Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
29. Rani


Di sana sini banyak air mata menetes, kebanyakan orang adalah remaja dan mereka begitu tidak menyangka teman mereka meninggal dengan usianya yang masih terbilang muda. Setelah beberapa lama mereka pergi, hanya tinggal beberapa orang saja yang masih ada di sana.


Diantaranya adalah Vina dan Rani, mereka terdiam satu sama lain. Menatap batu nisan yang sedang berdiri tertancap ke tanah, semua orang pasti tahu ada apa dalam tanah dibawahnya. Vina hendak ingin bicara tapi mengurungkan niatnya, tangannya terangkat dan berdiri dari tempatnya.


Anak itu pergi tanpa menoleh lagi ke belakang, sedangkan disebuah dahan pohon ada seseorang hanya melihat dari kejauhan nampak dia juga bersedih tapi tidak diperlihatkan olehnya. Matanya hanya menyisakan satu tetes air mata kemudian pergi, dia meninggalkan partikel biru yang melayang ke langit.


Zian menghembuskan napasnya kemudian pergi menarik tangan Sarah, "ayo kita pergi tinggalkan dia saja sendiri..."


"Tapi.."


"Sarah .."


"Iya.. iya..! Rani, kamu pulang ya!" Ucap Sarah sembari pergi ditarik kekasihnya pergi. Fauzan terdiam di bawah naungan pohon, gadis itu menghembuskan napasnya dengan panjang sembari melihat wajah orang yang berada di hadapannya.


Dia nampak tidak peduli tapi melihat hal ini Sarah tahu orang macam apa lelaki yang berada di depannya, matanya hanya memperhatikan seseorang yang tengah bersedih itu. Dalam hal ini dia tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang berharga, tapi ya mau bagaimana lagi.


Fauzan mengambil ponselnya melihat sudah pukul 5 sore dengan prediksi cuaca hujan akan turun malam ini. Dia membuka maskernya kemudian memperlihatkan luka yang cukup dalam, Sarah terlihat cemas lagi padanya. Gadis itu mengelus rambutnya, "hei.. jangan terlalu membahayakan diri kamu, loh."


"Aku baik-baik saja, ini tidak seberapa.. kamu tahu juga, bukan ? Kalau Adly punya luka yang lebih dariku."


"Baik.. baik.. aku tahu. Perutnya bolong kayak donat ? Apa itu lucu ? Enggak..!"


"Itu kebiasaan kami tahu, unit pembantai biasanya akan menggunakan jokes itu buat memecah keheningan."


"Ya.. Buat orang normal sangat kasar dan agak seram tau."


"Sebagai unit penyelesaian, kamu terlalu banyak berpikir. Padahal udah bunuh banyak orang."


"Hah.. dah lah, aku males.. candaan kalian itu terlalu gila untuk aku cerna!" Jawab Sarah dengan senyum masamnya. Dia melepaskan tangannya dari pipi Fauzan kemudian pergi, lelaki itu mengikutinya dengan langkah yang cukuplah cepat.. saat itulah dia melemparkan sebuah pisau ke belakang tanpa diketahui Sarah dan diam-diam melemparkan sebuah kertas ke belakang.


Orang yang dituju sadar kemudian kertas itu diambil seseorang dan pisau itu melayang, Adly datang dari langit dengan alat teleport di tangannya. Melingkar seperti sebuah jam berbentuk persegi dengan warna abu, ada garis-garis biru yang menandakan energinya masih banyak.


Dia membuka kertas itu lalu membacanya..


_Semua orang sudah pergi, kini hanya tinggal Rani saja yang berada di pemakaman. Jangan terlalu menyakiti hatinya.. ingat itu baik-baik, gunakan kesempatan ini agar dia masuk ke dalam organisasi kita untuk balas dendam. Biarkan dia mewarisi peran ayahnya sebagai atasan.


Dari Fauzan, oh ya.. perut kamu masih bolong ?


"Heh ?! Masih saja ingat ?! Luka itu memalukan!" Ujar Adly dengan wajah marah. Dia merobek-robek kertas dengan penuh amarah, mulutnya mengeluarkan asap kemudian mengambil ponselnya dan menggigitnya sambil terpikir.


"Kenapa aku menggigit ponsel ?" Tanya dia pada dengan siapa ? Mana ada yang tahu. Sekarang dia menghembuskan napasnya, dia pergi menghampiri Rani yang masih sedih dan terdiam depan makam yang sudah ada banyak kelopak bunga diatasnya. Adly datang menepuk pundaknya, kemudian hujan turun dengan deras.


Tangannya terangkat sambil tersenyum. Dia mengelus batu nisan kemudian mengeluarkan pedangnya, hendak menusuk batu itu kemudian Rani mencengkram erat bilah pedang itu. Adly melihat itu langsung bertanya, "apa yang kamu lakukan ?"


"Apa yang ingin kamu lakukan ?"


"Aku tahu itu, tapi apa yang ingin kamu lakuin ?"


"Kamu juga punya bukan ? Jujur saja aku ingin membunuhmu sekarang juga."


"Kenapa kamu mengatakan itu ? Tidak seperti kamu yang biasanya!" Balas Rani dengan setengah hentakkan. Adly menggores batu nisan itu tepat dinama Ryan, Rani langsung melemparkan pedangnya itu membuat tangannya tersayat mengeluarkan darah membuatnya merasa perih.


Tangannya yang lain memegangi telapak tangannya merasai perih yang diakibatkan pedang itu, Adly menatapnya cukup lama berpikir apa yang harus dilakukan olehnya agar rencana Zian bisa berhasil. Dia menemukan ide dalam pikirannya, ya itu mungkin cukup bagus buatnya pribadi.


Dia menyeringai memikirkan cara jahatnya. Kakinya menyiapkan sepatu tempurnya, ia langsung menendang Rani dengan agak keras. Tidak lama gadis itu terguling ditengah hujan, pakaiannya langsung kotor terkena lumpur dan tanah yang sudah terkena air hujan.


Adly datang padanya dengan wajah yang sama dan niat jahatnya itu terlihat nyata, "jujur saja aku jijik pada lelaki itu maksudku mayat itu. Dia menangis kayak bocah saja, tiap hari menyusahkan ku dan terlalu cengeng."


"Apa katamu ? Bukannya kau temannya, kau yang memberikannya harapan untuk tetap hidup sampai sekarang, kau yang menolongnya dari berbagai hal."


"Itu hanya pekerjaan, karena dia masih bisa diharapkan makanya masih hidup belum ku bunuh."


"Kenapa kamu tersenyum begitu ? Apa yang bahagia dari itu ?" Tanya Rani dengan mata terbuka lebar dengan tangan mengepal. Dia berdiri sambil menatapnya dengan sorot mata tajam, melihat tatapannya itu Adly berdecak kagum karena tahu kalau dirinya seorang pembunuh tetap berani menantangnya.


Dalam sekejap tubuh Rani mengejang hebat gadis itu berteriak merasakan rasa sakitnya, saking menderitanya dia hingga membenturkan kepalanya ke batu. Adly sedikit menahan tawa melihat kejadian itu, tubuhnya mengeluarkan uap dan melesat padanya seperti kecepatan cahaya.


Menendang tubuh Rani hingga terpental ke langit dengan tubuh yang penuh dengan darah, dia terlempar tinggi dan tiba-tiba Adly muncul di belakangnya. Memukul Rani dengan kedua tangannya seperti memukul bola voli yang ringan, tubuhnya menghantam tanah.


Lelaki itu mencabut dua pedang dari pinggangnya melemparkannya tepat ke kedua kaki Rani, gadis itu berteriak kesakitan lagi. Adly tertawa terbahak-bahak lalu turun dan menginjak tangannya, "ingat baik-baik kalau aku ini bukan orang baik-baik. Pembantai itu tidak punya perasaan, mau gadis cantik atau apapun itu."


"Bagaimana dengan... perasaan Widya dan Alia ?"


"Cih! Anak kecil itu menjengkelkan! Memintaku membacakan dongeng setiap malamnya, begitu pula gadis itu dengan tingkah lakunya yang manja!"


"Kenapa kamu memperlakukan mereka seperti keluarga."


"Aku hanya bosan, kupikir berkeluarga menyenangkan ternyata tidak. Mereka berdua merepotkan.. aku hanya menganggap mereka sebagai simulasi, benar! Tanggapanku hanyalah.. bosan.."


"Kenapa kamu sekejam itu ?"


"Heh ? Aku ?!.. kau pikir semua anggota organisasi kami baik ?! Tidak..! Semuanya sama seperti diriku, kami bertopeng.."


"Jadi... Semuanya bohong ? Semua yang kamu lakuin ?" Tanya Rani dengan wajah yang sangat tidak percaya dan juga air matanya uang mengalir. Adly masih mempertahankan senyum jahatnya, dia juga masih berakting sama seperti yang direncanakan olehnya. Tidak lama gadis itu tahu kalau semua orang juga memiliki topengnya masing-masing, hanya saja dia sama sekali tidak bisa menebak ini.


Beberapa detik kemudian Adly merasa sudah cukup dan mencekik leher Rani lalu membisikan sesuatu padanya, "jadi... Hancurkan organisasi itu, aku tidak peduli apapun yang terjadi tapi ya.. kau tahu gak ? Kalau semua pengidap heartlosive akan dibunuh dan jumlahnya ada jutaan di dunia ini, bayangkan pembunuhan itu bagaimana nantinya."


"K-kalian.. bena--r.. Mela..kukannya ?"


"Bicara apa kau ini ? Tentu saja!" Jawab Adly dengan seringai jahatnya. Rani langsung menangis bukan karena sakit tapi entah kenapa hanya ingin saja rasanya...