Hanya Kamu

Hanya Kamu
Disini Saja Mas


" Anna aku kakakmu ... ingat ini ? Ini foto yang pertama kali kita ambil, kau bilang sampai kapanpun tidak akan melupakannya kan ?"


" itu aku "


" ya benar, ini kamu " jawab tara sambil tersenyum.


" Anak kecil itu anak pertamamu dan yang ada disampingmu itu suamimu. kami semua keluargamu "


" tapi dia bilang aku tidak punya keluarga "


" Tidak anna kau punya semuanya "


" Mereka semua berbohong sayang , Ayo ikut aku kita pergi. kita ajak anak kita ya " ajak Lion.


" jangan menyentuhnya ! " bentak bagaskara saat lion hendak menyentuh tangannya.


" Maaf kalian mungkin salah orang, aku tidak mengenal semuanya. " jawab shandrianna.


" Sayang aku suamimu jangan bersikap seperti ini, sadarlah sayanng ! "


Mahen pun datang dari jauh itu dia mulai terlihat dengan seorang pria tua memakai tongkat, dibantunya pria itu agar cepat.


" Ada apa ini ? sangat aneh sekali " bisik tamu yang datang.


" Sayang ... sayang sini kita masuk ya " Lion berusaha untuk mengambil shandrianna dia ketakutan saat pria tua itu datang.


pria itu seperti sedang bicara tapi tidak ada suara hanya berkomat kamit saja.


" Sayang ! ayo kita pergi "


" Ta-tapi .. "


" ayo !!! "


tapi sebelum itu bagaskara pun menarik tangan shandrianna hingga shandriana berada diantara keduanya.


secepatnya mahen memegang Kuat Lion , hingga lion meronta


" Bagaskara lepaskan aku ! aku akan bunuh kau dan juga shandrianna jika kau seperti ini. "


Pria itu memegang tangan shandrianna kemudian memelintir jari kelingkingnya " ahhhha sakit " teriak shandrianna dan langsung bagaskara pegangi.


" bertahan sayang "


" ahhhh "


handika, dini dan tara terlihat tak tega melihatnya mereka bisa merasakan rasa sakit itu


Lantas pria itu menolehkan shandrianna kearah kiri lalu memencet leher shandrianna disana " sakittttt " Teriaknya yang terduduk dilemas hingga suaranya tak mampu lagi dia keluarkan.


diapun pingsan " mommy hiks hiks mommy kenapa daddy "


" Kau simpan apa didalam nak ?" tanya pria itu kepada Lion.


" Bukan urusanmu kembalikan calon istriku ! "


" Polisi ! " teriak bagaskara


lantas polisi pun keluar dan menangkap Lion , lalu pria itu menatap gisel " kemarilah " panggilnya.


gisel dengan langkah polos itu mendekatinya


" kau tidak seharusnya disini "


pria itu menyentuh kening gisel hingga dia terjatuh kebawah " Kek dia anak kecil "


" Dia sudah lama tiada, pria tadi memakai nyawa seseorang untuk menghidupkannya. "


" Apa ?" semuanya terkejut mendengarnya.


" Sudah bawalahlah istrimu pergi, dia baik-baik saja biar aku yang mengurus disini. "


****


sudah lebih dari 3 jam shandrianna pingsan, ditubuhnya masih melekat pakaian pengantin itu. tak henti-hentinya bagaskara menemaninya bersama seluruh keluarganya.


" Aku menemukannya " ujar tara.


semuanya menoleh, dia memegang botol parfum yang Lion berikan itu " segeralah buang jauh-jauh , sini biar ayah buang "


Mata shandrianna mulai terbuka perlahan rasanya disekujur tubuhnya sangatlah sakit. hingga bergerak pun sangat sulit.


" sayang kau bangun "


" Air "


dini langsung menuangkan air dan memberikannya kepada bagaskara, dibantunya shandrianna bangun dan meminum air itu.


" Sayang kau baik-baik saja ? ada yang sakit ?"


Tangan shandriana berusaha menggapai lehernya sebelah kiri yang memang sangat merah disana. bagas meniup leher itu perlahan agar tidak sakit.


" shhh "


" Sakit ya ? "


anna hanya menganguk perlahan , Lalu tak lama pelayan dirumah membawakan makanan untuk shandrianna dengan tutup kaca , melihat itu shandrianna langsung memeluk bagaskara.


" jauhkan ( menunjuk arah pelayan itu ) jauhkan ituu " pintanya dengan suara gemetar.


Mahen mengintruksikan pelayan itu untuk jauh dari sini.


" sayang... sayang sudah jauh , tidak ada lagi "


shandrianna menelan salivanya dia masih ingat dengan peti kaca berisi mayat yang sangat buruk itu.


" kau takut hmm ada aku disini sayang "


" anna kau kenapa ? apa ada sesuatu yang kau lihat ?" tanya Tara.


bibir nya gemetar bahkan untuk berucap sedikit saja tidak bisa, matanya berkaca-kaca seolah kejadian itu ada dihadapannya lagi.


" mimii....miii "


" mii ...miii "


oceh Arunika yang terbangun dia dibawa oleh pelayan disana kekamar Shandrianna .


" Cucu grandma bangun sayang " diambilnya Arunika dari tangan pelayan itu dan digendongnya , Shandrianna menoleh menatap Arunika.


" Ar...unika ?"


" Iya sayang kau ingat semuanya kan ?" tanya bagaskara


Dia ingin bangun berusaha untuk berdiri tapi saat itu kakinya terasa sakit " shhh "


" anna "


" sayang "


dia terduduk lagi di ranjang itu, kakinya sangat sakit ketika digerakkan. Bagas berjongkok kemudian mengangkat sedikit gaun pengantin itu , Kaki Shandrianna yang terbalut perban itu berdarah.


" Sayang ini kenapa ? tolong bawakan P3k " ucap bagas.


Dengan cepat Tara mengambilnya yang ada di lemari shandrianna itu.


" Aku .. aku mau menggendongnya " pinta shandrianna.


" Mi mi mi "


" ahh pelan-pelan " desis shandrianna, Tara memegangi tangann shandrianna.


" Kakak jangan pegang jariku sakit "


" Apa sakit semua ?"


Shandrianna mengangukkan kepalanya pelan , Sesekali bagaskara meliriknya shandrianna hanya diam dengan tatapan kosongnya dia masih shock dan takut.


" Sebaiknya semuanya istirahat , Biar aku yang menjaganya. Ibu biar arunika bersama kami, Tara ... Mahen terima kasih untuk semua bantuan kalian, aku tidak tau bagaimana cara membalasnya. " Ucap Bagaskara.


" Tidak perlu berkata seperti itu, Dia Adikku aku juga berhak menolongnya. " Balas tara.


dini memberikan Arunika hingga semuanya keluar, kaki shandrianna sudah bagaskara obati dia pun duduk disebelah shandrianna.


" Dia merindukanmu sayang, mungkin dia ingin ASI mu "


shandrianna menoleh kearah putrinya lalu mengambilnya " Aku sulit menyusuinya dengan pakaian ini "


" Aku carikan baju , jangan mandi tubuhmu panas "


dicarikannya baju tidur oleh bagaskara hingga dia menemukan setelan piyama berwarna merah , Arunika dipindahkannya dulu ke ranjang.


dia membuka resleting gaun itu dari belakang, tubuh shandrianna benar-benar terekspos karena bagian belakangnya hanya kain tipis.


namun dia mengingat semua telpon yang pernah dengar.


" Sayang " lirihnya


namun shandrianna masih diam


" Kalian berdua ... apakah ... apakah dia menyentuhmu ? " tanyanya dengan hati-hati, hatinya sangat sakit dan tidak ingin mendengar kata iya dari shandrianna.


mata shandrianna menatap bagaskara dengan sendu


" Aku kotor ya ?"


bagaskara menggelengkan kepalanya


" Tapi matamu mengatakan iya "


" Berarti Benar ?" tanya bagas.


" A-aku tidak ingat "


hiks hiks hiks


Arunika kembali menangis dia haus ingin susu, Karena anaknya menangis dia alihkan saja pikiran itu nanti dan lebih memilih membantu shandrianna mengganti pakaian itu.


tangannya sudah memakaikan piyama itu " Jika mas tidak ingin melihatku aku akan keluar kekamar sebelah " dia berdiri akan membawa arunika tapi secepatnya bagas menghentikan nya dengan mencekal tangan shandrianna.


" Disini saja "


akhirnya shandrianna pun tetap dikamar itu, namun dia menyusui Arunika dengan posisi membelakangi Bagaskara yang tengah menyenderkan kepalanya itu dikepala ranjang sambil matanya menatap shandrianna.


tak lama Arunika tertidur, shandrianna melepaskan ASI nya, saat dia bergerak bagaskara menarik tubuhnya hingga shandrianna ada diatas tubuhnya.


" Ada ... apa ?" tanya shandrianna dengan suara kecil dan merasa tidak enak karena berpikir dia pasti sudah melakukan hal diluar batas dengan Lion.


Tanpa banyak bicara Bagaskara menggapai bibir shandrianna, hingga dilumatnya dengan lembut. " Tidak .... mungkin saja aku sudah melakukannya " Tolak shandrianna.


" Aku ingin membersihkannya jika memang benar dia melakukannya, aku marah padanya tapi tidak denganmu sayang ... "


" Aku tidak bisa menjaga diriku dengan baik " ucap shandriana dengan mata yang berair.


" Semuanya sudah terjadi, maka dengan cepat aku harus menghapusnya. sayang ... "


Shandrianna menggangukkan kepalanya , dan malam itu bagaskara mengeluarkan semua rasa rindunya dan menghilangkan jejak-jejak lion yang tidak pernah ada di diri shandrianna.


****


pagi itu shandrianna berkeramas, Karena lupa membawa pengering rambut dia keluar begitu saja bersama bagaskara sedangkan Arunika dia masih tertidur pulas.


semua orang menyambutnya dengan bahagia karena akhirnya semuanya kembali seperti dulu, namun melihat penampilan shandrianna yang begitu mereka jadi tidak bisa menahan senyuman.


" Selamat pagi " ucap bagaskara.


" selamat pagi kak " jawab mahen yang senyum-senyum bersama Tara.


" Lihatlah Kakak juga tidak tahan, sepertinya semalam adik kakak saling bersaing " bisik Mahen ditelinga Tara.


" Shandrianna memang selalu membuat kakakmu tak bisa diam " jawab Tara.


" Nak kau mau makan apa ? ibu ambilkan ya " ujar dini.


" Ibu ... "


" iya "


" Tolong jauhkan penutup kaca itu dariku " dia tidak mau melihat sedikitpun hal seperti itu baginya itu sangat seram.


" Kenapa sayang ini hanya penutup kaca untuk kue "


" Ibu aku mohon" lirihnya yang menoleh kaerah lain.


" ba-baiklah " jawab dini yang menuruti permintaan shandrianna.


" Sayang kau baik-baik saja ?" tanya bagas.


" Anna beberapa hari ini tinggal disini saja dulu ya " pinta handika.


" Terserah ayah saja " jawabnya.


dia pun makan dengan perlahan namun tidak banyak, hanya beberapa sendok saja dia mual ketika terus mengingatnya.


" Nona shandrianna " Dua polisi datang kerumah itu , hingga semuanya menoleh kepada dua polisi tersebut.


" Ada apa ?" tanya Handika.


" Kami mencari nona Shandrianna, untuk menjadi saksi di kasus Pak Lion. Kami menemukan dua mayat yang ada di rumah itu yang dalam keadaan membusuk di dalam peti kaca "


Tangan shandrianna langsung bergemetar, dia menutup matanya dengan rasa takut yang amat sangat.


" Anna kau melihatnya nak ?" tanya Handika.


" Anna ?" saut dini.


Bagas mengelus punggung shandrianna " Aku tidak mau .. aku tidak mau melihatnya , aku tidak mau " jawabnya yang ketakutan itu.


bagaskara langsung memeluknya dan mencium rambut shandrianna agar dia tenang.


" Mas aku tidak mau katakan untuk pergi dari sini , wajahnya sangat menyeramkan aku mohon aku tidak mau " pintanya memelas.


" Maaf tapi satu-satunya yang menjadi saksi hanya Nona shandrianna , mohon untuk kerja samanya " pinta polisi itu.


" Sebaiknya kalian pergi dulu, istriku masih shock "


" baiklah kami memberikan waktu 3 hari "


semuanya hanya diam lalu polisi itu segera pergi, shandrianna masih memeluk bagas.


" Mereka sudah pergi sayang , jangan takut ada mas tidak akan melihatnya lagi oke "


" Jangan pergi , disini saja ... jangan tinggalkan aku lagi, aku takut "