Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
49. Adly, Widya


"maaf,.. aku tidak berpikir seperti itu dan kenapa hanya aku saja ?!" Tanya Fauzan dengan wajah memelas.


Rekannya sebagai ketua grup dan temannya dalam melakukan aksinya menahan tawa, walau dia juga bersalah tidak mendapatkan hukuman. Karena semuanya terjadi oleh Fauzan atau otak maupun dalang dari rencana ini adalah dirinya.


Rani menghembuskan napasnya, dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan dia terlihat cukup marah. Setelah mengakui apa yang dilakukan oleh Adly dan Fauzan, dia paham situasinya serta apa yang akan dilakukan Fauzan.


Rani bertanya, "apa kamu bisa melakukannya ?"


"Aku bisa, hanya saja.. apa tidak ada hukuman lain ?!"


"Tidak, sekarang kau sebarkan brosur ke seluruh kota tanpa alat apapun dan pakai pakaian itu selama menyebarkan lembaran kertas itu. Lalu Adly sebagai pengawalnya, karena yah bagaimanapun juga kau adalah penyebab utama Belati Putih memiliki nilai buruk di mata orang-orang di dunia Maya."


"Karena anak itu sudah diujung tahu, aku tidak bisa membiarkannya terlalu lama."


"Kamu harusnya tahu kalau sudah melakukannya, harusnya jangan balas perkataan ibunya lalu pergi tanpa mengatakan apapun lagi."


"Emosiku.. memuncak saat itu!" Kata Fauzan membela dirinya. Kemudian, Rani menatap ke arah Widya yang sedang duduk di samping Adly yang tengah memainkan game pada ponselnya.


Diapun bicara, "Oh ya, Widya.. aku dengar kamu punya streaming dan memiliki pengikut sebanyak 64 juta orang."


"R-rani, kumohon jangan ungkit itu lagi!" Kata Widya. Dia melihat kalau Adly sudah cukup marah dengan ini, dia tahu kalau tidak izin dulu karena sudah mendapat banyak pengikut dia jadi agak ragu untuk berhenti begitu saja.


Mata Adly menatapnya dengan pupil mata merah yang bersinar, tatapannya memberikan intimidasi pada seseorang. Widya sekarang sedang merinding sampai bulu kuduk berdiri. Hanya saja, mungkin kalau di rumah dia akan menjual atau menghapus akunnya.


Setelah pertemuan selesai, mereka pergi ke tempat masing-masing untuk menyelesaikan tugas mereka masing-masing. Kecuali Fauzan yang tetap tinggal dan membersihkan satu gedung bersama pegawai yang lain, dia memegangi kepalanya juga kesusahan dengan pakaian ayam yang dia pakai.


Yang ada di ruangan hanya Sarah, Fauzan, dan Rani saja.. setelah beberapa menit membereskan berbagai macam berkas Rani pergi pamit pada mereka. Sedangkan Sarah dan Fauzan sedang duduk, gadis itu cemberut lalu memeluk kekasihnya. Walau kemudahan karena kostumnya ini.


Sarah bertanya, "apa kamu mau tidak melakukan hal semacam ini ?"


"Ya mau bagaimana lagi, daripada aku masuk ke ruangan penyiksaan ini lebih baik."


"Karena yang memerintah sekarang Rani, tidak ada tempat penyiksaan lagi.. dia takkan memberikan hukuman terlalu berat, kecuali kalau perbuatan si pelaku sangat buruk.. mungkin akan langsung dibunuh."


"Yah karena besok aku hanya menyebarkan brosur saja dan malam ini aku membersihkan gedung ini, jadi tidak apa."


"Aku akan temenin kamu aja," jawab Sarah. Fauzan agak kaget mendengarnya, tapi karena gadis ini terlihat tidak ingin menolak dia menghembuskan napas dan mengangguk. Saat melihat jam dia lihat kalau ini sudah cukup sore, hanya saja saat melihat kalender dan tanggal hari ini dia tersadar.


Hari ini adalah hari dimana mereka berdua menjadi sepasang kekasih atau jadian, anniversary membuatnya panik. Melihat ke bawah Sarah kelihatan cukup cemberut, dia tahu kalau Fauzan tidak bisa pergi jadi mau bagaimana lagi.


Fauzan tersenyum, "aku akan meminta Rani untuk membebaskan aku hari ini.. malam ini kita pergi saja, yah Sabtu ya ?.. bagaimana kalau malam mingguan saja ?"


"Tapi, apa hukumanmu akan ditambah nantinya ?"


"Hukuman ini mudah, lagipula kamu terlalu penting dari pada hukuman ini."


"B-baiklah, makasih!" Kata Sarah sambil memerah. Dia melihat kalau Fauzan terlihat tersenyum, dalam pikirannya terpikir kalau mungkin dia baru mengingat tentang hari ini. Sarah menyender pada kekasihnya yang sedang menelepon seseorang, karena sinyal begitu buruk Fauzan mengambil Earbuds miliknya.


Sepasang suami istri sedang duduk di kasur yang sama. Dengan rasa takut Widya membuka aplikasi streaming dan Adly langsung membuka matanya lebar, ini tempat di mana para streaming bermain game dan sebagainya tentu saja bagi Adly yang membenci hal semacam ini menghela napas.


Dia mengambil pedangnya dan menatap istrinya dengan sinis, "jangan menunduk begitu.. lalu berapa banyak yang kamu dapatkan ?"


"Terkadang banyak yang mengirimkan donasi."


"Hahh.. apa yang akan kamu lakukan sekarang ?"


"Kalau kamu mau menghukumku silahkan saja, aku terima apapun," jawab Widya sambil memejamkan matanya. Adly memperkuat intimidasi pada matanya kemudian mematikan lampu, seketika Widya hampir berteriak dengan sosok mata yang mengawasinya di depannya.


Tidak disangka olehnya kalau Adly bisa begini. "Tidak bisa diremehkan, kalau dia marah.. benar-benar ketua pembantai!" Kata Widya dalam hatinya. Dia menghembuskan napas, kemudian menarik tangan Adly dan duduk di sampingnya.


Widya bertanya, "lalu apa yang kamu inginkan ?"


"Hapus saja."


"Apa kita bisa mengambil informasi dari setiap orang yang melihat videoku ?"


"Maksudmu mencari info ? Tidak, kita punya grup khusus untuk itu jadi gak usah.. tidak ada izin dariku.. atau kamu mau kita cera--"


"Gak! Ok aku hapus!" Kata Widya menyela perkataan suaminya. Dia menghidupkan lampu kemudian menghidupkan komputer di depannya, saat memperhatikan ada sebuah kamera dan ada konsol game yang ada di bawah komputer. Adly baru menyadarinya.


Hanya saja saat melihat akun milik Widya.. Adly menyadari kalau konten yang diberikan gadis itu mudah untuk dibuat, dia tidak menyukainya dan beberapa saat kemudian ada banyak notifikasi membuat gadis yang ada di depannya bingung.


"Apa yang terjadi ?"


"Mereka bilang akan mendatangi rumah dan melacak lokasi dan sebagainya."


"Mereka hanya menggertak saja," kata Adly sambil mengambil kamera dan menghidupkannya. Widya yang tidak memakai riasan agar wajah aslinya tidak ketahuan langsung menunduk, Adly sedikit tersenyum kemudian mematikan lampu dan memperkuat intimidasi agar bisa mencapai kamera.


Melihat lelaki ini agak berbeda gadis itu pergi ke kasur dan memeluk bantal sambil melihat suaminya sedang terdiam depan kamera, dia bertujuan untuk membubarkan semua pengikut. Mau bagaimanapun juga orang biasa yang mendapatkan tatapan intimidasi akan ketakutan, kalau sampai ditingkat tinggi bisa membuat orang lain tidak waras atau ketakutan hingga bisa bunuh diri.


Pernah ada kejadian di mana saat berhadapan dengan puluhan narapidana Adly memakainya dan semuanya bunuh diri, tidak ada yang bisa selamat setelah ditatap mata itu. Itulah yang dikatakan orang-orang dalam organisasi, makanya dia dianggap sebagai prajurit terkuat saat ini walau dia berada diperingkat 3 dari semua yang terbaik.


Pertama adalah Fauzan, kedua Zaky, dan ketiga dirinya. Walau mereka punya kemampuan masing-masing dalam mengerjakan misi.


Adly menghembuskan napasnya, "sekarang pengikut kamu hanya 3 juta saja."


"Hah ?!"


"Mereka sangat ketakutan nampaknya. Yah, sudah kubilang kalau kamu harus bilang atau izin dulu apapun yang kamu inginkan, bukannya sudah cukup untuk biaya hidup kita dengan gajiku juga ?"


"Baiklah, maaf..!' kata Widya. Dia menarik tangan lelaki itu, dengan senyum dia menariknya untuk berbaring di tempat tidur. Begitu juga sudah malam.