Hanya Kamu

Hanya Kamu
Sahabat Tidak Akan Pergi


" Kau ini ! jangan lakukan hal sesukamu pak bagaskara. karena percuma aku tidak akan mencintaimu "


shandrianna memang sudah benci dengan bagaskara dia tidak ingin bersamanya lagi. hatinya sudah benar-benar tertutup untuk bagaskara dan juga mungkin untuk semua laki-laki.


" Aku tidak peduli sayangnya ... aku hanya ingin kau menjadi istriku dan tetap begitu selamanya. "


" Aku benci padamu ! " ucap shandrianna dengan mata tajam , dia melepaskan tangan bagaskara dari bahunya dan keluar dari kamar itu.


" Apakah dia tidak punya otak selalu memaksa orang " gerutunya sambil turun dari tangga.


tapi saat itu dia melihat tara sedang berbicara dengan ailleen dan terlihat sedang menyuapinya.


" sayang " panggilnya


kedua orang itu menoleh " sudah selesai makannya ?"


" kakak tadi menyuapinya dia anak pintar makannya sangat lahap sekali " puji tara.


" Terima kasih , sayang ini sudah malam ayo tidur " ajak shandrianna.


" Baik mommy , auntie ailleen tidur ya good night "


" Good night "


shandrianna pun mengajak aileen menuju ke kamarnya


" Mom daddy dimana ?"


" tidak tau sayang "


" mom kita lama ya tinggal disini "


" tidak tau sayang , ada apa ? ailleen ingin pulang ?"


" Ailleen suka tinggal disini apa kita tidak bisa disini saja ?"


" bagaimana dengan papa sayang, disana papa sendirian "


" daddy juga sendirian disini "


jleb


perkataan anaknya itu memang benar adanya, tapi bagaimana mungkin dia bisa mengertikan hal tersebut kepada seorang anak berusia 6 tahun.


dia juga tidak ingin seperti ini tapi semua yang terjadi memaksakannya untuk melakukan ini.


" Sayang ... ailleen harus bersekolah , kan aileen suka berkuda dan juga teman-teman ailleen akan mencari nanti jika kita terus disini.


" Aillen sayang ingin tetap disini ?" suara bagaskara yang mengangetkannya itu, karena bagas tiba-tiba keluar dari kamarnya.


" iya daddy "


" kalau begitu daddy akan mencarikan sekolah terbaik di sini dan juga daddy akan mencarikan olahraga berkuda nanti. "


" Tidak sayang mommy bekerja disana , mommy tidak bisa meninggalkan pekerjaan itu. "


" Shandrianna kau tidak dengar apa yang diinginkan oleh anakkita ?" tekan bagaskara , aillen melihat wajah bagaskara seperti itu menjadi takut jika nanti memarahi mommynya.


" daddy , mommy benar sebaiknya ailleen disana saja. ailleen juga banyak teman disana iyakan mom ?"


" tentu saja sayang "


" ayo kita tidur "


kenapa kau menjadi egois seperti ini, dulu setidaknya kau selalu memikirkan orang lain.


***


keesokan paginya


Andrew telah tiba di indonesia, untuk menyusul shandrianan dan juga ailleen. dirinya langsung bergegas menuju kerumah shandrianna dengan perasaan senang.


" Tolong cepat " katanya.


" baik pak "


mobilpun dipercepat, sedangkan dirumah itu shandrianna tengah membawa dini ketaman. agar terkena cahaya matahari. dia terlihat sedang memberikan ibunya makan pagi.


" anna "


" iya ibu "


dini hanya tersenyum seraya mengelus kepala shandrianna " ibu bahagia "


" ibu harus cepat sembuh ya, agar aku bisa tenang dan juga senang. "


dia mengelap mulut ibunya menggunakan tisue " Jika ibu sembuh kau akan pergi dari sini kan. " kata dini dengan sedih.


" ibu... "


" jangan pergi " ibunya menangis mengatakan semua itu.


" ibu mohon "


" ibu aku ... "


melihat wajah ibunya yang menangis dan menatapnya penuh mohon membuat hatinya sakit, bagaimana bisa ibunya memohon kepadanya seperti ini.


shandrianna menggelengkan kepalanya " baiklah aku akan tetap disini "


dini langsung memeluk erat shandrianna dan menunpahkan rasa rindunya kepada anaknya yang selama ini dia rindukan.


" maaf apakah ini rumah ibu shandrianna ?" tanya beberapa orang yang masuk, shandrianna menatap mereka bingung.


" Saya sendiri, ada apa ?".


" kami dikirim oleh pak bagas untuk mengukur baju pernikahan. ".


" apa " ucapnya terkejut.


" maaf ini semua kesalahpahaman saya tidak akan menikah"


" maafkan kami bu tapi ini perintah pak bagas "


muka shandrianna seketika berubah " Ibu kita masuk dulu, kalian tunggu disini "


shandrianna menggandeng tangan ibunya dan membawanya masuk kedalam rumah. lalu setelah itu dia kembali kehalaman rumah dan hampiri beberapa orang itu.


" saya akan menelponnya dan membatalkkanya "


" shandrianna "


shandrianna menoleh ternyata yang memanggilnya adalah andrew, andrew telah sampai dan membawakannya bunga ditangannya.


andrew pun mendekati shandrianna lantas dia memberikan bunga itu " Untukmu " katanya menatap shandrianna dalam.


" terima kasih, kau tidak bilang padaku. itu artinya semalsm kau ada di bandara ?"


" iya , aku sengaja tidak memberitahumu. dimana putra tampanku ? aku sangat merindukannya. ".


" dia ... dia sedang keluar bersama pak bagas "


" oh " andrew hanya tersenyum.


" tapi bu "


" Apa kalian akan memaksaku ?" tanya shandrianna.


" baiklah "


beberapa orang perempuan itu pun pergi, andrew melihatnya dengan bingung " mereka siapa ? "


" bukan apa-apa, kau sudah makan ? "


" belum "


****


didalam sebuah cafe itu shandrianan dan Andrew duduk berhapan. shandrianna hanya menemani andrew makan, sedangkan dia hanya membeli minuman saja.


" Hmm aku benar-benar merindukan masakan khas indonesia. ini sama seperti yang selalu kau buat "


shandrianna ingin tertawa mendengarnya, andrew selalu memuji setiap yang dia lakukan.


" Jangan berbohong aku pernah menyicip masakanku yang dulu saat aku hamil pernah ketiduran sampai mie yang kumasak gosong. " balas shandrianna.


" tapi tetap enak sungguh, walau pun gosong tapi rasanya pas "


" kau selalu membuatku senang " kekeh shandriana.


" Kau yakin tidak makan ? aku pesankan ya ?"


" tidak andrew aku baru saja makan dirumah. "


" yasudah tidak mau "


shandrianna kini menatap andrew, pria ini bagaimana bisa memiliki hati sekuat ini. jika jadi andrew mungkin dia tidak akan bisa.



" Andrew ... "


" ya an "


sejenak shandrianna terdiam dia harus jujur pada andrew " Sebenarnya , aku mungkin tidak akan bisa kembali ke sana lagi. "


" maksudmu ?"


" Melihat ibuku dan kondisi keluargaku, aku harus tetap bersama mereka. ibuku memohon agar aku tinggal disini, aku tidak bisa menolaknya. " katanya dengan mata yang sulit.


Andrew berusaha mengerti akan kondisi shandrianna, dia juga harus ingat statusnya yang hanya sebagai teman bukan yang lain.


" Artinya aku harus pulang sendirian nanti " ucapnya tersenyum tipis.


" maaf " shandrianna hanya bisa menunduk malu. atas semua yang dilakukan andrew terhadapnya.


" sangat sulit untuk lepas darinya kan. kadang aku berpikir kenapa aku sebodoh itu dulu seandainya aku bisa memutar waktu aku ingin kembali ke masa sma dan bersamamu hingga kita menikah. ha ... sungguh rencana tuhan memang tidak bisa ditebak. "


" Tapi kau orang yang baik. "


" Baik saja tidak cukup, ayo kita pulang nanti ailleen pulang dan mencarimu. "


shandrianna mengangukkan kepalanya, lantas mereka keluar dari cafe itu tapi tanpa mereka duga mereka berdua berhadapan dengan tomi.


tomi menatap keduanya dengan mata yang nanar begitupun dengan shandrianna. seakan waktu terhenti untuk mereka bertiga mata sipit milik tomi itu berkedut karena shock.


" Hey ... kau bersenang-senang ?" gumam tomi.


" tomi " ucap shandrianna dengan suara yang serak dan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya


" Aku tidak percaya ini, apakah ini shandrianna ku ? " tanyanya yang juga menangis tanpa bersuara.


shandrianna memeluk tomi dan menangis dengan bibir yang bergetar " Ini aku shandrianna sahabatmu hiks "


" kau pergi dariku tanpa berpamitan shandriana, apakah aku pernah menyinggungmu atau menyakiti hatimu tanpa sengaja ?"


" maaf hiks hikss "


tomi masih shock karena shandrianna tiba-tiba ada dihadapannya berbeda dengan shandrianna yang terus memeluknya.


" Kau membuatku menderita shandrianna, aku selalu memikirkanmu setiap saat apakah kau kedinginan ? apakah kau hanya seorang diri ? apakah kau sudah makan ? hei ! aku benci padamu. "


" hiks hiks maafkan aku tomii , aku tidak ingin melakukannya tapi keadaan memaksaku "


lantas tomi pun membalas pelukannya, mereka berdua kembali dipertemukan oleh takdir. rasanya sangat tidak mungkin tapi sekarang semuanya benar-benar terjadi, mereka saling memeluk melepas kerinduan dua orang sahabat yang saling peduli itu merasakan amat kesedihan setelah berpisah lama.


" Kau begitu berarti untukku dan sangat istimewa untukku, jangan lakukan hal itu lagi shand aku benar-benar kehilanganmu " ucapnya masih terus meneteskan air matanya.


" tidak hiks aku ... aku tidak akan melakukannya lagi "


tomi memegang pipi shandrianna dan menangkupnya lalu kembali memeluk shandrianna lagi, keduanya kembali menangis.


" Hari ini aku kembali bertemu denganmu , sahabat tidak pernah pergi shandrianna sampai kita tua nanti kita akan selalu bersama. "


***


disebuah bangku taman itu mereka berdua duduk bersama bertiga dimana shandrianna duduk ditengah, wajah mereka bertiga terlihat sembab karena menangis.


" bagaimana kabarmu ? " tanya shandrianna.


" aku sudah menjadi manager kau pikir aku baik kan "


" hmm sangat baik "


" kau bodoh aku tidak baik. aku ingin menjadi managermu, shandrianna ... kenapa kau melakukannya ?"


" maaf aku tidak menemuimu waktu itu. tomi ( kepalanya menunduk ) hatiku begitu hancur saat itu, aku mendengar pak bagaskara bicara pada bu laura kalau bu laura sedang hamil anaknya dan ibuku juga memutuskan aku kalau aku bukan anaknya lagi, aku tidak berpikir dengan benar .. " dia mengingat kembali atas semua yang terjadi hatinya sakit saat mengatakannya.


tomi membalik tubuh shandrianna dan menghapus air matanya " dan kau memutuskan bunuh diri, kau tau semua orang menangis waku itu. eyang dan kak mike sangat terpukul begitupun dengan kedua orang tuamu. "


" aku tahu "


" Kau tau tapi tidak kembali. "


" Karena aku tidak ingin mengganggu semua orang, sudah cukup aku merepotkan semua orang. "


" kenapa otamu jadi cetek kau ini "


" andrew ... kau juga kenapa menyembunyikannya dariku "


" Aku yang memintanya " saut shandrianna.


" kau memang sudah tidak waras. " kata Tomi.


" Tomi " ucap shandrianna.


" kenapa "


" kau tau apa yang tuhan berikan kepadaku ?".


" apa ?"


shandrianna tersenyum mendengarnya lalu dia menatap tomi " aku memilili seorang anak laki-laki yang akan berusia 6 tahun sekarang. "


" shand... " ucapnya lemah seakan tak percaya