
Adly menggila seperti sedang dikendalikan. Ada naga yang mengamuk, dia mengobrak-abrik seluruh rumah yang ada di desa ini. Begitu juga warganya, banyak sekali darah yang bercucuran. Anak-anak yang lari sambil menangis, kematian menghampiri mereka tanpa ampun menyiksa dengan jarum-jarum itu.
Membunuh tanpa pandang bulu, tangannya susah dipenuhi dengan darah yang mengalir. Ada tiga orang yang sedang duduk merasai rasa sakit, seketika ada tiga batu melayang di atas mereka. Tidak lama.. tiga batu itu menghantam ketiga kepala orang itu, kepala mereka mengeluarkan darah sambil berteriak kesakitan.
Lelaki itu mengambil pisau, dia menerkam salah satu orang dan menghabisinya seperti psikopat.
***
"... Apa itu Adly ? Sebenarnya, mengapa kami memiliki kekuatan semenakutkan ini ?" Tanya Zaky sambil memejamkan matanya. Dia mengambil kacamatanya membersihkannya dengan tisu, saat lihat ada tiga orang yang sedang menunggunya ketiganya kelihatan tersenyum paksa.
Zaky mendatangi mereka bertiga dengan senyum, ketiganya menepuk tempat duduk tentu saja duduk dan mereka semua terdiam. Yang memulai pembicaraan adalah Ezra, dia bertanya pada Fauzan tentang apa yang akan dilakukan olehnya.
Hanya saja semuanya terdiam, keadaan begitu canggung dan tidak ada yang bicara sekalipun. Kalaupun orang yang sering memecahkan suasana juga seperti ini, tidak ada yang bisa membuat mereka seperti biasanya.
Fauzan mengambil sesuatu dalam kantongnya mengeluarkan sebuah camilan dalam kemasannya, "makan saja sekarang, kita bicarakan ini sambil mengunyah camilan saja."
"Ah, ya makasih! Kau memang yang terbaik!" Adly menepuk pundak Fauzan. Fauzan tersenyum masam menghadapinya, "sama-sama.."
Hanya saja bukannya membantu mereka metambah canggung, karena di tempat inilah mereka kehilangan kendali dan berbagai macam kejadian membutuhkan waktu yang lama agar bisa pulih kembali. Luka mental dalam juga masih terasa rasanya.
Ezra menghela napas, dia menekan tombol di gelangnya dan berdiri menendang Fauzan hingga terlempar cukup jauh. Seketika Adly dan Zaky berdiri juga, mereka heran dengan alasan mengapa Ezra melakukannya di tempat seperti ini.
"Kalau kita tidak bisa bermaaf-maafan dengan bicara, lawan aku! Jika kau merasa bersalah, maka aku akan memaafkanmu setelah pertarungan! Mau kalah ataupun menang!"
"Zaky, apa kau mau juga ? Akan aku buat ingat kau rasa tanganmu cengkram ketakutan!" Adly menyeringai. Melihat senyum jahat Adly, Zaky tahu kalau mereka mulai mencairkan suasana (lagi). Karena itulah dia berdiri dan menarik pedang dari sarungnya.
Tidak lama Fauzan berdiri sembari membawa pedangnya, dua pedang itu mengkilap di bawah sinar matahari. Adly dan Zaky langsung memulai, mereka berpindah ke tempat yang begitu luas sedangkan Ezra masih menatap tajam pada Fauzan yang tengah terdiam menunggu serangan Ezra datang.
"Hahh! Aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu jika kau tidak bersungguh-sungguh dalam bertarung! Kalahkan aku!"
"Aihh, kupikir kau akan tergesa-gesa datang kemari dan menginjak jebakanku!" Ujar Fauzan. Dia melemparkan sebuah krikil ke depannya, seketika muncul sebuah tombak dari tanah. Jebakan itu bisa saja menyebabkan kematian, kecuali bagi orang-orang yang memiliki kekuatan Elentry.
Ezra tersenyum dia tahu kalau saat ini lelaki di hadapannya akan bertarung habis-habisan dengannya, walaupun melakukan minta maaf dengan hal semacam ini lebih baik baginya. Mereka berdua berlari sekuat tenaga, di depan Ezra langsung menyerang Fauzan.
Mereka beradu pukulan dan mulai berkelahi, Fauzan menjaga jarak melemparkan bom kecil dan meledakan tepat di depan Ezra sendiri. Debu menghalangi pandangannya, asap ini membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas. Tidak lama Ezra mengepalkan tangannya kuat mengeluarkan api yang mengelilingi tubuh.
"Menggunakan racun yang bisa aktif saat panas, Fauzan sungguhan!" Ezra tersenyum lega. Menghentakkan kaki ke tanah, keluar api menyembur keluar hebat dari tanah retak dan ada lahar panas menyembur ke Fauzan yang sedang menyiapkan senapan. Dia terhambat karenanya.
Lahar panas itu seperti dikendalikan mereka mengincar Fauzan membentuk sebuah mahkluk, seperti slime yang biasa ada dalam game. Fauzan agak kewalahan, jika tersentuh sedikit saja akan bisa melukai kulit dan membakar.
Fauzan berteriak, "AI! Aktifkan frame level dua!"
"Hah ? Curang bjir, kalau begitu aku juga!" Ezra menekan tombol di Earbuds. Kemudian, mereka mulai panas dan dipenuhi kekuatan. Hanya saja melihat Fauzan yang tenang tidak bisa dipungkiri kalau Ezra bisa kalah, sekali serangan kecil saja bisa langsung membuatnya tumbang.
Berbeda dengan Adly yang melakukan serangan skala besar, Fauzan sebaliknya dia menyerang musuhnya secara satu-satu. Namun hal itu mengerikan karena kekuatannya paling hebat di organisasi, bahkan semuanya ragu untuk melihat bentuk frame 07 ataupun 04 miliknya.
Lelaki berambut merah itu tersenyum, dia memasuki mode amarah dan mempersiapkan tinjunya. Tangannya kirinya keluar api biru dan tangan kanan seperti biasa api merah, dia melesat dengan cepat menerbangkan setiap daun yang ada di kaki.
Tinju mendarat ke kristal, bongkahan kristal itu melindungi Fauzan yang sedang merakit sniper entah apa yang dia buat. Ezra tidak tinggal diam, dia menghancurkannya berkeping-keping degan sebuah pukulan keras. Dia memukul bertubi-tubi karena kristal itu terus-menerus muncul.
Fauzan tersenyum, "ayo! Buat dirimu lelah agar bisa aku tembak dengan mudah!"
"Jangan membuatku marah hanya karena kau seperti meremehkanku!"
"Oh ketahuan ya ?"
"Jangan meremehkan aku, tukang pamer pacar!"
"Hah ? Apa yang kau bicarakan ?" Tanya Fauzan agak tersenyum kecut. Sesudah cukup lama bongkahan kristal itu sudah menghilang, Fauzan membidiknya dari dekat dan berharap sedikit saja mengenainya karena ini akan menentukan apakah dia menang atau kalah. Lagipula ini hanya sekedar pertarungan bukan sampai harus membunuh juga.
Senapan itu mengeluarkan peluru bercahaya emas, Ezra menahan dengan kedua tangannya dan entah kenapa tidak meleleh. Biasanya peluru biasa akan meleleh sebentar saja didalam api miliknya, saat melihat peluru yang sedang ditahan olehnya berwarna-warni seperti itu dia tahu kalau ini bukan sembarang peluru.
Mendorongnya peluru itu terus mendorong Ezra sampai dia tergeser, tidak ingin mengalah keluar sebuah burung api. Burung foniks keluar seperti Adly yang mengeluarkan setengah kekuatan Elentry miliknya, burung itu mengeluarkan api yang menyala-nyala. Keindahannya terlihat.
Namun, peluru Fauzan lebih kuat dan kekuatannya tidak bisa dibandingkan dengan Ezra yang sudah melakukan sebisanya. Dia menyerah dan membiarkan peluru itu mendorongnya seperti itu, dia melesat jauh ke belakang.
Walaupun Fauzan tahu kalau serangan itu takkan membunuhnya, tapi sedikit berlebihan ketika Ezra terdorong jauh.. bahkan terbang!
"W-wah gawat, dia bakal didorong sampai 100 meter nampaknya!" Fauzan tersenyum masam. Beberapa saat kemudian, Zaky dan Adly datang sontak Fauzan kaget dengan kedatangan mereka berdua yang masih beradu pedang dan tidak mengeluarkan kekuatan Elentry mereka. Fauzan menghela napas, dia tidak tahu harus berkata apa.