
selesai memasak shandrianna membersihkan dirinya di kamar, dia kembali mandi karena terkena bahan-bahan masakan tadi yang membuatnya kotor.
dia harus selalu bersih agar jika dekat ibunya dia merasa nyaman. setelah selesai mandi dan memakai make up tipis saja dia kembali turun dan menyiapkan makanan untuk ibunya.
dia sangat berharap ibunya sembuh jika dia terus bersamanya. setelah ada sup ayam dan nasi dia membawanya ke atas karena akhir-akhir ini ibunya hanya ingin makan itu saja.
ceklek
" ibu makan siang sudah selesai, bangun dulu ya aku akan menyuapi ibu. " ucapnya sambil menaruhnya di samping nakas tersebut, namun dini masih belum bangun.
" ibu " panggilnya lembut seraya menyentuh pundaknya.
" anna sudah membuatkan sup ayam permintaan ibu hari ini, aku akan kecewa jika ibu tidak memakannya. " sambungnya. bibir nya bergemetar ketika berkata seperti itu, hatinya merasa tidak enak sama sekali, melihat wajah pucat pasi ibunya yang terus tertidur.
" ibuu " dia berganti memegang tangannya, dia merasakan tangan ibunya sangat dingin tak punya kekuatan sama sekali.
air matanya langsung jatuh seketika tapi tak bersuara.
" ibu ... anna sudah selesai masak, ayolah bangun dan makan bersamaku hiks ! ibu belum melihat calon cucu ibu di sini hiks ! " dia menyentuhkan tangan ibunya ke perutnya yang masih kecil itu.
" aku tau ibu sudah tertidur, tapi bangunlah ... sekali saja hiks ! sekali saja ibu. aku ingin ibu mengatakan ibu menyayangimu anna "
" hiks ! hiks ! hiks ibuuuuu ! " dia memeluk ibunya yang sudah tidak ada lagi itu, entah kapan ibunya pergi tapi dia hanya meninggalkannyya satu jam lebih yang lalu.
****
mendengar bahwa dini telah tiada, semuanya pulang dan menangisinya. yang terlihat paling sedih adalah anna, walaupun begitu Tara juga sedih tapi dia tak ingin menunjukkannnya, dia harus menguatkan anna.
didepan sana ibunya dibaringkan dengan tetangga yang datang melayat dan memberikan doa. kini tara telah membantu anna memakai pakaian serba hitam dan selendang dikepalanya, air matanya terus luruh di wajahnya.
" Bagas masih belum bisa dihubungi ?" tanya tara menahan tangisnya.
anna menggeleng seraya terus menangis " Sudah selesai ayo kita turun anna " ujarnya ketika mengancingkan kemeja bagian atas anna.
" kak " lirih shandrianna dengan tatapan kosongnya.
" Kakak juga sedih kan ? " tanyanya.
" hiks! hiks ! hiks ! anna " isaknya yang tahan lagi untuk menahan air matanya, dia memeluk shandrianna. jadilah keduanya saling berpelukan melontarkan kesedihan.
" Kakak kehilangan dua ibu anna hiks ... kini sudah tidak ada lagi ibu yang mencintai ku hiks "
dari depan kamar Handika melihat kedua putrinya yang saling menangis berpelukan, hatinya begitu hancur walau mereka sudah besar namun kehilangan seorang ibu siapapun dan usia berapapun akan menangis.
" Sayang mengapa kau pergi, lihat kedua anakmu yang sangat bersedih. jika kau pergi Lentera mereka akan padam. " batinnya berkata.
" anna ! Tara ! " panggilnya hingga kedua orang bersejejer melepaskan pelukannya.
dia datang ke arah kedua putrinya lalu memeluknya bersamaan " masih ada ayah. ibu memang pergi tapi dihati kita dia tetap akan ada, ayah janji akan merawat kalian berdua lebih baik lagi, sayang ... ibu sangat mencintai kita ... ayah juga tidak rela tapi dengan begitu ibu tidak kesakitan lagi, ibu bahagia saat ini. " jelasnya yang memberikan pengertian, namun bohong sekali jika dia saja sebenarnya tidak terima semua ini.
Tok
Tok
Tok
" Kata yang dibawah, ibu harus segera dimandikan " ujar mahen dengan wajah lesu menatap ketiga orang itu.
" Tara , Anna kalian berdua lakukanlah " Balas Ayahnya.
Tara dan anna saling menatap, tara pun mengelus bahu anna dan menggandeng tangannya. " Ayo anna, kita lakukan kebaktian kita untuk ibu "
keduanya berjalan bersama, diikuti oleh handika dan Mahen dibelakangnya. lirikan shandrianna kearah ibunya itu sangatlah dalam, wanita yang pertama kali memeluknya kini sudah tiada apakah dia masih berpikir kalau ini mimpi ? tentu rasanya dia ingin segera bangun tapi sayangnya ini nyata.
Kini handika tengah menunggu kedua putrinya memandikan istrinya, dari tadi dia hanya diam berdiri didepan ruangan itu. namun tiba-tiba jantungnya terasa sangat sakit, dia ingin menahannya tapi rasa sakit itu sangatlah menusuk ke jantungnya.
" ahhh " teriaknya yang kemudian terjatuh seraya memegangi jantungnya.
Mahen yang sedang menyambut tamu bersama anaknya itu meliril ke handika " ayah ! " dia langsung mengejarmya dan berhasil menangkap handika.
" ayah ! ayah baik-baik saja ?" tanyanya khawatir
sampai semua orang memperhatikannya.
" anna , Taraaa... " lirihnya
" Anna ! Tara ! " teriak mahen dari luar hingga keduanya yang baru selesai memandikan ibunya langsung saja berlari keluar, dan terkejut melihat ayahnya yang tampak kesakitan.
" ayah ! " ujar mereka bersamaan.
" kakak cepat bawa ayah kerumah sakit hiks ayo kak cepat! " pinta anna yang tak ingin terjadi sesuatu juga dengan ayahnya.
" anna , Tara ... Mahen ha ( nafasnya sudah terengah-engah ) jaga diri baik-baik ya ... a-yah tidak kuat lagih , a-yah tidak ... bisa hidup tanpa Ibumu "
" tidak ayah jangan tinggalkan Tara, jangan tinggalkan kami berdua ayah ! " saut tara sedangkan anna terlihat shock dan diam saja, seakan ini tayangan film untuknya yang berakting tapi sungguh ini nyata.
" tara dan Mahen tetaplah bersama dan saling mencintai, a-yah akan sangat bahagia jika kalian bahagia.bersama kevin dan calon adiknya. "
semuanya menangis mendengar itu, begitupun mahen.
" a-yah hiks " isak anna.
" anak ayah yang paling Ceria, Maafkan segala kesalahan ayah sayang. ba-gas akan membahagiakanmu, jangan bertengkar dengannya dan menurutlah dengannya ... dia ... pengganti ayah, Jika kalian berpisah ayah akan sedih bersama ibu. "
" tidak " jawab anna kecil.
" ahh " desisnya yang kesakitan lagi, lalu setelah itu dia terjatuh lunglai, hingga Tara teriak histeris karena ayahnya meninggal dipangkuan mahen.
sedangkan anna dia tak bisa berkata-kata lagi, beberapa jam yang lalu ibunya kini ayahnya. tuhan bahkan tidak memberinya jeda untuk ikhlas sedikit saja rasanya tidak ada dihatinya.
***
pemakan itu diiringin dengan hujan yang deras, keduanya dimakamkan disatu liang lahat bersama, Anna melihat mahen terus memeluk tara dan anaknya. berbeda dengan dia yang hanya seorang diri meratapi kesedihannya.
" mash bagash " batinnya yang ingin mengadu dengan bagas betapa sedihnya dia.
setelah semuanya selelsai dimakamkan dan hujan mulai reda para pengantar ayah dan ibunya satu per satu pergi dari sana, anna tidak ingin pergi dari sini dia masih ingin bersama kedua orang tuanya.
" anna ini sudah hampir gelap, hujan akan turun lagi sebentar lagi ayo kita pulang " ajak mahen bernadakan lembut.
" Pulanglah aku akan menyusul "
" Tidak anna, ayo pulang kakak orang tuamu sekarang ayo menurutlah " saut tara.
" aku tidak mau kak ! " tegasnya
" hiks ! hiks ! katanya ayah mau menjaga kita lebih baik lagi ! tapi dia berbohong ! dia terus berbohong padaku! tidak dulu maupun sekarang ! aku benci tapi aku cinta ayah hiks hiks " isaknya yang mencium papan nama ayah dan ibunya itu.
Tara mengerti betapa sakitnya anna, ini juga termasuk kesalahnnya dulu. dia tidak marah dia paham apa yang dirasakan anna lebih sakit dari apa yang dia rasakan.
" Baiklah sebentar saja kita akan disini, oke ... setelah itu kita pulang, kita harus menyiapkan untuk nanti malam " Jelas Tara kepada anna, dan tidak ada jawaban dari anna.
****
Beberapa hari kemudian, anna benar-benar hancur. dia masih tinggal dirumah kedua orang tuanya namun selalu saja menyendiri di kamarnya.
beberapa hari ini juga bagas sulit dihubungi tidak tau kapan dia pulang, anna benar-benar kesepian. makan pun tidak teratur, dia tidak ingat jika sedang mengandung sekarang.
ceklek
" anna kakak sudah makan, kau makan ya "
anna menggelengkan kepalanya " dengan kau begini ayah dan ibu tidak bisa kembali, apakah kau ingin mereka kembali dan menyodorkan makanan ? tidak anna. mereka tak akan kembali, kau boleh sedih tapi kau hidup terus berlanjut, aku juga dulu kehilangan ibuku bedanya waktu aku kecil jadi aku tidak tau benar bagaimana rasanya itu. tapi aku kehilangan cinta dari ibuku hingga ibu datang memberikan banyak cinta. "
" kita sama. sama-sama kehilangan orang yang kita cintai. jika bukan untuk mu maka untuk suamimu dan anak-anakmu, Arunika dan Aileen. " sambungnya.
" Aku tidak tau dimana mas bagas sekarang, mungkin dia menikah bersama wanita lain disana. " sautnya yang berkata asal saja, dia marah pada bagaskara semua ini karena bagas tidak bisa dihubunginya.
" jangan bicara seperti itu, dia sangat mencintaimu. kau harus ingat perkataan ayah. "
" jika dia tidak aneh-aneh kenapa tidak bisa dihubungi ? aku tau mas bagaskara seperti apa, ada wanita yang lebih cantik dan memaksanya menikah dengannya. "
" apa maksudmu ?"
suara bariton kuat itu, dapat keduanya dengar dari ujung pintu itu, bagaskara berdiri di tengah-tengah pintu bersama kedua anaknya.