Hanya Kamu

Hanya Kamu
Kesedihan indra


"Tidak mas...aku sudah tau semuanya!!


Aku sudah tidak ingin bersamamu lagi


Kau sudah tidak percaya padaku dan memandang rendah aku


Kita tidak mungkin bersama lagi


Jadi aku mohon berhentilah menemui aku


Aku sudah memaafkan semua sikapmu


Dan pasti aku juga mendoakan yang terbaik untukmu"


Indra benar benar putus asa


Ditariknya lagi tangan Nina


Nina yang berusaha menolak tak dihiraukannya


genggamannya menguat


membawa tangan Nina ke dadanya


"Aku yakin kau pun masih mencintai aku nin


Percuma kamu menghindari ku


karena aku akan terus mengejarmu


Berhentilah membohongi dirimu sendiri


Katakan kalau kamu masih mencintai aku kan..?


Aku akan melakukan apapun yang kau mau


untuk kau bisa kembali padaku"


Nina menatap tajam ke arah Indra dengan tatapan dingin


"Tidak....aku sudah tidak mencintaimu "


Nina berbohong dengan menahan sekuat tenaga airmatanya yang akan menetes


Indra gemetaran mendengar ucapan Nina


Tidak percaya Nina tega mengatakan itu


Airmatanya ikut menetes


Dengan gemas ditangkupnya wajah Nina lalu memaksa mencium bibir Nina


Nina berusaha melepaskan diri


Sekuat tenaga mendorong tubuh Indra


Tapi Indra terus menciumi seluruh wajah Nina


menumpahkan rasanya karena Indra yakin Nina masih mencintainya


Ciuman itu berhenti saat melihat Nina menangis


Indra berhenti sambil tangannya masih memegang wajah Nina


Dan menempelkan keningnya ke kening Nina


Nina berurai air mata


Ditamparnya pipi Indra dengan keras


Plaaakkkk!!


"Aku sangat membencimu"


Nina berlari setelah mengatakan kebenciannya atas perlakuan Indra


Langsung masuk kamar dan menguncinya


Indra termangu ,merasa terkejut dengan tamparan Nina


Dipegangnya pipi bekas tamparan


Langsung menoleh ke arah kamar Nina saat mendengar pintu tertutup terkunci


Diketuknya pintu itu..


"Nin...Nina....sayang....


Maafkan mas ..mas khilaf


Sayang buka pintunya..."


Tidak ada respon sama sekali


Hanya terdengar isakan tangis nina


Indra tertegun , merasa sangat menyesal


'Apalagi yang sudah aku lakukan?'


Indra kembali mengetuk ketuk pintu


"Nin...tolong buka pintunya...


Aku mohon....


Suara Indra kian melemah


Sambil terduduk dan menyandarkan diri di pintu kamar Nina


Indra benar benar kacau


Tanpa malu lagi menangis sesenggukan sambil menangkup kedua lutut dan kepala


ada diatasnya


Bagas yang mendengar suara ribut segera menghampiri Indra yang terduduk di depan kamar Nina sambil menangis


"Heii...kau kenapa..?"


"Dia semakin membenciku gas


Dia tidak mau lagi memberi aku kesempatan"


Bagas mengerti kalau Indra sedang terpukul


"Kau sebaiknya pulang....aku akan mengantarmu"


Bagas menarik Indra berdiri dan memapah tubuh Indra berlalu dari situ


Setelah menjelaskan sedikit persoalan kepada yang lain, Bagas mengantar Indra dan mama Vanya pulang


Nadia ikut mendampingi Bagas karena Rara langsung masuk ke kamar sahabatnya


Selama perjalanan mengantar Indra


Tidak ada pembicaraan apapun dari mereka berempat


Indra duduk disamping Bagas yang sedang menyetir memandang keluar jendela dengan tatapan kosong


Di kursi belakang,terdengar isakan lirih mama Vanya


Tak menghiraukan tangan Nadia yang terulur membelai tangannya


Mama vanya tau seberapa patah hatinya putra kesayangannya itu


Tidak ada satupun yang bisa menghiburnya


Hidup Indra kacau akhir akhir ini


Sampai rumah Indra, Bagas masih memapah tubuh sahabatnya itu menuju kamar


Mama Vanya mendahului untuk membukakan pintu


Nadia mengikuti Bagas memasuki kamar Indra


Setelah membantu Indra berbaring di kasur,


Mama Vanya menangis di pinggir ranjang


"Sebetulnya ada apa dengan nina


Kenapa dia bersikukuh tidak mau


Padahal kata Reza , Nina juga masih mencintai Indra "


Bagas duduk di kursi yang ada di dekatnya


Nadia duduk di samping mama Vanya di pinggir ranjang Indra


"Masa lalu Nina ma....Nina pernah kehilangan orang yang disayanginya


Trauma itu kembali terjadi"


"Apa cerita soal mama nya yang pergi itu'


"Benar ma....dan sekarang Nina merasa orang yang sama juga telah mengambil Indra setelah dulu mengambil mamanya"


Indra terduduk ingin mendengar cerita Bagas


"Maksudmu gimana gas?"


Bagas sebetulnya ragu ragu memulai cerita


Tapi Bagas juga ingin semua kesalah pahaman segera hilang


"Kau kenal Rini dan mamanya kan ndra..?"


Indra menoleh ke arah Bagas tak paham


"Iya kenal...anak dan istri tuan Baron kolega om Edward"


Bagas mulai mengatur nafas


Nadia mulai terisak teringat kisah Nina


"Mamanya Rini itu bernama nyonya Wina,dia itu mama kandung Nina "


Jleeggh!!


Jantung Indra melorot


Menatap Bagas dengan pandangan nanar


"Apa maksudmu...?"Indra benar benar kaget


Mama Vanya spontan memeluk Nadia yang terisak