Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
47. Zaky


Mereka semua hanya bisa pasrah dengan memindahkan seisi kota ke tempat lain, saat ini Fauzan terdiam bersama ketiga temannya. Ada Rani yang bersama mereka, namun matanya terpaku pada layar ponsel yang menunjukan seperti sebuah spektrum yang terlihat naik-turun. Sinyal itu seperti hancur.


Fauzan bertanya, "apa mungkin itu semacam pesan dari orang itu ?"


"Mana ku tahu, harusnya Zaky tahu karena dia anaknya."


"Aku tidak tahu," jawab Zaky. Rani menatapnya sinis, sedangkan Adly sudah pergi bersama beberapa orang yang menemaninya. Lelaki itu tidak tahu lagi harus apa dan bagaimana, dia perlu mengatakan sesuatu pada Ezra yang diam dari tadi.


Sebelumnya dia adalah orang yang berisik dan tidak bisa diam, sekarang jadi diam kalau ada keberadaan Fauzan di dekatnya. Menghembuskan napas, Zaky keluar dari tenda melihat situasi dan sesuatu terjadi pada Vina yang sedang duduk.. wajahnya terlihat syok.


Ada semacam cairan yang keluar dari tanah, kemudian semua mahkluk itu semakin meronta-ronta dan menghilang seketika. Tanpa pamit, mereka pergi dan tanpa salam mereka datang..


Zaky menghela napas berat, "sudah selesai ya ?"


"Ya begitulah."


"Kenapa kau sampai ingin membunuh semua orang yang ada di kota ? Mereka tidak salah apapun padamu."


"Kota ini yang salah, seisi warganya harus tiada termasuk dirimu."


"Terserah padamu, tapi aku tetap akan berada di pihak teman-temanku," jawab Zaky. Suara itu menghilang, kemudian dia mengambil kacamatanya dan mengelapnya dengan tisu. Sesudahnya ada Adly yang datang, dia terhuyung-huyung seperti mabuk walau harusnya kelelahan karena terlalu bekerja keras.


Lelaki itu datang padanya dan Zaky melemparkan botol minum padanya, Adly menerimanya lalu meminumnya. Dia nampak lega dan harusnya menghilang.


"Ah, aku hidup lagi!" Ucapnya. Hujan turun dengan deras.. namun itu bukan hujan tapi buatan, sekarang dia hanya bisa terdiam melihat korban-korban yang berjatuhan. Ada sekitar 17 orang yang mati dan puluhan orang dengan luka, dia tidak tahu lagi harus bagaimana serta kebingungan.


Teman.. mungkin dalam kamusnya, itu hanya rekan semata yang bisa dimanfaatkan. Namun, sekarang pemikiran itu menghilang setelah melihat kebersamaan Adly, Fauzan, dan Ezra yang selalu bersama.


Saat ini dia gelisah karena tidak tahu harus apa. Dia melihat Adly mengangkat tangannya dan menggerakkannya beberapa kali, ada semacam perkataan yang mengatakan, "semuanya selesai. Kamu pulang ke rumah." Itulah yang dikatakan olehnya.


Zaky bertanya, "kamu bicara dengan siapa ?"


"Ryan.."


"Jadi berhasil ?"


"Yah begitulah, tapi.. kenapa Alia dan Ryan bisa kita selamatkan ?"


"Mana aku tahu!" Kata Zaky sambil masuk kembali ke dalam tenda. Dia mengeluarkan sebuah kubus rubik kemudian melemparkannya, keluar beberapa jarum dan cahaya membentuk sebuah spektrum warna yang terlihat seperti pelangi.


Rani menatapnya melakukan itu kemudian dia tidak menghiraukannya. Sedangkan si Fauzan menatap Ezra dengan tatapan tajam, lelaki itu tidak tahan lagi kemudian memukul meja.


"Kau kenapa memperhatikanku dari tadi ?! Aku memang tampan, tapi jangan begitu lah!"


Zaky mengingat saat itu, Adly membawa anak kecil yang sudah jadi mayat. Namun, masih hidup dengan jantung yang sudah hancur.. mereka melakukan beberapa tes dan berhasil membuatnya menjadi manusia kembali, hanya saja ingatannya menghilang begitu saja.


Namun, kemarin ada sesuatu yang membuat mereka berdua merasa kaget.. Ryan yang telah menjadi zombi bisa jadi manusia kembali, hanya saja ingatannya sama sekali tidak hilang. Bahkan dia ingat semua kejadian dari kecil hingga setelah hembusan napas terakhirnya, Zaky tidak tahu lagi dengan pria itu. Atau ayahnya.


Adly bertanya, " lalu bagaimana ?"


"Bagaimana apanya ? Sudah selesai, bukan ?"


"Kalian tidak pikir ini aneh ? Semua musuh akan lenyap jika mereka terkena cairan itu, hanya saja bukannya ini seperti semacam peringatan kecil ?"


"Tenang saja," kata Ezra menjawab. Dia beranjak dari kursinya kemudian pamitan pada mereka, tugasnya sebagai bantuan sudah selesai dan bahkan pesawat yang sebelumnya sudah hancur. Keempatnya sudah hancur olehnya.


Dia pergi lenyap menghilang memudar. Mereka menghela napas, hanya Adly dan Zaky yang tahu soal zombi serta hanya Adly dan Fauzan yang tahu soal rencana pemerintah. Saat melihat kalau pemerintah melakukan sesuatu pada warganya, mereka tidak bisa tinggal diam dan bergerak diam-diam.


Zaky keluar dari tenda melihat banyak orang yang susah dibawa ke rumah sakit dan ada murid yang datang padanya, memberikan sesuatu kemudian langsung pergi. Sebuah surat.. Zaky membacanya kalau ini dari Vina, dia memintanya untuk mendatangi kelasnya.


Zaky tersenyum kecil, "mau mengobrol jangan pakai ke kelas segala. Seperti mau nembak saja."


"Zaky, kau mau kemana ?" Tanya Adly. Dia tanpa mengatakan apapun pergi meninggalkan surat yang telah dibaca olehnya ke tangan Adly, lelaki itu membacanya kemudian merobeknya kecil-kecil hingga tulisannya tidak bisa dibaca kembali.


Zaky masuk ke dalam sekolah mencari kelas Vina dan saat berjalan di lorong, dia lihat kalau ada kelas dengan tulisan yang sama. Dia masuk ke dalam kemudian mendapati seorang gadis yang tengah duduk di meja, gadis itu cemberut bersama dengan seorang lelaki yang memakai topeng.


Lelaki itu melirik Zaky dengan senyum masam dalam topengnya, dia berjanji akan menjaga rahasia ini sampai kapanpun dan takkan pernah bercerita pada siapapun. Hanya saja tidak ada yang menyangka kalau Vina secinta itu padanya, bahkan bisa ingat suaranya.


Tangan Zaky mengangguk pipinya, "yah.. aku tidak menyangka kalau Vina bisa tahu itu kau, Ryan."


"Aku inget banget suaranya!"


"Bahkan pengubah suara juga tidak mampu, bagaimana ini ya ?" Kata Adly yang datang. Zaky serta Adly menatap gadis itu dengan tajam, mereka fokus ke telinganya kalau itu sangat merepotkan dan Ryan terlihat bingung dengan apa yang terjadi.


Lelaki berkacamata itu mendatangi Ryan dan mengambil topengnya, dia membuka sebuah chip atau sebuah kartu memori. Menggantinya dengan yang baru kemudian memberikannya lagi pada Ryan, kemudian dia mengetesnya dengan bicara.


Ryan bicara, "Vina, apa kamu bi--! Tunggu, suara ini!"


"Terlalu imut, dan kenapa suara Widya ?!" Tanya Adly marah. Zaky menghela napas, dia pikir kalau suara gadis itu cukup biasa saja tapi saat melihat Adly dan Ryan yang keliatan marah, dia mengambil ponselnya kemudian merekam suaranya mengucapkan huruf dari A sampai Z dengan suara yang berat.


Sesudahnya dia memadukan rekaman itu pada kartu memori dan memberikannya pada Ryan, Ryan mengambilnya kemudian memakainya. Dia mulai bicara, lalu Adly menghembuskan napas lega bersama Ryan yang sudah terdengar seperti orang lain.


Sekarang masalahnya bagiamana cara agar Vina bisa diam agar tidak bisa membiarkan rahasia ini. Adly menatapnya, "perempuan itu mulutnya kayak ember bolong, walau ada juga yang enggak tapi sedikit. Termasuk Widya juga, apalagi saat sekolah dia sering gosip dengan teman-temannya."


"Aku rasa.. mungkin saya.." kata Ryan lirih pelan. Mereka menghela napas, dia berpikir kalau Ryan takkan ketahuan tapi ternyata ketahuan.