
Sore ini Nina berjalan jalan berdua dengan Indra...
Indra sebetulnya ingin mengajak Nina mencari suasana lain
Makan malam romantis di pinggir pantai sempat menjadi pilihannya
Tapi Nina menolak karena kurang suka dengan suasana makan malam yang terbuka
Akhirnya Indra mengalah dan menuruti maunya Nina untuk jalan jalan di mall
seperti biasanya...
Indra sebetulnya ingin terbuka kepada Nina
Bahwa mall yang sering mereka datangi adalah milik keluarganya
Tapi Indra belum tahu cara menyampaikan supaya Nina tidak merasa Indra sedang pamer
Indra tahu Nina bukan tipe gadis yang mempedulikan kekayaan
Gadis manis yang sudah mengambil seluruh cintanya
Dipeluknya bahu Nina...diajaknya berkeliling dan berharap Nina meminta sesuatu
Tapi Nina tetap menolaknya
"Mas....
Jangan paksa Nina meminta sesuatu yang Nina belum memerlukan"
"Tapi mas ingin kamu meminta sesuatu
Mas ingin merasa kamu membutuhkan mas"
Nina terdiam
Terbayang di mata Nina,pembangunan TPA yang masih memerlukan banyak biaya
"Bagaimana kalau seandainya yang Nina butuhkan adalah uang...??"
Nina tertawa memancing reaksi Indra.
Nina ingin mengajak Indra menjadi bagian dari donatur pembangunan TPA impiannya bersama Rara
Dengan cara yang tidak Indra sadari
Rencananya setelah selesai dibangun dan siap digunakan
Nina akan mengajak Indra kesana
Menyaksikan sendiri untuk apa uang yang di berikan sembari menyerahkan kwitansinya kepada Indra
"Sayang,pasti mas kasih kalau kamu memintanya
Tapi buat apa?
Berapa yang kamu butuhkan?"
Indra merasa heran karena sepengetahuannya gadisnya hidup berkecukupan
"Nin gak bisa ngomong dulu ke mas Indra uang itu buat apa"
"Kok main rahasia rahasia sama mas..."
"Kalau semua sudah beres ,mas pasti akan tahu buat apa
Tapi ini menuntut keikhlasan dari mas
Kalau mas gak ikhlas,lebih baik nggak yaa"
"Tentu saja mas ikhlas,apa sih yang gak buat kamu sayang
Berapa yang kamu minta?"
Nina mikir mikir mengira ngira berapa kekurangan biayanya
Nina tadi sempat membicarakannya dengan Miko
Tabungannya yang dijadikan satu dengan Rara lalu ditambah dengan sumbangan dari H .Suyudi
"50 juta...."
Nina menjawab pelan dan ragu ragu
Jumlah kekurangannya memang sekitar itu
Indra sempat mengernyitkan alisnya
"Mas akan transfer...mas tambahin kalau perlu
Tapi sayang,itu untuk apa....?
Jumlahnya lumayan besar kalau cuma untuk memenuhi kebutuhanmu"
Nina terdiam ,bingung mau mengatakan apa
Kebetulan mereka sudah duduk di sebuah restoran Jepang yang Nina dan Indra mau makan malam
"Sayang....
Jangan salah mengerti ya
Mas akan turuti semua keinginanmu,tapi mas ingin kita terbuka"
Nina tak menjawab,masih diam memandang Indra
"Maaf kalau mas nanya,
Apa ayah atau papa mama tidak memberimu uang?"
Indra membelai lembut tangan Nina
"Dikasih kok mas,berlebih malah
Cuma sekarang Nina pinginnya minta sama mas
itu kalau mas ijinkan
Tapi Nina memang belum bisa cerita apa apa dulu..."
Nina membalas mengelus elus punggung tangan Indra yang ada diatas meja menggenggam tangannya
"Baiklah mas gak akan nanya lagi
Nanti mas transfer
Mas tambahin barangkali kurang.."
"Jangan mas,pas kan saja,
Cuma segitu yang Nina butuhkan"
Nina merasa bahagia
Berarti pembangunan TPA bisa dimulai...
Secepatnya Nina akan mengajak Rara dan bang Miko untuk bertemu
Hatinya yang gembira membuat makan Nina sangat lahap
Indra yang meskipun masih bertanya tanya dalam hati,tapi terlihat gembira juga menyaksikan kegembiraan nina
Saat sudah selesai makan malam dan keluar dari restoran
"Selamat malam Indra....Nina....."
Duo Rini dan Wina menyapa
Sepertinya mau makan malam di tempat itu juga
Terlihat Wina kerepotan membawa banyak tas belanjaan
Sedangkan tangan Rini melenggang tanpa membawa apa apa
"Mam.....eh..Tante borong ya.."
Nina menyapa Wina tanpa menjawab sapaan Rini
"Iyaa dong....ya kan maaa?!"
Rini yang menjawab
"Waahh...Nina...sekarang jalan sama Indra....tadi sama satunya..."
Rini menyindir sambil tersenyum sinis
" Maksudmu...??"
Nina memandang Rini dengan bingung...
"Sayangku....sebaiknya kita segera pergi dari sini
Kita sudah selesai kan?"
Indra memotong pembicaraan Rini dan Nina
Indra memeluk bahu Nina
Lalu beralih menggenggam tangannya erat dan mengajak berlalu dari situ
"Maaf Rini....Tante..kami permisi dulu..."
Rini tidak menjawab
Diliriknya pasangan yang membuatnya iri itu
"Huhhh.....sombong....lihat saja nanti.."