
Emosi Adly sudah sampai puncaknya. Seseorang disebuah bangunan tua, dia berada di depan layar monitor memperlihatkan tingkat emosi Adly sekarang.
"Jika dia sampai kehilangan kendali enam kaki lagi, dia akan meledakan kartu memori dalam kepalanya itu. Aku harus hati-hati!" Ucap Zyred dalam hatinya. Sembari bertarung dengan Adly dia sama sekali tidak merasakan kalau Adly yang dulu, segalanya berbeda jauh sekarang.
Di saat dia sedang ingin menebak ada empat rantai keluar dari tanah tidak sempat menghindarinya, tubuhnya terikat dan dicengkeram dengan kuat. Tidak bisa menahannya dia segera melakukan sesuatu, sedangkan Adly sendiri tersenyum seperti orang tidak waras lagi.
Beberapa pisau berputar cepat di kakinya membentuk pusaran. Tubuh Zyred turun dan masuk ke dalam pusaran, seperti dilumatkan hancur tubuhnya tanpa sisa. Hanya meninggalkan darah saja, pakaian, dan senjatanya juga hancur tidak tersisa.
Ezra dan Zaky terdiam memperhatikan orang yang ada di bawah. Mereka sempat terpikir soal teknik sebelumnya, jika saja dia benar-benar melakukannya markas juga akan ikut musnah. Namun, entah kenapa Adly tidak melakukannya padahal kesadarannya itu diambil alih oleh nafsunya.
Zaky bertanya, "menuntutmu bagaimana soal Adly ini mode pembantainya ?"
"Dia seram itu saja."
"Hmm.. serangannya itu mudah sekali untuk dihancurkan, jika lawannnya robot kurasa tidak akan terlalu banyak berpengaruh."
"Apa maksudmu ?"
"Dia memakai kekuatan intimidasi, membuat takut dan gelisah musuhnya saat pertarungan, itu menguntungkan baginya. Serangan seperti pisau dan yang lainnya cukup lemah."
"Ohh begitu ya ?!" Ezra tersenyum lebar. Padahal dia hanya pura-pura paham saja, memahami Adly yang sekarang mustahil baginya. Saat memikirkan itu orang yang dibicarakan menatap ke arah mereka berdua, dia menjilat bibirnya dan menatap mereka berdua dengan mata membulat.
Kabut mulai keluar menghalangi pandangan mereka berdua, seketika Zaky mengeluarkan senjatanya dan berbalik ke belakang. Ada Adly yang mau menusuk, dia segera menangani serangannya.
Ezra dan Zaky segera keluar dari gumpalan asap itu. Mereka kelihatan berkeringat dingin, "beuh! Harus berhadapan lagi dengannya yang seperti ini!"
"Yah sudah... Lawan dia saja."
"Santainya kau bicara ?! Dia dulu hampir memakanmu! Dan kenapa tidak kau yang melawannya ?!"
"Mustahil..."
"Napa ?! Apa alasannya, bodoh ?!"
"Jangan memanggilku bodoh... Hahh, begini loh.. kekuatanku lubang hitam, apa kau pikir seranganku takkan membunuhnya ?"
"Oh ya apa kau juga lupa dia pernah menjadikan serangan api milikku jadi miliknya ?" Balik Ezra bertanya padanya. Mereka berdua terdiam cukup lama dan hanya memperhatikan Adly yang ada dalam kabut itu, sama sekali dia tidak keluar dari tempat itu.
Hanya saja sebuah tank berada di belakangnya, Ezra sadar ada tank di sana dan ingin menghancurkannya. Tapi.. sama sekali tidak bergerak, mereka berdua merasa heran dan Zaky melepaskan kacamatanya menggantinya dengan kacamata yang bisa melihat dengan jarak yang lebih jauh lagi.
Dia melihat kalau sela-sela tank itu mengeluarkan darah, melihatnya lagi lebih jeli dia paham kalau pengendaranya itu meledak.
"Tidak ada yang lebih menyeramkan dari ini," ujarnya sambil tersenyum masam. Saat ingin mendekat Adly belum sadarkan diri, mereka waspada dan saat melihat ke kakinya ada seseorang yang sedang duduk. Jelas sekali itu adalah Widya yang terengah-engah.
"Ehh.. kita salah, dia nampaknya lagi sadarkan diri."
"Apa maksudmu ?"
"Mungkin saja Widya sedang mendatangi kita, tapi karena dia ingin melindunginya dia segera menjauhkan kita darinya."
"Padahal kita tidak akan lukai dia."
"Dia cukup cantik, mungkin saja dia berpikir kau akan mengambilnya."
"Hah ?! Kau juga sama!"
"Ngomong-ngomong soal itu.. apa kau mau bekerjasama denganku ?"
"Kerja sama apa ?"
"Kau mau bikin panas gua ya?!" Ezra tersenyum jahat. Mereka mulai beradu mulut lagi.
***
Semuanya telah selesai dengan Adly yang sudah tertidur pulas di pangkuannya Widya, gadis itu baru selesai operasi rasanya agak sakit pada perutnya. Mereka berdua sedang berada di markas milik Zaky, seseorang itu datang dan duduk di sampingnya.
Zaky duduk dan menatap Adly yang tengah tertidur dengan nyaman, "Apa kau sudah tahu, kan ? Soal anakmu."
"Ah ya, dia akan sama seperti Adly di masa depan."
"Terus ?"
"Dia akan seperti dia, sikapnya sama, penampilan, dan sebagainya sama.. kecuali wajahnya saja, begitu ?"
"Tidak, kuharap kau bisa mengubah sikap Adly saat dia lahir.. maksudku, akan bahaya jika dia sama seperti Adly soalnya kita tidak akan tahu anakmu perempuan atau bukan. Jikalau laki-laki, kalian akan mengurus monster.. seekor monster."
"Hmm.. ya aku paham, makasih buat selamatkan kami tadi!" Widya menunduk. Zaky tersenyum kecil dan pergi meninggalkan mereka, sembari dengan rasa gelisah dia menatap perutnya gadis itu. Dia menggigit bibir agak ketakutan.
Memikirkan soal Adly yang begitu saja membuatnya ketakutan, sekarang anaknya akan berkali-kali lipat seperti Adly sebelumnya. Jika kelaminnya laki-laki kesamaannya akan mirip sekali, kemampuan dan pengalamannya akan sama.
"Yah.. kalau perempuan, dia akan lebih ke arah penyayang seperti ibunya sih.." ucapnya dalam hati. Dia kembali berjalan menuju tempatnya.
Saat Zaky pergi Adly membuka matanya mendapati dirinya sedang tidur di pangkuannya, segera mengangkat kepala dan bangun dia memperhatikan wajahnya sebentar. Mereka cukup dekat.
Adly menempelkan keningnya ke dahi Widya membuatnya memerah, "a-adly, menjauhlah.."
"Hmm.. ? Kenapa ?"
"Ya itu anu... Apa kau tidak malu dan aku lagi hamil, bukannya nolak!"
"Bukan itu, aku tidak terlalu ingin saat ini hanya saja.. jangan kasih surprise kalau hamil.. jangan buat aku gila, tahu-tahu denger kamu hamil dan sekarat.. mana ada lelaki yang tidak panik mendengar itu terlebih lagi dari anaknya."
"Aku juga baru tahu saat kamu gak ada, harusnya aku yang tanya kamu kemana tau!"
"Kesampingkan itu, dari dulu aku selalu ingin tanya kenapa kamu saat cemberut gini tambah cantik ?"
"Hah ?! Kau lelaki terus aja merayu!"
"Oh begitu ya ?"
"M-m-mau apa ?!"
"Sebentar aja.."
"Hayoo mau ngapain ?" Alia tiba-tiba muncul. Mereka berdua merinding, seketika Adly menoleh pada Alia dan mengangkatnya naik ke atas ranjang.
"Kalau mau masuk ke kamar orang tua harus apa dulu ?"
"Ketuk pintu tapi di sini gak ada pintu adanya tirai, ketuk dinding kata ayah gak boleh karena bisa saja jadi kedengarannya seperti kode darurat."
"Ya benar sih.. tapi ya, ok sekarang ini buatmu!" Adly memberikan uang pada Alia. "Ibu dirental ke ayah beberapa jam, ok!"
"Seginimah.. cukup buat satu jam aja!" Alia tersenyum. Ayahnya menatapnya heran dia sama sekali tidak tahu kemanakah uang saku Alia yang selalu habis, tidak akan ada yang berani bully dia dan sama sekali tidak pacaran. Sebagai ayah dia ingin tahu anaknya selalu menggunakan uang yang diberikannya untuk apa.
"Nih."
"Kenapa kau memberikan Alia sejuta ?!" Teriak Widya dengan keras. Gadis itu heran dengan ayah dan anak ini, mereka begitu membuatnya kesal setiap waktu dan sekarang ini. Menghembuskan napasnya, dia mengambil semua uang itu dan memberikan uang secukupnya pada Alia menyuruhnya untuk meninggalkan orang tuanya seharian ini saja.