
Dia memperhatikan bawah mobil sambil terpikir sesuatu yang sangatlah buruk, matanya hanya menatap pada bawah kakinya. Ada sebuah botol dengan cairan berwarna ungu, itu membuatnya ketakutan terlebih lagi ada logo itu di botol itu. Adly langsung menginjak pedal gas, lalu mobil melaju dengan cepat.
Mencari tempat yang bagus untuk membuang benda ini, dia melihat ke jam tangan miliknya dan mencari lokasi terdekat siapapun yang dari Belati Putih asalkan teman dekatnya. Rekan kerja juga tidak apa, tapi setelah beberapa saat dia menemukan lokasi seseorang yang membuatnya tenang, Tanpa pikir panjang dia langsung ke sana.
***
Lelaki itu hanya memakan jelly sambil melihat kepanikan karena ada pemadam kebakaran yang sedang memadamkan api. Adly melakukan itu bukan karena tidak ada alasan, tapi dia harus melakukannya karena mobil itu memiliki botol obat kimia itu dan sangat berbahaya. Sekecil mungkin tidak boleh ada bukti apapun, makanya Adly membakarnya.
Adly menyenderkan tubuhnya pada Widya, "hei Alia, apa kamu mau adik ?"
"Huh ? Ya mau!"
"Tuh, dia mau katanya.. jadi.. ?"
"Kita gak usah ikut program kehamilan, repot tau. Nanti juga aku mengandung..."
"Ya bagaimana bilangnya..."
"Jangan membicarakan itu, terlebih lagi Widya masih sekolah. Apa tidak apa ? Bagaimana kalau dia hamil sebelum lulus ?" Tanya Fauzan sambil menatap Adly yang mengunyah makanan dalam mulutnya. Alisnya terangkat dan dia mengambil sebuah buku, dari sampulnya itu buku nikah.
Diberikan pada Fauzan, dia mengambilnya membuka buku itu kemudian wajahnya cukup terkejut dan langsung menutupnya dengan panik. Sarah sadar kalau ada yang tidak beres, tangannya mengambil buku ini dan melihatnya.
Wajahnya jadi ceria dan senang, "woahh..! Aku juga pengen, Fauzan!"
"Yah.. terima saja, rekanku."
"Gak, aku nolak... Ai aktifkan teleport!"
"Heh ?! Tunggu..!" Bentak Sarah dengan wajah memerah. Saat bersamaan dengan hentakan Sarah, Fauzan menghilang meninggalkan sekumpulan debu saja. Gadis itu mendesah pelan mengambil kubus penyimpanan, keluar sebuah senapan jarak jauh atau sniper dari kubus itu.
Dia membidik ke beberapa arah mencari lelakinya berada tidak menemukannya sama sekali. Tidak lama keluar sebuah suara seperti robot yang terdengar berat, dia memberikan lokasi Fauzan berada dan setelah Sarah mendengarnya langsung mengarahkan senapan ke batang pohon dengan jarak 370 meter darinya.
Menembak batang pohon itu keluar seseorang dari dedaunan, dia melompat dari pohon ke pohon lainnya seperti layaknya ninja. Adly tersenyum menganggap ini hiburan yang bagus, seraya memakan camilan dia tersenyum dan anaknya sedang bermain-main dengan senapan serbu belakang mereka.
***
Besoknya..
Rani sedang berbincang dengan seseorang kemudian masuk ke dalam suatu bangunan yang besar seperti gedung pencakar langit, dia masuk ke dalam lift dan naik ke lantai paling atas. Setelah sampai dia masuk ke dalam satu ruangan, ada banyak orang yang memakai pakaian rapih di sana seperti orang kantoran pada umumnya.
Melihat kehadiran Rani, mereka semua duduk dan gadis itu duduk di kursinya sambil menatap orang-orang yang akan bicara dengannya. Semua orang kelihatan mandi keringat, kecuali satu orang dengan kacamata dan tatapannya begitu dingin.
Rani berdiri dari tempat duduknya dengan tatapan mata serta sorot mata sinis, "kita akan alihkan peran Belati Putih dan para tentara militer."
"Tidak ada tapi tapian!"
"Kenapa harus begitu ? Apa Anda sama sekali tidak punya alasan satupun ?"
"Kita susah membahasnya kemarin hari, lagipula kemana kau semalam ?"
"Saya punya misi penting."
"Membantai sekeluarga yang punya heartlosive ?" Tanya Rani dengan tatapan yang sama. Zaky balas menatapnya balik, mereka berdiri kemudian menodongkan senjata mereka. Gadis itu hanya menatap padanya saja dengan begitu lama, tanpa memikirkan apapun selain tujuannya.
Sedangkan di luar ruangan terdapat Vina yang sedang duduk mendengarkan apa yang terjadi di dalam ruangan, setelah melakukan operasi tubuhnya melemah. Entah ada keajaiban atau apa, tapi dia tidak mati setelah melakukan operasi paling gila sedunia itu. Dia memindahkan organnya kemudian menggantinya.
Rasanya sulit dipercayai tapi seorang dokter mampu mewujudkannya, tingkat keberhasilan hanya 27% tapi orang itu bisa melakukannya. Kini dia masih hidup, hanya saja tubuhnya lemah dan perlu banyak istirahat untuk pulih agar seperti biasanya. Sebulan sekali perlu datang ke rumah sakit untuk diperiksa dan mengeluh apa yang dirasakannya, seraya mendengarkan wajahnya cukup kaget.
Mendengarkan Rani yang marah-marah karena agak lama dia tidak mendengar Rani marah-marah seperti itu. Tidak lama Rani keluar dari ruangan, dia membawa sebuah pistol dengan peluru kosong. Vina membuat matanya lebar, dia tahu kalau ruangan ini kedap dari suara hanya saja kenapa suara senjata itu tidak terdengar olehnya dan hanya teriakan saja dan bentakan.
Rani melihat ke arah Vina sontak kaget, "kenapa kamu di sini ?"
"Aku pengen ketemu kamu saja, kata ibu kamu ada di sini."
"Kamu perlu banyak istirahat," ujar Rani seraya tersenyum datang padanya. Duduk di sampingnya dia kelihatan lega setelah tahu kalau sahabatnya tidak sampai harus meninggalkannya, dia sangat bersyukur untuk ini karena begitu sungguh keajaiban baginya. Walau lelaki itu harus meninggalkannya tapi dia masih harus melakukan sesuatu agar tidak ada orang yang mengalami kejadian seperti Rani di manapun dan kapanpun, dia berambisi dalam hatinya.
Menghela napasnya Zaky keluar dari ruangan setelah selesai membalut lukanya, tidak bisa menyangka kalau Rani akan menembaknya. Memang dia bisa melawan tapi karena dia atasan serta perempuan pikirnya takkan bisa melawan, malah sebaliknya jika Rani berubah dari kucing ke harimau.
Zaky keluar dari ruangan membuka pintu, "lain kali aku takkan lembek meski dia perempuan."
"Zaky, apa kita bisa mempercayakan organisasi ini pada gadis itu ? Dia masih sekolah dan cara bicaranya buruk."
"Mau bagaimana lagi, Adly dan Fauzan tidak bisa memerintah selama beberapa waktu jadi bersabar sajalah."
"Itu cewek bukannya tersipu malu malah menyerang saat aku goda."
"Dasar Playboy," balas Zaky sambil memukul kepalanya. Temannya itu tersenyum masam sambil pergi bersamanya, mereka menunggu lift terbuka dan setelah beberapa saat datang membuka pintunya. Ada Rani serta Vina yang sedang mengobrol, saat mata mereka berdelapan bertemu Rani langsung menutup pintu lift.
Zaky pergi dengan perasaan muak ke tangga darurat, temannya hanya memelas dan menghembuskan napasnya sambil agak jengkel sedikit. Turun memakai tangga, mereka berdua pasti kecapekan karena lantai atas ke bawah jaraknya sangat jauh.
Dalam lift Rani kelihatan kesal, Vina melihatnya dengan heran karena temannya ini terlihat aneh beberapa waktu ini. Dia menyender pada Rani sambil terlihat kelelahan, Rani menerimanya dan mengelus rambutnya dengan lembut. Hanya saja saat memeluk tubuh Vina rasanya dingin, Rani terpikir kalau sahabatnya ini perlu ke dokter lagi.
Pintu lift terbuka, mereka keluar dari sana dan melihat kalau Zaky sedang menunggunya depan pintu. Sepasang mata itu masih menatap Rani dengan sinis, sedangkan gadis itu tidak mempedulikannya dan lewat saja tanpa memandang wajahnya sekalipun.
Lelaki itu menatap punggung Vina, dia melihat alat pelacak itu dengan tajam...