Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
Episode 106 : Zombi Kelelawar Menyerang


Suara dentuman keras seperti injakan kaki raksasa membuat semua orang panik ketika mendengarnya, mereka melihat sosok yang besar. Dengan cepat ia berlari mendekati sekumpulan orang yang sedang beristirahat, beberapa orang menembakinya dengan senapan seperti melemparinya dengan krikil kecil.


Namun, sebuah misil meledak di sampingnya menghantamnya keras hingga tangannya meledak dan darahnya berhamburan ke jalanan. Zombi raksasa itu melihat ke arah dimana misil tertembak, ia melihat robot besar sedang meluncur ke arahnya dengan tubuh besarnya yang sama dengannya.


Meriam di bahu kanannya mengeluarkan misil lagi menembak mengarah ke lehernya, dengan cepat zombi memukulnya mundur meledakannya jauh beberapa meter darinya. Robot itu menambah kecepatannya terlihat jet di punggungnya mengeluarkan pendorong yang lebih kuat.


Surya menekan tombol di hadapannya, "Aktifkan fitur pertahanan, ganti senjata proyektil ke senjata pedang."


"Baik, membuka fitur pertahanan dan mengganti senjata."


"AI sangat bagus, tapi.. kau tidak bisa diajak bicara ... Kenapa mereka ambil cuti sih ?!" Ucapnya kesal. Biasanya yang akan menyiapkan sistem dan menghidupkan mesin timnya, tetapi karena mereka liburan jadinya Surya harus melakukan ini sendirian saja. Membuatnya sedikit kesal.


Semakin dekat robot itu dengannya zombi mengangkat kedua tangannya ingin memukulnya, melihat itu Surya sudah mengetahuinya kalau ia akan memukulnya ke bawah. Menghembuskan napas karena sudah merasa bosan, dia tidak ingin bermain-main sekarang ini dan langsung membelah tangannya menggunakan pedang.


Tangan robot mengeluarkan asap dan tidak lama senapan serbu keluar dari sikunya menembakkan peluru ke matanya, zombi tidak bisa melihat. Langsung mencincang tubuhnya dengan pedang besarnya DyntalGear terdiam menatap mayat besar di hadapannya.


"Aktifkan termografi." Surya menatap ke sampingnya kalau segerombolan zombi kecil datang. Hanya ada empat dari semuanya punya suhu tubuh, ingin membunuh mereka juga membuatnya bingung karena akan susah memisahkannya. Namun, karena ini pekerjaan ia harus mengamankan empat zombi itu.


Melihat peta ada tujuh anggota Belati Putih yang sedang berpatroli, menghubungi mereka Surya memintanya untuk mengamankan dan membawa keempat zombi itu ke kota. Kini zombi yang bisa diselamatkan ditampung ke sebuah kota, mereka disimpan di setiap rumah memenuhi kota dengan suara geraman mereka.


Beberapa saat kemudian setelah menerima panggilan Surya mereka bergerak, dilihat dari peta mereka begitu cepat seperti bukan manusia. Dan tidak lama zombi itu dibawa oleh mereka, walau kelihatan sebagian besar dari mereka adalah zombi pemuntah. Mereka memuntahkan cairan berwarna kuning terkadang menyemburkannya ke musuhnya, bagi robot itu biasa saja takkan melelehkan tubuhnya yang dari besi.


Namun, kalau lawannya adalah manusia ia takkan sanggup menahan baunya..


"Rudal ? Tidak, siapkan senapan serbu kecil dengan peluru ledakan." Surya mulai membidik. Ia menembak ke tengah-tengah zombi meledakan area disekitarnya, suara keras terdengar lagi dan saat para warga sipil melihat kalau zombi sudah musnah membuat semuanya bernapas lega.


Tidak lama setelahnya DyntalGear mengeluarkan jet pendorong lagi dan terbang ke atas, menyimpan pedang ke punggungnya lagi ia menuju arah barat. Beberapa menit yang lalu, Zaky memintanya untuk pergi ke kota tujuannya dan mengalahkan beberapa raksasa zombi yang ada di kota itu.


Kebanyakan zombi adalah zombi bersuhu membuat Zaky tidak bisa memusnahkan mereka bersamaan, karena itulah ia menyuruh Surya membunuh mereka dengan senapannya. Dari jauh keinginannya memusnahkan para zombie itu dari jarak jauh, dan sebisa mungkin tidak menghancurkan gedung disekitar.


Bagi orang lain mungkin ini terdengar mudah tapi Surya takkan bisa jamin kalau gedung-gedung akan selamat, karena tubuhnya besar jadi mana mungkin tidak menghancurkan gedung. Kecepatan terbangnya semakin cepat melesat di langit.


Beberapa menit kemudian, sesampainya di kota yang dimaksud ia lihat kalau memang banyak zombi bersuhu membuatnya bingung. Hanya saja satu anggota Belati Putih ada di kota ini, begitu juga dengan seorang manusia membuat Surya terheran-heran menatap layar monitor. Matanya berkedip-kedip beberapa kali tidak percaya.


"Kuharap takkan terjadi apapun," ucapnya sembari menelan ludahnya. Merasakan firasat buruk ia tidak ingin ada hal yang mengerikan terjadi, apapun itu Surya sama sekali tidak menginginkannya.


***


Fauzan melepaskan sahabatnya mendudukkannya pada sebuah kursi, disampingnya ada istrinya sedang mengelap keringatnya. Melihatnya seperti ini Fauzan tidak tega tetapi cara apapun sudah dilakukan, dari mata pengganti, dan kaki palsu tidak bisa dipakai olehnya karena Elentry.


Yang ditakutkannya nanti kalau kekuatan regenerasinya kembali, mata buatan akan bentrok dengan mata asli membuat tubuhnya terbebani. Menghembuskan napas Fauzan memberikan sebuah pistol padanya lalu pamitan.


Adly menerima pistol dan memelas, "Aku bukan anak kecil ... Berikan aku pedang.."


"Tidak, tidak, tidak.. kau tidak bisa menjaga diri jikalau memakai pedang pakailah senjata itu.. dan itu bukan mainan, Pliss..!"


"Pendengaran dan penciumanku masih berfungsi."


"Ingatlah dulu saat kau diserang segerombolan zombi.. karena memakai senjata jarak dekat makanya jadi begini, mulai sekarang gunakan senjata proyektil, kumohon!"


"Ya dengarkan manusia ini, ayah."


"Alia, apa yang kau lihat dariku ? Dan Adly, kau mengajarkan apa saja pada anakmu ?" Tanya Fauzan dalam hati sambil memperlihatkan tatapan sinis. Kemudian suara tembakan terdengar dari luar menandakan ada yang kemari, entah musuh atau apapun itu Fauzan keluar melihatnya kalau ada zombi keluar dari tanah. Terlihat jelas tubuh mereka besar dan mengeluarkan asap.


Semua anggota mengganti senjata ke senapan dan menghabisinya dari jauh, semakin lama semakin berubah-ubah. Mereka terus berkembang menjadi hal-hal tidak terduga, dari zombi peledak disebut begitu karena bisa meledakkan diri dan juga zombi pemuntah. Apalagi zombi yang berbentuk seperti hewan memiliki kemampuan yang sama seperti hewan itu juga.


"Zombi kelelawar ? Akan merepotkan." Fauzan menyilangkan tangan depan dada. Namun, ada sesuatu yang membuatnya sadar dan melupakan semuanya, sekumpulan zombi kelelawar datang membuatnya berdecak kesal dengan cepat ia memerintahkan untuk menutup gedung dengan pelindung dan mengeluarkan SentryGun untuk menghabisi mereka.


Dari setiap sisi ujung gedung terdapat SentryGun menembaki mereka, namun, banyak tembakan yang meleset karena kecepatan mereka tidak bisa ditarget oleh AI melihat kalau begini terus mereka akan kehabisan amunisi. Beberapa orang disuruhnya untuk menggunakan SentryGun secara manual.


Mereka pergi ke setiap ujung dan duduk di depan SentryGun, hanya saja mereka lihat kalau kelelawar sama sekali tidak menyerang hanya berterbangan saja.


"Tutup telinga!" Teriak Adly. Semuanya terdiam, lalu para kelelawar itu mulai membuka mulut mereka dan semua orang menutup telinganya mendengar suara melengking sangat keras. Sampai-sampai terasa seperti ada benda yang menimpa kepala mereka, melihat ini Adly lihat kalau Aldy terlihat kesakitan juga.


Menghilangkan pendengaran Aldy, Adly melakukannya seperti biasanya. Seseorang yang ada di hadapannya bagaikan bonekanya, bisa disuruh sesuka hati dan apapun akan dilakukannya tetapi Adly mengharapkannya bisa menolak sesekali.