
"Tidak mas...aku sudah tau semuanya!!
Aku sudah tidak ingin bersamamu lagi
Kau sudah tidak percaya padaku dan memandang rendah aku
Kita tidak mungkin bersama lagi
Jadi aku mohon berhentilah menemui aku
Aku sudah memaafkan semua sikapmu
Dan pasti aku juga mendoakan yang terbaik untukmu"
Indra benar benar putus asa
Ditariknya lagi tangan Nina
Nina yang berusaha menolak tak dihiraukannya
genggamannya menguat
membawa tangan Nina ke dadanya
"Aku yakin kau pun masih mencintai aku nin
Percuma kamu menghindari ku
karena aku akan terus mengejarmu
Berhentilah membohongi dirimu sendiri
Katakan kalau kamu masih mencintai aku kan..?
Aku akan melakukan apapun yang kau mau
untuk kau bisa kembali padaku"
Nina menatap tajam ke arah Indra dengan tatapan dingin
"Tidak....aku sudah tidak mencintaimu "
Nina berbohong dengan menahan sekuat tenaga airmatanya yang akan menetes
Indra gemetaran mendengar ucapan Nina
Tidak percaya Nina tega mengatakan itu
Airmatanya ikut menetes
Dengan gemas ditangkupnya wajah Nina lalu memaksa mencium bibir Nina
Nina berusaha melepaskan diri
Sekuat tenaga mendorong tubuh Indra
Tapi Indra terus menciumi seluruh wajah Nina
menumpahkan rasanya karena Indra yakin Nina masih mencintainya
Ciuman itu berhenti saat melihat Nina menangis
Indra berhenti sambil tangannya masih memegang wajah Nina
Dan menempelkan keningnya ke kening Nina
Nina berurai air mata
Ditamparnya pipi Indra dengan keras
Plaaakkkk!!
"Aku sangat membencimu"
Nina berlari setelah mengatakan kebenciannya atas perlakuan Indra
Langsung masuk kamar dan menguncinya
Indra termangu ,merasa terkejut dengan tamparan Nina
Dipegangnya pipi bekas tamparan
Langsung menoleh ke arah kamar Nina saat mendengar pintu tertutup terkunci
Diketuknya pintu itu..
"Nin...Nina....sayang....
Maafkan mas ..mas khilaf
Sayang buka pintunya..."
Tidak ada respon sama sekali
Hanya terdengar isakan tangis nina
Indra tertegun , merasa sangat menyesal
'Apalagi yang sudah aku lakukan?'
Indra kembali mengetuk ketuk pintu
"Nin...tolong buka pintunya...
Aku mohon....
Suara Indra kian melemah
Sambil terduduk dan menyandarkan diri di pintu kamar Nina
Indra benar benar kacau
Tanpa malu lagi menangis sesenggukan sambil menangkup kedua lutut dan kepala
ada diatasnya
Bagas yang mendengar suara ribut segera menghampiri Indra yang terduduk di depan kamar Nina sambil menangis
"Heii...kau kenapa..?"
"Dia semakin membenciku gas
Dia tidak mau lagi memberi aku kesempatan"
Bagas mengerti kalau Indra sedang terpukul
"Kau sebaiknya pulang....aku akan mengantarmu"
Bagas menarik Indra berdiri dan memapah tubuh Indra berlalu dari situ
Setelah menjelaskan sedikit persoalan kepada yang lain, Bagas mengantar Indra dan mama Vanya pulang
Nadia ikut mendampingi Bagas karena Rara langsung masuk ke kamar sahabatnya
Selama perjalanan mengantar Indra
Tidak ada pembicaraan apapun dari mereka berempat
Indra duduk disamping Bagas yang sedang menyetir memandang keluar jendela dengan tatapan kosong
Di kursi belakang,terdengar isakan lirih mama Vanya
Tak menghiraukan tangan Nadia yang terulur membelai tangannya
Mama vanya tau seberapa patah hatinya putra kesayangannya itu
Tidak ada satupun yang bisa menghiburnya
Hidup Indra kacau akhir akhir ini
Sampai rumah Indra, Bagas masih memapah tubuh sahabatnya itu menuju kamar
Mama Vanya mendahului untuk membukakan pintu
Nadia mengikuti Bagas memasuki kamar Indra
Setelah membantu Indra berbaring di kasur,
Mama Vanya menangis di pinggir ranjang
"Sebetulnya ada apa dengan nina
Kenapa dia bersikukuh tidak mau
Padahal kata Reza , Nina juga masih mencintai Indra "
Bagas duduk di kursi yang ada di dekatnya
Nadia duduk di samping mama Vanya di pinggir ranjang Indra
"Masa lalu Nina ma....Nina pernah kehilangan orang yang disayanginya
Trauma itu kembali terjadi"
"Apa cerita soal mama nya yang pergi itu'
"Benar ma....dan sekarang Nina merasa orang yang sama juga telah mengambil Indra setelah dulu mengambil mamanya"
Indra terduduk ingin mendengar cerita Bagas
"Maksudmu gimana gas?"
Bagas sebetulnya ragu ragu memulai cerita
Tapi Bagas juga ingin semua kesalah pahaman segera hilang
"Kau kenal Rini dan mamanya kan ndra..?"
Indra menoleh ke arah Bagas tak paham
"Iya kenal...anak dan istri tuan Baron kolega om Edward"
Bagas mulai mengatur nafas
Nadia mulai terisak teringat kisah Nina
"Mamanya Rini itu bernama nyonya Wina,dia itu mama kandung Nina "
Jleeggh!!
Jantung Indra melorot
Menatap Bagas dengan pandangan nanar
"Apa maksudmu...?"Indra benar benar kaget
Mama Vanya spontan memeluk Nadia yang terisak