
Puluhan orang dewasa mulai ketakutan dengan kepanikan di dalamnya, bersama remaja lainnya hanya ada sedikit dari mereka yang bertahan dari sekumpulan zombi. Di tengah-tengah kerumunan tersebut terlihat Fauzan dengan penuh rasa takut membunuh beberapa dari mereka, pisau yang dipegangnya semakin bertambah panjang bilahnya jika terkena tetesan darah.
Walaupun tahu mengenai pisau itu bagaimana tambah memanjang, dan bisa memanjang sampai seperti mencapai ukuran pedang biasa mereka tetap lari pontang-panting takut dengan para zombi. Dari kejauhan Adly terlihat sedang melihat darah yang membentuk daging di jari tangannya, dengan senyum tipis ia menatap pada calon regu Pembantai yang sedang bertahan.
Sejak awal Adly tahu mana diantara mereka semua yang paling layak bersamanya, tidak diragukan lagi dengan Fauzan bersama Elentry yang kuat. Akan tetapi, ketakutannya terhadap membunuh orang lain dan mahkluk hidup lainnya masih terlihat jelas.
"Aku akan menikmati pertunjukan ini sampai selesai." Adly berkata sambil menggerakkan tangannya. Beberapa saat setelahnya, jam tangannya berdering dan mendengar tanda panggilan masuk Adly mengabaikan panggilan tersebut. Dan hanya berfokus pada pertarungan tak seimbang di hadapannya. Sembari mengharapkan kalau banyak orang yang melarikan diri dari lawannya.
Semakin ia lari menjauh dari para zombi semakin sulit dan mustahil juga bagi mereka untuk menang, melupakan mereka. Memperhatikan kembali temannya, Fauzan terlihat kesusahan untuk melawan zombi yang berdatangan padanya walau sekarang pisaunya sudah menjadi pedang seutuhnya. Begitu juga dengan pisau lainnya.
"Bagi mereka yang lari bahkan sebelum dimulai setelah mengetahui hanya diberikan sebilah pisau, maka takkan bisa lari dari ilusi ini."
"Ilusi ?!"
"Satu... Dua... Tiga..."
Hitungan mencapai angka tiga seketika mereka melihat pemandangan di sekitar mereka berubah, dan ada banyak orang tergeletak. Memperhatikan kembali orang-orang yang tergeletak di tanah, Fauzan sadar kalau mereka semua orang yang melarikan diri dan terbunuh. Di ilusi sebelumnya.
Adly mendekat dengan senyum hangat, tatapan matanya mengarah pada mereka semua secara bersamaan semuanya juga melihat bayang-bayang monster di belakang badannya. Mereka yang menatap langsung monster itu merasakan dada berdebar, beberapa dari mereka bahkan ada yang kencing di celana.
Saking takutnya mereka pada bayangan tersebut, ada yang pingsan dan yang bertahan hanya tinggal 28 orang lagi. Melihat jumlah yang menurun Adly berhenti melangkah dan berkata, "selamat.. kalian lulus dari cobaan ketiga."
"Apakah masih ada.. hahh.. lagi ?" Tanya seseorang dengan napas memburu.
"Terbunuh belasan orang, yang lari delapan orang, yang mengorbankan temannya lima orang, dan yang pingsan karena intimidasi empat belas orang." Adly berkata sembari mengambil pistolnya. Ia membidik menembaki tangan mereka, semua orang yang terkena tembakan menjerit kesakitan dan juga terdengar teriakan laki dari beberapa orang. Sedangkan Fauzan sendiri bisa melihat jalur tembakannya.
Dirinya membelah setiap peluru yang menghampirinya dengan tebasan pedang, melihat kecepatan dan mata yang bagus Adly tahu mengapa Zyred sangat ingin temannya masuk ke dalam regu Pembantai. Untuk alasan tertentu Adly dibiarkan membentuk regu, entah apa alasannya tapi yang pasti Zyred ingin agar mereka kelak di masa depan menjadi prajurit andalan. Pikir Adly.
Tembakan terakhir mengenai tangan Fauzan dan ia menjatuhkan pedangnya, ia menahan sakit pada tangan kanannya. Berlumuran darah menetes ke tanah. Tak lama kemudian Adly memberikan peringatan pada mereka, untuk yang tidak kuat silakan pergi saja dari tempat ini. Namun, yang dilihatnya dari mereka yang masih bisa berdiri dan menatap matanya dengan penuh keyakinan.
"Hmm.. sekarang mungkin aku harus mencobanya," gumam Adly melihat tatapan yakin mereka semua dan menarik pedangnya. Matanya berubah merah, lalu rambutnya menghitam bukan lagi putih seketika semua kaget dengan rantai yang keluar dari tanah. Seperti ular rantai itu mengelilingi tubuhnya.
Adly menunjuk mereka semua, dan semua orang yang sedang bersiap siaga menyadari kalau pedang mereka berubah normal menjadi pisau. Rantai menangkap satu dari mereka, mencengkram tubuhnya dengan erat dan dari kejauhan Adly melemparkan enam pisau. Pisau itu melayang melesat ke orang yang sedang ditangkap rantai.
Adly yang tengah duduk dan melahap roti seketika berdiri lalu berteriak, "bukannya ini menarik ?! Hei! Bagaimana perasaan buah ketika melihat ini ya ?!"
"Dasar monster!"
"Aku tidak ingin berada di sini lag---arggg!" Satu tertangkap rantai dan terulang kejadian yang sama.
"Ibu tolo--!" Orang kedua tertangkap. Mendengar perkataan darinya membuat Adly tertawa terbahak-bahak, ia terlihat seperti penjahat tanpa perasaan di mata semua orang yang melihatnya. Entah dari dekat ataupun kejauhan.
"Adly, apa itu dirimu ?" Tanya Fauzan dalam hati. Ia memperhatikan sekitarnya, hampir semua yang ada di sini lari pontang-panting dan hanya tersisa dua belas orang termasuk dirinya yang berada di lapangan ini. Mencoba melawan rantai di depan wajah mereka, bagaikan melawan ular raksasa dan citah bersamaan.
Kecepatannya terlihat jelas kalau ketangkasannya ini setara dengan citah, terlebih lagi rantai ini besar dan panjang seperti ular raksasa. Saat dua belas orang ini sudah tidak kuat lagi menahan rantai, mereka melakukan kesalahan yaitu melepaskan pandangan mereka pada pisau yang mengintai. Saat mereka fokus pada rantai, puluhan pisau langsung menusuk punggung mereka dari belakang.
Dari kejauhan Zyred melihat Adly bersama semua orang yang tertidur pulas di tengah lapangan, ia menghembuskan napas lalu mencoba memanggilnya kembali. Pria itu tahu mengapa Adly repot-repot meminjam alat pembuat ilusi, mau bagaimanapun juga semua orang takkan sanggup dengan siksaan itu apalagi kalau yang mengaturnya adalah Adly. Anak kecil tanpa perasaan itu.
"Mereka mungkin akan mati, yang disalahkan siapa ? Ya diriku! Aku tidak mau sampai harus di penjara karena ulah anak ini!" Ujarnya sembari meneleponnya terus menerus. Beberapa kali tidak diangkat olehnya, menghela napas Zyred pasrah lalu pergi saja dari tempat yang mengerikan ini. Lagipula. Tempat yang digunakan oleh Adly saat ini, adalah tempat dimana saat perang dunia kedua negara mereka membantai tentara musuh di sini secara sadis dan brutal.
Sekarang Adly menjadikan tempat ini sebagai tempat ujian. Zyred menggelengkan kepalanya sambil berjalan pergi. "Ish! Bulu kudukku berdiri!" Zyred berlari kecil.
***
"Dimana ini ?" Fauzan bangun membuka kelopak matanya. Dia melihat tangan yang penuh berlumuran darah, matanya terbuka lebar kaget dengan apa yang dilihat oleh mata kepalanya sendiri. Ia melihat sekitarnya kalau semua orang hanya bisa menangis, kaki serta tangan mereka diikat oleh berlian yang keluar dari tanah membentuk rantai berduri.
Akan terapi, hanya Zaky yang bisa terdiam mematung berdiri menatap Fauzan yang memegang pedang dan senyuman tanpa adanya rasa bersalah sama sekali. Berbalik badan Fauzan menghadap Zaky dan berkata, "sekarang bukannya masalah sudah selesai ? Ambil kartu memori itu, gunakan untuk memperkuat DyntalGear dan robot lainnya kemudian kita menangkan pertempuran ini, bukan ?"
"..."
"Zaky.. kenapa diam ?" Fauzan tersenyum tipis.
"Adly mati ? Ah, tidak masalah ada anak dan istrinya yang melebihi kekuatannya, kan ? Jangan sedih seperti itu. Banyak manusia yang sama seperti dirinya. jangan sedih!" Ujarnya dengan nada tinggi. Tangannya meraih granat dan menarik pemicu, ia melemparkannya pada mayat Adly yang sudah terlebih menjadi dua. Dan ledakan itu disaksikan semua orang.