
Anak itu terdiam melihat kedua orang tuanya sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit, ada dokter dan suster yang sedang membicarakan biaya untuk mereka berdua. Fauzan paham apa yang sedang dibicarakan olehnya, tapi dia tidak tahu apapun soal uang dan hanya bisa meminta tolong saja.
Anak itu keluar dari ruangan itu kemudian pergi keluar dari rumah sakit. Mungkin, dia pikir kalau saudara atau siapapun akan meminjamkannya uang untuk biaya rumah sakit. Saat berjalan dia melihat seseorang yang berada di parkiran, jelas sekali itu adalah tetangganya tapi saat tersadar kalau ketahuan melihat ke ayahnya dia segera memalingkan wajahnya.
Fauzan kaget karena orang itu sama sekali tidak ada niat untuk menolong. Bahkan melihat saja tidak mau, sekarang mungkin tidak ada yang mau membantunya karena biaya itu cukup besar. 450Jt itu cukup mahal, dia tidak tahu lagi harus ke siapa lagi selain saudaranya lagi.
Melihat ada telepon umum dia mendatanginya dan segera mengambil uang koin, "kuharap mereka mau membantu."
Dia datang dan memasukan koin ke telepon umum itu menelpon semua saudaranya. namun, setelah cukup lama menghabiskan waktu di telepon umum dia tidak mendapatkan kabar baik. Awalnya mereka kedengaran senang saat mendengar suara anak itu, tapi sesudah tahu apa masalahnya mereka langsung tidak ingin membantunya.
Seseorang bertanya padanya, "Nak, kamu kenapa menangis di sini ?"
Fauzan menyeka air matanya kemudian menoleh ke belakang kalau ada seorang pria bersama anak seumurannya sedang berdiri, dia memiliki rambut biru cerah panjang sampai ke pinggul dan terlihat bersembunyi di belakang pria berumur 30 tahun-an itu.
Kemudian Fauzan menjawab dengan gugup, "Eh ?! Ah, gak apa-apa! Mataku cuman terkena debu saja."
"Begitu ya ?.. kalau begitu paman mau pakai telepon umumnya, apa boleh ?"
"Maaf.. permisi!" Ucap Fauzan dengan panik. Matanya tertuju pada kedua orang tuanya yang sedang dibawa keluar, pihak rumah sakit terlihat tidak peduli pada mereka yang sedang sakit itu. Anak mereka datang dan bertanya dengan penuh air mata yang mengalir.
"Kenapa mereka di bawa keluar ?! Masih sakit, bukan ?!"
"Tapi dek, kalau tidak ada yang menanggung biaya maka takkan bisa diobati di sini."
"Biaya nanti saja! Biarkan ibu dan ayahku sehat dulu!"
"Tapi..."
"Masukan mereka lagi, biar saya yang menanggung semua biaya mereka."
"Paman ?!" Fauzan menatap pria ini dengan tajam. Suster mengangguk kemudian pergi masuk ke dalam membawa mereka, Fauzan menunduk dan dia tidak tahu apapun lagi selain berterimakasih kepadanya.
Paman itu masuk ke dalam, "mau mengurusnya dulu. Sarah.. kamu temani anak itu dan tunggu di sini."
"Baik, paman!" Jawab Sarah. Dia masuk ke dalam lalu mereka berdua membisu satu sama lain, Fauzan yang terlihat bingung memintanya untuk duduk di kursi sambil menunggu pria itu kembali. Sarah dan Fauzan pergi ke kursi dan duduk, mereka berdua terdiam tidak bicara sepatah katapun.
Karena merasa tidak enak, Fauzan mencoba memulai pembicaraan. Dia bertanya, "yang tadi itu ayah kamu ?"
"Eh ? B-bukan.. dia guru di sekolahku.. b-begitu."
"Maaf..! Aku hanya.."
"Tenang saja, anak ini pemalu! Dia jarang bicara dengan temannya dan memang mendapat nilai paling bagus, tapi sayang.. dia kurang bersosialisasi."
"Pria ini cepat sekali, kenapa dia bisa berjalan secepat itu ?" Tanya Fauzan dalam hati. Pria itu menatap Fauzan dengan heran, dia duduk di sampingnya dan bertanya mengapa bisa anak seperti dia sendirian di rumah sakit seperti ini bersama orang tuanya yang jatuh sakit. Pria itu tahu kalau penyakit mereka parah, begitu juga anak ini sama sekali tidak punya siapapun lagi.
Pria ini beranggapan kalau Fauzan tidak punya siapapun lagi selain orang tuanya. Dia menghembuskan napasnya, kemudian mengelus rambutnya Fauzan dan berpikir kalau orang tuanya akan koma selama beberapa bulan. Karena itu dia ingin membawa anak ini pergi dengannya untuk tinggal sementara bersamanya.
Paman ini bertanya pada Fauzan dengan senyum, "apa kamu mau ikut dengan kami ? Kata dokter, mereka akan koma beberapa bulan. Itu juga kalau kamu mau, apa punya orang lain atau saudara ?"
"Kayaknya mereka tidak mau kalau tinggal denganku."
"Begitu ya ?.. kalau begitu, bagaimana ? Sarah juga bukan anak bapak tapi kamu murid dan guru."
"Kayaknya aku gak ada pilihan lain, terserah paman saja," Kata Fauzan terpaksa. Paman itu tahu kalau anak ini bukan seperti anak pada umumnya, sesaat kemudian dia tersadar kalau anak kecil ini punya potensi dan mungkin akan mengajaknya masuk mendapatkan pelatihan darinya bersama Sarah.
Mereka bertiga pergi dari rumah sakit, Fauzan sempat melihat ke belakang sambil bertanya-tanya apakah orang tuanya baik-baik saja. Pria itu sebelumnya menjanjikan setiap minggunya dia boleh menemui mereka. Tapi, saat ini dia perlu bersama orang itu untuk tinggal dulu.
***
Fauzan menganga lebar melihat rumah yang akan ditinggali olehnya, Sarah juga awalnya sama jadi tidak heran lagi. Anak perempuan itu mengambil tangan Fauzan, dia masuk bersamanya ke dalam melihat kalau dari halaman sampai dalam rumah sama sekali tidak ada yang kecil. Tapi, semuanya serba besar dan mewah sekali.
Ada banyak anak kecil yang sedang bermain, saat mereka melihat Fauzan langsung mendatanginya dan Fauzan merasa tidak nyaman. Mereka menepuk pundaknya kemudian bertanya, "kamu anak baru ya ?! Yah.. paman bawa lagi orang, nih!"
"Hey, Sarah.. apa dia pacarmu ?"
"Berisik!" Jawab Sarah sambil masuk ke dalam. Dengan muka memerah, dia terlihat begitu malu dan semuanya mengajak Fauzan untuk bermain. Dia mengangguk sambil pergi bersama mereka semua, tapi dia melihat seorang anak yang sedang ada di dahan pohon sedang menguap.
"Mengantuk ? Bagaimana kalau dia jatuh ?!" Ucapnya dalam hati. Saat berlalu beberapa saat anak itu melemparkan sesuatu ke arah Fauzan, anak yang lain mengambil sesuatu dari sakunya dan memukul balik benda yang dilempar itu. Saat benda itu menusuk batang pohon, Fauzan kaget sekali dengan apa yang dilihat olehnya. Pisau..
Dalam hatinya dia menggerutu, "mereka mau menjadikanku boneka buat samsak ?!.. aku masuk ke dalam keluarga pembunuh!!!"
"Fauzan ? Kenapa kamu terlihat ketakutan begitu ?" Tanya Sarah dari belakang. Anak itu tidak menjawab, Sarah merasa heran lalu melihat ke arah Zaky yang sedang duduk di dahan pohon. Anak itu pendiam, walau dingin tapi orangnya cukup baik hanya saja saat ada orang baru dia terlihat kejam. Padahal Fauzan belum tentu jadi rekan mereka.
Sarah dan yang lainnya membawa masuk Fauzan ke dalam, dia bertemu lagi dengan pria itu bersama istrinya dan ada seorang anak yang sedang duduk di depan televisi. Hanya saja, semua orang langsung memalingkan wajahnya saat melihat anak itu sedang menonton televisi.
Saat fokus ke televisi, Fauzan langsung kaget dan sempat berteriak melihat jumpscare yang begitu menakutkan. Dia terengah-engah melihatnya, sedangkan anak itu biasa saja menanggapinya dan dalam hitungan detik ada yang datang lagi. "Itu orang kenapa gak ketakutan ?!" Ucap Fauzan dalam hati dengan wajah ketakutan.