Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
30. Rani


Gadis itu ditinggalkan oleh Adly dengan keadaan yang sangat terluka parah namun, itu takkan mengancam nyawanya karena melihat tangannya yang berasap membuat Adly jengkel rasanya. Mereka baru mengetahui kalau pengidap heartlosive memiliki kemampuan regenerasi tubuh yang sangat cepat, asalkan mereka memiliki luka di bagian kaki.


Entah kenapa itu memicu sesuatu dalam tubuh hingga membuat kemampuan regenerasi seseorang menjadi berkali-kali lipat dari manusia biasa, itu begitu mengejutkan. Terlebih lagi.. kebanyakan dari mereka memiliki regenerasi yang cukup cepat, mereka punya pergerakan yang cepat, tidak bisa dibaca ataupun diprediksi dengan mudah, dan sangatlah tidak masuk akal kekuatan mereka itu.


Adly masih berjalan meninggalkan gadis yang masih terkapar di dekat makam lelaki itu, "kekuatan mereka setara dengan 10 gajah kalau sudah dikendalikan, kecepatan mereka 1km per-sepuluh menit. Bahkan kecepatan sepatu tempur juga 50 meter perjam."


"Ya mungkin karena mereka dibuat untuk senjata."


"Mungkin benar saja," jawab Adly dengan senyum masam di wajahnya. Kalung yang dililit pada lehernya berbahaya dan mengeluarkan suara, Adly bicara dengan suara itu merespon apa yang dikatakan oleh lelaki itu. Tidak ada pula yang menyangka kalau dia memiliki peliharaan dalam kalungnya, begitu juga Zian dan anggota yang lain.


Dia sempat menengok ke belakang melihat kalau Rani masih terkapar, kemudian tanpa basa basi dia langsung melesat dari tempatnya. Hilanglah orang itu sudah..


Tepat setelah kepergian Adly.. Rani terbangun membuka matanya, dia beralih ke posisi duduk dan memperhatikan sekitarnya. Matanya menuju pada makam yang baru saja dibuat, matanya masih sayu akan kepergian orang itu. Dalam hitungan detik Widya datang dengan membawa payung, mendatangi Rani yang sedang terdiam.


Setelah di depannya Rani diberikan payung olehnya. Tangannya meraih dan bangun dari tempatnya berdiri, matanya hanya tertuju pada makam itu sambil terpikir kalau banyak hal lagi yang belum diketahui olehnya. Walau itu tidaklah mungkin baginya yang sekarang, dia ingin mengambil kekuasaan ayahnya.


Karena ayahnya itu sedang dalam penjara, dia bisa mengambil kekuasaan dari kekuatan ayahnya dalam militer. Dia mengepalkan tangannya kemudian mendatangi Widya, ia menepuk kedua pundak gadis itu atau sahabatnya.


Sorot matanya dengan tajam menatap dan hanya menatap pada gadis itu, "Widya..! Adly masih hidup dan dia sama sekali tidak peduli padamu!"


"Kamu jangan membuatku kehilangan kewarasan, dia sudah mati. Biarkan Alia dan aku hidup tenang, lagipula aku sudah tidak ingin punya pasangan lagi biarkan aku jadi perawan tua saja."


"Ini memang mustahil.. tapi dia masih hidup!" Ucap Rani dengan wajah yang sangat cemas. Widya memperhatikan bajunya kalau penuh dengan lumpur, dia juga memiliki bekas seperti pertarungan atau lebih tepatnya ini adalah alat tempur dari Adly membuat Widya tahu apa maksudnya.


Dia menghembuskan napasnya sambil mengangkat tangannya, tidak lama.. sebuah tamparan keras mendarat ke pipi Rani dengan kencangnya. Matanya terbuka lebar dia tidak tahu apa yang dilakukan olehnya, tapi Widya meneteskan air matanya sambil tersenyum dan pergi begitu saja dengan meninggalkan payung yang dibawa olehnya barusan.


Rani sadar kalau mungkin bagi Widya kematian Adly itu adalah hal mutlak, sekarang setelah hampir melupakannya malah diungkit-ungkit kembali. Dia menunduk dan mengambil payungnya hendak pergi tapi melihat ke kuburan Ryan dahulu, "aku akan kembali lagi nanti. Setiap sebulan sekali.. dah!"


Dia pergi dengan rasa berat yang berada dipundaknya yang rapuh itu, cipratan air yang sepanjang jalan saat dia berlari menuju rumahnya. Ia sekarang tidak tahu harus kemana lagi selain rumahnya dan kembali dalam pelukan ibunya, selain dari itu dia tidak tahu apapun lagi.


Hujan masih turun dengan lebat.. seorang lelaki dengan rambut putih platinum dan pakaian yang dipakai olehnya adalah kemeja hitam dengan membawa sebuah senjata di pinggangnya. Dia berada di bawah jembatan.


Wajahnya menandakan kecemasan yang sangat besar saat melihat sebuah tempat, "di sini aku menemukan Alia yang sedang... Memakan manusia.."


"Di sini ? Kurasa... Negara itu memang membuat rencana itu."


"Ya.. aku paham dan tahu apa maksud kamu, hanya saja kurasa tidak mungkin."


"Tapi...!"


"Itu adalah faktanya.. hampir semua pengidap penyakit itu akan berubah menjadi mayat hidup setelah dikuburkan, bukan ?"


"Ryan... Empat hari lagi ya."


"Mungkin besok dia akan keluar dari tanah, tapi semoga tidak ada orang lain yang berada di pemakaman selain pasukan kita."


"Kuharap itu," jawab Adly sambil melihat ke tempat di mana dia menemukan anaknya. Mendatangi tempat itu, sebuah tenda kecil dengan banyak sekali tumbuhan yang sudah tumbuh. Dia tahu kalau Alia adalah mahkluk yang harusnya sudah mati, anak gadis itu yang pertama menjadi mayat hidup.


Menghembuskan napas dia menoleh ke belakang sambil bertanya-tanya apakah Alia itu tidak berbahaya atau tidak, saat Adly belum punya simpati pada anak itu juga rasanya dia ingin membunuhnya tapi sedikit-demi sedikit dia merasakan kalau dia suka pada anak ini. Setelahnya mengambil hak asuhnya dari atasannya lalu berkeluarga.


Masih jalan-jalan di bawah jembatan itu, dia melihat jam tangannya dan keluar peta yang menunjukkan banyak titik hijau serta biru. Dia menghembuskan napas lega karena tidak ada seseorang yang berada di sekitar area ini, ia langsung mengambil kalungnya dan melemparnya ke udara.


Seekor naga keluar dari kalung itu perlahan dengan cahaya merah dan putih, seekor naga muncul dengan sayap besar memakai semacam armor dan dia turun depan Adly dengan wajah beringasnya. Keempat kakinya seperti lemas bila diperhatikan.


Adly tersenyum masam sembari menatap kakinya yang terlihat gemetaran, "maaf.. aku jarang keluarin kamu, dikurung selama 4 tahun gak enak ya ?"


"Sudahlah jangan terlalu begitu, aku hanya heran saja kenapa kamu mengadopsi seorang zombie ?"


"Aku pun tidak tahu, hanya saja aku entah kenapa kasihan padanya, gitu."


"Kalau sekarang ?"


"Malah ditanya, aku malah tampah sayang padanya setelah jadi ayah baginya.. terlebih lagi dia belum pernah melihat ayah ataupun keluarganya, aku tidak tega padanya. Apalagi aku juga yatim piatu."


"Yag itu memang dirimu banget sih."


"Ah, ya makasih, Dragrise!" Ujar Adly menjawab naga miliknya. Dia harus melupakan semua yang harus dilupakan, hanya saja dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh para petinggi negara dan pemimpin teratas. Harusnya mereka tidaklah sebodoh itu sampai melakukan hal ini, tapi.. Zian tahu sesuatu kalau akan terjadi hal hebat.


Semacam seperti perang akan terjadi mungkin saja karena itu hanya asumsi saja, tapi.. Adly berspekulasi kalau itu benar juga. Dia menghembuskan napasnya sambil duduk di tanah, mengambil ponselnya melihat kalau sudah malam juga hari. Rani juga sudah pulang kalau dilihat dari peta.


Petir menggelar membuat bunyi yang keras disaksikan oleh lelaki itu dan naga itu kalau seorang teman mereka datang, dia kembali melihat peta kalau semua orang telah tiada. Adly baru menyadari kalau titik-titik itu tidak bergerak, dari awal mereka sudah mati tapi alat pelacak mereka masih belum rusak.


"Argh! Aku ceroboh banget! Kenapa aku tidak sadar ?!.. belasan orang mati gara-gara salahku!" Ucap Adly kesal. Matanya kembali menatap temannya yang sedang datang, Ryan juga menatapnya dengan mata hancur.