Hanya Kamu

Hanya Kamu
Seperti mau kondangan


Nina diam mematung..


Dilihatnya sorot mata ayahnya


Mata yang terlihat sangat terluka


Membuat hati Nina tersayat perih


Tangan tuan Wicaksono mengelus lembut tangan putri tunggalnya


"Mulai sekarang...


Nina sudah punya mama...


Malah juga punya papa...


Punya kakak dan juga punya adik adik


Ayah ingin Nina bahagia...


Makanya mulai sekarang kita akan tinggal bersama disini


Nina mau kan nak...??"


Nina masih bingung dengan situasinya tapi kepalanya mengangguk


Memaksa tersenyum agar gurat luka di wajah ayahnya hilang


Sejak hari itu ayah dan Nina tinggal bersama keluarga tn Baskoro


Bu mar yang sejak lama ikut mengasuh Nina pun diboyong kesitu


Keluarga sangat besar itu akhirnya mencari kontrakan baru yang lebih besar agar bisa tinggal bersama sama


Kesedihan Nina teralihkan


Keluarga mereka benar benar bisa saling mengisi


Semua berkat mama Andita


Wanita hebat itu tak kekurangan kasih sayang seorang ibu di dalam hatinya


Tulus mencintai kelima anaknya dengan rata


Mengantarkan mereka menjadi pribadi yang penuh kasih sayang pula


Sejak itu setiap bertemu mamanya,Nina justru menghindar


Nina menyadari bahwa Mama Wina sudah tidak menginginkannya


Mengerti bahwa mamanya telah memilih jalan yang tak lagi searah dengannya


Nina terus menghindari mamanya hingga lulus SMP dan Nina memilih SMA yang berbeda dengan Rini


Untuk menghibur diri dan untuk menghilangkan sedihnya,tn Wicaksono terus bekerja sangat keras


Berdampingan dengan Tn Baskoro


akhirnya perlahan lahan kesuksesan mengiringi keluarga itu


Hidup berkecukupan hingga sekarang


#Flash back off


Dua bulan berlalu sejak Nina melihat Rini dan mama wina


Rahasia itu dia pendam sendiri


Dalam hati Nina berharap tidak akan pernah bertemu dengan mereka


Siang tadi Indra menghubunginya


Mengajak Nina makan malam di rumahnya


Indra mengatakan bahwa mamanya dan Alea ingin bertemu dan berkenalan dengan Nina


Setelah sholat Maghrib,Nina sudah berdandan rapi


Meskipun sudah mengenal ny.Vanya,


Nina tetap berusaha tampil rapi maksimal dihadapan mamanya Indra...


Nina menunggu sambil duduk di ruang keluarga


Bagas dan Andika sudah menggodanya dari tadi..


"Mas Bagas kayaknya ada yang mau diapelin nih...."


"Dandannya kayak mau kondangan ya Dik"


Nina melotot ke arah mereka...


"Lhoooo melotot mas ...bulu matanya lepas lho nanti"


"Ini bulu mata asli taauuuu...mana bisa


lepas..."Nina mengomel


"Kalau mengomel ....bibirnya yang lepass lhoo"Bagas menimpali


Andika dan Bagas tertawa kompak.


"Mmaaaammaaaa......"


Nina teriak mengadu ke mamanya


Mama dan Nadia yang sedang mempersiapkan makan malam menghampiri mereka


"Apa siii. ..kenapa Nina teriak teriak.."Mama menengahi


Mama menyadari kalo anak perempuannya itu sudah berdandan rapi,beda dari biasanya


"Ihhh...cantik banget anak mama nih...mau kemana"Mama menjawil pipi Nina


"Kondangan maaa..."Bagas


"Diapelin maaa..."Andika


"...Ciiiee...ciieeee...."Mama malah ikut ikutan menggoda


"ahhh..mamaaaaa....malah ikut godain"


Nina cemberut


"mama gak ikut godain sayang....mama cuma bilang ciiiee....cieee.."


"Itu namanya ikut godain maa..."Nadia ikut ikutan menjawab


"Tapi mba nin memang cantik...kayak mau kondangan.."


Nadia menambah daftar peserta penggoda


"Masak kayak kondangan sii....terlalu menor ya.."Nina mulai tidak pede...


"Emang mau kemana sii mba..."


"Mas Indra ngajak Nin makan malam di rumahnya"Nina malu malu menjawab


"Waahhh bakal ada yang emosi lagi nih ..kalah cepat..."


Nadia melirik Bagas


"Ehhh.....gerak cepat juga tuh anak...


Gak boleh dibiarkan ini


Bagas kudu ngajak Rara makan malam di rumah juga"


Benerr kaannn.....ada yang gak mau kalah


"Lhoo bukannya Rara sudah sering makan malam disini ya"


Mama berkomentar


"Ehh iyaa ...yaa....berarti Bagas lebih cepat dong..."


Bagas tertawa merasa menang


"Tapi kan mama yang ngajak makan malam mba Rara ...bukan mas Bagas"Andika ikut ikutan menggoda Bagas