
Ryan menghabiskan minuman dengan sekali teguk ia menatap adiknya lalu memikirkan tentang keadaannya, para zombie yang ada di sini kebanyakan mereka punya suhu tubuh dan ada kemungkinan bisa diselamatkan. Namun, zombi raksasa tidak membiarkan siapapun pergi dari kota ini selain tengkorak entah mengapa.
Bersikap seperti pelindung, mereka tidak membiarkan siapapun untuk memasuki kota ini jikalau itu manusia apapun yang terjadi. Hanya saja karena kedatangan Zaky sebelumnya yang telah membantai sebagian besar zombi dan 2 zombi raksasa, mereka sekarang lebih berhati-hati jadi takkan mungkin mereka bisa keluar dari kota ini.
Menganggap Ryan dan adiknya bagian dari mereka, karena bau mereka itu spesial karena darah dari ayahnya. Menghembuskan napasnya panjang, ia tahu kalau ini akan sedikit merepotkan apalagi kalau zombi raksasa itu mau membunuhnya dia takkan bisa melawan kecuali ada Zaky atau salah satu dari keempatnya.
"Jadi siapa namamu ?" Tanya Ryan padanya. Adiknya menatap Shinta yang sedang duduk di samping kakaknya, matanya menatap sinis kepada zombi perempuan tersebut dan ia melemparkan sebuah kartu nama pada Ryan. Lelaki itu menangkapnya lalu melihat nama yang tertera di kertas ini.
"Leila ? Namamu.."
"Ya itu benar, jadi.. bisakah kakak keluarkan kita dari sini ? Anggota Belati Putih pasti hebat, bukan ?" Adiknya bertanya dengan nada mengejek dan tatapan yang sama. Tidak memahami adiknya kenapa Ryan ingin mereka bisa akrab, dan juga soal mengapa Zaky sampai melepaskannya membuatnya sedikit paham dengan ketuanya saat ini.
Karena penjelasan dari Leila, ia bisa menjelaskan kalau zombi yang ada di sini bisa dia pahami atau Leila bisa berinteraksi dengan mereka seperti berbicara. Walau hanya beberapa perilaku bisa dipahami olehnya membuat Zaky paham, begitu juga dengan Ryan tahu kalau ketuanya begitu paham.
"Benar-benar pembunuh wanita! Adikku sampai memerah begini!" Ucapnya dalam hati. Dia menatap adiknya yang memerah, terlihat malu pada seseorang membuat kakaknya tahu kalau ia punya adik sudah besar dan menghitung umurnya dengannya. Ayahnya sudah menikah lagi semenjak ibunya meninggal, tidak lama ia bisa melupakan semuanya dengan mudah membuatnya sangat kesal.
Melupakannya sejenak ia berdiri lalu meminta kepada Leila untuk mengantarnya berkeliling di kota, agar Ryan bisa paham tentang tempat ini. Dia tahu kalau akan mudah kalau tahu tempat-tempat di kota ini, dan bisa merencanakan rencana untuk melawan para zombie yang ada di sini.
Senang hati adiknya mau dia membuka pintu lalu keluar bersama Ryan, tidak lupa Shinta ikut dengannya berlari tidak ingin kehilangan jejak lelaki yang sedari tadi bersamanya.
"Buat apa kakak ingin tahu tempat-tempat yang ada di sini ?" Tanya Leila dengan raut wajah penuh kemalasan. Melihatnya terlihat malas berkeliling tempat ini Ryan mencubit pipinya, melihat itu Shinta mendekat dan memegangi tangannya terlihat seperti menginginkan sesuatu. Ryan tidak paham dan mengabaikannya begitu saja.
Mereka bertiga berjalan cukup lama, mendapati kalau ada tiga raksasa yang sedang berjalan dan ada juga yang sedang memukuli gedung. Di tengah kota ada banyak zombi yang mengeluarkan asap dari sekujur tubuhnya, asap tersebut bisa mengubah manusia menjadi zombi jika sampai menghirupnya ataupun menjadikan zombi biasa menjadi raksasa namun itu jarang terjadi.
Ada sekumpulan tengkorak berada di atas gedung terlihat bersama dengan jumlah yang cukup banyak, Ryan menghitung jumlah mereka kalau ada sekitar 30 lebih dari mereka.
***
Ia berjalan dengan cepat bertujuan untuk ke hadapan Zaky, namun dia menabrak kaca jendela membuat Widya ngeri melihatnya takut kaca pecah dan Adly jatuh ke bawah. Lelaki itu meraba-raba kaca tahu kalau ini jauh dari mejanya temannya, mendekati tempat yang besar berdasarkan ingatannya ia berjalan mencari-cari tempatnya.
Tidak lama dia menemukannya dan membuka mulutnya, "apa maksudnya itu ?!"
"Adly, kau salah.. aku di sini kau bicara dengan lukisan dinding."
"Aku tahu, lagipula.. dia anak baru maklumi saja."
"Tidak, dia bukan kakek-kakek yang bisa dimaklumi prilakunya!"
"Bukan begitu!" Sangkal Zaky padanya. Melihat ketidaksenangan Adly terhadap Ryan yang tertipu begitu mudahnya ia sampai pergi dari rumahnya, menoleh ke arah Fauzan yang sedang menarik tangannya menyeretnya keluar dari ruangan bersama yang lainnya membuatnya bingung.
Lelaki berkacamata ini hanya melihat temannya diseret keluarga kecilnya dan sahabatnya, ia terus mengoceh tentang sikap anggota Belati Putih yang seharusnya. Walau Zaky tahu akan hal itu terapi mau bagaimanapun juga Ryan anggota baru yang tidak mendapat ajaran atau sekolah khusus, dia masuk tanpa tahu apapun jadi wajar saja.
Namun, ada banyak orang yang protes tidak bisa menerimanya begitu saja..
"Aku harus membuat pengumuman."
"Zaky! Yang bena---!"
"Diamlah, Adly!" Ujar Fauzan sembari membungkam mulutnya. Walau kekuatannya telah berkurang banyak tetap saja ia punya tenaga lebih, menghembuskan napas Fidya menarik ayahnya pergi dengan cepat bagaikan kilat. Semuanya terdiam lalu mengejar.
Sedangkan di dalam ruangan sendiri Zaky menulis pada laptopnya dan mengirimnya pada rekan-rekannya yang berada di negara tetangga, ia takkan bisa membuat pengumuman yang sampai ke negara lain. Menekan tombol pada Earbuds miliknya, memerintahkan AI untuk membuat pengumuman kelulusan seluruh anggota Belati Putih yang ada di sekitarnya.
"Ehem! Kalian yang protes soal Ryan, tidak usah cemas! Dia akan sekolah dan mempelajari pelajaran lagi! Selesai, sekian!" Ujarnya. Wajahnya memerah setelah memberikan pengumuman singkat tersebut hanya karena satu anggota saja membuat semua pasukan yang ada marah-marah tidak jelas, hanya saja ia tengah memikirkan tentang adiknya yang telah dia temukan.
Melihat data tentang dirinya, namanya Leila umur 14 tahun-an. Saat ini sekolah SMP dan diurus oleh pamannya, hanya saja ada laporan kalau ia menghilang dan ditemukan Zaky di kota yang penuh zombi tetapi ia bisa berinteraksi dengan zombi membuatnya bingung. Seperti memerintahkan zombi untuk memasuki gedung atau bangunan.
Semua hal itu membuatnya bingung, ayah Ryan juga sama karena darahnya dan keturunannya bisa melakukan hal yang sama. Mereka seperti bisa mengendalikan para zombie, cukup aneh bagi Zaky karena ini sama sekali tidak masuk akal baginya dan sangatlah aneh. Kalaupun para zombie mengenali mereka dari bau darah, maka mereka takkan menyerang orang yang punya bau darah darinya.
Seminggu yang lalu ia telah mengambil darah ayah Ryan dan memasukannya ke dalam robot, lalu mengirimnya ke tengah-tengah zombi. Hanya saja ia langsung diserbu oleh mereka, namun, saat ayahnya dilemparkan ke tengah-tengah zombi sama sekali tidak terjadi apapun.
Mereka hanya mengabaikannya begitu saja, tetapi tidak mendengarkan perintah darinya sama sekali hanya saja melindunginya. Tengkorak menyerangnya tidak seperti zombi, tetapi para zombie saat melihat tengkorak ingin menghabisinya langsung menghalanginya. Kecuali zombi raksasa dan zombi yang tidak punya suhu tubuh.
"Ini ada kaitannya dengan si ayah kurang ajar itu, aku yakin!" Ucapnya. Yang bisa memikirkan ini hanyalah ayahnya seorang, ataupun teman dari ayahnya yaitu profesor itu. Zaky hanya pernah melihatnya ketika saat dia kecil, sekarangpun ia lupa bagaimana rupanya..