Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
36. Adly


Setelah liburan beberapa hari semua anggota merasa sangat senang, tapi tidak begitu bagi kelompok pembantai. Mereka disuruh Rani atasan mereka untuk mencari tahu soal bangunan atau tempat yang susah ditinggalkan, menurut informasi ada info tentang heartlosive ada di sana.


Bagi Rani penyakit itu sesuatu yang membuatnya merasa sakit hati setiap mengingatnya, telah mengambil seseorang yang dicintainya. Tapi, semuanya telah berlalu dan sekarang dia ingin tahu bagaimana cara agar penyakit itu hilang.


Perintah tetap sama tidak bisa diganggu gugat, karena itulah Adly sedang menuju ke sana bersama tiga orang lainnya. Mereka berempat melihat luar bangunan, tempat ini begitu rusak. Dinding sudah dipenuhi tanaman rambat dan lumut.


Adly menghembuskan sambil menatap bangunan itu, "apa yang bisa kita dapatkan di sini ? Kalaupun ada data pasti susah rusak."


"Mungkin ada semacam data atau apapun itu dalam flashdisk atau apapun itu," jawab anak buahnya. Adly yang mendengar itu melihat ponselnya, membuka PDF dan membaca informasi tentang bangunan ini dimasa lampau. Dia menghembuskan napasnya kemudian menunjuk bangunan itu.


"Saat masih hidup, ilmuan dan dokter yang meneliti penyakit itu tidak terlalu menggunakan teknologi. Cari saja buku atau surat yang masih bisa dibaca."


"Baik!" Jawab mereka bertiga. Melihat anak buahnya masuk, dia melihat ke sekitar bangunan sambil terlihat cemas akan sesuatu. Tidak lama dia mendengar seperti suara yang aneh, terdengar seperti suara harimau tapi ini lebih ganas dan sangat berat sekali suaranya.


Mengambil pedangnya dia melihat sekitar kalau hanya ada daun dan pohon saja, tidak ada apapun selain hal lain. Walau dikatakan binatang buas itu takkan mungkin karena wilayah ini dekat dengan pemukiman warga, tapi tidak ada kemungkinan seratus persen tidak ada.


Tiba-tiba Earbuds di telinganya mengeluarkan suara dari anak buahnya, Adly menjawab dan mereka tidak bicara tapi malah terdengar suara benturan pedang.


Hendak masuk tapi akhirnya salah satu dari mereka bicara, "ketua.. apa Anda diluar ?"


"Ya memangnya ada apa, kenapa kalian terdengar seperti sedang bertarung ?"


"Kami diserang zombi."


"Begitu ya ? Apa levelnya ?"


"Satu.. dan jumlahnya ada belasan saja, kami bisa mengatasinya," jawab anak buahnya. Adly menyuruh mereka menyelesaikannya dengan cepat, sekarang dia juga nampaknya sedang diawasi seseorang ataupun mahkluk itu.


Benar saja... Zombi dengan level 04 keluar dari tempat persembunyiannya, Adly merasa kaget kalau musuhnya besar. Ukurannya seperti pintu rumah, sekarang mungkin Adly tidak tahu apa yang harus digunakan untuk melawannya karena dia hanya membawa senapan serbu api saja. Terlebih lagi disekitarnya itu pepohonan yang mudah terbakar, lelaki itu hanya tersenyum masam.


***


Di tempatnya Fauzan, dia sedang bingung karena Rani malah memperbaiki dan meningkatkan organisasi Belati Putih tidak sesuai dugaannya. Ia pikir dengan kematian Ryan, dia akan menghancurkan organisasi itu dari dalam. Kalau begini terus, grup pembantai akan dianggap pengkhianat kalau sampai tidak mengikuti perintah.


Grup mereka ditakuti tapi tidak dihormati sama sekali walau telah berjasa besar, hanya saja yang belum diketahui mereka adalah orang-orang dari atas. Bisa saja besok grup mereka akan jadi musuh satu organisasi, itu yang ditakutkan olehnya.


Namun, dari pergerakan Rani yang terlihat sedang mencari sesuatu tentang kegiatannya merupakan ancaman baginya. Lelaki itu tak tahu apa yang akan dilakukan olehnya nantinya, mungkin saja beberapa hari setelah ini Adly dan semuanya akan masuk ke jurang bersamanya.


Sarah yang bersamanya terdiam sambil memperhatikan pacarnya. Dia kelihatan memelas, "kamu memikirkan apa lagi ?"


Saat sedang berpikir ada panggilan masuk, dia menerimanya dan ada sebuah pesan dengan isi "maaf... Bisakah teleport senjata berat apapun ? Kumohon!"


"Apa ini ? Siapa pengirimnya ?" Tanya Fauzan pada Sarah. Gadis itu pula tidak tahu dan menggelengkan kepalanya dengan masih malu, karena tidak mengetahui siapa pengirimnya dia tahu kalau surat ini nampaknya dikirimkan oleh seseorang yang meminta bantuan. Entah dari rekannya yang mana tapi mungkin dia dalam bahaya.


Lelaki itu berdiri dari tempat duduknya, dia mengambil jaket dan memakainya menoleh ke belakang kalau Sarah dengan senyum melambaikan tangannya. Fauzan keluar dari rumah berjalan menuju gadung Belati Putih yang dekat dengan rumah Sarah, dia memikirkan siapa pengirim itu tapi sama sekali tidak terpikir olehnya.


***


"Si Fauzan lama sekali!" Ucap Adly sambil menghindari serangan. Zombie sebesar itu mampu mengangkat barang pohon yang melebihinya, bahkan petinju profesional juga kesusahan. Lelaki itu hanya membawa pistol dan pisau saja, dia menembak kepalanya tapi tidak berpengaruh apapun sama sekali.


Melihat ke sekitar dia, Adly melihat sebuah pohon besar yang mau runtuh. Ini hanya keberuntungan saja tapi kalau ini gagal, mungkin dia akan terluka parah harusnya. Lelaki itu berlari ke batang pohon itu kemudian menoleh ke belakang kalau zombi itu masih saja mengejarnya.


Saat zombi mau memukul Adly, dia terbaring ke tanah dan pukulan mahkluk itu mengenai pohon membuatnya mau tumbang. Adly segera berlari Melawati kedua kakinya, kemudian mahkluk itu tertimpa batang pohon itu.


Hanya saja... Dia tetap saja bisa berdiri. Adly langsung memelas, "kekuatannya kayak apa sih ? Berapa kg yang bisa diangkat olehnya ?"


"Mau pakai kekuatanku ?"


"Aku tidak bisa memakainya saat ini, besok aku mau ke sana bersama Widya memakai kekuatanmu sama saja membuatku mudah lemas tau."


"Bulan madu bisa ditunda! Nyawamu terancam!"


"Hey, kau tidak tahu bagaimana gadis itu akan bagaimana kala---!"


"Awas!" Teriak Dragrise menyela perkataan Adly. Lelaki itu menghindari serangan kemudian berguling ke belakang, dia terlihat kesusahan tanpa perlengkapan lengkapnya. Saat melihat ke peta, semua anak buahnya sedang sibuk dan zombi yang mereka lawan bukanlah level 01 tapi level 02 atau tiga nampaknya.


Adly berpikir begitu kalau bisa saja dia kabur dan pergi, tapi tidak bisa membiarkan mereka begitu saja. Melihat sebuah jurang, dia pikir untuk menjatuhkannya saja ke jurang itu. Soal memanjat kembali bisa menggunakan grappling hook saja, itu Ide bagus menurutnya. Dan ingat saat Alia menggunakan grappling hook untuk memancing ?


Dia berlari menuju jurang diikuti zombi itu, mahkluk itu semakin menggila dan membuat guncangan. Tidak lama Adly menunggu waktu yang tepat, saat mahkluk itu sudah sekitar tiga meter lagi dia melompat ke jurang.


Beberapa meter saat berada di bawah, dia berpegang pada sebuah batang pohon. Saat itu juga zombi itu ikut turun dan terjatuh, tidak seperti Adly dia jatuh ke bawah mendarat ke sebuah batu besar membuatnya mati dalam sekejap.


Adly menghela napas lega, lalu mengambil grappling hook miliknya kemudian hendak melemparkan kail dengan alatnya itu. Hanya saja tidak keluar tali atau apapun, membuatnya heran.


Kemudian dia teringat beberapa hari yang lalu saat Alia menggunakan alat itu untuk memancing, melihat ke pohon yang sedang dipegangi olehnya membuatnya tenang karena pohon ini terlihat kokoh. Namun, beberapa saat kemudian dia mendengar suara seperti retak. "Aingmah akh!" Ucapnya jengkel.