Hanya Kamu

Hanya Kamu
Diajak nikah


Indra sudah ada di rumah


Kondisinya makin membaik


Bahkan bisa dibilang sudah sehat


Setiap hari Nina datang menjenguknya


Karena kalau sampai tidak datang , Indra langsung mengeluarkan jurus manjanya


Akan terus menelepon , mengancam tidak akan makan atau minum obat


Pak Bandi ,sopir pribadi di rumah Indra yang akan menjemput dan mengantar Nina


Jadilah setiap pulang kuliah Nina ke rumah indra


Papa , mama dan ayah sudah mengijinkan


Asalkan sesudah Maghrib harus sudah pulang ke rumah


Mama Vanya juga gembira melihat perkembangan kesehatan Indra


Apalagi dilihatnya hubungan Nina dan Indra juga makin membaik


Saat ini Indra sedang di suapi makan siang oleh Nina


Padahal tangannya sudah bisa makan sendiri


Segala kegiatan Indra masih dilakukan di dalam kamarnya termasuk makan siang sekarang ini


"Mas, jangan manja terus dong


Mulai besok nin gak kesini tiap hari ya"


"Gak boleh....mas belum sembuh


Pokoknya mas mau nin besok masih kesini"


"Aduh mas...nin kan juga ada perlu lain"


Indra menatap ke arah Nina


"Nin keberatan merawat mas?"


"Bukan begitu mas


Nin seneng bisa merawat mas


Tapi kan gak enak juga kalau nin tiap hari kesini"


"Kalau begitu mas akan melamar kamu


Terus cepet cepet nikahin kamu


Biar kamu bisa terus bersama mas tanpa merasa gak enak"


Nina terbatuk batuk mendengar Indra bicara soal pernikahan


Yang dalam pikiran Nina belum terlintas sedikitpun


Matanya melotot melihat indra


"Ish...mas apa sih...


Kuliah nin aja belum selesai sudah ngomong nikah"


Indra menatap wajah nina


"Mas gak akan melarang kamu kuliah meskipun kita menikah"


Nina geleng geleng kepala


"Mas ini lucu lho , gak ada angin gak ada hujan ,tau tau ngomongin nikah"


"Habis kamu nya juga...,masa keberatan sii kalau ngerawat mas"


Nina bersandar pada kursi yang di duduki nya


Dihembuskannya nafas panjang


"Mas....mas kan sudah sembuh , maksud nin kita kembali ke aktifitas semula


Kok malah ngomongin nikah sii.."


Indra memandang sambil meraih kedua tangan Nina


"Menurutmu mas egois ya...?


Maafkan ya...


Mas sangat mencintaimu sayang


Mas takut kehilangan kamu lagi"


Kedua tangan Indra berganti menangkup wajah Nina


Mas sanggup memenuhi semua kebutuhanmu


Bahkan kalau membutuhkan rumah sekalipun mas sudah siap"


Nina melepaskan tangan Indra


Kemudian berdiri di depan jendela yang menghadap taman di depan kamar Indra


Indra menyusul dan memeluk Nina dari belakang


Nina menyandarkan kepalanya di dada Indra


"Mas ingin bersamamu setiap saat seperti ini"


Nina menengadahkan kepala menatap Indra


"Nina juga bahagia bila bersama mas, tapi Nin belum mau menikah mas"


Indra mengeratkan pelukannya


"Baiklah...mas akan tunggu sampai kamu siap


Dan selama menunggu waktu itu tiba , kita harus saling terbuka


Mas tidak mau lagi ada kejadian seperti tempo hari


Mas betul betul tersiksa saat itu"


Nina berbalik badan menghadap Indra


"Bukannya mas yang harus diingatkan soal itu , mas kan yang mula pertamanya gampang terhasut "


Indra tersenyum dan merengkuh wajah Nina di dadanya


Nina mengangkat wajahnya


"Pakai cemburu segala ke bang Miko"


Nina tertawa geli sampai gigi putihnya terlihat semua


"Sudahlah yang....jangan meledek begitu !"


"Biarin....mas lucu kalau malu malu begitu"


Indra yang gemas langsung menciumi seluruh wajah Nina


Nina berusaha melepaskan diri sambil tertawa kegelian


Indra menghentikan ciumannya


Dia pegang wajah Nina dengan dua tangan


Ditatapnya mata Nina dalam dalam


Perlahan mengikis jarak dengan memajukan wajahnya ke wajah Nina


Disentuhnya dengan lembut bibir Nina dengan bibirnya


Lama mereka saling memagut


Tiba tiba pintu kamar di ketuk


Nina segera melepaskan diri dan mengusap usap bibirnya dari bekas ciuman Indra


"Cckk...gangguin aja"


Indra menggerutu sambil menuju pintu


Saat pintu terbuka ternyata ada Bagas dan Rara


Bagas langsung nyelonong masuk


"Hai bro....di kamar aja kerjaannya


Kamu sudah sembuh kan


Emang ngapain kalian berduaan begini"


"Kamu gangguin aja bisanya"


Indra menggerutu sambil duduk di sofa disamping Bagas


"Dek...kamu diapain tadi?


Kamu tiap hari disekap disini?"


Bagas menengok ke arah Nina yang sedang ngobrol dengan Rara di sofa sudut kamar


"Diajak nikah"jawab Nina


Bagas langsung duduk tegak


"Keduluan lagi?"