Hanya Kamu

Hanya Kamu
Nina berusaha


Siang hari Nina ada di parkiran perusahaan Indra


Tadi pagi Nina mencoba menelepon Merry


Nina hanya meminta tolong agar Merry menghubunginya kalau Indra akan keluar makan siang


Nina bertekad akan menghadang Indra dan minta di beri waktu sedikit untuk menjelaskan masalah mereka


Karena Indra sudah mengancam akan memblokir nomernya bila masih menghubungi lewat chat maupun telpon


Nina sudah mencari posisi agar melihat saat Indra keluar


'Tuutt....tuut...!


'Kak Merry memanggil'


"Ya kak Merry"


"Dek,tuan muda barusan turun bersama tamu di dampingi bang Alan...mereka akan makan siang..."


"Terima kasih infonya kak Merry "


"Sama sama dek"


Nina segera bersiap siap melangkah untuk mendekati Indra


Ketika penglihatannya menangkap sesosok wanita


Indra bersama seorang wanita berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan


Rini....??


Kenapa ada Rini??


Nina menghentikan langkah...mengurungkan niatnya mendekati Indra


Untuk memastikan pandangan matanya tadi


Nina menelepon kak Merry


"Ya halo dek"


"Kak Merry,apa tamu yang bersama mas Indra tadi bernama Rini ya.."


"Ya betul...namanya Rini"


"Makasih kak Merry"


"Sama sama"


Jadi betul itu tadi Rini ?


Bagaimana bisa mas Indra makan siang bersama Rini ?


Apakah ini ada hubungannya dengan perubahan sikap mas Indra akhir akhir ini?


Nina pulang dengan perasaan resah


Segala pertanyaan muncul dalam pikirannya


"Mengapa ada Rini..?


Apa artinya semua ini...?


Ada hubungan apa mas Indra dengan Rini


Apakah mungkin mereka.........??"


Aahhh....!!


Segera ditepisnya pikiran pikiran yang membuatnya semakin resah


"Besok aku akan mencoba menemui mas Indra lagi"


tekad Nina dalam hati


Mencoba memperjuangkan cintanya


Nina menghubungi Merry lagi untuk menghubunginya besok saat Indra makan siang


Rencananya besok Nina akan langsung ke restoran nya saja,


Nina bermaksud kalau dengan makan siang dia bisa agak lama berbincang dengan Indra dan menjelaskan masalah mereka


Nina sudah meminta agar Merry merahasiakan pembicaraan mereka


Merry menyetujui karena masih meyakini kalau Nina hanyalah korban


Seharian Nina belum makan,nafsu makannya benar benar hilang


Saat sarapan tadi juga muntah muntah saat disuapi mama,akhirnya Nina hanya minum susu coklat hangatnya


Sekarang ,sendirian di mobil Nina juga merasa ingin muntah


Tadi Nina membohongi Rara kalau ada perlu mendadak jadi gak bisa bareng


Nina ingin menyelesaikan masalahnya sendiri


Nina meminggirkan mobilnya,


Menyiapkan tempat kalau mau muntah


Ternyata tidak jadi


Diambilnya Tumbler berisi coklat hangat


Bekal yang dibawakan mama


Nina meminumnya pelan pelan


Setelah merasa badannya lebih enak


,Nina kembali menjalankan mobil


Sepanjang jalan ,Nina menyetir dengan airmata yang terus keluar tanpa bisa di tahannya...


'Apa mungkin aku harus kehilangan mas Indra'


Begitu masuk rumah ,Nina langsung mengunci diri di kamar


Bu mar berkali kali mengetuk pintu kamar tidak di jawabnya,pura pura tidur


Mama merasa khawatir


Menyadari ada sesuatu yang terjadi dengan putrinya,ayah juga terlihat sangat khawatir dan menjadi lebih pendiam daripada biasanya


Setelah makan langsung kembali ke kamar


Saat melewati kamar Nina,ayah sempat akan mengetuk pintunya..


Tapi diurungkan


melangkah lunglai menuju kamarnya sendiri dengan wajah yang terlihat sangat sedih


"Ahh nakk....Apa yang sebenarnya terjadi padamu


Apa yang harus ayah lakukan untukmu...


Jangan bersedih nak...tangisanmu sangat melukai hati ayah"


Ayah meneteskan airmata menuju kamarnya,,menumpahkan dukanya sendirian....seperti biasanya...


Bagas yang sudah mendengar cerita tentang Nina dan Indra dari Rara ,memutuskan menemui Nina di kamarnya


Tok....tok..tok!!


"Dek buka pintu ,mas Bagas mau ngomong..."


Tak ada sahutan....


"Dekkk....mas Bagas tau kamu belum tidur...buka pintunya"


Terdengar langkah kaki diseret..pintu terbuka sedikit


Bagas langsung masuk dan menutup kembali pintu di belakangnya


"Dek.....makan dulu yukk....mas Bagas suapin yaa..."


Nina tidak menjawab


Matanya sembab ,wajahnya kacau,


Tatapannya sayu menatap Bagas


"Ya Allah dek...."


Bagas langsung memeluk Nina dan membenamkan wajah itu ke dadanya


"Apa yang sudah dilakukan Indra padamu


Jangan khawatir


Mas akan menemuinya dan membuat perhitungan dengannya"


Trenyuh Bagas melihat keadaan Nina


"Jangan mas....


Mas Indra hanya salah paham, biarkan saja dulu


Nina akan berusaha menjelaskan dengan cara nin


Mas Bagas jangan ikut campur "


"Tapi sebenarnya ada apa Antara kamu dan bang Miko"


Bagas menuntut penjelasan berdasar cerita Rara


Bagas juga mengenal Miko karena keluarga Bagas pernah beberapa kali bersilaturrahmi dengan penduduk di kampung bang Miko


"Nina belum waktunya cerita ke mas Bagas dan semua


Kalau sudah waktunya nanti biar Rara yang cerita ke mas,dia lebih berhak"


"Mas Bagas tidak tau apa sebenarnya yang kamu dan Rara rahasiakan


Tapi mas harap tidak menimbulkan masalah yang rumit seperti ini


Mas tau kamu tidak mungkin mempunyai hubungan dengan bang Miko karena bang Miko sudah berkeluarga"


Panjang lebar Bagas menasehati Nina


Nina berdiri,melangkah mengambil amplop besar diatas meja dan menyerahkannya kepada Bagas


"Ada yang mengirim foto foto ini ke mas Indra"


Bagas menerima amplop itu dan membukanya


Matanya membulat melihat foto foto yang memperlihatkan kedekatan antara Nina dan Miko


"Ini foto kapan....dan bagaimana kamu bisa berfoto seperti ini dengan bang Miko"


"Nin dan Rara beberapa bulan terakhir memang sering bertemu bang Miko


Kami sedang ada proyek yang kami masih rahasiakan


Namun di foto itu seolah olah sengaja ditampilkan hanya Nina yang bertemu bang Miko


Nina juga tidak tau siapa yang telah melakukannya"


"Dek....apa kamu ijinkan kalau mas Bagas yang menjelaskan ke Indra


Sebelum masalah menjadi terlalu jauh "


"Gak usah mas


Kami dulu memulai hubungan tanpa ada pengaruh siapa siapa


Sekarang seandainya berakhir pun jangan sampai melibatkan siapapun


Biarkan saja...


Karena menurut nin


Kalau mas Indra benar mencintai nin,dia akan mencari tau sendiri kebenarannya"


Nina mengatakannya sambil terisak


Hatinya sungguh belum rela berpisah dengan Indra


Nina masih sangat mencintai indra