Hanya Kamu

Hanya Kamu
Menunggu


Indra menggenggam tangan Nina diatas meja


"Jangan menolak ya kalau mas akan sering mengajakmu keluar berdua


Mas bahagia kalau di dekatmu,,"


"Mas .....bertemu kan tidak harus hanya berdua


Sempatkan juga untuk bertemu dan berbaur bersama keluarga...


Entah keluargaku atau keluargamu


Agar kita bisa saling menerima dan juga diterima oleh keluarga kita berdua"


"Kalau begitu secepatnya mas akan ajak kamu ke rumah mas


Bertemu sama calon mertua dan adik iparmu"


Indra mengatakan dengan semangat


'dihh...kok gitu mikirnya'Nina membatin sambil tersenyum


"Dahh yuk...kita pulang.."


Nina meraih tangan Indra dan menariknya berdiri


"Ayuukk.....!!"


Indra berdiri sambil meraih jemari Nina dan


menggenggamnya lagi


Perasaannya bahagia ...


rasa cintanya kian tumbuh saat makin tau sifat Nina..gadis manis yang dicintainya..


Sesampai rumah Nina,


Ternyata ayah,papa dan mama Dita masih duduk duduk di taman depan


Menunggu Nina pulang...


"Maaf paa ..maaa...yaah...Nina kemaleman pulangnya"


Nina mencium punggung tangan ketiganya


Indra melakukan hal yang sama


"Indra yang salah maa...paa...yaah...Indra lupa waktu ngajak jalan jalan Nina"


Indra melindungi Nina dihadapan orang tuanya


"Nggak apa apa...


Namanya juga kencan pertama


Tapi lain kali usahakan sebelum jam 10 sudah sampai rumah ya nak..."


Mama menasehati Indra dan Nina dengan lembut


"Ya maaa...."kompak Indra dan Nina menjawab


"Indra langsung minta ijin pulang ya maa...paa...yaah...sudah malam"


"Pulanglah nak...


Hati hati di jalan ya


Sampaikan salam kami untuk keluargamu" mama tersenyum meneduhkan


Nina mengantarkan Indra menuju mobilnya


Indra menghadapkan tubuhnya ke arah Nina..


Memegang pundaknya dan mencium lembut kening Nina


"Mas pulang ya sayang...


Istirahatlah...mimpikan mas di tidurmu nanti"


Nina mengerjapkan mata dan mengangguk


"Hati hati di jalan mas"


Melambaikan tangan sampai mobil Indra hilang dari pandangan


"Masih ada yang ditunggu ya"Nina bertanya


"Mas Bagas belum pulang nak,tadi telpon katanya ban mobilnya kempes di jalan


Pak Rudi lagi menyusul ke tempat mas Bagas parkir"


Papa menjelaskan


"Kasihan Rara...


Baru kencan pertama sudah pakai acara ban mobil kempes


Mama sudah telpon mamanya Rara,


Menjelaskan masalahnya


takut kalau berpikir yang tidak tidak tentang mas mu"


Mama ikut menjelaskan


Nadia keluar ikut bergabung sambil membawa cemilan dan segelas wedang jahe


"Ini punya ayah apa papa ya,sudah Nadia panaskan lagi..."


"Punya ayah nak...kemarikan"


Nadia menyerahkan gelas wedang jahe ke tangan ayah


Dibetulkannya kerah jaket ayah yang agak membuka


Dielusnya lembut bahu ayahnya itu


Nina yang melihat itu hatinya mencelos....


kenapa aku tidak bsa melakukan hal itu ke ayah...seperti yang Nadia lakukan


Justru karena rasa sayangku yang menahannya....


Mata nina berembun...


"Nina sayang sekali sama ayah"batin Nina merintih


Secepat kilat Nina menoleh kesamping


berharap agar embun di matanya tidak terlihat oleh yang lain


Tapi terlambat.....!!


Papa sempat melihatnya


Papa mengerti perasaan Nina


Sejak kejadian waktu Wina pergi


Ayah dan Nina seperti saling takut mendekat menunjukkan perasaan


Dielus elusnya dengan sayang kepala gadis yang sudah dianggapnya sebagai putri kandungnya itu


yang duduk di lantai di depan kursinya dan mama Dita


Pemandangan itupun tak lepas dari tatapan ayah Wicaksono


"Maafkan ayah nak,ayah sangat menyayangimu....


Tapi ayah takut mendekatimu


Takut untuk menyentuhmu


Ayah tau kalau ayah tidak bisa melindungi mu dari rasa sakitnya perasaanmu"


Dalam hati tn Wicaksono menyatakan rasa sayangnya kepada Nina


Mama juga menyadari


Ada sesuatu yang tengah membuat galau Nina dan ayahnya


Perasaan yang membuat mama juga tiba tiba ikut merasa haru


Dicobanya untuk menetralisir suasana


"Ehmm....kok Bagas lama ya...coba Nina telpon Rara dong sayang...mama kepikiran ini..."