
Semua orang tidak bisa mundur ketika pasukan zombi di belakang, mereka di kepung oleh banyak musuh tidak main langsung main keroyok. Berkumpul di tengah-tengah bersiap untuk menerima segala yang akan dihadapi, hanya Ryan yang tampak kelelahan akibat terus menggunakan kekuatannya. Namun ia tidak ingin tumbang ditengah-tengah masa sulit.
Dia berdiri, akan tetapi mendadak pikirannya mulai pusing dan jalannya mulai terhuyung-huyung saat melangkah sesaat setelahnya sebuah Sambaran petir melukai zombi hitam. Raksasa itu membuka mulutnya. Keluar pancaran sinar, sinar itu meleburkan hitungan bangunan sekaligus, satu DyntalGear menggunakan dinding pelindung akan tetapi tubuh robot itu meleleh seperti besi yang dipanaskan.
"Mahkluk apa itu ?!" Teriak Ezra dari atas. Dia memukul udara beberapa kali, menembakkan bolide berulang kali hanya saja tidak berdampak apapun pada musuhnya begitupun dengan tembakan dari ArctalGear bersamaan. Mereka yang ada menunggu perintah. Karena tidak kunjung datang, puluhan pesawat tempur menuju zombi hitam raksasa meluncurkan ratusan misil dan menghujaninya dengan tembakan.
Semua itu sia-sia, Ryan melihatnya sekilas saja tahu kalau mahkluk itu bisa menelan apapun yang menyentuhnya materi-materi apapun bisa ditelannya termasuk cahaya, itulah alasan mengapa mereka tidak bisa menyerangnya.
"Sebentar.." kata Ryan tersadar.
"Bukannya kapak Rani bisa mengenainya ?" Lanjut Ryan dalam hati. Menghubungi salah satu dari pimpinan Ryan tidak bisa, ia tak memiliki otoritas yang cukup untuk menghubungi mereka dan meminta bantuan Rani agar ia bisa bicara dengannya. Gadis ini paham. Dia memakai Earbuds untuk menghubungi Zaky.
Dalam belasan detik, panggilan di terima terdengar suara dentingan dari kedua pedang yang saling memukul.
"Ada apa ?" Tanya Zaky terdengar mendesak.
"Serang zombi raksasa itu di bagian perut! Coba!"
"Itu hanya kebetulan serangan Rani berefek, aku sudah mencobanya tapi gagal.."
"Bagaimana kalau memakai bola hitam milikmu ?" Tanya Ryan tapi tidak dijawab. Panggilan terputus. Situasi makin kacau, akan tetapi ada belasan pesawat pengebom datang dari arah kota membuat mereka yang melihatnya bingung dan mata Ryan terbuka lebar menyadari apa yang akan mereka lakukan.
Semua pesawat pengebom itu menubruk semua bagian tubuh zombi, dari atas hingga bawah melahirkan ledakan yang amat besar bahkan angin kencang yang dihasilkannya bisa mendorong beberapa unit DyntalGear yang ada. Merasa sangat marah Ryan berdiri menebaskan pedangnya, angin kencang kini tercipta kembali menjauhkan asap-asap yang ada di sekitaran zombi raksasa.
Ada beberapa tempat yang tidak bisa menghisap asap, seperti siku, lutut, dan beberapa anggota tubuh lainnya terutama pada bagian ketiak nampak jelas bahwa asap itu tidak dihisap serta ada sedikit cahaya di sana. Ryan kembali ingin menebaskan lagi pedangnya, namun, para DyntalGear berlari menuju zombi raksasa ini dan mendorong kaki mereka seperti anak kecil yang tengah mendorong-dorong kaki orang tuanya.
"Jangan! Kembali ke belakang kalian, orang bodoh!" Teriak Zaky dari atas terdengar keras sekali. Tak tahan hanya untuk berdiam diri, ia pun ikut bersama semua prajurit yang maju ke depan walau hampir semua orang yang ada tertusuk duri hitam yang tumbuh dari tanah. Ryan dengan tatapan kosong terus melangkah maju, ia mengangkat kedua tangannya dan ada partikel merah terkumpul membentuk lingkaran cahaya.
Cahaya itu semakin membesar, raksasa ini yang sedari tadi diam mengangkat tangannya dan menampar dengan telapak tangan. Alhasil Ryan terkena. Semua orang berteriak, akan tetapi tiba-tiba tangan raksasa terpotong-potong oleh cincin cahaya itu seperti gergaji yang memiliki gigi tajam lingkaran cahaya kuning keemasan itu membelah tangan lawan. Mengagetkan semua orang yang ada.
"Ehh.. bagaimana cara memasang benda ini ?" Tanya Zaky dalam hati. Selang beberapa menit berlalu Ryan menghentikan serangannya, sorot matanya kembali menampakkan kesadaran dan dia bertekuk lutut merasai lelah setelah mengeluarkan banyak sekali tenaga. Begitu pun musuhnya. Dia memukul tanah menjebloskan tangan ke dalam tanah, tak lama satu duri tinggi menusuk seseorang hingga tubuhnya berlubang.
"Kein..."
"Heh.. sekarang aku tahu rasanya jadi sate," ucapnya lirih pelan dengan darah bercucuran.
"Kenapa kau mendorongku! Biarkan saja aku tertusuk," ujar Ryan terdengar samar-samar di telinga Kein. Remaja berambut cokelat hitam ini memejamkan mata, hembusan napas terakhirnya keluar bersamaan dengan senyuman mengarah pada ketua timnya. Orang yang awalnya sangat tidak disukainya, namun setelah insiden di sekolah itu Ryan diterima olehnya.
Helaian rambutnya tertiup angin ke kanan dan kiri, latar tempatnya berubah. Suasana malam mulai terasa. Angin malam berhembus pelan, puluhan bilah pedang mengambang di udara menusuk zombi terus menerus seperti bola api sebelumnya. Disusul dengan rantai keluar dari tanah, rantai itu menusuk serta mengikat tubuh zombi tidak membiarkannya untuk bergerak. Sekalipun jari tangan sekalipun.
"Takkan kumaafkan..!! Kau takkan kumaafkan!" Teriak Ryan terbawa amarah. Sedangkan di belakang Rani melihat sekitaran mereka, tempat yang tidak asing yaitu DreamWorld membuatnya teringat masa lalu dan kini ia memperhatikan lelaki yang tengah dilahap emosi dengan saksama dan durasi yang agak panjang, gadis ini mengigit bibirnya.
KnightGear terakhir menusuk kaki raksasa setelahnya semua sistemnya mati tak bisa bergerak kembali dan dua DyntalGear melompat ke atas, mereka mendarat di dada lawan meledakan tubuh mereka. Bunuh diri. Seperti kulit yang mengelupas, pengorbanan mereka membuahkan hasil sehingga ArctalGear bisa menembakkan seluruh peluru serta rudal ke dada raksasa.
Monster berukuran 70 meter lebih itu tampak ingin memancarkan cahaya sebelumnya, akan tetapi Ryan tidak membiarkannya seenak hati. Rantai-rantai membungkam mulut serta mencengkram erat tubuhnya membuat pergerakannya terhenti, melihat hal tersebut Zaky memasang pembidik di senapannya dan memusatkan perhatiannya pada area yang sudah tidak dilindungi lagi.
Bahkan semua pelindung sudah hancur oleh tusukan pedang Ryan. Sembari teringat betapa banyak nyawa yang melayang di tugas kali ini, Zaky menarik pelatuk melepaskan sebuah bola hitam sebesar bisbol terlepas amat cepat ke zombi hitam raksasa yang ada jauh di depannya.
"Lubang hitam sebesar kelereng bisa menghancurkan banyak hal, apa yang dipikirkannya ?" Batin Rani memperhatikan tembakannya barusan. Hanya tak disangka olehnya lubang hitam itu menghisap tubuh zombi dengan cepat, tanpa melakukan perlawanan lawan mereka masuk ke dalamnya dan tercabik-cabik menjadi kumpulan debu. Tak lama seusainya Ryan terjatuh, ia terkapar di tanah dengan kondisi dada kirinya mengeluarkan darah.
Rani mendatanginya menyentuh dadanya, tak ada detakan sontak membuatnya kaget dan segera memanggil seseorang untuk membawanya ke gedung kembali. Karena lelaki ini telah menguras banyak tenaga sekaligus, menggunakan kekuatannya tanpa henti akibatnya jantung buatan dalam tubuhnya meledak atau tidak berfungsi kembali.
Juga dengan orang-orang yang terluka parah. Mereka dibawa ke gedung, dengan memakai Teleport semuanya dipindahkan ke markas dan tidak ada yang terlewat satupun terkecuali yang luka ringan tidak terlalu diprioritaskan.
"Apa kau puas, profesor ?" Tanya Ezra menginjak tangan pria paruh baya di bawahnya. Dia berdecak kesal, kemudian membawa pria ini memasukannya ke dalam penjara dan pada akhirnya pria yang menjadi dalang dari ini semua tertangkap. Tidak ada yang setuju untuk langsung membunuhnya, lebih baik mengorek informasi darinya daripada membunuhnya karena alasan kejahatan.
Hanya saja setelah melihat kemampuan Ryan yang bisa mengubah ilusi menjadi kenyataan Ezra hanya bisa menghembuskan napas, terlebih lagi setelah melihat rekannya terbunuh. Bagi mereka rekan terbunuh sudah terbiasa. Walaupun begitu, Ezra menundukkan kepalanya untuk mereka yang telah memberikan nyawa satu-satunya untuk kemenangan yang belum jelas. Profesor di dalam sangkar besi terlihat menyeringai, melihat wajahnya itu Ezra menganggapnya serupa kera menggerenyotkan bibir rupanya itu.