
Kota kelihatan sudah rusak dan banyak pengungsi yang mendirikan tenda, tengah dilindungi oleh kemiliteran dan Belati Putih yang sedang mencoba untuk menghabisi semua zombi yang mulai berdatangan. Anehnya, bukan hanya dari pengidap heartlosive saja. Melainkan mayat yang tidak ada kaitannya dengan itu ikut hidup.
Ezra menghela napas, "padahal aku ingin tidur siang dan mencari seorang gadis untuk jadi calon anakku saja!"
"Yah mendapatkan hati seorang wanita susah tau."
"Kenapa kita malah membicarakan tentang wanita ?"
"Eh ? Bukannya Ezra yang mulai."
"Sudahlah lupakan itu, kita pergi ke tempat selanjutnya saja."
"Bagaimana dengan mereka ?" Ryan bertanya. Ezra tidak menjawab dan hanya memintanya untuk ikut dengannya, menuruti perintah Ezra dia berjalan di sampingnya. Dalam beberapa tahun dia sudah berpengalaman jadi Ryan percaya padanya.
Memang Ezra tahu kalau orang-orang itu takkan diserang zombi kecuali pemimpinnya datang, biasanya zombi akan bergerak bebas mencari mangsanya dan mengandalkan penciuman. Seperti halnya Adly yang bisa mencium bau darah.
Jika pemimpin mereka mati, par zombi itu bisa bergerak bebas dan tidak berkumpul bersama seperti sebuah pasukan. Lebih mudah menghabisinya secara satu-satu agar lebih mudah, dan Ezra mengetahui kalau anggota Belati Putih yang ada bersamanya di negara ini baru.
Mereka belum punya pengalaman yang cukup untuk melawan banyak pasukan sekaligus, karena itulah pilihan yang tepat harusnya menyerang pemimpin mereka terlebih dahulu.
Dan dengan panggilan baru untuk mahkluk mati ini dipakai seperti sebelumnya, ada perubahan karena mayat yang seharusnya masih dalam kubur itu ikut-ikutan hidup. Juga, jenis baru zombi atau mungkin terkoyak. Mayat yang hanya tinggal tulang dan kerangka saja, mereka tetap hidup tapi lebih berbahaya.
Tidak seperti zombi pada umumnya, mereka bergerak sangat cepat dan belum pernah kelihatan kelelahan sama sekali. Mereka menyerang menggunakan cakar, dengan tukang yang tajam dan keras itu mereka mendapatkan level ancaman 4 yang berarti tidak bisa diatasi oleh tentara biasa.
Sekian lama berjalan mereka melihat para zombie berkumpul, dan yang paling depan dengan tubuh raksasanya melihat ke arah mereka berdua...
Ezra menepuk pundaknya Ryan dan berkata, "atasi pasukannya.. aku akan melawannya.."
"Baiklah.. kalahkan dia. Ayo!" Ryan berkata sambil berlari. Mereka berdua langsung menuju ke depannya, tangan Ezra mulai berapi-api lagi dan meninju dagunya.
Sedangkan Ryan mengatasi pasukannya yang sangat banyak itu, begitu juga dengan pemimpin mereka yang tidak main kuatnya. Melompat ke atasnya Ezra mendarat di atas kepalanya, serentak zombi ini memukul kepalanya sendiri. Ezra melompat menghindarinya.
Dia mengambil senapan dan menembak lehernya beberapa kali. Namun, itu tidak mempan ataupun tidak terluka sedikitpun.
"Benar, dia kebal terhadap peluru senapan biasa nampaknya.." Ezra berkata dalam hatinya.
Di kota yang dipenuhi puing-puing bangunan membuat Ezra sulit untuk bergerak cepat, menarik napas panjang dia menyemburkan api padanya. Semburan itu mengenai seluruh tubuhnya, dipenuhi dengan api zombi itu kelihatan kepanasan dan seperti orang gila.
Dia berlari seperti orang mabuk mengarah pada Ezra yang sedang tengah bersiap menerima serangan, raksasa ingin menginjaknya. Tapi, Ezra langsung menyerang pada perutnya bertubi-tubi dengan pukulan apinya tanpa henti selama tiga menit.
Walaupun perutnya sudah berlubang tetap saja dia masih bisa bergerak dan mengambil kepala Ezra lalu menghempasnya ke salah satu bangunan...
"Ezra!" Teriak Ryan panik. Dia melihat kalau bangunan itu hampir roboh, hanya saja dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya karena Ezra masih bisa berjalan seperti biasa seakan tidak menerima serangan apapun.
Muncul di hadapannya zombi tidak bisa berkutik dan menerima tendangan berputar dari Ezra pada kepalanya, hingga kepala itu terpisah dari tubuhnya. Melanjutkan serangan, Ezra memukul tubuhnya bersamaan dengan api biru sampai tubuhnya terlempar beberapa meter dan hancur lebur.
Ryan berdecak kagum, "hebat sekali.."
"Ryan! Jangan alihkan pandanganmu dari mereka!" Teriak Ezra. Ryan langsung tersadar, dia sontak kaget melihat mahkluk ini di hadapannya dan menebas lehernya hingga terpenggal.
***
Karena kejadian kemarin saat Widya memakan jari suaminya membuatnya memiliki kekuatan waktu, hanya saja efeknya dia akan memiliki umur panjang seperti suaminya dan sekarang dia sedang kesakitan. Kepanikan juga melanda Adly ketika melihat istrinya mau lahiran.
"A-A-A-Ambulan!" Ucapnya gagap. Dia berlari menuju pintu dan menendangnya, orang yang lewat dikagetkan dengan suara keras itu dan mereka lihat kalau Adly sedang panik. Hanya saja dengan tenang Alia mendatangi ayahnya.
Dia bertanya, "apa ayah kehilangan alat teleport ?"
"Ah! Ayah lupa, bawa ibu kamu kemari cepetan!" Perintah ayahnya. Anaknya itu menghela napas, dia mendatangi ibunya dan membantunya untuk bangun dari sofa. Menuntunnya sampai ke pintu depan, Adly menyiapkan teleport dan mereka berpindah ke rumah sakit terdekat.
Kalaupun mereka sudah sampai di rumah sakit tetap saja memerlukan Zaky kalau ada apa-apa, dia memasang Earbuds dan memanggil Zaky dengan penuh rasa panik. Sembari melihat kalau petugas rumah sakit sudah datang dan membawa Widya pergi di temani mereka berdua.
Tidak lama Zaky menjawab, "Adly ada apa ? Tumben sekali ... Padahal sedang libura---"
"Widya lahiran! Cepat kemari..!"
"Bawa ke rumah sakit!" Bentak Zaky di panggilannya.
"Aku cemas, dia punya kekuatan Elentry kan ?!"
"Tidak apa-apa asalkan di rumah sakit dan gak perlu aku juga, ditambah.. aku ini lelaki bukan dokter perempuan.. bukan tugasku untuk itu!"
"Bodoh! Takkan ku biarkan siapapun lelaki yang melihatnya!" Adly memerah sekaligus berteriak. Tidak ada yang berani untuk mengingatkan dia kalau berada di rumah sakit, sadar akan hal itu Adly menghirup udara dan mencoba untuk menenangkan dirinya agar tidak terbawa suasana.
Memasuki ruangan Adly duduk dan melihat Widya dibawa masuk oleh mereka semua, tidak ada satupun lelaki yang ada. Dia tersenyum lega.
"yah.. jangan katakan sesuatu yang begitu.. dan ya tak usah cemas pada ibu.. pikirkan itu dulu! Nama.. nama! Kalian belum menentukan namanya, bukan ?!"
"Astaga! Ayah lupa!" Teriaknya. Semua orang melihat ke arahnya, tapi karena sudah tidak tahan lagi salah satu suster mendatanginya dan memintanya untuk diam dan tidak ribut di rumah sakit seperti ini. Lelaki ini tersenyum masam dan menjawab kalau dia sedang cemas pada istrinya.
Suster ini menghela napas, dia juga memahami keadaannya dan suster itu pergi meninggalkannya..
Beberapa saat kemudian terdengar suara rintihan dan teriakan dari dalam, Adly langsung panik kembali. Ada seorang dokter keluar meminta agar Adly masuk ke dalam untuk berada di samping istrinya, tentu dia langsung masuk ke dalam.
Melihat Alia dokter ini tersenyum masam, hanya saja saat hendak ingin berkata anak ini sudah tidak ada bagaikan angin. Dia masuk bersama ayahnya, kecepatannya itu tidak bisa dilihatnya. Dokter itu tersenyum masam memikirkan keluarga macam apa ini. Dan sekarang, dia tidak memikirkan soal anak ini mungkin saja kuat melihat darah.