
" Tidak ! aku mau disini, aku tidak mau pulang ! " tegas shandrianna yang sedang bersitegang dengan bagaskara didalam kamarnya itu.
" Jangan keras kepala sayang, kita pulang sekarang " jawab bagaskara yang masih melembut.
" Aku bilang tidak ya tidak ! " teriak shandrianna hingga Dini dan Handika mendengarnya dilantai bawah itu, begitupun tara dan mahen yang masih duduk di sofa ruang keluarga.
" Aku tidak tega dengan Anna, ayah beri penjelasan kepada bagas " ujar tara.
" Ayah sudah bilang tapi bagas tetap ingin membawanya. ayah tidak punya hak lebih nak "
" Anak-anak sedang tidur jangan berteriak, Ayolah sayang sekali ini saja menurut padaku. " bujuk bagaskara
" Baiklah ... aku akan pulang malam ini tapi besok malam dan seterusnya aku akan ada disini. "
" Tidak bisa sayang "
" Kau jahat ! "
" Katakan saja begitu " jawab bagas yang tak peduli shandrianna menyebutnya apa.
Tatapan shandrianna sangatlah tajam, dia pergi dari Kamarnya untuk melihat anak-anak tapi Kepalanya terasa pusing , hingga dia berjongkok di lantai seraya memegangi kepalanya.
" anna ! " teriak Tara.
" sayang ! " teriak Handika dan Dini bersamaan
mereka berempat naik keatas tangga untuk melihat keadaan shandrianna itu.
" Ahhh sakitt " desisnya pelan yang langsung dipeluk oleh bagaskara.
" Anna sayang kau kenapa nak jangan buat ibu takut sayang" lirih Dini yang sedih melihat shandrianna.
" sayang tenang oke ... atur nafas dengan baik ya " perintah bagaskara.
dari jendela bawah itu seorang memakai pakaian serba hitam dan topi yang menutupi wajahnya tapi dia tersenyum.
" Kau ? kau lagi ? menjauhlah " dorong shandrianna kepada bagas.
" ka-kalian semua ? kalian lagi "
" Nak ini ayah , ini ibu dan semuanya keluargamu. " jelas Handika.
dia langsung menggelengkan kepalanya " bukan ! kalian bukan keluargaku ! Hei kau dimana ? bawa aku pergi aku ingin bersamamu " dia berusaha mencari - cari seseorang yang membuat semuanya menatap aneh.
" Sayang kau ingin bertemu anak kita kan ? ayo kita kekamarnya ayo kita lihat mereka sedang tidur ayo lah " ajak bagaskara.
" aku tidak punya anak ! aku belum menikah bagaimana bisa punya anak , kalian semua aneh "
Tara merasakan ada seseorang yang melihat mereka, instingnya berkata kalau mereka sedang diawasi. perlahan-lahan dia mencarinya dan dia tau disebelah kirinya ada seseorang yang memandangnya.
" Hei siapa disana ? "
pria itu langsung berlari , lalu mahen berusaha mengejarnya dengan cepat namun sayang pria itu lebih dahulu pergi dengan mobilnya.
tara pun menyusul mahen " Mahen bagaimana ?"
" Tidak , dia sangat cepat. Tara ... apakah dia punya hubungan dengan semua ini ?" tanya mahen
" maksudmu ?"
" Pikirkanlah "
Tara sedikit berpikir dia mengingat saat-saat shandrianna berubah kepribadian, selalu mendadak begitu saja.
" Tidak mungkin Mahen "
" Mungkin saja, temanku pernah seperti itu "
" sudah ayo masuk kita lihat kondisi istri kak bagas " Tara mengangukkan kepalanya, namun disana shandrianna tengah tertidur di pangkuan bagaskara yang diperhatikan oleh Semua orang.
" Kakak " panggil mahen.
bagaskara pun menoleh " aku ingin bicara berdua "
" Disini saja aku tidak mau meninggalkannya sendirian " jawab bagas.
" Kau pernah bilang kalau istrimu pernah pergi bersama seorang pria bukan ? aku tidak bermaksud untuk membuatmu percaya semua ini tapi selama ini aku pikir istrimu ada yang mempermainkannya. " jelas mahen.
" Maksudmu ?"
" Tara pernah melihat sesuatu yang aneh didekat rumah kakak, dan Istrimu selalu memakai aroma yang sebelumnya tidak pernah dia pakai lalu ... lihatlah tadi ada orang mengawasi kita dan perubahan itu terjadi tapi saat orang itu pergi ... istrimu tidak apa. seseorang ingin mengacaukan rumah tangga kalian dengan cara seperti itu."
" Maksudmu Guna-guna nak ?" tanya Handika .
" ya ayah. aku juga tadinya tidak percaya tapi aku pernah melihatnya semua itu terjadi di keluargaku salah satu temanku. "
" Tapi jika itu benar siapa yang tega melakukannya, dan karena apa dia melakukannya " saut dini.
" Istriku tidak pernah bertengkar dengan seseorang, dia saja hanya dekat dengan ketiga temannya itu tidak ada yang lain. " jawab bagaskara.
" anna wanita yang baik , dia ramah dan murah senyum dan karena itu ... banyak pria yang mencintainya. aku yakin sekali mungkin dari salah satu yang menolaknya melakukan ini. " pikir Tara.
Bagaskara kembali mengingat semuanya, disaat ia mencium aroma yang sangat wangi saat mereka akan berhubungan tapi tidak jadi dan setelah itupun keduanya tak pernah bersama seperti itu lagi.
" Aku ingat " titah bagaskara.
" apa ?" tanya Tara.
" Aku pernah mencium aroma teh yang sangat wangi dari tubuhnya ketika dia menyemprotkan parfum ditubuhnya dan tak lama sikap dia berubah "
" Benar ! persis sekali " saut mahen.
" Lalu apa yang harus kita lakukan ? aku harus mencari siapa yang melakukannya dan akan kuhukum dia " ujar bagaskara
ditatapnya shandrianna yang tengah tertidur dipangkuannya itu dan dielusnya kepalanya " Sayang " gumamnya kecil.
" sudah nak kasihan dia biarkan dia tidur disini malam ini, Kita semua lelah ayo istirahat besok pagi mari kita bicarakan lagi. " usul Handika.
akhirnya bagaskara menggendong bagaskara kedalam kamarnya, malam ini dia akan tetap disini dan dia juga berubah pikiran biarkan shandrianna berada disini untuk beberapa hari saja.
****
sementara itu pengantin baru yang baru saja selesai membersihkan diri , saling bicara satu sama lain karena tara sangat memikirkan anna.
Mahen pun merangkul pundaknya dan merebahkan kepala Tara di bahunya.
" Aku tau kau memikirkan adikmu. "
" Dulu aku sangat jahat padanya bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai adikku, setiap hari aku selalu mengutuknya agar sesuatu terjadi padanya tapi hari ini ... aku tidak pernah memikirkan kalau yang terjadi itu seperti ini, aku menyesal Mahen. "
" Yang terpenting kau tidak seperti itu lagi ... sekarang kita harus berusaha untuk mencari tahu siapa orang nya dan bagaimana cara menghilangkan semua itu. "
" kau benar, aku tidak akan tinggal diam. sudah cukup banyak dia menderita kali ini aku akan membantunya. "
" Kau lelah kan ? kita tidur saja " ajak mahen.
" Tidur ?" Tanya Tara
mahen mengedipkan kedua matanya, siapa pikirnya yang tidak mau bermalam pertama tapi melihat tara yang sedang mengkhawatirkan adiknya mana mungkin dia bisa.
" Aku tau kau lelah, aku juga lelah sebaiknya tidak malam ini. "
" ha baiklah "
akhirnya mereka berdua hanya tidur, karena pengertian mahen sangatlah besar.
lalu dikamar shandrianna itu malam harinya dia terbangun, menatap bagaskara yang tidur memeluknya. dielusnya wajah bagaskara yang ada janggut tipis-tipis itu.
" Aku mencintaimu mas " ucapnya dalam hati.
" tapi kenapa aku seperti orang tidak waras dihadapanmu. aku ingin tetap bersamamu selamanya tapi apakah kau masih mencintaiku "
" ada apa sayang ?" mata bagaskara terbuka , hal itu membuat shandrianna sedikit terkejut kemudian menoleh kearah lain.
" Kau menangis ?" tanya bagaskara lagi.
" Apakah Mas masih mencintaiku ?" tanyanya yang berbalik badan membelakangi bagaskara.
" Mengapa bertanya seperti itu hmm ? mas sangat mencintaimu sayang "
" Aku tidak percaya "
" Lalu apa yang harus mas lakukan ?" direngkuhnya tubuh shandrianna dari belakang dibawanya kedalam pelukannya.
" pikirkanlah "
" Karena Mas tidak pernah menyentuhmu sebulan ini ?" Tanya Bagaskara seraya menciumi rambut shandrianna.
"....."
Tidak ada jawaban dari shandrianna, bagaskara mengerti inilah sebabnya. dia juga ingin dan sangat merindukan tubuh shandrianna tapi setiap kali dia akan melakukan penyatuan shandriana langsung berubah dan selalu mengatakan hal yang tidak-tidak bahkan menganggap Bagaskara sebagai pemerkosa.
" Besok ya, hari ini mas sangat lelah. siapa bilang mas tidak ingin mas itu sangat merindukan semuanya sayang. " bujuknya.
" .... "
" Sayang dengar perkataan mas kan ? mas ini suami kamu iyakan ?"
" Hmm "
" Aku mau tidur "
" ya tidur saja dipelukan mas "
" panas " tolaknya.
" kecilkan suhunya "
" Tidak usah "
" yasudah " bagaskara memilih mengalah daripada shandrianna marah padanya dan bisa-bisa tidak diajaknya bicara selama beberapa hari.
pagi harinya
suasana rumah yang tampak ramai, dimeja makan itu semua orang berkumpul menikmati sarapannya. Aileen dari tadi terus menatap mommy nya yang sedang memberikan bubur kepada Arunika.
Bagaskara melihat kemana arah mata aileen, Aileen pasti sangat merindukan shandrianna.
" Aileen duduk sini sayang " ajak bagaskara
shandrianna pun menoleh, akhir-akhir ini dia jarang bicara pada aileen karena setiap ingin bertemu dia selalu tertidur bahkan selalu belajar ditempat les.
" Daddy " ujar aileen lalu duduk di pangkuan bagaskara.
" Mommy sedang menyuapi adiknya aileen, aileen mau apa ?"
" Aileen ingin disuapi mommy " jawabnya.
" Sayang " panggil shandriana dengan suara kecil.
" Hiks hiks mommy aileen rindu sama mommy, daddy aileen mau pulang ikut mommy tidak mau disini hiks hiks " isaknya tersegu-segu padahal sudah rapi dengan pakaian sekolahnya.
" aku ingin menggendongnya " ujar shandrianna menatap bagaskara seperti meminta izin.
bagaskara memberikannya walau tubuh aileen berat sebisa mungkin shandrianns menggendongnya dan mendudukkannya di pangkuannya.
" Maafkan mommy ya sayang ... "