
"Apa maksud dari perkataanmu barusan ?" Tanya Fauzan sembari menatap Surya tajam. Semua orang yang ada dalam ruangan sama sekali tidak bisa mengatakan apapun, mereka hanya bisa mendengar perkataan Zaky dan Surya yang luar biasa mengagetkan. Akan tetapi, semuanya tidak bisa ada yang memikirkan jalan keluarnya.
"Ada memori pada otaknya, kalau kita cabut akan mengakibatkan masalah.. seperti Adly kehilangan kewarasannya atau yang lebih parah ia akan mati suri dan takkan bangun lagi."
"Karena otaknya tidak berfungsi ?" Tanya Widya.
"Ya benar, akan sangat fatal jika sampai memori itu dicabut dan mungkin karena itulah Adly punya kelainan tidak bisa merasakan sakit pada tubuhnya karena otaknya tidak mengirim sinyal rasa sakit. Kecuali kalau ia melukai dirinya sendiri."
"Kalau kita mengetahuinya sebelum ia berumur 15 tahun.. pasti.." Zaky mengepalkan tangannya erat.
Setelah Surya menjawab pertanyaannya Widya membalikan badan lalu melihat Adly yang sedang tertidur pulas, ditemani kedua putrinya. Mendengar kalau ada kartu memori pada kepalanya membuat Widya sangat takut akan terjadi sesuatu padanya.
"Siapa yang bisa melakukan ini ? Menanamkan sesuatu pada kepala itu sangat sulit!" Ucap Surya dalam hatinya. Sedangkan Ezra kelihatan duduk sembari mengepalkan tangannya terlihat begitu marah, ia tidak bisa menyangka kalau kartu memori itu disimpan dalam kepala temannya.
***
Sebelum Belati Putih jadi organisasi yang dianggap pemerintah Ezra sering datang ke rumah Zaky, ia bermain bersama teman-temannya dan pernah bertemu dengan seorang pria tua. Memiliki janggut panjang dan putih yang panjang.
Beberapa saat kemudian karena penasaran Ezra mengejarnya dan ternyata pria itu memasuki tempat kerja ayah Zaky, atau Zyred sendiri. Mendengarkan pembicaraan mereka dari luar Ezra menguping pembicaraan keduanya.
"Akan kita berikan pada siapa ?"
"Entah,.. tapi aku takkan membiarkan kau menyimpan benda seperti itu di kepala anakku."
"Ahaha, aku yakin kau pasti tidak setuju! Hmm.. bagaimana dengan anak berambut putih itu ?"
"Adly, maksudmu ?"
"Ya, dari yang kulihat dia memiliki potensi besar untuk menjadi data pertarungan dan dunia ini akan terselamatkan karenanya! Pengorbanan satu anak tidak masalah.."
"Kau benar-benar kakek yang gila!" Ucap Zyred kemudian melangkahkan kakinya ke depan pintu. Anak yang diluar ruangan mendengar suara langkah kaki kemudian pergi ke ruang tengah, ia berkumpul kembali dengan teman-temannya. Akan tetapi Ezra tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh mereka berdua.
***
Ezra berdecak kesal lalu berdiri mendatangi Widya kemudian membicarakan hal ini padanya, beberapa menit seusai menjelaskan gadis itu membuka matanya lebar dan langsung mencengkram lehernya. Sontak semuanya kaget dengan apa yang terjadi.
Dengan keras gadis itu membanting lelaki ke lantai sampai terasa getaran yang kuat. Hendak mengambil pedangnya Fauzan menghentikannya, mencengkram kedua tanyanya. Ia mengunci pergerakannya agar terhenti.
"Lepaskan atau akan kupotong tanganmu!"
"Jangan emosi! Apa yang dikatakan Ezra sampai membuatmu begini ?!"
"Dia tahu semuanya! Tapi, hanya diam tidak mengatakan apapun!" Ucapnya membalas. Fauzan memperlihatkan wajah heran, tidak lama setelahnya suara gedebuk terdengar dan semua orang melihat kalau Adly terjatuh dari ranjangnya. Melepaskan tangan Widya, ia datang dan melihat keadaan suaminya.
Ezra bangkit dari lantai melihat keadaan Adly yang begitu parah, melihat darah keluar dari mata serta mulutnya dia yakin darah keluar dari matanya itu karena yang ada dalam kepalanya. Tidak ia sangka kalau sesudah pulang menyelesaikan misi dari negara tetangga sekarang mengalami hal seperti ini, sangat membuatnya menjadi sedih.
Zaky mendekat padanya dan menarik tangannya keluar dari ruangan. Diluar ruangan setelah Ezra diseret untuk keluar Fauzan ada diluar dan mereka bertiga memakai Teleport ke gedung Belati Putih untuk membicarakan hal ini.
Di ruangan rapat mereka bertiga duduk di kursi masing-masing dan Ezra menceritakan apa yang didengarnya, beberapa saat setelah bercerita keduanya yang mendengarkan tidak mengatakan apapun lagi.
***
Di tempat persembunyian mereka berdua, keduanya sudah menyiapkan rencana untuk memisahkan Adly dari anaknya yang merepotkan dan mengambil dokumen penting yang ada di bandara. Dokumen itu berasal dari negara luar akan tetapi karena zombi mulai menguasai tempat itu mereka tidak bisa mengambilnya begitu saja, karena ada belasan zombi raksasa yang akan menghabisi mereka.
Profesor itu bisa mengendalikan tiga raksasa namun kalau jumlahnya melebihi batas ia takkan bisa melakukannya, maka dari itu ia menunggu keberhasilan Ryan dalam mengambil dokumen itu. Jikalau dia gagal sekalipun masih bisa diatasi Zyred kalau mengambil dokumen saja.
"Memang dokumen itu berada di mana ?"
"Bawah tanah.. atau tempat rahasia."
"Hah ? Kalau tempat itu dikuasai zombi sebelum sempat dikirim kemari harusnya berada di gudang atau tempat penyimpanan paket, bukan ?"
"Yah, aku inisiatif untuk menyimpannya di tempat aman.. bagus, bukan ?" Kata profesor dengan senyuman bangga. Zyred kelihatan menatapnya sinis lalu berkata, "kenapa kau tidak bawa kertas itu kemari saja ?! Biar gampang!"
"Uh! K-kenapa aku tidak memikirkannya ?!" Ucap pria tua ini. Kakek ini mengelap keringatnya lalu memberikan sebuah pistol padanya, melihat pistol ini bagi orang yang tidak tahu hanya sebuah senjata api biasa akan tetapi di mata mereka berdua ini adalah meriam kecil.
Satu tembakan dari senjata ini sama saja dengan sebuah rudal, walaupun begitu pistol ini harus ditambahkan pada musuh yang berjarak minimal puluhan meter dari penembak. Agar tidak melukai pengguna. Mereka berdua memiliki banyak peluru ledakan seperti ini, tapi sama sekali jarang digunakan karena pria tua ini tak ingin Fauzan terluka kalau berhadapan dengannya.
Zyred mengingat kalau seingatnya pria tua ibu berkata kalau Fauzan adalah manusia terkuat setelah Rani, karena itulah kehilangan dirinya ialah hal yang paling buruk untuk nasib dunia ini. Sampai sekarang Zyred yang sudah bersama dengannya beberapa tahun juga tidak bisa mengira apa yang ada dalam pikirannya, tapi ia tahu kalau perkataannya itu kebenaran dan sama sekali tidak ada kebohongan.
Namun, sekarang tingkat mereka turun yaitu Fauzan menjadi ketiga dan Rani yang kedua..
"Kenapa anak itu sangat kuat ? Aneh sekali."
"Mungkin karena Adly dan istrinya melakukan sesuatu..."
"Apa maksudmu, kek ?"
"Jangan panggil aku kakek!"
"Yah, sudah tua ini tidak ingin dipanggil kakek mati saja sana," ucapnya. Mendengar perkataan pedas itu darinya ia tahu kalau sampai saat ini hanya Zyred yang percaya padanya saja. Dan tujuan mereka juga sama halnya menghidupkan kembali manusia yang mati.
Menghembuskan napasnya, dia tahu kalau semua akan sulit pada awalnya tapi demi mempertahankan dunia ini dan agar tujuan mereka berhasil. Harus bisa mewujudkan mimpi mereka apapun yang terjadi, harusnya itu sangatlah mudah kalau keempat remaja itu menyetujui rencana mereka daripada memilih melawan. Namun, dilihat dari orang yang waras pasti akan memilih untuk melawan daripada bergabung. .