
Adly melesat dan mendarat di samping istrinya dengan bersiap siaga untuk mengambil Fidya dari mahkluk menjijikan ini, tapi saat hendak ingin melangkah anak itu melihat ayahnya.
"Ayah!" Panggilnya.
"Fidya! Tenanglah, ayah pasti akan menolongmu..!"
"Ahaha! Mana mung---!"
"Minggir aku mau ke ayah!" Kata Fidya memotong perkataan zombi. Dia melepaskan diri dan memutar badannya, melakukan tendangan berputar mendarat pada kepala zombi langsung hancur berkeping-keping dan darahnya bercucuran. Anak perempuan itu berdecak kecil lalu turun dari tubuh zombi itu.
Dia berlari pada kedua orang tuanya dan memeluk ayahnya, tangannya menarik-narik baju ibunya meminta digendong. Widya mengangkat anaknya dengan heran, sedangkan Adly sendiri terdiam membisu menatap tubuh zombi tanpa bagian tubuh ada ada di atas leher alias kepala.
Fidya memeluk ibunya dengan erat dan memegangi tangan ayahnya, tapi Adly sama sekali tidak melihatnya atau mengatakan apapun padanya.
Fidya cemberut, "Ayah..! Ayah!"
"Adly, kenapa kamu diam ?"
"..."
"Hump..! Dasar, serangga kurang ajar.." Fidya mengangkat tangannya. Di gendongan ibunya dia masih cemberut, tidak lama kemudian awan-awan berkumpul dan ada petir merah menyambar ke tubuhnya zombi. Tidak lama setelahnya ada kristal runcing keluar dari tanah dan mengurung tubuh zombi, dan tidak lama tubuhnya terpotong-potong. setelahnya kristal membentuk menjadi jarum besar dan menusuk tubuhnya seperti sate.
Melihat kekuatan Fidya semuanya terdiam karena dia bisa mengeluarkan teknik yang digunakan ayahnya, sedikit heran Adly mencoba melupakannya dan menghembuskan napas. Memberikan kecupan pada anaknya dia terpikir tentang kekuatannya, semua yang dilihatnya tadi adalah semua tekniknya.
Tetapi, ini lebih sempurna karena yang bisa dilakukan Adly adalah beberapa kali Sambaran petir namun Fidya melakukannya dalam sekali sambaran tidak seperti dirinya yang melakukannya beberapa kali. Ini lebih kuat.
"Wah anjir, sudah sekecil ini dia bisa begini bagaimana kalau dia sudah berkembang dan susah dewasa nantinya ?" Tanyanya dalam hati.
Anak perempuan ini tersenyum manis pada ayah dan ibunya, walau dibalas dengan senyuman tetap saja keduanya begitu cemas padanya. Tidak lama saat Adly ingin pergi ke tempatnya Fauzan ada sebuah pedang yang mengarah padanya, sontak Adly kaget walaupun bisa menyadari datangnya pedang itu.
Tetapi dia tidak bisa menghindarinya karena kelelahan dan terpaksa menerima serangan itu, pedang menusuk tangan kanannya. Lelaki itu terpental tiga meter, mencabut pedang dari tangannya dia merasakan sedikit sakit dan penghilang rasa sakitnya tidak terlalu mempan. Lalu kekuatan regenerasinya juga agak melambat.
Adly bicara dalam hatinya, "Sepertinya karena aku memberikan kekuatan pada Widya, ditambah lagi dengan Fidya yang punya kekuatan yang melebihi kekuatanku.. nampaknya aku bakalan turun dari masa kejayaanku,.. yah aku akan mengandalkan Alia dan Fidya saja nanti. Lagipula mereka penerusku bukan ?"
Sedangkan Widya menatap anaknya yang menatap ayahnya dengan mata terbuka lebar, dia terdiam dan ibunya merasakan aura yang tidak biasa. Ini melebihi kekuatan intimidasi milik suaminya, dan tidak lama kemudian Fidya menatap para zombi itu.
Juga Fauzan merasakan sesuatu yang gawat akan terjadi, dia mengambil Earbuds di telinganya setelah sadar apa yang akan terjadi sesudah melihat anak Adly yang akan mengamuk...
Serpihan itu menghantam mereka para zombie membantainya sekaligus, tidak merasa puas dengan itu mata Fidya bercahaya merah dan keluar api merah dari tanah membakar mereka semua sampai gedung-gedung disekitar api ikut terbakar walaupun bangunan itu terbuat bahan yang tidak mudah terbakar.
Tetapi, ada zombi raksasa yang masih hidup dan anak itu cemberut dia menunjuk pedang yang ada di punggung Fauzan membuatnya kaget ketika senjatanya melayang dan diambil Fidya. Anak itu meronta-ronta ingin lepas dari tangan ibunya tetapi Widya tidak melepaskannya, dia sekuat tenaga memeluknya.
"Ibu.. aku pengen nikah sama ayah!"
"Hah ?!"
"Yosh, bisa keluar akhirnya!" Kata Fidya sembari lepas dan berlari ke arah zombi. Menghembuskan napas Zaky melompat dari gedung turun di hadapannya anak itu, dia berjongkok depan anak itu lalu menunjuk pada Adly yang sudah sembuh walaupun masih ada beberapa luka kecil lainnya.
"Widya, kenapa kau bisa terkecoh kata-kata Fidya ?"
"Aku.. gak mau Adly direbut siapapun," ucapnya sembari memerah. "Sadarlah, dia itu anakmu!" Fauzan membentaknya.
Adly tersenyum masam melihat Fauzan menceramahi Widya lalu Sarah datang padanya memberikan air minum, Adly menerimanya dan meneguknya beberapa tegukan. Dengan lega dia melihat Sarah yang kelihatan seperti kelelahan juga, memberikan air minum itu dia bangkit berdiri terapi terjatuh lagi.
Merasakan kalau kekuatannya melemah Adly menutup matanya pelan, merasai lelahnya dia kehilangan kesadarannya. Seusai dia pingsan Fidya datang ke ayahnya dan mencoba membangunkannya, sedangkan beberapa orang datang pada Fauzan melaporkan tentang bagaimana pertarungan ini.
Dia keliatan cukup heran melihat kalau para zombi ini bisa menjadi masalah, ada beberapa dari mereka kabur dan ada juga yang bisa bernafas bahkan memiliki detak jantung. Itu membuatnya heran karena ini sama sekali tidaklah masuk akal, dikarenakan jantung mereka harusnya tidak bisa berdetak lagi dan tidak punya suhu tubuh.
Terpaksa mereka juga harus dibunuh, kalau tidak akan menimbulkan masalah yang lain dan juga dia perlu membagi pasukan untuk berada di negara lain harusnya. Walaupun seperti itu Fauzan agak bingung soal zombi ini harus di apakan, dia perlu mencari cara agar mereka bisa kembali menjadi manusia.
Tetapi akan ada banyak sekali yang perlu dilakukan, dan masih ada harapan bagi mereka yang sudah mati bisa dihidupkan kembali menjadi zombi. Tidaklah mustahil tetapi ini sulit baginya sekalipun.
Fauzan menghembuskan napas setelah memikirkannya baik-baik, "kalian cobalah tangkap zombi yang memiliki suhu tubuh seperti manusia dan punya detak jantung itu."
"Akan kami lakukan, tetapi jumlah mereka terlalu banyak dan apa bisa ?"
"Aku masih tidak tahu, tetapi yang aku yakini adalah Ryan adalah zombi pertama yang bisa menjadi manusia kembali dan punya kehidupan kedua."
Dia menyuruh mereka melakukan tugasnya dan dia menatap Fidya yang sedang mencoba membangunkan ayahnya, dia mengingat soal zombi yang masih ada kemungkinannya tentang ini.
"Sebenarnya apa yang terjadi ?" Tanya Fauzan dalam hatinya. Tidak lama kemudian dia lihat kalau ada yang aneh dengan Adly, dia keliatan tidak punya kekuatan yang seperti biasanya dan dia ingat tentang kerja kerasnya. Terlalu banyak pertarungan yang sudah dilalui olehnya, tetapi dia belum istirahat dengan cukup walaupun sudah beberapa bulan.
Tetap saja, dilihat dari sekarang ini dia menyadari kalau temannya sudah kelahan dan perlu mengumpulkan kekuatan lagi. Tidak seperti dirinya yang punya kekuatan Elentry tidak terbatas, Adly punya kekuatan Elentry karena darahnya. Kekuatan itu berada pada darahnya, dan itulah kenapa bisa mewariskannya pada anaknya...