
Ryan terlihat sedang sibuk mencari-cari senjata untuk melawan para zombi, ia paham kalau adiknya sangat begitu ingin untuk membebaskan dunia dari bencana zombi ini. Namun, tetap saja Ryan tidak bisa membiarkan para zombi ini berbuat seenaknya begitu saja. Lagipula dirinya telah mendapatkan sebuah misi untuk membunuh mereka dari dalam dan hanya menyisakan zombi suhu tubuh.
Ryan teringat wajah Zaky saat dia memintanya langsung padanya terlihat raut wajahnya terlihat sangat cemas, memahami itu Ryan akan melakukannya sebisanya. Ia memiliki kekuatan untuk melawan mereka, kalaupun digigit oleh zombi pemuntah sekalipun ia takkan berubah menjadi zombi tapi tetap saja kalau lehernya atau jantungnya hancur tetap saja mati.
Sedikit merasa merinding memikirkannya dengan cepat dia memasang Earbuds di telinganya, dan mempersiapkan senjatanya. Sebuah pistol serta senapan serbu.
Ryan tersenyum masam, "Kurasa hari ini akan aku lakukan."
"Kakak, apa kau gila ?"
"Huh ? Ya tidak, kurasa aku sebaiknya melakukan ini dan apa kau sudah menyuruh semua zombi suhu tubuh masuk ke dalam rumah ?"
"Mereka takkan menyerangmu! Tapi, kalau zombi lain yang sudah begitu.. aku kurang yakin kalau kau membunuh salah satu dari mereka."
"Jangan apa-apakan Shinta, aku akan segera kembali aku janji, adikku yang manis!" Ujarnya sembari mengelus kepalanya. Anak perempuan di hadapannya memerah lalu menendangnya, menahan tendangan dengan kedua telapak tangannya Ryan menghembuskan napasnya dan keluar dari gudang melihat kalau ada sekitar belasan zombi yang sedang berjalan-jalan seperti berpatroli.
Mengeluarkan peta yang didapatkannya dari Zaky sebelumnya, ia berkata padanya kalau Surya dengan DyntalGear miliknya sudah bersiap-siap kalau dirinya dalam bahaya yang serius semacam zombi raksasa misalnya. Itu membuatnya tenang dan kalau ada sesuatu juga masih ada Kein dan Jack bisa dihubungi olehnya jika terjadi sesuatu.
Ryan mengisi peluru dan membidik salah satu dari mereka, pelatuk ditarik menembakan peluru tepat terkena kepalanya. Zombi lain belum menyadari kalau salah satu dari mereka jatuh, hanya saja, zombi berjaket datang pada Ryan yang belum menyadarinya.
Setelah beberapa langkah di sampingnya Ryan menoleh ke samping dan menembak lehernya, sekali tembak mereka lemah mau di tubuh bagian manapun juga. Asalkan itu pistol sungguhan bukan mainan semata.
"Bandara tujuanku sekarang, tempat aman yang tidak ada zombi raksasa," katanya sambil membidik mereka lagi. Dua tembakan terdengar membunuh tiga zombi, dua dari mereka berjejer membuat peluru menembus zombi pertama dan membunuh zombi kedua dengan peluru yang tembus itu.
Namun suara itu menarik perhatian zombi lainnya terlihat beberapa zombi mendatanginya beramai-ramai ia melemparkan granat setelah mencabut pengamannya, ledakan terdengar menggema dan sisa zombi lainnya berlari padanya. Ryan mengambil senapan serbu dan mengutamakan zombi yang punya kecepatan yang cepat, mereka lari begitu cepat menuju arahnya.
Gencar peluru menembak ke kepalanya sampai hancur terlihat darah yang bercucuran, tidak lama kemudian zombi yang berlari sudah habis. Mengganti senjata ke pistol ia menembak mereka dengan santainya.
"Grrr.."
"Ap--!"
"Goarrr..!"
"Sial, kau ternyata kuat juga!" Ujar Ryan sembari membela dirinya sendiri. Tidak disangka kalau ada zombi berpakaian anak SMA lelaki menerjangnya dari belakang, suara langkah kakinya tidak terdengar membuat Ryan terlalu mengandalkan kerjasama antara kelompoknya. Biasanya kalau ada zombi di belakangnya akan ada yang menembaknya entah siapapun itu dari kelompoknya.
Kekuatannya tidak bisa dibandingkan dengan Ryan, Ryan melepaskan pistolnya membiarkan tangannya digigit. Sedikit merintih kesakitan Ryan mencengkram erat leher zombi dengan tangan yang lain dan membantingnya, setelahnya ia mengambil pistol tergeletak di tanah lalu menembakan pelurunya tiga kali.
Dua zombi datang padanya, ia berlari menjauh beberapa meter dari mereka dan memakai perban membalut luka di tangan kirinya. Namun, dia mendengar suara injakan kaki yang besar membuatnya langsung kaget dan menembak zombi yang sedang berjalan ke arahnya sampai pelurunya habis.
Ryan menggaruk kepalanya, "Zombi itu takkan pergi.. aku harus bagaimana ?"
"Aku akan membantu,.. pergilah ke toko buku di pusat kota di sampingnya ada toko sepatu, kedua toko itu ada persediaan makanan dan peluru."
"Surya ... Apa itu kamu ?"
"Ya benar, di kota ini ada Zaky dan aku yang akan membantumu.. cepat! Akan aku alihkan perhatian dia!"
"Aku ing--!" Perkataan Ryan terhenti ketika panggilan terputus. Earbuds miliknya mengeluarkan suara nyaring terdengar seperti kehabisan daya, lelaki ini menghela napas tahu kalau sudah seminggu ia tidak membiarkannya mengisi daya. Lagipula di sini tidak terlihat sinar matahari jadi membuatnya kesulitan.
Tidak lama kemudian ia lihat kalau ada rudal menghantam zombi raksasa, sebuah robot dengan ukuran yang sama dengan zombi datang dari atas. Ukirannya 15 meter terlihat begitu besar. Tangannya meraih pedang di punggungnya, beberapa detik kemudian asap keluar dari punggungnya mengeluarkan jet pendorong dan robot melesat cepat ke arah zombi.
Zombi melayangkan pukulan ke arahnya, robot menjadikan pedangnya sebagai perisai namun pukulan yang lain mengenai tepat ke kepalanya. DyntalGear terhuyung-huyung mundur ke belakang, Ryan memperhatikan kalau ada yang salah karena biasanya mereka menembakkan meriam saat jarak zombi begitu dekat dengan mereka.
"Apa mungkin ... Surya sendirian ? Kalau begitu wajar saja," ucapnya sembari tersenyum kecut dan menatap sinis robot. Melupakannya sejenak ia berlari keluar memperhatikan sekitar kalau tidak ada zombi lain di sini membuatnya lega, dengan cepat ia berlari menjauh dari pertarungan antar raksasa dan menuju pusat kota dengan berlari.
Menoleh sembari berlari menjauh terlihat kalau pertarungan yang ada semakin dahsyat apalagi kalau Surya tanpa timnya, ia terlihat begitu buruk dalam soal pengendalian robot itu. Saat berlari Ryan terhenti kalau Earbuds miliknya mulai menghidupkan daya cadangan dan menyambungkan panggilan.
"Maaf! Ryan, AI di sini tidak berfungsi .. aku tidak bisa mengaktifkan senjata lain tanpa mereka dan sistem!"
"Jadi, apa yang harus kulakukan ?"
"Saat ini senjataku hanyalah pedang saja.. jadi, mungkin takkan bisa melawannya terlalu lama! Kau ugh--!"
"Surya!"
"Ah ... Hanya kerusakan fatal pada lengan kanan saja ... Kini DyntalGear hanya bisa melawan dengan tinju saja, mungkin aku akan mati.."
"Kau begitu tenang yah.. "
"Kepalaku berdarah, mana bisa aku bicara membentak begitu, kan ?" Ujar Surya dalam panggilannya. Ryan terdiam lalu menoleh ke belakang kalau ia benar-benar dalam situasi yang gawat darurat. Hendak ingin kembali ia melihat ke atas gedung ada Zaky yang sedang berlari, dia melompat dari gedung ke gedung lainnya.
Ryan terdiam menatap Zaky dari kejauhan nampak menembakkan peluru hitam mengenai leher zombi, tanpa waktu yang lama kepalanya putus dari leher membuat Ryan sangat kaget tidak main. Sekali serang dia bisa membunuhnya tanpa harus melakukan sesuatu yang berat.
Namun, Zaky duduk di atas gedung dan terlihat beristirahat setelah melakukannya...