Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
74. Surya


Saat keadaan begitu genting sekali tidak bisa diharapkan bisa selamat, Adly juga mulai keluar batasnya. Seseorang melompat dari atas gedung, mereka semua menatapnya kaget dia seperti orang tidak waras dan langsung menerjang Fauzan yang ada di bawah. Menghancurkan helm itu dengan tubuhnya.


Kemudian, lelaki itu mulai sadar dan lihat sekitarnya dengan bingung seakan mengatakan, "aku di mana dan kenapa ?" Begitu dia melihat ke arah mereka bertiga. Wajahnya masih heran, menoleh ke belakang ada Sarah yang sedang memegangi kepalanya.


"Eh ? Sarah, kau kenapa ?" Tanya Fauzan dengan nada cemas. Gadis itu menggelengkan kepalanya, dia menatap pada Fauzan yang sudah mendapatkan kesadarannya sendiri membuatnya senang. Saat ini mungkin juga keadaan tidaklah seburuk apa yang dikira oleh mereka.


***


Mereka berempat pergi ke Belati Putih dan melihat para anggotanya terlihat ketakutan, menghadapi mereka berempat sekaligus takkan mungkin bagi mereka semua. Sekarang, Rani saat ini sedang koma gara-gara Ryan yang menaruh racun pada tubuhnya.


Dia tidak akan sadarkan diri selama 6 tahun dan sekarang yang memimpin adalah mereka berempat, sama sekali tidak terpikirkan oleh mereka bisa mengurus gedung ini.


"Nah, baiklah.. pertama-tama kita bebaskan grup pembantai yang dipenjara!" Adly berkata sambil pergi meninggalkan mereka. Sedangkan istrinya sendiri tiduran saja, dia menonton televisi sembari melahap camilan. Yap beginilah ketika istri hamil, dia akan menghabiskan camilan anaknya.


"Hmmm.. aku harus minta ayah buat belikan lagi!" Ujar Alia sambil memelas. Dia sama sekali tidak tega meminta dari ibunya, melirik ke jendela ada dedaunan dan rumah ini begitu kotor sekali. Entah kenapa semenjak ibu hamil, dia yang membersihkan rumah ini sendirian itu yang terpikir oleh anak ini.


Dia mengambil sapu dan mulai menyapu dari dapur terlebih dahulu, sembari memikirkan dirinya apa dan bagaimana. Mau bagaimanapun merahasiakannya Alia tidak bisa dibohongi oleh mereka berdua, dia sudah mengetahui soal dirinya.


***


Mereka berdua mulai menyusun dokumen yang ditinggalkan Rani di ruangannya, mereka mendapatkan banyak sekali informasi yang berharga bagi semua orang bahkan semua warga negara ini. Pemimpin mereka,.. ingin memulai perang dengan cara yang sangat gila sekali. Mengorbankan satu kota ini saja.


Ada tiga dokumen yang sangat penting isinya dan dikatakan begitu dirahasiakan oleh Rani sendiri, dokumen pertama memiliki banyak sekali bukti untuk membuktikan kalau pemimpin mereka melebihi manusia biasa. Dia tidak punya kemanusiaan sama sekali.


Yang kedua soal level frame milik semua orang yang memilikinya, namun ada peringkat yang menunjukan siapa yang terkuat seperti biasanya. Fauzan ada diurutan pertama, Zaky kedua, dan Adly ketiga. Mereka membacanya, memang benar datanya sama seperti kemampuan mereka saat ini.


"Sebentar.. jikalau Ryan tidak membuatnya koma, dia bisa saja menghancurkan kita semua karena sudah punya data kemampuan dan kelemahan kita!" Ujar Fauzan sambil mengigit jari. Menghembuskan napas, Zaky duduk dan melihat ke arah pintu menunggu kedatangan Adly yang tidak datang sedari tadi.


Sembari memikirkan soal dokumen ketiga kenapa tidak bisa dibuka, memang ada password yang dibutuhkan namun, itu tidak bisa dibuka oleh mereka karena membutuhkan waktu yang lama. Membuka yang seperti ini sangatlah susah, mereka membutuhkan ahlinya.


Ketukan pintu terdengar, mereka mempersilahkan siapapun itu untuk masuk ke dalam dan yang masuk adalah Adly yang membawa kopi kalengan.


Zaky menatapnya, "Pantesan lama membeli beginian dulu ternyata, kau ini ya.."


"Yah.. aku hanya turun saja ke bawah, lalu bagaimana ? Apa kalian menemukan sesuatu ?"


"Kita bicarakan nanti saja, lebih baik.. kita geser saja raja itu ke bawah."


"Apa maksudmu ?"


"Kita akan mengubah sistem negara ini, atau yang lebih baik kita bunuh saja pemimpin tidak tahu malu itu!" Fauzan merobek satu kertas. Wajahnya begitu mencerminkan kejengkelan, giginya mulai gemetaran dia seperti segera ingin membunuhnya. Adly meminum kopinya hanya menonton dan mendengarkan.


Ada ketukan pintu lagi dan mereka melihat seseorang masuk, Ryan yang kelihatan begitu suram sekali dengan wajah yang kelihatan tidak tidur semalaman. Kantung matanya terlihat. Dia duduk di sampingnya Adly, Adly menghela napas dan memberikan kopi milik Fauzan padanya. Karena tahu kalau sahabatnya itu tidak menyukai kopi.


"Hahhh.. makasih, Adly."


"Lalu, ada apa ?"


"Soal Rani, dia tergila-gila padaku aku juga tidak tahu kenapa dia sampai seperti itu padaku."


"Cinta itu memang menyeramkan!" Adly menepuk pundaknya dan meneguk kopinya lagi.


"Dia mengatakan akan memuaskan diriku kalau menikah dengannya, tapi ya.. kalau dibutuhkan dia akan mengorbankan anak kami jika terjadi sesuatu."


"Burrwww!" Mereka menyemburkan kopi itu ke atas. Semuanya terdiam, tidak ada yang bicara sedangkan Ryan tidak mengetahui apa yang terjadi di sini dan dia terdiam sembari menunggu mereka mengatakan apa. Hanya saja, Adly tersenyum masam dan memegang kedua pundak Ryan.


"Untung saja Widya mau memuaskanku, tapi tidak akan langsung membunuh anaknya! Untung!" Ucapnya dengan senyum mengejek. Lelaki ini melepaskan tangannya dari pundaknya, dia meneguk kopinya dan memikirkan ini lagi.


Seminggu yang lalu mereka sudah merencanakan untuk menikah, hanya saja dengan Rani yang seperti ini membuat Vina bimbang harus melakukan apa.


"Vina juga mencintaimu, kan ? Nikahi saja mereka berdua, ambil keduanya!" Ezra memukul meja. Mendengar usulan Ezra yang agak aneh menurutnya dia tidak mempedulikannya, hanya merespon dengan senyum masam saja. Yah.. dia akan koma selama lima tahun, dia ingin melihat bagaimana reaksinya kalau sudah punya anak dari Vina. Begitu yang dipikirkan olehnya.


Memutuskan untuk tidak memikirkan ini dulu dia menyender dirinya pada sofa, hanya saja saat ini Fauzan sedang memikirkan cara untuk membenarkan negara ini. Menghapus adat yang tidak masuk akal, menghilangkan pemimpin yang merugikan negara, dan tidak menaikan pajak.


Melihat Fauzan yang duduk di kursi itu mereka berempat sudah menemukan pemimpin yang baru. Dengan senyum mereka menyodorkan sebuah dokumen pada Fauzan, Fauzan sendiri bingung dan mengambilnya. Sebuah surat keterangan.


"Kalian.. ini tugas berat dan ribet, jadi tidak ingin sampai campur tangan begitu ?" Hanya Fauzan dengan tatapan sinis. Mereka bertiga tersenyum, tidak bisa dipungkiri lagi soal ini Fauzan menandatangani surat ini.


Beberapa saat kemudian Surya datang membawa tiga robot bersamanya, mereka terlihat agak ketakutan melihat salah satu robot. Intimidasi yang diterapkan saat kecil cukup merepotkan bagi Ryan, dirinya tidak mendapatkan pelatihan jadi tidak mengetahuinya.


Humanoid ini terlihat kekuatan gelisah, melihat keempat orang yang bersiap dengan senjata dan aura membunuh yang kuat. Pedang, busur, kapak, dan tombak sudah terlihat di matanya.


Sedangkan Surya tersenyum masam, "kalian jangan begitu.. aku mau mengatakannya sesuatu, loh."


"Katakan apa ? Sekarang saja!"


"Lebih tepatnya bukan mengatakan, tapi bicara panjang lebar dengan kalian berempat."


"Membicarakan apa ?"


"Desa Faun, kalian menghancurkannya dulu, kan ? Igi kampung halamanku," ujarnya dengan senyum masam. Semuanya terdiam karena apa yang dikatakannya, Ryan juga sudah mengetahui cerita ini hanya saja tidak sampai semuanya dia ketahui. Dan sekarang merekapun membicarakan soal ini.