Hanya Kamu

Hanya Kamu
Kami Pamit Anna


" husttt mas tidak suka mendengarnya. kita hidup bersama maka matipun harus bersama. " tekan bagaskara.


" Lalu anak kita ?"


" Ada mahen dan tara yang juga menyayangi mereka. "


***


malam harinya


bagaskara memasak untuk makan malam sekarang, sedangkan shandrianna hanya duduk mengupas apel dimeja makan.


" Hari ini aku hanya membuatkan arunik omlet, mas buatkanlah sesuatu untuknya pasti dia menahannya saja dia tidak suka omlet. "


" Mommy! "


tiba-tiba arunika datang dan memeluknya dari belakang. membuat shandrianna terkejut hingga tangannya terkena goresan pisau dan berdarah.


" shh " desisnya.


" sayang tanganmu! arunika cepat ambilkan kotak p3k di lemari itu " secepatnya bagaskara mematikan kompor dan menyentuh luka shandrianna, dia menahan nya agar darah tak terus keluar.


" jangan marah padanya, ini hanya luka kecil" ucap shandrianna.


" mommy maaf. ini daddy aku tidak sengaja, arunika tidak tau kalau mommy sedang mengupas apel. " matanya benar-benar menunjukkan penyesalan dan hampir menangis.


shandrianna tersenyum melihatnya, sedangkan bagas mengobati luka tangan shandrianna " kenapa menangis sayang, hanya luka kecil tidak sakit kok sudah ya " ujarnya yang menenangkan arunika.


" cup " diciumnya jari shandrianna setelah diperban itu, dia mengelus wajah shandrianna.


" Tidak sayang daddy tidak marah, arunika tidak sengaja dan sudah minta maaf juga sama mommy. " diliriknya anaknya itu dan dipeluknya.


***


keesokan harinya


karena ini hari minggu bagaskara tidak akan ke kantor, dia bersama keluarga kecilnya itu membersihkan tanaman dirumah. namun bagaskara melarang hal lain selain membersihkan atau hanya sekedar menyirami tanaman.


tak lama sebuah mobil berwarna putih masuk kedalam halaman rumah, yang shandrianna kenal sebagai mobil kakaknya.


dia berhenti menyirami tanaman kemudian mendekati bagaskara.


" sayang "


" mas itu kakak kan ?" tanyanya.


" iya, ayo kita kesana" ajaknya seraya menuntun shandrianna.


Tara keluar dengan perut yang sudah membesar, dengan langkah pelan dia mendekati shandrianna.


" anna ! kakak merindukanmu, apa kabarmu ?" mereka berdua langsung berpelukan walau agak sulit namun keduanya masih terus berpelukan.


" aku juga kakak, sepertinya tidak lama bayinya akan segera lahir. " ujar shandrianna mengelus perut kakaknya.


" Lihatlah perutmu juga sudah membuncit padahal baru 5 bulan sudah seperti mau lahiran saja. "


" Anak kami kembar jadi pantas saja besar, iyakan sayang ?" saut Bagaskara yang merangkul shandrianna.


" wah! selamat ya an, jadi 4 dong. dimana Arunika ?"


" Ada tetangga baru pindah dan dia bermain disana " jawab shandrianna.


" dia seperti dirimu, mudah bergaul. " ujar tara seraya terkekeh.


" Mahen apa kabar, kau terlalu sibuk pada pekerjaan sampai aku menelpon pun jarang kau angkat. " Tanya Bagaskara.


" maaf kak. beberapa waktu yang lalu perusahaan mengalami kerugian jadi aku sangat bekerja keras untuk mengembalikan keposisi semula, tapi sekarang sudah tidak apapun itu aku akan menjawab telponmu. "


" Mari masuk, kakak akan lelah jika terus berdiri" ajak shandriana.


" bukan hanya kakak kau juga sama, malah lebih berat kan "


balas tara seraya mereka semua berjalan masuk kedalam rumah. lalu semuanya duduk di ruang tamu kecuali bagaskara yang membawakan minum dan beberapa kue.


" kakak berubah menjadi suami ideal, bagus kak pertahankan." goda mahen yang memberikannya dua acungan jempol.


" sayang istri" jawabnya.


" ya! tidak seperti pria yang ada disebelahku ini selalu saja tidur kalau dirumah. " saut tara yang menyindir mahen.


" Dirumah kan ada pelayan jadi kau juga santai hehheh "


" alasan "


Shandrianna dan bagaskara terkekeh mendengarnya, lalu tara yang melihat wajah shandrianna tersenyum lebar seketika dia menatap adiknya dengan berkaca-kaca.


" anna " panggilnya


" sebenarnya kakak sudah memutuskan sesuatu, untuk itulah kakak datang kerumahmu. "


" apa ?" dia masih tersenyum masih tidak tau apa yang akan dikatakan tara.


sejenak tara diam dan matanya saling bertatap dengan mahen.


" begini, aku sudah memutuskan untuk membawa tara dan anak-anak kami kembali ke texas. dan kami sudah menyepakati hal itu. " ungkap Mahen, hingga membuat senyuman shandrianna memudar.


" Anna ? " ucapnya yang merasa tak enak dengan adiknya,


" sayang " bagaskara mengelus tangan shandrianna dan menatapnya dalam.


" kakak akan meninggalkan aku. apakah tidak bisa disini saja kak ?" tanyanya dengan mata yang berkaca-kaca.


" maaf kan kakak an. rasanya jika tetap disini bayangan ayah dan ibu terus menghantui kakak, akan lebih baik kakak menjauh dan mulai menerima kenyataan. kakak juga ingin hidup seperti dirimu penuh dengan kemandirian. " jelasnya, selain itu juga dia akan berhenti dari perusahannya dan fokus menjadi ibu rumah tangga.


Shandrianna mengangguk mengerti walau dia akan kehilangan kakaknya tapi dia harus berpikir dewasa. bukan hanya tentang dia dan kakaknya, tapi kini mereka sudah punya keluarga masing-masing dan tentu Tara harus mengikuti kemanapun Mahen pergi.


sama seperti dia yang akan pergi kemanapun bagaskara pergi, hatinya tidak siap tapi apalah daya dia.


" Aku mengerti kak. memangnya kapan kakak pergi ?"


" Nanti sore "


" apa ?"


" begitu mendadak, karena persalinan akan semakin dekat jadi kakak memutuskan untuk melahirkan disana saja anna"


" hmm aku mengerti kak " jawabnya singkat, namun hatinya merasa tak terima. Bagaskara yang paham sifat shandrianna itu dia akan bicara padanya nanti pikirnya.


" Anna kau disini bersama suamimu. Kakak yakin dia akan membuatmu bahagia, sekarang kakak pergi dulu ya ... kakak akan main kesini setiap tahunnya, untuk menjenguk dirimu. "


lagi-lagi anna hanya mengangukkan kepalanya, dia harus merelakannya walau tidak ingin.


" Tidak usah mengantar kakak, kau jaga diri baik-baik ya kami pergi anna. " pamitnya, lalu mahen membantu Tara berdiri, akan tetapi tara ingin mengatakan sesuatu kepada bagaskara.


" Kau tau anna kita seperti apa kan ? dia sering merajuk dan suka marah, hanya kau yang bisa membujuknya. tolong jaga dia, kini dia hanya milikmu dan hanya punya dirimu. " pesannya.


" aku mengerti, kalian berdua semoga perjalanannya lancar" Ucap bagaskara.


" kak aku pamit ya " Mahen memeluk bagaskara.


" iya "


Dengan berat Hati Tara dan mahen pergi dari rumah itu, dia sudah mempercayakan adiknya kepada bagaskara. Dirinya tahu anna sangat mencintainya, sama seperti dia juga. tapi jalan hidup sudah berbeda, semuanya punya jalan masing-masing yang harus ditempuh.


" Selamat Tinggal anna, kakak menyayangimu." batinnya.


namun langkah kakinya sangatlah berat, hingga mahen menatapnya.


" anna " panggilnya yang menatap balik anna, shandrianna yang menunduk itu kemudian menatapnya.


" kakak menyayangimu, kau adikku. " ucap Tara seraya tersenyum.


anna pun menangis sambil tersenyum, tanpa memperdulikan dia sedang dalam kondisi apa dia berdiri dan berlari untuk menghampiri Tara.


" sayang! " bagaskara takut terjadi sesuatu ketika shandrianna berlarian.


keduanya saling memeluk dan menangis, dulu dia ingin sekali mendengar Tara mengatakan bahwa dia adiknya dan kini semuanya terkabul.


" kakak hiks hiks "


" Dari dulu kau ingin aku mengatakan kepada dunia kalau kau adikku, kau adikku anna "


" hiks hiks "


jadilah adegan mellow disana, Bagaskara rasanya ingin ikut menangis saat melihat tangisan kebahagiaan istrinya itu. tapi baru saja mengeluarkan satu bulir bening dia menghapusnya.


" Aku menyayangimu kak " mulutnya bergetar dan terus mengeluarkan air matanya.


" kakak juga "


keduanya pun melepaskan pelukannya, Tara mengusap air mata shandrianna dan mencium keningnya cukup lama.


( ***Rasanya aku ingin waktu berhenti disini, aku sangat bahagia hingga tak ingin ada hari-hari berikutnya. aku punya suami yang sangat mencintaiku, aku punya anak-anak yang sangat pintar dan aku punya kakak yang sangat menyayangiku.


Aku pernah dengar Tidak ada cinta seperti cinta untuk saudara, dan tidak ada cinta seperti cinta dari saudara. Kita mungkin Tak sedarah, karena memang ibu kita berbeda. Tapi, aku percaya jika ikatan keluarga mampu memberi semangat untuk saling berbagi dan mengasihi satu sama lain )


~ Shandrianna La Zheira***