Ganaya, My Adore

Ganaya, My Adore
Kita Dosa Apa Ya?


"Sembuhkan lah ... Aamiin."


Gana membasuh wajahnya dengan kedua telapak tangan yang terbuka. Mengucap doa tulus untuk kesembuhan suaminya. Jika dari kemarin dirinya selalu shalat berjamaah dengan sang suami, kini walau Gana sedang berhalangan, ia tetap bersimpuh di atas sajadah untuk berdzikir.


Dan Ia memilih melakukannya di kamar, agar Ammar tetap terpantau dari penglihatannya.


Wajah Gana terlihat gelisah. Entah mengapa jantungnya terus berdebar-debar.


"Ada apa ya? Kok, perasaan aku enggak enak begini?" tanyanya sendiri. Bola matanya sejurus menatap Ammar yang masih bergelut dalam selimut di pusaran ranjang.


"Apa sebaiknya aku bawa saja Ammar ke RS Mama? Biar di rawat, panasnya turun naik terus."


Lantas dirinya beranjak bangkit dari atas sajadah, melangkah menghampiri Ammar. Mengecek lagi suhu badan lelaki itu dengan punggung tangannya.


"Duh 'kok makin panas ya?" Gana semakin gelisah. Sudah memikirkan suami yang tak kunjung turun dari demam, dan kini dadanya terus berdebar. Entah akan ada hal apa? Ia pun tak faham.


Tapi jantungnya terus berdegup tidak karuan.


"Astagfirullahaladzim ... Ada apa ya?" Gana kembali membatin. Mengusap-usap dadanya perlahan. Perasaannya terus saja tidak enak. "Seperti akan ada sesuatu, tapi apa?" ia mencoba untuk memenangkan hati.


Terlihat Ammar bergeliat. Lalu membuka mata tanpa sengaja. Lelaki itu tersenyum walau kelopak matanya hanya memicing setengah karena sedang menahan rasa panas.


"Sayang ..." serunya manja. Ia mengulurkan tangan ke arah pundak Gana. Gana yang masih berdiri di bibir ranjang lalu merangkak naik walau masih dalam balutan mukenah.


"Peluk." cicit Ammar.


Gana tersenyum dan mendekap suaminya. Ammar memeluk Gana, meletakan kepalanya di dada sang istri.


"Aku sakit." ucapnya pelan.


Gana mengangguk untuk menenangkan. "Kita ke Rumah Sakit aja ya, di rawat."


Ammar menggeleng. "Aku takut di infus."


Ammar memang paling susah untuk minum obat, apalagi harus di suntik atau di infus.


"Tapi kamu masih aja panas." imbuh Gana.


Ammar diam. Tidak menjawab, yang ia butuhkan saat ini hanya memeluk dan bermanja dengan Gana. Seakan tidak ada lagi hari untuk mereka saling mendekap.


"Sayang ..."


"Ehm?" jawab Gana dengan deheman. Ia masih fokus memberi pijatan ringan di telapak tangan suaminya.


"Aku sakit." ujar Ammar dengan polos seperti anak-anak.


Gana tertawa kecil. "Iya, aku tau."


Yang Gana tahu, Papanya jika sedang sakit memang akan manja kepada Mamanya. Maka dari itu, Gana membiarkan Ammar dengan sikap manjanya sekarang. Wanita baik itu memaklumi.


"Aku lepas mukena dulu, boleh?


Ammar menggeleng.


"Jangan pergi, di sini aja, peluk aku!"


Gana mengangguk lagi. Kedua tangannya mengunci tubuh Ammar yang kekar. Walau dadanya terasa pengap, karena tubuhnya yang mungil tapi harus mendekap tubuh Ammar yang besar. Belum lagi jantungnya terus berdebar, mungkin 'kah Ammar merasakannya?


"Mau makan?" Gana menawari.


Ammar mengangguk.


"Aku siapkan dulu ya" tanya Gana seraya mengurai dekapan itu, ia ingin bangkit untuk melenggang ke dapur.


Ammar tidak mau. Ia memeluk lagi Gana. "Enggak ah, aku nggak mau apa-apa. Hanya mau peluk kamu." lelaki itu memeluknya erat. Dada Gana semakin terhimpit.


"Tapi kamu harus makan siang, harus minum obat. Biar sembuh." Gana mengecup ubun-ubun Ammar.


Ammar tetap saja tidak mau. Tambah erat ketika meremat kain mukena Gana dibagian perut.


Gana hanya menghela napas panjang. Ia tidak bisa melakukan apapun lagi, karena gerak tubuhnya sudah terkunci.


Gana meraih telepon portabel yang berdiri tegak disamping lampu tidur diatas nakas.


"Yun, panasin sayur sop. Habis itu tolong anterin makan siang Bapak ke kamar ya."


"Mau telur dadar ..." Ammar menyelak.


"Sama telur dadar, Yun. Tapi jangan pakai daun bawang."


Ammar tersenyum dalam pejaman matanya. Ia senang karena sekarang sang istri sudah tahu menu makanan kesukaan dirinya. Ammar membuka mata, mendongakkan wajah dan mengecup pipi Gana yang masih berbicara di sambungan telepon paralel.


****


"Bik, ada paket. Buat Tuan dan Nyonya." ucap penjaga rumah kepada Bibik yang sedang menyapu di ambang pintu.


"Dari siapa, Pak?"


Penjaga mengedikkan pangkal bahu. "Pas bilang untuk Tuan dan Nyonya, si pengantar langsung pergi gitu aja."


Bibik mengangguk. "Ya udah." wanita itu meraih sebuah amplop cokelat yang biasa dipergunakan untuk orang melamar pekerjaan.


Terlihat Tuan dan Nyonya masih betah berleha-leha di mushola selepas menunaikan jamaah Ashar.


Papa merebahkan kepalanya dipangkuan Mama. Mama yang sudah melepas mukena, sedang menatap ke arah rambut suaminya yang sebagian sudah memutih.


"Emang ada kutunya?" tanya Papa Bilmar di balik pejaman matanya. Belaian tangan Mama membuat dirinya merasa ngantuk.


Mama Alika tertawa. "Bukan kutu, tapi Mama lagi nyari kecoa."


Papa Bilmar mencubit pelan pipi istrinya. "Bisaan, jadi gemes."


Pasangan suami-istri yang sudah menginjak usia 55 tahun itu, hanya begitu-begitu saja aktivitasnya.


Berduaan di mushola, makan sepiring berdua di meja. Saling memijat, berkumpul di pengajian dengan para sahabat, atau Papa akan berkeliling kompleks dengan motor Harley Davidson keluaran terbaru yang baru empat bulan lalu dibelikan Ammar untuk membawa jalan-jalan istrinya keliling kompleks perumahan elit.


Papa Bilmar akan selalu setia meminta izin kepada Maura dan Ammar, jika ingin membawa istrinya jalan-jalan. Kalau jauh, mereka yang akan mengantar. Papa tidak diperkenankan membawa mobil sendirian, tangannya sudah sering tremor dan habis operasi pasang ring kedua, setahun lalu. Jadi mereka sangat khawatir.


"Pah, kok anak-anak enggak ada yang nengok kita ya?" tanya Mama. Nadanya terdengar sendu.


"Sabar, Mah. Kakak 'kan masih di Bali ada pembukaan cabang baru restoran. Kalau Adek ...." Papa berfikir sebentar. "Mungkin lagi sibuk, Mah." Papa memilih berdalih, agar istrinya tidak muram. Padahal jauh dalam lubuk hatinya, ia rindu anak lelakinya.


"Biasanya Adek suka kesini, atau enggak telepon Mama. Dari kemarin kayaknya enggak ada kabarnya."


Tidak tahu saja mereka, jika anak lelakinya itu sedang dalam fase perubahan jatidiri. Jadi sudah dua minggu tidak bertandang kerumah untuk menjenguk orang tuanya. Dan saat ini pula, Ammar sedang terkena demam. Gana sengaja tidak memberitahukan mereka, karena pasti akan khawatir. Mungkin kalau sudah dirawat, keluarga besar akan diberi tahu.


Papa terdiam, masih terus mendengarkan keluh kesah istrinya. Ia pun sama rindu kedua anak-anaknya.


"Enggak tau kenapa, kayaknya Mama pengin anak-anak kumpul ya, Pah." ujar Mama lagi. Ia masih sibuk menilik helaian rambut suaminya yang ia bilang sedang mencari kecoa.


Duh, sendu sekali suara itu. Dada Papa sampai berdesir, hal yang paling tidak ia sukai adalah ketika belahan hatinya sedang mengeluh sedih.


"Ya udah nanti Papa telepon mereka ya. Atau enggak suruh si Gifa bawa si kembar."


Kilatan binar dari bola mata Mama seketika menyerbak. Ia mengecup kening suaminya karena merasa senang.


Hal yang paling menyedihkan di ujung umur orang tua adalah ketika anak-anak tidak lagi terlihat, karena sudah sibuk dengan para keluarga masing-masing. Maka dari itu, sebelum waktu terlambat. Berikanlah waktu kita, walau hanya lima detik setiap harinya untuk para orang tua yang masih bisa tersenyum menatap kita, karena jika sudah beda alam. Mengendus bayangannya pun sudah tidak mungkin.


"Nyonya ..."


Suara art nya membuat Mama dan Papa menoleh. Papa beranjak duduk.


"Iya, Bik?"


"Ada paket buat Nyonya dan Tuan." Bibik menyerahkan amplop tersebut.


"Dari mana, Bik?"


"Katanya si Imron. Enggak tau dari siapanya, yang nganternya langsung pergi pas bilang buat Nyonya dan Tuan."


Keduanya saling melemparkan pandangan.


"Papa pesen barang online lagi?"


Pasalnya lelaki itu baru saja memesan alat cukur kumis dari Thailand via aplikasi belanja.


Papa menggeleng. "Kan alat cukurnya sudah sampai."


Mama mengangguk karena lupa.


"Ya udah, Bik, makasih ya." Mama meraih amplop tersebut. Bibik pun berlalu untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Lagian aneh ya, paket apaan kayak begini? Kayak mau ngelamar kerja. Mana enggak ada namanya lagi." Papa melihat amplop tersebut polos tidak ada jejak-jejak tinta di sana.


Mama semangat membuka kaitan tali yang melingkar-lingkar di amplop tersebut. Rasa ingin tahu tercetak jelas di wajah cantiknya, walau kulitnya sudah mengeriput di sekitar bawah mata.


Keduanya melongo ke dalam amplop. Dahi mereka mengerut lagi, ketika melihat beberapa lembar foto yang belum jelas, terlihat ada di dalamnya.


DEG.


Telapak tangan Mama yang putih langsung bergetar seiring bola matanya yang bergoyang-goyang menatap foto apa yang sekarang tengah ia genggam. Pun sama dengan Papa, lelaki yang sudah bercucu lima itu, membolakan mata nya dengan nyalakan tajam.


"Astagfirullah, Adek!" maki Papa.


"Pah, kok Adek kayak begini?" nada Mama getir, seraya ingin menangis. Dan tak berapa lama air mata wanita itu luruh bersamaan kedua tangannya yang sedang menatap lima foto secara bergantian.


Hiks ... Hiks.


Pangkal bahu Mama bergetar seiring isakkan tangis. Kalau Papa masih terdiam tidak percaya. Ia masih berfikir. Apa yang mereka lihat sekarang pasti kesalahan.


Hancur hati mereka. Sakit jiwa dan raganya. Anak lelaki yang selalu menjadi pegangan mereka. Selalu mengabdi, bertutur kata lembut. Malah berubah menjadi Iblis.


"Kok anak kita begini, Pah?" Mama mengulangi ucapannya dengan wajah yang sudah basah. Papa hening. Mendengar pertanyaan istrinya yang berulang-ulang, membuat keraguannya terusik. Di foto itu memang anaknya. Anak lelaki yang ia rindukan sekarang.


Papa termangu. Bola matanya memerah, hembusan napasnya pun sudah berantakan. Tangan kanan terangkat untuk memegang dada sebelah kiri. Gelombang petir sepertinya ingin menyambar tubuh mereka berdua.


"Kita dosa apa ya, Mah? Kok Adek tega sampai begitu?" tanya Papa dengan nada datar. Kilat matanya terasa hampa. Pun sama dengan Mama. Sepertinya ia tidak mampun untuk bernapas lebih panjang, rasa sesak sudah melesat ke atas seraya mencekik lehernya.


Anak yang di elu-elukan dengan keberhasilan, kecerdasan dan ketampanan. Anak yang selalu di doakan untuk menjadi anak soleh, agar bisa menolong mereka jika sudah di dalam tanah, begitu saja pupus, sirna dan terhempaskan.


"Pah, ini bukan Ammar 'kan? Mungkin editan?" Mama masih berharap kalau suaminya berkata tidak. Wanita itu merengek menarik-narik tepi lengan kaus suaminya yang masih terperanjat tidak percaya.


Seperti bola panas yang tengah berlumur api, begitu saja terhempas mengenai sarang hati mereka. Bayangan terasa menggelap, dengan lirihan hati yang amat menyiksa. Bayi kecil yang ia lahir kan dua puluh tujuh tahun lalu, kini sudah berubah dewasa dan semakin berbeda karena pengaruh syaiton. Begitu saja menjadi Iblis.


"Mama!" seru Papa.


Lamunan lelaki itu terbuyarkan ketika melihat tubuh istrinya limbung ke atas sajadah. Dari tangannya tercecer foto-foto Ammar yang sedang memegang kepala buntung, sedang mencincang organ tubuh, memegang sekumpulan barang-barang haram dan tengah bersama para wanita malam yang Ammar pekerjakan.


"Mama ... Mah ... Mama." seru Papa. Sambil memegangi dada, ia menggoyang-goyangkan tubuh Mama Alika yang sudah tidak sadarkan diri.


****


Drrt drrt drrt.


Ponsel Gana berdering nyaring di atas nakas. Gana yang sedang membasuh tubuh suaminya dengan air hangat di ranjang langsung menoleh.


"Bentar ya."


Ammar mengangguk dengan senyuman. Lelaki manja itu sudah mendingan setelah dirawat oleh istrinya.


"Kak Gifa?" ucapnya. Ketika melihat nama sang Kakak yang sedang berada di depan layar.


Ammar yang sedang berbaring polos tanpa helai kain langsung beranjak duduk. Ia ingin tahu, ada perihal apa sang Kakak ipar menelepon istrinya.


"Tolong dengarkan Kakak, dan harap tenang. Kamu dan Ammar ke Rumah Sakit sekarang! Mama mertua kita terkena serangan jantung. Sekarang sedang ada di ICU!"


DEG.


"Sayang ..." panggil Ammar ketika melihat istrinya mematung dengan gawai masih mengudara di daun telinganya. Bola mata Gana melotot, tak mampu berkedip.


"Ya Allah ... Mama ..." desah Gana, tangan wanita itu lemas sampai ponsel yang masih tergenggam langsung terjerembab jatuh ke atas lantai.


****