyum berterimakasih saja padanya, dia juga berjanji akan menyimpan alat teleporter kalau ada apa-apa terjadi pada Widya atau kota ini.


Selesainya pembicaraan Widya datang membawa Fidya yang menangis dan memberikannya pada ayahnya, ayahnya membawa anaknya dengan kedua belah tangan di depan dada. Ibunya menguap dan menghampiri keran dan mencuci mukanya.


Menyadari kalau ayahnya yang menggendong Fidya tidak lagi menangis dan mulai tenang seperti biasanya...


Widya menghela napas, "duh.. Fidya selalu saja tidak bisa jauh dari ayahnya, kalau pergi sebentar dia bisa menyundul dagu atau wajahku... Masih kecil tapi bisa begitu, apa dia baik-baik saja ?!"


"Fauzan, kau harus melakukan sesuatu! Dia terus menempel pada ayahnya, dan aku tidak punya waktu bersama Adly!"


"Kenapa kau malah cemburu pada anakmu ?"


"Bukan begitu, dia tumbuh dengan cepat seper---"


"Uwahh!!" Teriak Adly. Sontak semuanya kaget termasuk Alia juga, anak itu bertambah besar dan kelihatan seperti berumur dua tahun. Dia terlihat seperti ibunya sangat mirip, kecuali rambut dan matanya berbeda jauh.


Semuanya terdiam, dia menatap ayahnya dengan wajah imutnya..


"Ayah!"


"..."


"..."


"Fidya, harusnya kamu panggil 'ibu' dulu!" Kata ibunya agak cemberut. Kemudian, dia lihat kalau Fauzan dan Alia begitu terdiam melihat apa yang terjadi. Dan Adly menatap sahabatnya dengan tatapan heran serta satu tetes air mata yang menetes dari matanya.


Dia memanggil Zaky yang harusnya tahu ini kenapa. Dia baru saja menginjak usia 6 bulan, ini aneh dan begitu banyak sekali keanehan. Sungguh keluarga yang unik.


***


"Ezra, bagaimana situasinya ?"


"Tidak baik!"


"Apa yang terjadi ?"


"Ada tengkorak! Puluhan datang padaku, mereka tidak bisa terbakar dan aku harus memukulnya satu-satu agar bisa mati!"


"Apa kau butuh bantuan ?"


"Tidak, kalau kamu kirimkan pasukan baru mereka akan terbantai saja!" Tolak Ezra dengan tegas. Dia terdengar seperti begitu kewalahan dengan semua tengkorak yang menyerangnya, menghela napas Zaky menatap langit-langit kamarnya dan memikirkan soal masa depan.


Selama lima tahun ini akan terjadi, begitu harusnya yang terjadi. Namun, itu hanya masa depan yang dilihat Adly saja dan dia sudah jelas kalau masa depan bisa diubah. Walaupun hanya sedikit.


Sembari memikirkan itu Zaky mengangguk Earbuds miliknya yang terus mengeluarkan bunyi dan getaran, harusnya dia menonaktifkan mode getar saja. Menerima panggilan, dia hanya mendengar suara orang menahan tangisan membuatnya bingung.


"Hiks.. hiks!"


Melihat pemanggilnya adalah Adly semakin membuatnya kebingungan.


Dia menebak apa yang terjadi dan membawa peralatan tempur, lalu menuju tempat teleport memasuki ruangan. Tubuhnya menghilang hanya meninggalkan partikel biru saja, dia berpindah ke depan rumah Adly yang terlihat biasa saja.


Tidak terjadi apapun, saat dia hendak mengetuk pintu ada seorang anak dengan wajah cantik dan rambut tumpah ke bawah. Putih platinum seperti Adly dan mata merah yang sama, sontak dia kaget siapa ini dan kenapa bisa ada di sini.


Menatap Adly yang datang padanya, dia menunjuk anak ini dan menjelaskan semuanya pada Zaky yang baru sampai... Dia hanya bisa tersenyum saja...