Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
Episode 139 : Pengorbanan Prajurit (END)


Karena ini bukan penyakit yang ditularkan melalui udara, makanan, atau apapun itu. Melainkan penyakit dari bawaan lahir.


...


"Drama macam apa ini ?!" Ryan memukul dinding memakai keningnya. Dia menatap tanah dengan air mata yang serembah-serembih. Suara gemuruh berisik masuk ke gendang telinga, dari keributan hingga tangisan banyak orang sekaligus tanpa mengatakan apapun Ryan paham dirinya berada di mana. Tangannya gemetaran, ia tidak bisa menghadapi semua orang begitu saja.


Jumlah mdreka tidaklah seberapa, tetapi seluruh warga di kota atau bahkan seluruh dunia menghargai pengorbanan mereka. Karena kalau tidak. Mahkluk itu kemungkinan mampu menghancurkan satu negara dengan waktu satu malam, secara tidak langsung puluhan orang itu menjauhkan bumi dari kehancurannya.


Telah muak selaku menjadi makanan berjalan. Membawa semangat dalam menjalani tugas, menentang sekumpulan mayat hidup dengan gagah berani akan tetapi dentang suara jam terdengar. Waktu kian semakin lama burung gagak sampai, mereka datang sebentar membawa kabar, kemudian pergi meninggalkan bekas yang sulit untuk di hapus.


Ryan keluar dari rumahnya. Terdapat prajurit raksasa, DyntalGear, ia membawa pedang patah di punggung serta senapan serbu besar di sisi paha kanannya. Kedua tangan membawa peti panjang pembawa jenazah. Mereka yang terbunuh meledak dalam senjata berbentuk manusia itu tubuh terbakar, terkadang ditemukan tubuh mereka tercabik-cabik.


Diikuti rombongan korban pilot KnightGear mereka membawa hal yang sama dengan kelompok sebelumnya, sama halnya rombongan belakang korbannya lebih banyak. Mereka kebanyakan tidak memiliki keluarga. Hanya seorang anak yatim piatu tanpa orang tua, melihat itu saja Ryan membisu sambil berjalan memasuki rombongan itu.


Ryan begitu membenci hari ini, hari dimana orang yang berharga baginya telah menghilang, hanya meninggalkan kenangan membekas dalam ingatannya. Hari-hari itu kini sudah terlewat dengan adanya pengorbanan dari seseorang mengembalikan kedamaian di dunia ini, tidak ada suara tembakan senapan kembali. Sekarang dunia telah damai, tidak ada pertarungan dan pengorbanan yang sia-sia lagi, harap Ryan kedepannya.


Mereka yang tewas bukan kalap ataupun lupa diri, hanya berjuang bermodalkan senjata dan tekad berani mati. Sampai ia terus teringat tentang bagaimana sibuknya Kein mengingatkannya untuk bagaimana menunggu perintah, tidak bergerak sendiri mengikut ***** dan amarah.


"Kenapa mereka begitu.." Ryan berkata menjelaskan apa yang ada di pikirannya begitu Ezra berada di sampingnya. Ezra menjawab seraya menatap peti mati yang tengah dibawa KnightGear, "saat pemimpin.. kami diam tidak berkutik, semua pasti akan langsung mengambil tindakan entah itu membahayakan nyawa atau tidak.. itu yang disebut prajurit 'Belati Putih' kau tau."


"Mentang-mentang tak punya orang tua, semuanya pasti memiliki teman," ucap Ryan pelan. Mendengar perkataan muridnya barusan sebagai pelatih Ezra hanya bisa terdiam, setidaknya ia sudah berada di Belati Putih selama 4 tahun lebih akan tetapi ini masih awal baginya untuk terlalu masuk ke dalam masalah dan jurang yang lebih dalam..


"Lebih baik kau bawa Adly dan regunya untuk menghadiri pemakaman salah satu rekannya yang tewas," kata Ezra memperlihatkan ekspresi sedih.


"Mengapa dia tidak datang ke pemakaman ?" Ucap Ryan melirik gurunya.


"Sudah menjadi kebiasaan, regu Penyerang atau dulu yang disebut regu Pembantai tidak pernah pergi ke pemakaman teman mereka karena tidak pernah ada yang meninggal sesulit apapun tugas mereka!"


Hanya bisa mengangguk pelan. Ryan terhenti, sekitaran tubuhnya partikel biru menyelimuti seluruh bagian badan dan tak lama dalam sekejap ia berpindah tempat ke halaman gedung. Tidak ada orang di tempat, dia melihat peta kalau Adly ada di rumahnya dan beberapa anggotanya juga sedang bersamanya.


Hasil dari ketiadaan Adly membuat satu dari regu mereka tewas, satu regu itu tengah duduk-duduk di gang serupa seperti para preman, hanya lelaki berambut putih bersih itu menatap langit dengan mata sendu. Mendatangi mereka. Ryan dilihat oleh semuanya sekaligus, diikuti lirikan mata Adly kini ia turun dari tempat duduknya.


"Teman kalian akan sedih bila teman-temannya tidak datang ke pemakamannya," ujar Ryan dekat daun telinganya.


"Aku tau itu! Hantu gentayangan, sepertinya itu menarik tapi tidak juga sih.." mereka keluar dari gang menuju pemakaman, sudah ada mobil yang menunggu mereka di pinggir jalan. Adly masuk ke dalam bersama Ryan sementara sisanya disuruh untuk berjalan kaki.


Malam pun tiba, tiada satu tetes pun air mata menetes ke tanah merah, pemakaman ini tidak satupun dari mereka menangisi kepergian mereka. Emosi mereka diekspresikan oleh langit. Menggantikan seluruh orang di pemakaman untuk menangis, terkecuali Ryan yang belum terbiasa.


Tatapannya hanya mengarah pada satu hal. Batu nisan bertuliskan nama rekan setimnya, ia berharap semua takkan melupakan siapa yang telah meninggal, tandanya banyak kuburan hanya ramai gugur daun-daunan, serta tubuh rerumputan panjang menyembunyikan gundukan tanah bersama batu nisannya. Lelaki Ini menantikan pertengkaran mereka kembali.


Dipertemukan oleh tugas. Dekat karrna satu tim, tak lama berpuluh-puluh pertengkaran serta baikan kembali seperti biasanya. Pengulangan yang biasa. Tempat untuknya berpulang telah tiada, hari-hari membosankan mengapa itu menjadi berharga dan itu menjadi kesukaannya setiap waktu dan kini harapan untuk bertanya terus sirna tanpa bekas.


Hujan terus mengguyur pemakaman. Kebahagian itu harus pudar, takdir telah membawa rekannya pergi takkan pernah bisa kembali. Hanya berlalu dua hari, rindu sudah menjajah hati serta pikirannya dan serpihan ingatan masih hidup dalam kristal tergantung berjumbai-jumbai terikat kalung.


Meski ia tahu Kein takkan kembali, lelaki ini mengharapkan suatu keajaiban apapun itu walau sedikitpun kemungkinan ia menginginkannya. Dia menatap telapak tangan. DreamWorld terlintas dipikirannya, namun, antara ada atau tiada Ryan tidak ingin hidup dalam ilusi dan hanya membayangkan bayang kehadirannya menyapa mengukir senyum di wajahnya.


Rasa sakit sudah lama tak terasa, demikian masalah terus berdatangan walau sekarang mereka tidak datang secara bersamaan Ryan merasai tubuhnya begitu gemetaran. Rasa yang lama sudah tenggelam sekarang muncul kembali di atas dipermukaan, memperlihatkan bendungan air mata yang telah kering.


"Manusia didorong rasa sakit, kami membutuhkan masalah dalam kehidupan.. tanpa merek berdua hidup bagaikan kertas tanpa warna. Terkadang kita meminta mereka hilang dari hidup, akan tetapi lama kelamaan kita akan menarik dan meminta mereka kembali untuk hadir dalam hidup," lirihnya pelan bersuara lembut tidak keras-keras. Semua orang membisu tidak mengatakan apapun, hanya ada helaan napas panjang serta langkah kaki mulai terdengar meninggalkan pemakaman.


...^^^tamat^^^...