
"Benar mbak....bagaimana bisa tau"
Indra bingung dengan pertanyaan Aida
"Sebentar...!"
Aida menjawab singkat sambil masuk ke sebuah ruangan dan keluar sambil membawa selembar kertas
"Mas Indra ,saya mewakili anak anak yang mengaji disini
Juga para pengajar membaca Al Qur'an....
Dan tentu saja mewakili seluruh warga di kampung ini
Mengucapkan beribu terima kasih atas kebaikan mas Indra memberikan bantuan untuk mendirikan bangunan TPA Al Ikhlas ini
Mudah mudahan bisa menjadikan amal jariyah untuk mas Indra dan keluarga
Bersama ini saya serahkan kwitansi nya"
Aida menyerahkan selembar kwitansi kepada Indra ,yang diterima dengan tangan gemetar
Indra membelalakkan mata, mulutnya menganga tidak percaya.....
"Jadi uang 50 juta yang dia minta itu untuk ini?"
Indra terduduk di kursi yang ada di belakang dia berdiri
Nafasnya tersengal, dadanya sesak
Matanya mendadak kabur penuh airmata
Tubuhnya gemetar...
Bagas terkejut melihat keadaan Indra.
"Ndra.... Kamu kenapa...?"
Mbak Aida segera mengambilkan segelas air mineral dan memberikannya pada Indra
"Maaf mas Indra, beberapa hari yang lalu kwitansinya sebetulnya sudah saya serahkan kepada dek Nina waktu kesini
Tapi dek Nina tidak mau menerimanya"
"Gas ..."Indra memandang Bagas dengan mata basah....
"Apa yang sudah aku lakukan padanya..."
Indra benar benar terguncang
Indra masih gemetaran
Pikirannya teringat saat memaki Nina
Saat mengucapkan kalimat tajam ke arah Nina
Saat melengos ketika bertatapan mata
Saat menolak telpon dan chat dari Nina
Saat mengatakan tidak lagi mengenalnya
Saat menolak semua penjelasannya
Apa yang sudah aku lakukan??
Kembali Indra menanyakan hal yang sama pada dirinya
"Maaf kan mas sayang....maafkan..."
Setelah urusan selesai,
Bagas dan Indra mohon pamit untuk pulang
Mereka diboncengkan lagi oleh bang Miko dan bang Fadly
Sesampai di lapangan tempat Bagas parkir mobil,
Indra turun dan mendekati Miko
"Bang Miko,saya mau minta maaf
saya sangat berterima kasih karena selama ini Abang sudah membantu Nina "
Mudah mudahan kebaikan yang kami terima akan di balas dengan kebaikan yang jauh lebih banyak
Bagi kami disini,mba Nina dan mbak Rara adalah keluarga kami
Jadi keluarga mbak Nina dan mbak Rara juga akan kami terima sebagai keluarga"
Bang Miko membalas ucapan Indra
"Terima kasih bang"
"Sama sama
Kalau TPA sudah siap
Saya dan warga disini berharap mudah mudahan mas berdua juga bisa hadir waktu pembukaan nanti"Miko menambahkan
"Baik! kami permisi dulu ya bang Miko...bang Fadli"
"Silahkan mas,sampaikan salam kami untuk mbak Nina dan mbak Rara "
Berada di mobil dalam perjalanan pulang
Indra hanya terdiam...menyesal dengan seluruh hatinya
Bagas mencoba memulai omongan
"Ndra....mumpung kita cuma berdua
Aku mau kembalikan uangmu yang diminta Nina
Aku harap setelah ini tidak ada prasangka buruk lagi terhadap Nina"
Bagas menyerahkan amplop coklat kepada Indra
"Nina gadis baik baik ndra
Kau pun sudah kami anggap keluarga sendiri
Mestinya kau cari kejelasannya dulu,
Tidak langsung mempercayai yang sekilas kau lihat"Bagas melanjutkan ucapannya
Indra menolak menerima amplop berisi uang tersebut
"Nggak gas,aku tidak mau uang itu lagi
aku kemarin emosi bukan karena uang
tapi karena terlalu cemburu
Aku memang bodoh...sangat bodoh!!"
Indra meremas rambut di kepala nya
"Aku harus bagaimana sekarang
Aku harus berbuat apa supaya Nina memaafkan aku
Aku masih sangat mencintainya
Aku masih ingin memilikinya"
Indra meratap sambil tertunduk masih memegang kepalanya
"Aku ikut pulang kamu gas,aku ingin menemui Nina"
"Nina sedang sakit
Kalau kau ingin menemuinya jangan dengan cara memaksa
karena aku tidak yakin dia mau menemui mu"
"Aku akan berusaha gas...
Aku ingin bersama Nina lagi
Aku masih sangat mencintainya
Aku akan memohon maafnya"
"Terserah...tapi seperti saat kau menyatakan cintamu tanpa paksaan,maka biarkan Nina menerima atau menolak mu lagi tanpa paksaan juga"