Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
43. Fauzan


Lelaki itu membuat hampir semua pohon terbakar dengan apinya, walaupun semua monster mati hanya saja.. Rani terlihat heran melihat orang itu. Ketiga orang yang tengah bersama mendatanginya, Adly mengambil tangannya dengan senyuman dan menggoyangkannya beberapa saat.


Dia bertanya dengan gugup, "k-kau kenapa oi!"


"Ah, akhirnya.. kamu datang, aku rindu banget, loh!"


"Cih! Jijik, jauhkan tanganmu!"


"Yah.. setidaknya si tukang rusuh datang menyelesaikan ini."


"Kalian salah paham sekali! Aku hanya lewat!" Ucapnya dengan diiringi rasa jengkel. Pergi dari sana, Fauzan melihatnya kalau melihat Gauntlet yang terpasang di kedua tangannya, sedikit merasa takut kalau dia takkan memaafkannya. Sesaat kemudian, ada cahaya memutari badannya dan seketika dia menghilang begitu saja.


Tanpa mengucapkan selamat tinggal, Ezra tahu kalau lebih baik tidak mengucapkannya. Karena itu ucapan untuk pergi untuk selamanya, walau lebih baik diucapkan karena ada banyak hal baik. Setelah beberapa saat Fauzan melambaikan tangannya, dia menatap pesawat tempur yang sedang terbang menjauh.


Menoleh ke belakang banyak orang yang kelihatan seperti kegirangan, saat melihat Rani begitu juga sama dengan ketika. Mereka meninggalkan Fauzan yang sedang terdiam di sana, Adly memperhatikan Widya yang sedang mengangkat batu besar dengan kristal yang menancap di sana.


Dia beratnya, "kenapa kamu membantu ?"


"Kita bisa dapat bagian, loh!"


"Jangan.. tinggalkan sekarang juga, kau seberapa uangnya sekalipun tidak bisa menggantikan sesuatu yang lebih berharga tahu."


"Apa sih ?"


"Kamu orang yang paling berharga bagiku! Kalau luka sedikit juga akan membuatku sedih!"


"Kamu ini! Masih sempatnya begitu, hentikan! Aku malu di sini banyak orang!" Kata Widya sambil melepaskan tangan Adly dari tangannya. Hanya saja Adly mengambil tangannya lagi, menggenggamnya dengan erat dan membawanya pergi dari tempat kotor itu.


Mereka duduk dibawah naungan pohon dengan wajah yang memerah, Adly menghela napas dan menidurkan tubuhnya ke pangkuan istrinya. Gadis itu segera memerah, dia terlihat senang hanya saja perasaannya begitu aneh. Tidak lama Rani datang bersama Zaky, tetapi lelaki itu ditarik olehnya tanpa ampun dan ada sesuatu seperti kristal yang dibawa Rani dengan tangan gemetaran.


Rani bicara pada Adly yang sedang tidur, "ini batu dari sumber kekuatan Elentry! Kerja bagus! Kita bisa menambah pasukan seperti kalian!"


"Ah, terserah Anda saja biarkan saya tidur siang dan kalau bisa cari pengguna Elentry yang lebih kuat dari saya agar bisa segera pensiun, loh!"


"Terang-terangan sekali," jawab Rani dengan tetesan keringat menetes ke tanah. Dia melihat ke langit kalau cuacanya cukup panas, hendak ingin kembali ke tenda ada panggilan masuk ke teleponnya dan dia melihat pesan pada aplikasi khusus buat semua anggota Belati Putih membuatnya heran.


Pesan ini menunjukan laporan soal hal yang tidak bisa dibiarkan, bisa saja kejadian seperti Vina terulang kembali. Tapi, kalaupun ada yang seperti Rani hanya ada beberapa saja dan dia termasuk yang paling beruntung karena mendapatkannya. Tidak semuanya akan mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup seperti Vina, seperti manusia pada umumnya.


Hanya saja, mereka akan dibeli dan menjadi pengganti jantung untuk penderita Heartlosive yang lainnya. Jika saja ada yang sama akan diambil dan menjadi pengganti, Rani tidak ingin membiarkan kejadian ini terulang. Makanya pergi menyelidikinya dan sekarang mendapatkan informasi.


"Mereka memiliki banyak pasukan ?" Kata Rani membaca suratnya. Dia menghela napas kemudian melihat ke arah masing-masing orang, gadis itu tahu kalau semuanya sibuk dan masing-masing memiliki kesibukan masing-masing. Saat melihat para bawahannya sedang sibuk menambang, dia juga melihat Adly dan Widya sedang menghabiskan waktu bersama. Tidak tega menganggu.


Rani berteriak, "Fauzan!! Kemari..!!"


"Rani, Fauzan milik aku!!"


"Hah ?! Sarah, kamu kenapa dan memerah gitu ? Apa yang sedang ada dalam pikiran kamu ? Mengkhayal apa hayoo ?"


"A-A-A-Aku gak memikirkan malam pertama bersama Fauzan, sama sekali tidak!!" Kata Sarah sambil gugup, nada tinggi, dan wajah memerah. Rani tersenyum kemudian mendekatinya sambil membisikan sesuatu padanya, sedangkan Fauzan yang datang dengan wajah heran mendatanginya.


Sesaat kemudian Sarah memiliki wajah keran seperti mau meledak, saat Fauzan datang dia hendak bicara dan membuka mulutnya. Tapi, terbuka dan tertutup berulang-ulang membuat Fauzan heran. Sesudah beberapa saat gadis yang sedang menunduk itu mengangkat wajahnya ke atas, dia langsung berteriak tanpa tujuan yang jelas.


Dia mengangkat kaki kirinya dan menendang kekasihnya dengan kekuatan Elentry miliknya, Fauzan terlempar jauh ke langit.


Rani tersenyum, "tidak ada suara seperti "ting!' atau apapun terlihat seperti bintang."


"Memang ini film!"


"Maaf-maaf!" Balas Rani menjawab Sarah yang membentaknya. Sedangkan gadis lain yang bernama Widya terdiam dan menatap Fauzan yang sedang terbang, setelah merasakan kalau tangan gadisnya tidak mengelus rambutnya lagi dia membuka matanya dan melihat sebuah cahaya biru terang di langit. Matanya menyaksikan kalau itu sahabatnya.


Serentak Adly berdiri dari pangkuan istrinya, gadis itu cemberut dengan perilakunya barusan. Adly menekan tombol pada Earbuds yang ada di telinga kirinya, dia tersenyum dan menghirup udara agar bisa berteriak keras.


Dia berteriak, "Fauzan!! Balik lagi kemari! Jadi bumerang sana!!"


"Mustahil, bodoh!!" Teriak Fauzan membalas perkataannya. Dia sangat merasakan dingin soal berada di udara ini, jam tangannya memperlihatkan peta dan melihatnya dia jauh dari tanah. Sekitar 100 meter dari daratan.


Lelaki itu menghembuskan napasnya karena itu bukan pertama kalinya, sudah beberapa kali semenjak Sarah melemparnya begini. Kalaupun tidak sakit tapi tetap saja itu menjengkelkan, sesudah beberapa saat dia melihat ke langit kalau begitu panas hari ini dan berpaling pada jam tangannya.


Baguslah, sekarang jaraknya dengan tanah hanya 32 meter saja.. lelaki itu mengambil sesuatu dalam sakunya dan melemparkannya.. ada sebuah kristal, dia mengambilnya kemudian terlihat kalau ada benda yang membentuk grappling hook pada tangan kanannya.


Sesudahnya dia menekan pelatuk membuat moncong senjata itu mengeluarkan tali bekail. Tertancap pada bangunan, dia melesat dan mendarat dengan selamat di bawah gedung. Ada banyak orang yang menatapnya, dia seketika malu kemudian mengangkat kartu identitas miliknya dan semua orang berjalan seperti biasa lagi.


Fauzan mengelap keringatnya, "yah.. buruk juga kalau aku dianggap seseorang yang tidak bener."


"Kak, apa kakak dari Belati Putih ?!"


"Eh ? Dek, kamu ngapain tanya begitu ?" Tanya Fauzan. Tiba-tiba datang anak kecil bertanya begitu, dia menghembuskan napasnya dan ingin melanjutkan bicaranya. Ibunya datang, dia menarik tangan anaknya kemudian pergi menariknya. Anak itu menolak dan malah kembali ke hadapan Fauzan.


Anak itu memperlihatkan mata berkaca-kaca, "Ibu, aku pengen bicara dulu dengan kakak itu!"


"Kita pulang!!!" Bentak ibunya. Ibu itu memaksa anaknya, tapi dalam hitungan detik tidak lama setelah ibunya membentak dia kelihatan memegang dadanya, setelah beberapa saat kemudian ibunya memeluk anaknya seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari Fauzan. Lelaki itu tahu betul apa yang terjadi pada anak ini.