Hanya Kamu

Hanya Kamu
Di rumah sakit


Nina perlahan lahan membuka matanya


Kepalanya masih terasa berat


Matanya Lamat Lamat melihat sekeliling


belum sadar ada dimana


Ada mama di samping ranjangnya


"Kau sudah sadar nak..?"


"Nina dimana ma...?"


mama Dita yang bersimbah airmata


memeluk wajah Nina


Sambil terus sesenggukan


Papa Baskoro sibuk menenangkan mama


Tiba tiba masuk ayah Wicaksono


Langsung menghambur memeluk Nina


Beliau menangis hingga bahunya terguncang


"Kau tidak apa apa kan nak..?"


Wajah ayah sungguh pucat


Bagas segera mendekat,mengangkat bahu ayahnya


"Nina tidak apa apa ayah....ayah jangan kuatir'


Nina baru menyadari semuanya


Ingatannya pulih


Matanya terbelalak


Mulutnya bergerak gerak


Lalu berteriak sangat kencang


"Mas Indra.....


Mas Indra dimana...


Mas Indra bagaimana ....?"


Mass......mass Indra...!"


Nina menangis meraung Raung


papa segera memeluk Nina .


"Sabar nak....dokter sedang berusaha membantu Indra"


"Nina mau kesana paa


Nina mau ketemu mas Indra.....!


Nina meronta ronta berteriak


Terus memanggil manggil nama Indra


Semua berusaha menenangkan


Tapi Nina terus berontak berusaha turun dari tempat tidur rumah sakit


"Nin...nina.....sabar sayang".


Nina terus menangis dan berteriak memanggil nama Indra


Seorang dokter yang di dampingi seorang perawat masuk ke ruangan untuk memeriksa kondisi Nina


"Biarkan pasien beristirahat dulu


Sebaiknya yang menunggu di ruangan cukup satu orang saja"


Dokter dengan dibantu perawat akhirnya memberikan suntikan agar Nina tenang


Perlahan lahan tubuh Nina melemah


Matanya sayu


Sambil masih terisak kecil Nina akhirnya terlelap


Mama membelai wajah Nina sambil terus menangis


Papa tak henti hentinya menguatkan


Ayah tampak sangat terpukul duduk di kursi sambil punggungnya di elus elus Nadia


Rara yang terus menangis masih di tenangkan oleh Bagas


Sesuai instruksi dari dokter


Akhirnya hanya Bagas yang menunggu di ruangan


Sementara yang lain keluar ruangan


Ayah mondar mandir sambil berkali kali menyeka air matanya


Saat dokter yang memeriksa Nina keluar dari ruangan Nina


Mama ,papa dan ayah segera menghampiri dan menanyakan kondisi Nina


"Bagaimana anak kami dokter?"


Mama bertanya masih sambil menangis


"Alhamdulillah anak ibu baik baik saja


Dia hanya shock berat


Jadi tolong biarkan dia beristirahat"


Dokter menjelaskan sambil berlalu dari tempat itu


Ayah menghembuskan nafas lega


Kembali duduk disamping Nadia


Mama sudah tidak terlalu khawatir seperti tadi


Menatap ke arah papa...


"Pa...sekarang antar mama melihat keadaan Indra"


"Rara ikut ma.." Rara berdiri mendekati mama Dita


Papa menggandeng tangan mama diikuti Rara menuju ke ruang operasi yang sedang dijalani Indra


Di ruang tunggu terlihat mama Vanya dan Alea yang sedang menangis


Tampak Reza sedang berusaha menenangkan sambil memeluk Alea


Merry sedang duduk sambil tertunduk di kursi ujung


mulutnya terlihat komat kamit membaca doa sesekali terlihat menghapus air matanya


Alan tidak terlihat karena harus menggantikan mengurusi tugas tugas Indra di perusahaan


Mama Vanya yang matanya sembab karena terus menangis sedang berbicara serius dengan seorang dokter pria


Dokter tersebut dokter Hermawan yang bertanggung jawab atas operasi Indra


Beliau kebetulan teman mama saat masih SMA


Papa dan mama Dita menghampiri dan menyapa mama Vanya


Mama Vanya segera berdiri dan memeluk mama Dita


Berdua mereka berpelukan erat sambil sama sama menangis


Mama Dita terus mengelus punggung mama Vanya untuk menguatkan


"Saya minta maaf jeng , karena melindungi Nina , Indra jadi begini".


Mama Dita sesenggukan sambil tetap memeluk nyonya Vanya


"Indra melakukan untuk wanita yang dicintainya jeng


Tidak ada yang perlu meminta maaf"


Mama Vanya dan mama Dita duduk berdampingan sambil saling memegang tangan


Dokter Hermawan ijin meninggalkan tempat setelah membisikkan sesuatu ke telinga mama Vanya


"Terima kasih her...tolong lakukan yang terbaik untuk Indra"


Dokter Hermawan berlalu sambil melambaikan tangan


"Nina bagaimana jeng


Maaf saya belum bisa menjenguknya"


"Dia sudah tidur setelah dokter memberinya suntikan


Tadinya berteriak teriak ingin kesini"


Cukup lama mama menemani di ruang tunggu operasi


Alea sudah sedikit tenang dalam pelukan Reza


Rara tampak mengelus elus pundak Merry yang terus terisak


Setelah malam menjelang


Papa Baskoro dan yang lain pulang karena tidak diijinkan dulu menunggu Nina di dalam ruangan


Kondisi Nina masih butuh istirahat


Apalagi putri dan Andika ditinggal di rumah


Ayah Wicaksono yang semula bersikeras tinggal akhirnya mau pulang setelah dibujuk papa dan Nadia


Hanya Bagas yang menunggunya


Ada bed untuk penunggu di ruang VVIP yang Nina tempati