Hanya Kamu

Hanya Kamu
Wina menjenguk Nina


Indra menatap Nina yang keluar dari toko bersama mama Dita


Nina terus menundukkan wajah


'Kamu ketakutan melihatku sayang


Apa yang sebenarnya telah aku lakukan


Tolong maafkanlah aku'


Indra terus menatap dari balik kaca toko hingga mobil yang membawa Nina pergi


Seorang karyawati toko hendak memberesi tempat Nina makan tadi


Tapi dilarang Bagas


"Jangan diberesi mbak


Biar saya makan"


Bagas duduk di kursi yang di duduki Nina tadi


Meminum coklat sisa dari yang diminum Nina


Memakan pelan pelan kue milik Nina


mama Vanya sungguh terenyuh melihat Bagas


"Jadi ini tadi tujuanmu mengajak mama beli kue


Karena ingin bertemu Nina?"


Mata Indra berkaca kaca tanpa menjawab pertanyaan mama


Dihabiskannya coklat dan roti yang di tinggalkan Nina


Dinikmatinya dengan sepenuh perasaan


Mama membayar kue yang telah dipilihnya


Menyentuh pundak Indra dengan lembut


"Ayo kita pulang nak!"


Indra bangkit dan berjalan mengiringi langkah kaki mama keluar dari toko


Indra membawa mobil dengan diam


Pikirannya masih berkecamuk teringat Nina yang tadi ketakutan melihatnya


'Luka yang aku torehkan rupanya sangat dalam


Tolong jangan membenciku sayang


Berikan lagi kesempatan padaku'


Indra tidak menyadari mama melihatnya dari tadi


" Nina memang layak kamu perjuangkan lagi nak...


Bersemangat lah...!!


Mama sangat yakin Nina masih mencintaimu


Hanya saja dia masih perlu waktu untuk mempercayaimu lagi"


Di dalam mobil yang dikemudikan pak Rudi


Nina juga banyak diam


'Bagaimana bisa kami bertemu disana


Kenapa dia tadi tersenyum menyapaku


Apa yang ada dalam pikirannya'


"Sayangnya mama ..kok melamun"


Mama menyentuh punggung tangan Nina


Nina menoleh lalu meletakkan kepalanya ke bahu mama dengan manja


"Mama beli kue banyak ya ma...Nina mau yang isinya coklat'


Nina berusaha mengalihkan perhatian mama


"Kenapa menghindar dari Indra tadi , apa tidak sebaiknya tetap menjaga silaturrahmi"


Nasehat mama membuat Nina terdiam


"Mama tidak ingin mencampuri urusan kalian


Tapi alangkah baiknya kalau bisa dihadapi dengan kepala dingin


Tetap menjaga prasangka. baik"


"Nina sudah tidak ingin memulai apa apa lagi dengan mas Indra ma


Mas Indra sudah bersama cewek lain"


Terasa perih dihati Nina waktu mengatakan itu


Mama menundukkan kepala , mencium pipi Nina


"Mama selalu mendoakan kebaikan untuk semua anak anak mama


Semoga kalian semua berbahagia"


Di belahan tempat lain.


Rini sedang gusar


Tidak punya alasan lagi untuk menemui Indra


modalnya untuk mempengaruhi Indra sudah tidak ada


Beberapa hari tidak ada foto yang dikirim Angel


Menurut Angela sudah tidak pernah melihat laki laki sangar yang sering bertemu Nina


Angela yang urung uringan melampiaskannya pada Wina


"Maa , carilah kabar soal Nina


Bantulah aku merebut Indra dari dia


Buatlah diri mama berguna


Jangan bisanya cuma minta ini dan itu"


Wina hanya diam


Hatinya sangat dongkol


'Rini sangat berbeda dengan nina'


Wina mengeluh dalam hati


Sungguh lelah hatinya menghadapi Rini


Permintaannya mulai tidak masuk akal


Tapi Wina sudah tidak mampu berbuat apa apa


Nasi sudah menjadi bubur adalah ibarat yang sangat tepat untuknya


"Mama harus bagaimana Rin"


"Mama kan bisa pura pura menjenguknya


Datangi rumah Nina


Sekalian cari berita yang berguna buat Rini "


"Baiklah mama akan ke rumahnya besok"


Besoknya ,Wina benar benar datang ke rumah keluarga Baskoro dan Wicaksono


Sempat terkejut melihat kalau sekarang mereka hidup dengan berkecukupan


Rumah yang mewah dan asri


Halaman rumah luas dengan taman yang indah


Garasi yang berjejer beberapa mobil


Wina sempat menyesal dan berandai andai


Tapi di lubuk hati terdalam ,Wina bahagia melihat hidup Nina sekarang


Satpam rumah yang membukakan pagar sudah menghubungi rumah utama kalau ada tamu


Terdengar seseorang membukakan pintu


saat Wina sudah berdiri di depannya


"Silahkan duduk nyonya


Nyonya Dita akan segera menemui nyonya"


Maid itu berlalu dan kembali membawa suguhan minuman dan kue


Menyajikan ke atas meja


"Silahkan dinikmati nyonya"


"